Minggu, 19 April 2026 / 1 Zulkaidah 1447 H
Mansur Hasyimi Khorasani

 Ucapan baru: Sebuah ucapan yang sangat penting dan mencerahkan dari Yang Mulia beliau tentang syarat bagi kemunculan al-Mahdi. Klik di sini untuk membaca. Surat baru: Sebuah kutipan dari surat Yang Terhormat untuk salah satu pendamping beliau, di mana beliau menasihatinya dan memperingatkannya agar takut kepada Allah. Klik di sini untuk membaca. Pelajaran baru: Pelajaran dari Yang Mulia tentang fakta bahwa bumi tidak pernah kosong dari seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang agama, yang telah Allah tunjuk sebagai khalifah, imam, dan pembimbing di atasnya sesuai dengan perintah-Nya; Ayat-ayat Al Qur’an tentangnya; Ayat no. 16. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web. Pertanyaan baru: Bagaimana pandangan Islam terhadap taqlid (mengikuti secara buta)? Klik di sini untuk membaca jawaban. Artikel baru: Artikel “Sebuah ulasan buku Kembali ke Islam karya Mansur Hasyimi Khorasani” ditulis oleh “Sayyed Mohammad Sadeq Javadian” telah terbit. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web.
loading
Ucapan
 

1 . أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْهَرَوِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ الْمَنْصُورَ الْهَاشِمِيَّ الْخُرَاسَانِيَّ يَقُولُ: يُعْرَفُ الْكَذَّابُ بِسِتِّ خِصَالٍ: يَدَّعِي مَا لَا يَقْدِرُ عَلَى إِثْبَاتِهِ، وَيُغَيِّرُ دَعْوَاهُ، وَيُخْبِرُ عَمَّا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْضِ، وَيُحَدِّثُ النَّاسَ بِمَا لَا يَعْرِفُونَ، وَيُفَسِّرُ الْقُرْآنَ بِرَأْيِهِ يَزْعُمُ أَنَّهُ بَاطِنُهُ، وَيَحْتَجُّ بِخَبَرِ الْوَاحِدِ.

Terjemahan ucapan:

Muhammad bin Abdurahman al-Harawi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Mansur Hasyimi Khorasani berkata: “Pendusta dapat dikenali melalui enam ciri: [1] Dia mengklaim sesuatu yang tidak mampu dia buktikan, [2] mengubah-ubah pengakuannya, [3] berbicara tentang apa yang ada di langit sementara dia tidak mengetahui apa yang ada di bumi, [4] mengatakan kepada manusia hal-hal yang tidak mereka ketahui, [5] menafsirkan Al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, dengan mengklaim bahwa itulah maknanya yang tersembunyi, [6] menjadikan riwayat ahad sebagai bukti.”

Penjelasan ucapan:

Riwayat ahad adalah setiap riwayat yang tidak mutawatir, dan riwayat mutawatir menurut Yang Terhormat adalah setiap riwayat yang pada setiap tingkatan sanadnya diriwayatkan oleh empat orang atau lebih[1].

2 . أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ الْجُوزَجَانِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ الْمَنْصُورَ يَقُولُ: مَا كَذَبَ النَّاسُ عَلَى رَجُلٍ كَمَا كَذَبُوا عَلَى الْمَهْدِيِّ، فَمَنْ أَتَاكُمْ يَدْعُوكُمْ إِلَى نَفْسِهِ مُحْتَجًّا عَلَيْكُمْ بِخَبَرِ وَاحِدٍ فَلَا تُصَدِّقُوهُ! قُلْتُ: وَإِنْ وَافَقَهُ ذَلِكَ الْخَبَرُ؟! قَالَ: وَإِنْ وَافَقَهُ ذَلِكَ الْخَبَرُ، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ مِنْ أَنْ يُعْبَدَ بِخَبَرِ وَاحِدٍ.

Terjemahan ucapan:

Isa bin Abd al-Hamid al-Jowzjani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Mansur berkata: “Manusia tidak berbohong terkait seseorang sebanyak mereka berbohong terkait al-Mahdi, maka siapa pun yang datang kepada kalian dan mengajak kalian kepada dirinya sendiri dengan berhujah menggunakan satu riwayat ahad, janganlah kalian mempercayainya!” Aku berkata: “Meskipun riwayat itu sesuai dengannya?!” Beliau berkata: “Meskipun riwayat itu sesuai dengannya.” Kemudian beliau berkata: “Allah Maha Agung untuk disembah dengan riwayat ahad.”

Penjelasan ucapan:

Beliau berkata: “Allah Maha Agung untuk disembah dengan riwayat ahad”, karena riwayat ahad tidak memberikan apapun selain dugaan, ﴿وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا[2]; “dan sesungguhnya dugaan itu tidak cukup untuk (membuktikan) kebenaran.”

3 . أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الدَّامْغَانِيُّ، قَالَ: قُلْتُ لِلْمَنْصُورِ: إِنَّ هَذَا الرَّجُلَ -يَعْنِي أَحْمَدَ الْبَصْرِيَّ- يَدْعُو النَّاسَ إِلَى نَفْسِهِ مُحْتَجًّا عَلَيْهِمْ بِخَبَرِ الطُّوسِيِّ فِي الْوَصِيَّةِ! فَقَالَ: لَقَدْ أَكْثَرْتُمْ عَلَيَّ فِي هَذَا الرَّجُلِ! أَلَا أُعْطِيكُمْ قَاعِدَةً تَعْرِفُونَ بِهَا هَذَا وَأَمْثَالَهُ؟ قُلْتُ: مَا أَحْوَجَنَا إِلَى هَذِهِ الْقَاعِدَةِ! قَالَ: مَنْ دَعَاكُمْ إِلَى نَفْسِهِ مُحْتَجًّا عَلَيْكُمْ بِخَبَرِ وَاحِدٍ فَكَذِّبُوهُ، وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْهُ مِنْ إِثْمٍ فَهُوَ فِي عُنُقِي! ثُمَّ قَالَ: يَأْبَى اللَّهُ أَنْ يُعْبَدَ بِخَبَرِ وَاحِدٍ، أَوْ قَالَ: يُعْرَفَ -الشَّكُّ مِنْ عَلِيِّ بْنِ إِسْمَاعِيلَ.

Terjemahan ucapan:

Ali bin Isma’il ad-Damghani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Mansur: “Sesungguhnya, orang ini (Ahmad al-Bashri) mengajak manusia kepada dirinya sendiri dengan berhujah atas mereka menggunakan riwayat (Muhammad bin Hasan) ath-Thusi tentang wasiat!” Maka beliau berkata: “Kalian terlalu sering membicarakan orang ini kepadaku! Maukah aku berikan kepada kalian suatu kaidah untuk mengenali dia dan orang-orang semisalnya?” Aku berkata: “Betapa kami sangat membutuhkan kaidah itu!” Beliau berkata: “Siapa pun yang mengajak kalian kepada dirinya sendiri dengan berhujah menggunakan riwayat ahad, maka dustakanlah dia, dan dosa apa pun yang menimpa kalian karenanya menjadi tanggunganku!” Kemudian beliau berkata: “Allah menolak disembah dengan riwayat ahad”, atau berkata: “dikenal dengan riwayat ahad”, keraguan berasal dari Ali bin Isma’il.

Penjelasan ucapan:

“Ahmad al-Bashri” adalah salah seorang pendusta dari kalangan Syiah yang mengaku sebagai Yamani yang dijanjikan, sebagai wasiat, pembimbing, dan imam setelah al-Mahdi, dan “riwayat (Muhammad bin Hasan) ath-Thusi tentang wasiat” adalah riwayat ahad yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far ath-Thusi (w. 460 H), seorang ulama Syiah, dalam kitab al-Ghaybah, yang mengklaim bahwa Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) pada malam wafatnya berwasiat bahwa setelah al-Mahdi akan ada dua belas Mahdi, orang pertama memiliki tiga nama: Abdullah, Ahmad, dan Mahdi. Ahmad al-Bashri mengklaim bahwa dialah orang itu; karena namanya Ahmad! Riwayat tersebut adalah dusta atas Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) yang dibuat oleh Ja’far bin Ahmad bin Ali al-Mishri, dan sama sekali tidak menunjukkan apa yang diklaim oleh orang itu[3].

4 . أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَبِيبٍ الطَّبَرِيُّ، قَالَ: كُنْتُ أَنَا وَالْحَسَنُ بْنُ الْقَاسِمِ عِنْدَ الْمَنْصُورِ فَقَالَ لَنَا: إِنَّ عَلِيًّا لَمَّا أَرَادَ الْخُرُوجَ مِنَ الْبَصْرَةِ قَامَ عَلَى أَطْرَافِهَا وَقَالَ: لَعَنَكِ اللَّهُ يَا أَنْتَنَ الْأَرْضِ تُرَابًا وَأَسْرَعَهَا خَرَابًا وَأَشَدَّهَا عَذَابًا، فِيكِ الدَّاءُ الدَّوِيُّ، قِيلَ: وَمَا الدَّاءُ الدَّوِيُّ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ؟! قَالَ: الْكِذْبُ عَلَيْنَا أَهْلِ الْبَيْتِ وَاسْتِحْلَالُ الْكِذْبِ عَلَيْنَا! ثُمَّ الْتَفَتَ الْمَنْصُورُ إِلَيَّ وَقَالَ: أَلَا تَرَى إِلَى هَذَا الْبَصْرِيِّ كَيْفَ يَكْذِبُ عَلَيْهِمْ؟! -يَعْنِي أَحْمَدَ الْحَسَنَ! قُلْتُ: جُعِلْتُ فِدَاكَ، إِنَّ هَذَا الْكَذَّابَ يَحْتَجُّ عَلَى النَّاسِ بِرِوَايَةٍ رَوَاهَا الطُّوسِيُّ فِي غَيْبَتِهِ! قَالَ: إِنَّ اللَّهَ أَحْكَمُ وَأَعْدَلُ وَأَكْرَمُ وَأَجَلُّ مِنْ أَنْ يَحْتَجَّ عَلَى النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِرِوَايَةٍ رَوَاهَا الطُّوسِيُّ فِي غَيْبَتِهِ!

Terjemahan ucapan:

Abdullah bin Habib at-Tabari mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku dan Hasan bin Qasim (at-Tahrani) pernah bersama Mansur, kemudian beliau berkata kepada kami: “Ketika Ali hendak keluar dari kota Bashrah (setelah perang Jamal), beliau berdiri di pinggiran kota dan berkata: ‘Semoga Allah melaknatmu, wahai negeri yang paling busuk tanahnya, paling cepat hancurnya, dan paling keras azabnya di bumi; di dalammu terdapat penyakit yang mematikan.’ Ada yang bertanya: ‘Apakah penyakit yang mematikan itu, wahai Amirul Mukminin?!’ Beliau berkata: ‘Berdusta atas kami, Ahlul Bait, dan menghalalkan dusta atas kami!’” Kemudian Mansur menoleh kepadaku dan berkata: “Tidakkah engkau melihat orang Bashrah ini, bagaimana dia (maksudnya Ahmad al-Hasan) berdusta atas mereka?!” Aku berkata: “Aku rela berkorban untukmu, pendusta ini berhujah kepada manusia dengan sebuah riwayat yang diriwayatkan ath-Thusi dalam kitab al-Ghaybah!” Beliau berkata: “Allah Maha Bijaksana, Maha Adil, Maha Mulia, dan Maha Agung untuk berhujah kepada manusia pada hari Kiamat dengan sebuah riwayat yang diriwayatkan ath-Thusi dalam kitab al-Ghaybah!”

Penjelasan ucapan:

Ucapan Ali (Alaihis Salam) dalam mencela Bashrah adalah ucapan yang terkenal dan diriwayatkan oleh banyak perawi hadis dengan berbagai redaksi. Di antaranya adalah Ma’mar bin Rashid (w. 154 H) dalam al-Jami’[4], Ibnu Qutaibah (w. 276 H) dalam Uyun al-Akhbar[5], Abu Hanifah ad-Dinawari (w. 282 H) dalam al-Akhbar ath-Thiwal[6], Ibrahim bin Muhammad ats-Tsaqafi (w. 283 H) dalam al-Gharat[7], Ibnu Abd Rabbih (w. 328 H) dalam al-Aqd al-Farid[8], Ibnu al-Faqih (w. sekitar 340 H) dalam al-Buldan[9], al-Kashshi (w. 400 H) dalam ar-Rijal[10], dan asy-Syarif ar-Radhi (w. 406 H) dalam Nahj al-Balaghah[11], dan hal ini menunjukkan dominasi kejahatan pada penduduk Bashrah.

5 . أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطَّالَقَانِيُّ، قَالَ: قُلْتُ لِلْمَنْصُورِ: مَا بَقِيَ مِنْ كَلْبٍ وَلَا سِنَّوْرٍ إِلَّا وَقَدِ ادَّعَى هَذَا الْأَمْرَ! قَالَ: وَيْحَكَ! بِمَ يَحْتَجُّونَ؟ قُلْتُ: يَأْخُذُونَ رِوَايَةً فَيُأَوِّلُونَهَا! قَالَ: إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تُوعَدُونَ يَحْتَجُّ عَلَيْكُمْ بِأَبْيَنَ مِنْ هَذَا، قُلْتُ: وَمَا هُوَ؟ قَالَ: آيَةٌ بَاهِرَةٌ.

Terjemahan ucapan:

Ahmad bin Abdurahman at-Taloqani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Mansur: “Tidak tersisa seekor anjing dan seekor kucing pun kecuali sudah mengakui perkara ini!” Beliau berkata: “Celaka engkau! Dengan apa mereka berhujah?” Aku berkata: “Mereka mengambil sebuah riwayat lalu menakwilkannya!” Beliau berkata: “Jika orang yang kalian dijanjikan datang kepada kalian, beliau akan berhujah atas kalian dengan sesuatu yang lebih jelas daripada itu.” Aku berkata: “Apa itu?” Beliau berkata: “Sebuah tanda yang jelas.”

6 . أَخْبَرَنَا صَالِحُ بْنُ مُحَمَّدٍ السَّبْزَوَارِيُّ، قَالَ: قَالَ لِيَ الْمَنْصُورُ: بِمَ يَحْتَجُّ هَؤُلَاءِ الْحَمْقَى؟ قُلْتُ: مَنْ جُعِلْتُ فِدَاكَ؟! فَإِنَّ الْحَمْقَى لَكَثِيرٌ! قَالَ: شَيَاطِينُ هَذَا الْبَصْرِيِّ، قُلْتُ: يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ رَأَوْهُ فِي النَّوْمِ! قَالَ: كَذَبُوا وَاللَّهِ، فَإِنَّ دِينَ اللَّهِ أَعَزُّ مِنْ أَنْ يُرَى فِي النَّوْمِ! ثُمَّ خَرَجَ إِلَى السَّاحَةِ وَخَرَجْتُ مَعَهُ، فَأَخَذَ بِيَدِهِ إِبْرِيقًا لِيَتَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ، فَذَهَبْتُ لِأَصُبَّ عَلَيْهِ الْمَاءَ فَقَالَ: لَا أُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّي أَحَدًا! ثُمَّ أَشَارَ إِلَى الْإِبْرِيقِ وَقَالَ: مَنِ ادَّعَى عَلَيْكُمْ هَذَا مُحْتَجًّا عَلَيْكُمْ بِمَا رَأَى فِي النَّوْمِ أَوْ رُؤِيَ لَهُ فَلَا تُعْطُوهُ هَذَا، وَإِنْ جُدِعَ أَنْفُهُ!

Terjemahan ucapan:

Salih bin Muhammad as-Sabzawari mengabarkan kepada kami, dia berkata: Mansur berkata kepadaku: “Dengan apa orang-orang bodoh itu berhujah?” Aku berkata: “Siapakah yang engkau maksud, aku rela berkorban untukmu?! Orang-orang bodoh itu banyak!” Beliau berkata: “Setan-setan Bashri.” Aku berkata: “Mereka mengklaim bahwa mereka telah melihat (kebenarannya) dalam mimpi!” Beliau berkata: “Mereka berdusta, demi Allah. Sesungguhnya, agama Allah terlalu mulia untuk dilihat dalam mimpi!” Kemudian beliau keluar ke halaman dan aku pun keluar bersamanya, kemudian beliau mengambil sebuah kendi dengan tangannya untuk berwudu sebelum salat, maka aku hendak menuangkan air untuknya, tetapi beliau (tidak mengizinkannya) dan berkata: “Aku tidak mempersekutukan seorang pun dalam ibadah kepada Tuhanku!” Kemudian beliau menunjuk ke arah kendi itu dan berkata: “Siapa pun yang mengaku kepada kalian perkara ini dengan berhujah atas kalian berdasarkan apa yang dia atau orang lain lihat dalam mimpi, maka jangan kalian berikan kepadanya, meskipun hidungnya dipotong!”

Penjelasan ucapan:

Yang Terhormat maksud dengan setan-setan orang itu adalah para pengikut Bashri; karena mereka menolongnya dalam kesesatan dan menghiasi kebatilannya; sebagaimana tercantum dalam firman Allah Ta’ala: ﴿وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ[12]; “Dan apabila mereka menyendiri bersama setan-setan mereka, mereka berkata: ‘Kami bersama kalian. Kami hanya mengolok-olok mereka’”, dan Yang Terhormat maksud dengan “agama Allah” adalah akidah dan hukum-hukum agama, maka keduanya tidak diambil dari apa yang dilihat dalam mimpi; karena yang menjadi dasar di dalamnya adalah kepastian (yakin), sedangkan mimpi tidak menghasilkan kepastian karena bisa dipengaruhi bisikan, sugesti, penyakit, atau khayalan, kecuali jika yang melihat mimpi itu adalah seorang yang maksum; seperti Ibrahim (Alaihis Salam) melihat mimpi ketika beliau berkata: ﴿يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ[13]; “‘Wahai anakku, aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka perhatikanlah bagaimana pendapatmu.’ Dia berkata: ‘Wahai ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InSyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’”, atau jika yang menakwilkannya adalah seorang yang maksum; sebagaimana raja melihat mimpi, kemudian Yusuf (Alaihis Salam) menakwilkannya ketika utusan berkata kepadanya: ﴿يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ ۝ قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ[14]; “‘Wahai Yusuf, orang yang terpercaya! Berilah kami penjelasan tentang tujuh ekor sapi gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus, dan tentang tujuh tangkai yang hijau serta tujuh tangkai lainnya yang kering, agar aku kembali kepada orang-orang itu supaya mereka mengetahui.’ Dia berkata: ‘Kalian akan bercocok tanam selama tujuh tahun berturut-turut sebagaimana biasanya, maka apa yang kalian panen, biarkanlah ia tetap pada tangkainya, kecuali sedikit untuk kalian makan’”, selain dua keadaan itu, tidak ada nilai pada mimpi, meskipun hanya untuk mengklaim sebuah kendi!

7 . أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ الْقَاسِمِ الطِّهْرَانِيُّ، قَالَ: قُلْتُ لِلْمَنْصُورِ: إِنَّ هَؤُلَاءِ الْأَدْعِيَاءَ يَحْتَجُّونَ عَلَى النَّاسِ بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ! فَقَالَ: كَذَبُوا لَعَنَهُمُ اللَّهُ، لَيْسَ مَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ بَيِّنَةً، أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: ﴿فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ[15]؟! فَفَرَّقَ بَيْنَ الْبَيِّنَاتِ وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ، وَجَعَلَهُمَا مِمَّا يَتَعَارَضَانِ، قُلْتُ: إِنَّهُمْ يَقُولُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الَّذِي آتَاهُمُ الْعِلْمَ! قَالَ: فَهَلْ آتَاهُمْ إِلَّا كَمَا آتَى الَّذِي آتَاهُ آيَاتِهِ ﴿فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ[16]؟! ﴿وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ[17]، ثُمَّ قَالَ: لَا تُقِرُّوا لَهُمْ بِالْعِلْمِ، إِنَّمَا هُوَ ﴿مَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ، وَلَيْسَ عِنْدَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْمُؤْمِنِينَ مِنَ الْعِلْمِ! أَنَّى لَهُمُ الْعِلْمُ وَقَدْ جَهِلُوا أَكْبَرَ شَيْءٍ؟! إِنَّمَا هُوَ زُخْرُفُ الْقَوْلِ يُوحُونَهُ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ، ﴿وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ[18]، أَلَمْ تَسْمَعُوا قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ[19]؟!

Terjemahan ucapan:

Hasan bin Qasim at-Tehrani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Mansur: “Para pengaku palsu itu berhujah kepada manusia dengan ilmu yang mereka miliki!” Maka beliau berkata: “Mereka berdusta, semoga Allah melaknat mereka! Apa yang mereka miliki dari ilmu bukanlah bukti yang nyata. Tidakkah engkau melihat bahwa Allah Ta’ala berfirman: ‘Maka ketika para Nabi mereka datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang nyata, mereka bergembira dengan ilmu yang ada pada mereka’!? Maka Dia membedakan antara bukti-bukti yang nyata dan ilmu yang ada pada mereka, dan menjadikan keduanya sebagai sesuatu yang saling bertentangan.” Aku berkata: “Mereka mengatakan bahwa Allah yang memberikan ilmu kepada mereka!” Beliau berkata: “Jika seperti itu, maka apakah Dia memberi mereka kecuali dengan cara yang sama seperti Dia memberinya kepada orang yang telah diberi tanda-tanda-Nya (Balaam putra Beor), ‘kemudian dia melepaskan diri dari mereka, dan Setan mengikutinya sehingga dia termasuk orang-orang yang sesat’?! ‘Dan jika Kami menghendaki, tentu Kami tinggikan dia dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Maka perumpamaannya seperti anjing: jika engkau menghalaunya ia terengah-engah, dan jika engkau membiarkannya ia tetap terengah-engah! Itulah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami, maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka mau berpikir.’” Kemudian beliau berkata: “Jangan kalian akui bahwa mereka memiliki ilmu, itu hanyalah ‘ilmu yang ada pada mereka’, dan itu bukan ilmu yang ada di sisi Allah, Nabi-Nya, dan orang-orang yang beriman. Bagaimana mungkin mereka memiliki ilmu, sementara mereka tidak mengetahui perkara yang paling besar?! Itu hanyalah hiasan kata-kata yang mereka bisikkan kepada para pengikut mereka agar mereka membantah kalian, ‘dan jika kalian menaati mereka, maka kalian termasuk orang-orang musyrik.’ Tidakkah kalian mendengar firman Allah Ta’ala: ‘Diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama yang takut kepada Allah’?!”

8 . أَخْبَرَنَا وَلِيدُ بْنُ مَحْمُودٍ السِّجِسْتَانِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ عَنِ الرَّجُلِ يَدَّعِي أَنَّهُ إِمَامٌ مُفْتَرَضُ الطَّاعَةِ، وَعِنْدَهُ عِلْمٌ كَثِيرٌ بِالدِّينِ، فَقَالَ: لَا حُجَّةَ لَهُ فِي الْعِلْمِ بِالدِّينِ، وَعَلَيْهِ حُجَّةٌ فِي الْجَهْلِ بِهِ، فَإِذَا عَثَرْتُمْ مِنْهُ عَلَى جَهْلٍ وَاحِدٍ فَكَذِّبُوهُ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى كَثِيرِ عِلْمِهِ، إِنَّ الْإِمَامَ لَا يَجْهَلُ بِشَيْءٍ مِنَ الدِّينِ.

Terjemahan ucapan:

Walid bin Mahmud as-Sajistani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Mansur tentang seorang lelaki yang mengaku bahwa dirinya adalah imam yang wajib ditaati dan memiliki banyak pengetahuan tentang agama, maka beliau berkata: “Dia tidak memiliki hujah dengan ilmunya tentang agama, bahkan atasnya hujah karena kebodohannya. Maka, jika kalian menemukan satu saja kebodohan darinya, maka dustakanlah dia dan jangan melihat kepada banyaknya ilmunya; karena seorang Imam tidak bodoh terhadap satu pun perkara agama.”

9 . أَخْبَرَنَا حَمْزَةُ بْنُ جَعْفَرٍ الْقُمِّيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ عَنِ الرَّجُلِ يَدَّعِي أَنَّهُ إِمَامٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَقَدْ سُئِلَ عَنْ أَشْيَاءَ كَثِيرَةٍ فَأَجَابَ فِيهَا، قَالَ: كَانَ أَبُو الْحَسَنِ الرِّضَا عَلَيْهِ السَّلَامُ يَقُولُ: دُورُوا مَعَ السِّلَاحِ حَيْثُمَا دَارَ، فَأَمَّا الْمَسَائِلُ فَلَيْسَ فِيهَا حُجَّةٌ، قُلْتُ: وَمَا السِّلَاحُ؟ قَالَ: سِلَاحُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، فَإِنَّهُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ بِمَنْزِلَةِ التَّابُوتِ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ، كُلُّ مَنْ تَحَوَّلَ إِلَيْهِ كَانَ إِمَامًا، قُلْتُ: كَيْفَ نَعْلَمُ أَنَّهُ هُوَ؟ قَالَ: يَتَبَيَّنُ لَكُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ كَمَا تَبَيَّنَ لَهُمُ التَّابُوتُ، وَإِنِ اشْتَبَهَ عَلَيْكُمْ فَسَوْفَ يَأْتِيكُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ أَبْيَنَ مِنْ ذَلِكَ.

Terjemahan ucapan:

Hamzah bin Ja’far al-Qomi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Mansur tentang seorang lelaki yang mengaku bahwa dia adalah imam dari sisi Allah, dan dia telah ditanya tentang banyak perkara lalu dia menjawabnya. Beliau berkata: “Abu al-Hasan ar-Ridha (Alaihis Salam) berkata: ‘Ikutilah senjata ke mana pun ia berpindah. Adapun pertanyaan-pertanyaan bukanlah hujah.’” Aku berkata: “Apa yang dimaksud dengan senjata?” Beliau berkata: “Senjata Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam); karena dalam umat ini ia seperti Tabut pada Bani Israil, siapa pun yang senjata itu berpindah kepadanya, dialah Imam.” Aku berkata: “Bagaimana kami mengetahui bahwa itulah senjatanya?” Beliau berkata: “Hal itu akan menjadi jelas bagi kalian, InSya Allah, sebagaimana Tabut menjadi jelas bagi mereka, dan jika masih samar bagi kalian, maka Allah akan mendatangkan kepada kalian sesuatu yang lebih jelas daripada itu.”

10 . أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطَّالَقَانِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ الْمَنْصُورَ يَقُولُ: كُلُّ مَنْ تَسَلَّطَ عَلَى النَّاسِ بِغَيْرِ إِذْنِ اللَّهِ، ثُمَّ قَالَ لَهُمْ: مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ، فَهُوَ دَجَّالٌ، وَإِنْ كَانَ ذَا عِلْمٍ وَصَلَاحٍ! قُلْتُ: بِمَاذَا يُعْرَفُ إِذْنُ اللَّهِ؟ قَالَ: إِنَّمَا يُعْرَفُ إِذْنُ اللَّهِ بِآيَةٍ بَيِّنَةٍ، أَوْ وَصِيَّةٍ ظَاهِرَةٍ، قُلْتُ: وَمَا آيَةٌ بَيِّنَةٌ؟ قَالَ: آيَةٌ وَعَدَهَا نَبِيٌّ أَوْ وَصِيُّ نَبِيٍّ، كَمَا قَالَ نَبِيٌّ فِي طَالُوتَ: ﴿إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ ۚ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ[20]، قُلْتُ: وَمَا وَصِيَّةٌ ظَاهِرَةٌ؟ قَالَ: هِيَ أَنْ تَقْدِمَ مَدِينَةَ نَبِيٍّ أَوْ وَصِيِّ نَبِيٍّ، فَتَسْأَلَ عَنْهَا الْعَامَّةَ وَالصِّبْيَانَ وَالْعَجَائِزَ إِلَى مَنْ أَوْصَى فُلَانٌ؟ فَيَقُولُوا: إِلَى فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ، قُلْتُ: وَاللَّهِ مَا أَبْقَيْتَ لِلدَّجَاجِلَةِ مَسْلَكًا يَسْلُكُوهُ! قَالَ: أَنَا مَا أَبْقَيْتُ لَهُمْ؟! بَلِ اللَّهُ مَا أَبْقَى لَهُمْ! أَرَادَ أَنْ يَسُدَّ خَلَّةً فَفَعَلَ! ثُمَّ أَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى شَمْسٍ دَاخِلَةٍ فِي الْبَيْتِ، فَقَالَ: أَلَيْسَتْ هَذِهِ الشَّمْسُ بَيِّنَةً؟ قُلْتُ: بَلَى، جُعِلْتُ فِدَاكَ، قَالَ: فَإِنَّ دِينَ اللَّهِ أَبْيَنُ مِنْ هَذِهِ، ﴿لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَى مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ[21].

Terjemahan ucapan:

Ahmad bin Abdurahman at-Taloqani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Mansur berkata: “Setiap orang yang menguasai manusia tanpa izin Allah kemudian berkata: ‘Siapa yang taat kepadaku berarti taat kepada Allah, dan siapa yang durhaka kepadaku berarti durhaka kepada Allah’, maka dia adalah Dajjal, walaupun dia memiliki ilmu dan kesalehan!” Aku berkata: “Dengan apa izin Allah itu dikenali?” Beliau berkata: “Izin Allah hanya dikenali dengan tanda yang jelas atau wasiat yang nyata.” Aku berkata: “Apakah yang dimaksud tanda yang jelas?” Beliau berkata: “Suatu tanda yang telah dijanjikan oleh seorang Nabi atau penerus seorang Nabi, sebagaimana seorang Nabi berkata tentang Talut: ‘Tanda kerajaannya adalah dia datang kepada kalian membawa Tabut yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhan kalian dan sisa peninggalan keluarga Musa dan Harun, yang dibawa oleh para malaikat. Sesungguhnya, pada yang demikian itu terdapat tanda bagi kalian jika kalian beriman.’” Aku berkata: “Apakah yang dimaksud wasiat yang nyata?” Beliau berkata: “Yaitu datang ke kota seorang Nabi atau penerus Nabi kemudian bertanya kepada orang-orang umum, anak-anak kecil, dan para lansia: ‘Kepada siapa fulan berwasiat?’ Kemudian mereka menjawab: ‘Kepada fulan bin fulan.’” Aku berkata: “Demi Allah, engkau tidak menyisakan jalan sedikit pun bagi para Dajjal untuk menempuhnya!” Beliau berkata: “Apakah aku yang tidak menyisakan jalan bagi mereka?! Allah-lah yang tidak menyisakan jalan bagi mereka! Dia ingin menutup satu celah, lalu Dia melakukannya!” Kemudian beliau menunjuk kepada cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah dan berkata: “Bukankah matahari itu jelas?” Aku berkata: “Benar, aku rela berkorban untukmu.” Beliau berkata: “Sesungguhnya agama Allah lebih jelas daripada itu: ‘agar binasa orang yang binasa dengan bukti yang nyata, dan hidup orang yang hidup dengan bukti yang nyata, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’

11 . أَخْبَرَنَا جُبَيْرُ بْنُ عَطَاءٍ الْخُجَنْدِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿وَقَالُوا لَوْلَا يَأْتِينَا بِآيَةٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ أَوَلَمْ تَأْتِهِمْ بَيِّنَةُ مَا فِي الصُّحُفِ الْأُولَى[22]، فَقَالَ: يَعْنِي أَوَلَمْ تَأْتِهِمُ الْبَيِّنَةُ الَّتِي وَعَدَهَا اللَّهُ وَخُلَفَاؤُهُ فِي الصُّحُفِ الْأُولَى؟ وَكَانَتِ الْقُرْآنَ، وَلَا يُصَدَّقُ مَنْ يَدَّعِي الْأَمْرَ حَتَّى يَرْفَعَ خَلِيفَةُ اللَّهِ بِضَبْعِهِ فِي مَشْهَدٍ مِنَ النَّاسِ، أَوْ يَأْتِيَ بِالْبَيِّنَةِ الَّتِي وَعَدَهَا اللَّهُ وَخُلَفَاؤُهُ فِي الصُّحُفِ الْأُولَى، قُلْتُ: فَبِمَ أَعْرِفُ مَنْ يَدَّعِي الْأَمْرَ وَلَمْ تُوعَدْ لَهُ بَيِّنَةٌ فِي الْأَحَادِيثِ؟! قَالَ: لَيْسَ عَلَيْكَ أَنْ تَعْرِفَ مَنْ لَمْ تُوعَدْ لَهُ بَيِّنَةٌ فِي الْأَحَادِيثِ!

Terjemahan ucapan:

Jubair bin Ata’ al-Khujandi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Mansur tentang firman Allah Ta’ala: “Dan mereka berkata: ‘Mengapa tidak membawa kepada kami suatu tanda dari Tuhannya?!’ Bukankah telah datang kepada mereka tanda yang nyata tentang apa yang terdapat dalam Kitab-kitab terdahulu?!” Beliau berkata: “Yang dimaksud adalah, ‘Bukankah telah datang kepada mereka tanda yang nyata yang telah Allah dan para Khalifah-Nya janjikan dalam Kitab-kitab terdahulu?’ dan tanda itu adalah al-Qur’an, dan seseorang yang mengaku memegang urusan ini tidak bisa dipercaya sampai Khalifah Allah menegakkannya dengan tangannya di hadapan orang banyak, atau sampai dia membawa tanda nyata yang telah dijanjikan oleh Allah dan para Khalifah-Nya dalam Kitab-kitab terdahulu.” Aku berkata: “Maka, bagaimana aku dapat mengenali orang yang mengklaim perkara itu, padahal tidak ada tanda yang nyata yang dijanjikan baginya dalam Hadis-hadis?” Beliau berkata: “Tidak wajib bagimu untuk mengenali orang yang tidak dijanjikan baginya tanda yang nyata dalam Hadis-hadis.”

12 . أَخْبَرَنَا ذَاكِرُ بْنُ مَعْرُوفٍ، قَالَ: قُلْتُ لِلْمَنْصُورِ: إِنَّ رَجُلًا يُقَالُ لَهُ مُحَمَّد نَاصِرُ الْيَمَانِيُّ يُنَادِي فِي النَّاسِ بِأَنَّهُ الْمَهْدِيُّ، قَالَ: كَذَبَ عَدُوُّ اللَّهِ، إِنَّهُ أَضَلُّ مِنْ حِمَارِ أَهْلِهِ! ثُمَّ قَالَ: كُلُّ مَنْ نَادَى فِي النَّاسِ بِأَنَّهُ الْمَهْدِيُّ قَبْلَ وُقُوعِ الصَّيْحَةِ وَالْخَسْفِ فَهُوَ كَذَّابٌ مُفْتَرٍ، قُلْتُ: وَمَا الصَّيْحَةُ وَالْخَسْفُ؟ قَالَ: صَيْحَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِاسْمِهِ وَخَسْفٌ بِجَيْشٍ مِنْ أَعْدَائِهِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ، وَبِهِمَا يُعْرَفُ الْمَهْدِيُّ.

Terjemahan ucapan:

Zakir bin Ma‘ruf mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Mansur: “Seorang lelaki yang disebut Muhammad Nasir al-Yamani menyeru manusia bahwa dia adalah al-Mahdi.” Beliau berkata: “Dia musuh Allah berdusta! Dia lebih sesat daripada keledai keluarganya!” Kemudian beliau berkata: “Setiap orang yang menyeru manusia bahwa dirinya adalah al-Mahdi sebelum terjadinya Sayhah dan Khasf, maka dia adalah pendusta.” Aku berkata: “Apa itu Sayhah dan Khasf?” Beliau berkata: “Teriakan dari langit yang menyebut nama beliau, dan penenggelaman bumi terhadap pasukan musuh-musuh beliau di antara Makkah dan Madinah. Dengan kedua tanda inilah al-Mahdi dikenali.”

Penjelasan ucapan:

Terdapat riwayat-riwayat mutawatir dari Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) dan Ahlul Baitnya (AS) tentang terjadinya teriakan dari langit yang menyebut nama al-Mahdi serta penenggelaman bumi terhadap pasukan musuh beliau di tanah Bayda’ menjelang kemunculan beliau. Oleh karena itu, setiap Mahdi yang muncul sebelum terjadinya dua peristiwa tersebut adalah lebih sesat daripada keledai keluarganya!

13 . أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ الْقَاسِمِ الطِّهْرَانِيُّ، قَالَ: قُلْتُ لِلْمَنْصُورِ: هَلْ تَعْرِفُ فِي هَذَا الزَّمَانِ رَجُلًا أَظْلَمَ وَأَطْغَى مِنْ فُلَانٍ؟ يَعْنِي رَجُلًا مِنْ أَئِمَّةِ الضَّلَالِ، فَقَالَ: لَا، قُلْتُ: وَاللَّهِ لَا يَزَالُ إِنْسَانٌ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَأَى مِنَ الْأَحْلَامِ وَالْخَوَارِقِ مَا يُصَدِّقُهُ! فَقَالَ: يَا حَسَنُ! إِنَّهُ مِنْ مَكْرِ اللَّهِ وَفِتْنَتِهِ، إِنَّهُ إِذَا عَلِمَ اللَّهُ مِنْ عَبْدٍ زَيْغًا مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْحَقُّ، أَضَلَّهُ مِنْ حَيْثُ يَسْتَهْدِي، ﴿كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ مُرْتَابٌ[23]! فَمَكَثَ هُنَيَّةً ثُمَّ قَالَ: يَا حَسَنُ! إِيَّاكَ وَجِدَالَ كُلِّ مَفْتُونٍ، فَإِنَّ كُلَّ مَفْتُونٍ مُلَقَّنٌ حُجَّتَهُ إِلَى انْقِضَاءِ مُدَّتِهِ، فَإِذَا انْقَضَتْ مُدَّتُهُ خَرَّتْ عَلَيْهِ فِتْنَتُهُ فَأَهْلَكَتْهُ.

Terjemahan ucapan:

Hasan bin Qasim at-Tehrani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Mansur: “Apakah engkau mengetahui pada zaman ini seseorang yang lebih zalim dan lebih melampaui batas daripada si fulan? Seorang lelaki dari para pemimpin kesesatan.” Beliau berkata: “Tidak.” Aku berkata: “Demi Allah, selalu saja ada seseorang yang mengaku bahwa dia telah melihat mimpi dan keajaiban-keajaiban yang membenarkannya!” Maka beliau berkata: “Wahai Hasan! Itu termasuk tipuan dan ujian dari Allah. Apabila Allah melihat dari seorang hamba adanya kecenderungan terhadap kebatilan setelah kebenaran menjadi jelas baginya, maka Dia akan menyesatkannya dari arah yang dia sangka sebagai petunjuk. ‘Demikianlah Allah menyesatkan orang yang melampaui batas dan ragu-ragu!’” Kemudian beliau terdiam sejenak lalu berkata: “Wahai Hasan! Hindarilah perdebatan dengan setiap orang yang telah terjerumus ke dalam fitnah; karena setiap orang yang telah terjerumus ke dalam fitnah, hujahnya telah ditanamkan ke dalam dirinya hingga masa yang ditentukan baginya berakhir, kemudian ketika masa itu berakhir, fitnahnya akan runtuh menimpa dirinya sendiri dan membinasakannya.”

14 . أَخْبَرَنَا صَالِحُ بْنُ مُحَمَّدٍ السَّبْزَوَارِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ الْمَنْصُورَ يَقُولُ: تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ، قُلْتُ: وَمَا الْمَسِيحُ الدَّجَّالُ؟ قَالَ: مَنْ يَدَّعِي مَا يُخَالِفُ كِتَابَ اللَّهِ، ثُمَّ يُقِيمُ عَلَيْهِ مُعْجِزَةً، فَهُوَ الْمَسِيحُ الدَّجَّالُ، قُلْتُ: لِمَاذَا يُسَلِّطُهُ اللَّهُ عَلَى إِقَامَةِ الْمُعْجِزَاتِ؟! قَالَ: لِيَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ، وَقَالَ الرَّسُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَقَالَ: لَا نَبِيَّ بَعْدِي، وَقَالَ: الْأَئِمَّةُ بَعْدِي اثْنَا عَشَرَ إِمَامًا.

Terjemahan ucapan:

Salih bin Muhammad as-Sabzawari mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Mansur berkata: “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal!” Aku berkata: “Siapakah Dajjal?” Beliau berkata: “Siapa pun yang mengaku sesuatu yang bertentangan dengan Kitab Allah, lalu menegakkannya dengan suatu mukjizat, maka dialah Dajjal!” Aku berkata: “Mengapa Allah memberinya kekuasaan untuk menampakkan mukjizat?!” Beliau berkata: “Agar diketahui siapa yang mengikuti Nabi dan siapa yang berbalik ke belakang, dan Nabi bersabda: ‘Tiada tuhan selain Allah’, dan bersabda: ‘Tidak ada nabi setelahku’, dan bersabda: ‘Para Imam sepeninggalku ada dua belas Imam!’”

15 . أَخْبَرَنَا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ عَبْدِ الْقَيُّومِ الْبَلْخِيُّ، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى الْعَبْدِ الصَّالِحِ وَهُوَ فِي مَسْجِدٍ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ لِلنَّاسِ: أَيُّهَا النَّاسُ! إِذَا أَتَاكُمْ آتٍ بِمَا أَتَى بِهِ الْمَسِيحُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، ثُمَّ قَالَ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِ اللَّهِ، أَوْ نَبِيٌّ مِنْ بَعْدِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، أَوْ إِمَامٌ مِنْ بَعْدِ الْمَهْدِيِّ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَلَا تُصَدِّقُوهُ، فَإِنَّهُ الْمَسِيحُ الدَّجَّالُ! أَلَا هَلْ بَيَّنْتُ؟! أَلَا هَلْ عَلَّمْتُ؟! ﴿أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ[24]!

Terjemahan ucapan:

Abd as-Salam bin Abd al-Qayyum al-Balkhi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku pergi menemui hamba yang saleh (Mansur) ketika beliau berada di dalam masjid, lalu aku mendengar beliau berkata kepada orang-orang: “Wahai manusia! Jika datang kepada kalian seseorang dengan membawa sesuatu seperti yang dibawa oleh Isa, kemudian dia berkata, ‘Aku adalah tuhan selain Allah’, atau ‘Aku adalah nabi setelah Muhammad (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam)’, atau ‘Aku adalah imam setelah al-Mahdi (Alaihis Salam)’, maka janganlah kalian mempercayainya; karena dia adalah Dajjal! Berhati-hatilah, bukankah aku telah menjelaskannya?! Berhati-hatilah, bukankah aku telah mengajarkannya?! ‘Agar kalian tidak berkata pada hari Kiamat: ‘Kami dahulu lalai terhadap hal ini!’

Penjelasan ucapan:

Sekarang, jika kalian memiliki akal yang sehat dan belum tenggelam dalam lumpur taklid, fanatisme, kesombongan, dan takhayul, maka ambillah manfaat dari kalimat hikmah yang sempurna ini, poin-poin yang hebat, dan mutiara-mutiara yang langka ini, dan jadikanlah ia sebagai pelita yang menerangi jalan di hadapanmu, agar pada zaman yang gelap ini tidak ada dajjal yang dapat menipumu, menghalangimu dari jalan Allah, dan menuntunmu kepada kehinaan di dunia serta azab yang pedih di Akhirat. Ketahuilah bahwa pemilik kalimat hikmah yang sempurna ini, poin-poin yang hebat, dan mutiara-mutiara yang langka ini, tidak lain adalah seorang ulama besar dari para teman Allah dan hamba-hamba-Nya yang ikhlas, yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar, dan tidak menginginkan kesombongan di bumi dan tidak pula menghendaki kerusakan. Hal ini jelas bagi siapa pun yang memiliki pandangan yang adil dan hati yang jernih. Maka, jika kalian termasuk orang-orang yang ingin memperbaiki keadaan umat Muslim atau melayani Imam Mahdi (Alaihis Salam), hendaklah kalian menolong lelaki ini dan jangan menyibukkan diri dengan para dajjal yang menyombongkan diri di bumi tanpa hak dan berkata atas nama Allah apa yang tidak mereka ketahui; seperti orang-orang yang ﴿اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ[25]; “menukar petunjuk dengan kesesatan, maka tidaklah beruntung perdagangan mereka dan mereka tidak mendapat petunjuk”, atau orang-orang yang ﴿اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِهِ ۚ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ[26]; “menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah lalu menghalangi (manusia) dari jalan-Nya. Sungguh buruk apa yang mereka kerjakan”, atau orang-orang yang ﴿إِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا[27]; “jika mereka melihat jalan petunjuk, mereka tidak menjadikannya sebagai jalan, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menjadikannya sebagai jalan!” ﴿أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۖ وَأُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ[28]; “Mereka itulah orang-orang yang Allah telah mengunci hati, pendengaran, dan penglihatan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.”

↑[1] . Untuk mempelajari lebih lanjut terkait hal ini, rujuk ucapan 13 dari ucapan beliau yang murni.
↑[2] . An-Najm/ 28
↑[3] . Untuk mempelajari lebih lanjut terkait hal ini, rujuk Tanya Jawab 4 beserta lampiran-lampirannya dalam situs bahasa Arab.
↑[4] . Jami‘ Ma‘mar bin Rashid, vol. 11, hal. 252
↑[5] . Uyun al-Akhbar oleh Ibnu Qutaybah, vol. 1, hal. 315
↑[6] . Al-Akhbar al-Tiwal oleh al-Dinawari, hal. 152
↑[7] . Al-Gharat oleh Ibrahim bin Muhammad al-Thaqafi, vol. 1, hal. 191, vol. 2, hal. 412
↑[8] . Al-Aqa al-Farid oleh Ibnu Abd Rabbih, vol. 5, hal. 76
↑[9] . Al-Buldan oleh Ibnu Faqih, hal. 238
↑[10] . Rijal al-Kashshi, vol. 2, hal. 700
↑[11] . Nahj al-Balaghah oleh Sharif al-Radi, hal. 56
↑[12] . Al-Baqarah/ 14
↑[13] . As-Saffat/ 102
↑[14] . Yusuf/ 46-47
↑[15] . Ghafir/ 83
↑[16] . Al-A‘raf/ 175
↑[17] . Al-A‘raf/ 176
↑[18] . Al-An‘am/ 121
↑[19] . Fatir/ 28
↑[20] . Al-Baqarah/ 248
↑[21] . Al-Anfal/ 42
↑[22] . Taha/ 133
↑[23] . Ghafir/ 34
↑[24] . Al-A‘raf/ 172
↑[25] . Al-Baqarah/ 16
↑[26] . At-Taubah/ 9
↑[27] . Al-A‘raf/ 146
↑[28] . An-Nahl/ 108
Bagikan
Bagikan konten ini dengan teman-teman Anda untuk membantu menyebarkan pengetahuan; memberi tahu orang lain tentang pengetahuan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih.
Email
Telegram
Facebook
Twitter
Anda juga bisa membaca konten ini dalam bahasa berikut ini:
Jika Anda fasih dalam bahasa lain, terjemahkan konten ini ke bahasa tersebut dan kirimkan terjemahan Anda kepada kami untuk diterbitkan di situs web. [Formulir Terjemahan]