1 . أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطَّالَقَانِيُّ، قَالَ: قُلْتُ لِلْمَنْصُورِ: مَنْ أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الدُّنْيَا؟ فَقَالَ: مَنْ لَا أَمَلَ لَهُ فِيهَا، ثُمَّ قَالَ: لَيْسَ الزَّاهِدُ مَنْ يُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَهُ، لَكِنَّ الزَّاهِدَ مَنْ كَانَ هَمُّهُ الْآخِرَةَ، وَلَيْسَ شَيْءٌ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا يُفْرِحُهُ إِذَا وَجَدَهُ، وَلَا يُحْزِنُهُ إِذَا فَقَدَهُ، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: ﴿لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ﴾.[1]
Terjemahan ucapan:
Ahmad bin Abdurahman at-Taloqani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Mansur: “Siapakah manusia yang paling zuhud di dunia?” Maka beliau berkata: “Orang yang tidak memiliki harapan terhadap dunia.” Kemudian beliau berkata: “Orang zuhud bukanlah orang yang mengharamkan apa yang Allah halalkan baginya, tetapi orang zuhud adalah orang yang tujuannya adalah Akhirat, dan tidak ada kesenangan dunia yang membuatnya bergembira ketika dia mendapatkannya atau membuatnya bersedih ketika dia kehilangannya. Sesungguhnya, Allah Ta’ala berfirman: ‘Agar kalian tidak bersedih atas apa yang luput dari kalian dan tidak pula terlalu bergembira atas apa yang Dia berikan kepada kalian.’”
2 . أَخْبَرَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْخَتْلَانِيُّ، قَالَ: قُلْتُ لِلْمَنْصُورِ: أَتَرَانِي أَكُونُ مِنْ أَصْحَابِ الْمَهْدِيِّ؟ فَقَالَ: إِنَّكَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَكُونُ مِنْ أَصْحَابِهِ إِلَّا مَنْ زَهِدَ فِي الدُّنْيَا وَقَدْ زُيِّنَتْ لَهُ كَمَا تُزَيَّنُ الْعَرُوسُ لَيْلَةَ الزِّفَافِ، قُلْتُ: وَمَنْ زَهِدَ فِيهَا؟ فَقَالَ: مَنْ وَقَفَ نَفْسَهُ عَلَى الْآخِرَةِ، قُلْتُ: وَمَا عَلَامَتُهُ؟ فَقَالَ: مَؤُونَتُهُ خَفِيفَةٌ، وَآمَالُهُ قَصِيرَةٌ، وَأَمْوَالُهُ مَبْذُولَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، قُلْتُ: وَمَا؟ فَقَالَ: لَا يَطْلُبُ الرِّئَاسَةَ، وَلَا يَكْسِبُ فَوْقَ الْحَاجَةِ، بَدَنُهُ مِنْهُ فِي تَعَبٍ، وَالنَّاسُ مِنْهُ فِي رَاحَةٍ، إِنْ شَهِدَ لَمْ يُعْرَفْ، وَإِنْ غَابَ لَمْ يُفْتَقَدْ، إِذَا خَلَا بِنَفْسِهِ ذَكَرَ اللَّهَ، وَإِذَا خَالَطَ النَّاسَ ذَكَّرَهُمْ بِهِ، قَلِيلٌ ضَحْكُهُ وَطَعَامُهُ وَنَوْمُهُ، وَكَثِيرٌ بُكَاؤُهُ وَتَهَجُّدُهُ وَصَوْمُهُ، لَا يَخَافُ فِي اللَّهِ قَتْلًا وَلَا سِجْنًا وَلَا لَوْمَةَ لَائِمٍ، لَا يَعْمَلُ لِلسُّلْطَانِ وَلَا يَسْأَلُ غَيْرَ الْإِخْوَانِ وَإِنْ مَاتَ جُوعًا، لَوْ قِيلَ لَهُ: اخْرُجِ السَّاعَةَ لَخَرَجَ وَلَمْ يَنْظُرْ إِلَى مَا خَلْفَهُ، هَذَا مَنْ زَهِدَ فِي الدُّنْيَا، وَإِنْ عَاشَ وَاسْتَقَامَ سَيَكُونُ مِنْ أَصْحَابِ الْمَهْدِيِّ.
Terjemahan ucapan:
Yunus bin Abdullah al-Khatlani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Mansur: “Apakah engkau berpikir bahwa aku akan menjadi sahabat al-Mahdi?” Maka beliau berkata “Engkau adalah seorang mukmin, tetapi tidaklah termasuk sahabat beliau kecuali orang yang zuhud terhadap dunia, padahal dunia itu telah dihiasi baginya sebagaimana pengantin dihiasi pada malam pernikahan.” Aku berkata: “Siapakah orang zuhud di dunia?” Maka beliau berkata: “Orang yang mengabdikan dirinya untuk Akhirat.” Aku berkata: “Apa tandanya?” Maka beliau berkata: “Pengeluarannya sedikit, harapannya pendek, dan hartanya digunakan di jalan Allah.” Aku berkata: “Apa lagi?” Maka beliau berkata: “Dia tidak mencari kepemimpinan, tidak mencari harta melebihi kebutuhannya; tubuhnya berada dalam kepayahan karena dirinya sendiri, manusia merasa nyaman darinya; jika dia hadir, dia tidak dikenal dan jika dia tidak hadir, dia tidak dicari; ketika dia sendiri, dia mengingat Allah, dan ketika bergaul dengan manusia, dia mengingatkan mereka kepada-Nya; sedikit tertawanya, makannya, dan tidurnya, banyak tangisnya, salat malamnya, dan puasanya; di jalan Allah, dia tidak takut terhadap pembunuhan, penjara, maupun celaan orang yang mencela; dia tidak bekerja untuk pemerintah dan tidak meminta kecuali kepada saudara-saudaranya meskipun dia mati karena lapar; seandainya dikatakan kepadanya: ‘Keluarlah (dari rumah dan kehidupanmu) sekarang’, niscaya dia akan keluar tanpa menoleh kepada apa yang ditinggalkannya. Inilah orang yang zuhud di dunia, dan jika dia hidup dan saleh, maka dia akan menjadi sahabat al-Mahdi.”
Penjelasan ucapan:
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sifat-sifat para sahabat al-Mahdi, silakan rujuk Tanya Jawab 126 dalam situs bahasa Arab.