Minggu, 19 April 2026 / 1 Zulkaidah 1447 H
Mansur Hasyimi Khorasani

 Ucapan baru: Sebuah ucapan yang sangat penting dan mencerahkan dari Yang Mulia beliau tentang syarat bagi kemunculan al-Mahdi. Klik di sini untuk membaca. Surat baru: Sebuah kutipan dari surat Yang Terhormat untuk salah satu pendamping beliau, di mana beliau menasihatinya dan memperingatkannya agar takut kepada Allah. Klik di sini untuk membaca. Pelajaran baru: Pelajaran dari Yang Mulia tentang fakta bahwa bumi tidak pernah kosong dari seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang agama, yang telah Allah tunjuk sebagai khalifah, imam, dan pembimbing di atasnya sesuai dengan perintah-Nya; Ayat-ayat Al Qur’an tentangnya; Ayat no. 16. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web. Pertanyaan baru: Bagaimana pandangan Islam terhadap taqlid (mengikuti secara buta)? Klik di sini untuk membaca jawaban. Artikel baru: Artikel “Sebuah ulasan buku Kembali ke Islam karya Mansur Hasyimi Khorasani” ditulis oleh “Sayyed Mohammad Sadeq Javadian” telah terbit. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web.
loading
Ucapan
 

1 . أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَبِيبٍ الطَّبَرِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ الْهَاشِمِيَّ الْخُرَاسَانِيَّ عَنِ اسْتِمَاعِ الْغِنَاءِ، فَقَالَ: إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ لَا يَسْمَعُونَ لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا! قُلْتُ: وَمَا اللَّغْوُ؟ قَالَ: صَوْتُ الطَّيْشِ، قُلْتُ: وَمَا التَّأْثِيمُ؟ قَالَ: قَوْلُ الزُّورِ وَلَهْوُ الْحَدِيثِ!

Terjemahan ucapan:

Abdullah bin Habib at-Tabari mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Mansur Hasyimi Khorasani tentang mendengarkan ghina. Beliau berkata: “Penghuni surga tidak mendengar laghw dan ta’dzim!” Aku berkata: “Apa yang dimaksud dengan laghw?” Beliau berkata: “Suara kesia-siaan.” Aku berkata: “Apa yang dimaksud dengan ta’dzim?” Beliau berkata: “Ucapan kosong dan pembicaraan yang melalaikan!”

Penjelasan ucapan:

Ucapan Yang Mulia bahwa “Penghuni surga tidak mendengar laghw dan ta’dzim”, merujuk kepada firman Allah tentang mereka: ﴿لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا[1]; “Di dalamnya mereka tidak mendengar laghw dan ta’dzim.” Yang beliau maksud dengan «صَوْتُ الطَّيْشِ»; “Suara kesia-siaan” adalah musik yang lahir dari sikap sembrono atau yang membangkitkan kesembronoan, yang biasanya memiliki irama cepat dan menyebabkan pendengarnya kehilangan wibawa dan ketenangan. Yang beliau maksud dengan «قَوْلُ الزُّورِ وَلَهْوُ الْحَدِيثِ»; “Ucapan kosong dan pembicaraan yang melalaikan” adalah kata-kata dan kalimat yang termasuk dalam kekufuran, kebohongan, sindiran, gurauan kosong, hinaan, ejekan, ghibah, atau rayuan (deskripsi romantis antara laki-laki dan perempuan). Mendengarkannya memiliki dampak psikologis dan pendidikan yang buruk, dan karena itu tidak diperbolehkan.

2 . أَخْبَرَنَا صَالِحُ بْنُ مُحَمَّدٍ السَّبْزَوَارِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ الْمَنْصُورَ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كَلِمَةً خَبِيثَةً وَصَوْتًا مُطَرِّبًا، فَلَا تَسْمَعُوهُمَا، وَمَنْ يَسْمَعُهُمَا فَإِنَّمَا يُصَبُّ فِي أُذُنِهِ الْحَمِيمُ، وَلَا تَرْقُصُوا، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ رَاقِصٌ وَيُحِبُّ الرَّاقِصِينَ!

Terjemahan ucapan:

Salih bin Muhammad as-Sabzawari mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Mansur berkata: “Sesungguhnya, Allah membenci kata-kata kotor dan suara gembira. Maka janganlah kalian mendengarkan keduanya. Barang siapa mendengarkan keduanya, maka seakan-akan dituangkan ke dalam telinganya air yang mendidih. Dan janganlah kalian menari; karena setan itu penari dan menyukai orang-orang yang menari!”

Penjelasan ucapan:

Tampaknya Yang Mulia maksud dengan “Barang siapa mendengarkan keduanya, maka seakan-akan dituangkan ke dalam telinganya air yang mendidih” adalah bahwa “kata-kata kotor dan suara gembira” itu seperti “air yang mendidih”. Oleh karena itu, mendengarkannya seperti menuangkan “air yang mendidih” ke dalam telinga yang menyebabkan kerusakan serius pada tubuh. Bukan berarti secara harfiah setiap orang yang mendengarkannya akan dituangkan air mendidih neraka ke telinganya, meskipun hal itu juga mungkin dan dapat menjadi suatu gambaran (visualisasi) dari perbuatan yang tidak pantas ini. Demikian pula, ucapan beliau tentang tarian merujuk pada tarian-tarian yang bersifat syahwat, yang biasanya dilakukan dalam perkumpulan maksiat dan disertai gerakan anggota tubuh seksual, bukan merujuk pada tarian spiritual atau tradisional yang tidak memiliki ciri-ciri demikian, sebagaimana dapat dipahami dari poin ke-8.

3 . أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطَّالَقَانِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ الْمَنْصُورَ يَقُولُ: لَا يَحِلُّ لِمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَفْرُشَ أُذُنَيْهِ لِلْكُفْرِ وَلَا لِلْفُسُوقِ وَلَا لِلصَّوْتِ الَّذِي يَسْتَخِفُّهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ يُوهِنُ عَقْلَهُ وَإِذَا وَهَنَ عَقْلُهُ اقْتَرَنَ بِهِ الشَّيْطَانُ ﴿وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا[2]!

Terjemahan ucapan:

Ahmad bin Abdurahman at-Talaqani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Mansur berkata: “Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk membuka telinganya bagi kekufuran, kefasikan, dan suara yang membuatnya ceroboh; karena hal itu melemahkan akalnya, dan apabila akalnya lemah maka setan akan menyertainya, ‘dan siapa saja yang menjadikan setan sebagai pendampingnya, maka memiliki seburuk-buruk pendamping!’

4 . أَخْبَرَنَا بَعْضُ أَصْحَابِنَا، قَالَ: كُنْتُ أُصْغِي لِلْغِنَاءِ فَدَخَلْتُ عَلَى الْمَنْصُورِ، فَنَظَرَ إِلَيَّ نَظْرَةً فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِلشَّيْطَانِ: ﴿وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ[3]، أَتَدْرِي مَا صَوْتُهُ؟ قُلْتُ: لَا جُعِلْتُ فِدَاكَ، قَالَ: ذَاكَ الْغِنَاءُ يَسْتَفْزِزُ بِهِ مَنْ يُصْغِي لَهُ فَمَنْ أَصْغَى لَهُ فَقَدْ أَصْغَى لِصَوْتِ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ صَوْتَهُ يُمْرِضُ الْقَلْبَ وَيَنْقُصُ الْإِيمَانَ وَيَذْهَبُ بِنُورِ الْوَجْهِ، فَإِيَّاكَ أَنْ تُصْغِيَ لِلْغِنَاءِ! ثُمَّ سَكَتَ حَتَّى أَرَدْتُ أَنْ أَقُومَ مِنْ عِنْدِهِ فَقَالَ: إِنَّ الشَّيْطَانَ يَتَّخِذُ مِنْكُمْ شَرِيكًا وَوَلَدًا فَانْظُرُوا كَيْفَ تَعْمَلُونَ!

Terjemahan ucapan:

Salah seorang sahabat kami mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku biasa mendengarkan ghina. Kemudian aku datang menemui Mansur. Beliau memandangku dan berkata: “Sesungguhnya, Allah Ta’ala berfirman kepada setan: ‘Dan hasutlah siapa yang engkau mampu di antara mereka dengan suaramu.’ Tahukah engkau apa suaranya?” Aku berkata: “Tidak, aku rela berkorban untukmu.” Beliau berkata: “Itu adalah ghina, yang dengannya dia menghasut orang yang mendengarkannya. Maka, siapa yang mendengarkannya, berarti dia telah mendengarkan suara setan. Dan suaranya itu membuat hati sakit, mengurangi iman, dan menghilangkan cahaya wajah. Maka, berhati-hatilah engkau dari mendengarkan ghina!” Kemudian beliau diam, hingga aku hendak berdiri darinya, kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya, setan menjadikan dari kalian sekutu dan keturunan. Maka, perhatikanlah bagaimana kalian berbuat!”

5 . أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الدَّامْغَانِيُّ، قَالَ: نَهَانِيَ الْمَنْصُورُ عَنِ اسْتِمَاعِ الْغِنَاءِ الْمُحَرَّمِ، فَقُلْتُ: وَهَلْ أَعْرِفُ الْغِنَاءَ الْمُحَرَّمَ إِلَّا بَعْدَ اسْتِمَاعِهِ؟! فَقَالَ: اسْتَمِعِ الْقَوْلَ فَإِذَا أَحْسَسْتَ مِنْهُ كُفْرًا أَوْ فُسُوقًا فَأَعْرِضْ عَنْهُ؛ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: ﴿إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ[4] وَيَقُولُ: ﴿وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ[5]!

Terjemahan ucapan:

Ali bin Isma’il ad-Damghani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Mansur melarangku dari mendengarkan musik yang haram. Maka, aku berkata: “Bagaimana aku mengetahui musik yang haram kecuali setelah mendengarkannya?!” Beliau berkata: “Dengarkanlah ucapan itu. Kemudian, jika engkau merasakan darinya kekufuran atau kefasikan maka berpalinglah darinya. Sesungguhnya, Allah Ta’ala berfirman: ‘Apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kalian duduk bersama mereka’, dan berfirman: ‘Dan apabila mereka mendengar laghw, mereka berpaling darinya.’

Penjelasan ucapan:

Dari ucapan yang bercahaya ini dapat dipahami bahwa hukum asal dalam mendengarkan perkataan, meskipun bernada atau berirama adalah boleh, sampai terbukti keharamannya. Oleh karena itu, seseorang boleh mendengarkan suara apa pun hingga dia merasakan adanya kekufuran atau kefasikan di dalamnya. Pada saat itu, wajib baginya untuk berpaling darinya.

6 . أَخْبَرَنَا هَاشِمُ بْنُ عُبَيْدٍ الْخُجَنْدِيُّ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ الْمَنْصُورِ فِي قَرْيَةٍ فَجَلَسْنَا تَحْتَ شَجَرَةٍ لِنَسْتَرِيحَ سَاعَةً فَجَاءَ مِنْ بَعْضِ الْبُيُوتِ صَوْتٌ مِنَ الْمُوسِيقَى هَادِئٌ لَا كَلَامَ مَعَهُ فَقُلْتُ: جُعِلْتُ فِدَاكَ، لَوْ شِئْتَ لَمَرَرْنَا! قَالَ: لَا حَرَجَ، قُلْتُ: إِنِّي سَمِعْتُكَ تَنْهَى عَنْ هَذَا، قَالَ: إِنِّي مَا نَهَيْتُ عَنْ هَذَا وَلَكِنِّي نَهَيْتُ عَنِ الْمُنْكَرِ، ثُمَّ قَالَ: لَا بَأْسَ بِالْمُوسِيقَى إِذَا لَمْ يَكُنْ مَعَهَا كَلَامٌ فَإِنَّمَا هِيَ أَصْوَاتٌ كَأَصْوَاتِ الطَّيْرِ وَلَا بَأْسَ بِهَا إِذَا كَانَ مَعَهَا كَلَامُ حَقٍّ، فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَلَا تُضَيِّقُوا كَمَا ضَيَّقَ الْخَوَارِجُ!

Terjemahan ucapan:

Hasyim ibn Ubaid al-Khujandi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bersama Mansur di sebuah desa. Kami duduk di bawah pohon untuk beristirahat sejenak. Kemudian, dari sebagian rumah terdengar suara musik yang lembut tanpa kata-kata. Aku berkata: “Aku rela berkorban untukmu, jika engkau mau, kita bisa melewatinya!” Beliau berkata: “Tidak ada yang salah (dengannya).” Aku berkata: “Aku mendengar engkau melarang hal ini.” Beliau berkata: “Aku tidak melarang ini, tetapi aku melarang kemungkaran.” Kemudian beliau berkata: “Musik jika tidak disertai kata-kata maka ia tidak bermasalah; karena ia hanyalah suara seperti suara burung. Dan jika disertai kata-kata yang benar, juga tidak bermasalah. Maka, bertakwalah kepada Allah semampu kalian dan janganlah kalian mempersulit sebagaimana kaum Khawarij mempersulit.”

Penjelasan ucapan:

Dari ucapan Yang Mulia ini juga dipahami bahwa musik tanpa lirik pada dasarnya tidak bermasalah. Bahkan hukumnya seperti suara burung. Demikian pula dipahami bahwa musik yang disertai kata-kata yang benar juga tidak bermasalah. Namun, dengan memperhatikan ungkapan “dari sebagian rumah terdengar suara musik yang lembut” di awal pembahasan ini, serta memperhatikan ucapan-ucapan lainnya, maka hal itu harus dipahami sebagai musik yang tidak bersifat sembrono, yakni tidak merendahkan dan tidak membangkitkan hawa nafsu.

7 . أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْهَرَوِيُّ، قَالَ: قَالَ لِيَ الْمَنْصُورُ: إِنِّي سَمِعْتُ نَغْمَةً حَسَنَةً لَا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ، فَحَسِبْتُهَا مِنْ نَغَمَاتِ الْجَنَّةِ! قُلْتُ: أَفَيُعْجِبُكَ شَيْءٌ مِنَ النَّغْمَةِ؟! قَالَ: إِنَّهَا إِذَا اعْتَدَلَتْ وَلَمْ يَكُنْ فِيهَا كِذْبٌ وَلَا هَجْوٌ وَلَا فُحْشٌ وَلَا تَشْبِيبٌ، فَلَا يَكْرَهُهَا إِلَّا الْحِمَارُ!

Terjemahan ucapan:

Muhammad bin Abdurahman al-Harawi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Mansur berkata kepadaku: “Aku pernah mendengar suatu nada yang indah yang tidak mengandung laghw dan tidak pula dosa, maka aku mengiranya termasuk dari nada-nada surga!” Aku berkata: “Apakah engkau menyukai sesuatu dari nada?!” Beliau berkata: “Jika ia seimbang dan tidak mengandung kebohongan, sindiran, hinaan, dan rayuan (yang membangkitkan syahwat), maka tidak ada yang membencinya kecuali keledai!”

8 . أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ الْجُوزَجَانِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ عَنِ النَّغْمَةِ وَالْمُوسِيقَى فِي ذِكْرِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، فَقَالَ: لَا بَأْسَ بِهَا، إِنَّ فِي الزَّبُورِ مَكْتُوبًا: سَبِّحُوا اللَّهَ فِي قُدْسِهِ، سَبِّحُوهُ حَسَبَ كَثْرَةِ عَظَمَتِهِ، سَبِّحُوهُ بِصَوْتِ الصُّورِ، سَبِّحُوهُ بِرَبَابٍ وَعُودٍ، سَبِّحُوهُ بِدُفٍّ وَرَقْصٍ، سَبِّحُوهُ بِأَوْتَارٍ وَمِزْمَارٍ، سَبِّحُوهُ بِصُنُوجِ التَّصْوِيتِ، سَبِّحُوهُ بِصُنُوجِ الْهُتَافِ! ثُمَّ قَالَ: إِنَّ الصُّوفِيَّةَ يَخْلِطُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ!

Terjemahan ucapan:

Isa bin Abd al-Hamid al-Jowzajani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Mansur tentang menyanyi dan bermain alat musik dalam mengingat Allah dan memuji-Nya. Maka, beliau berkata: “Tidak mengapa. Sesungguhnya, dalam Zabur tertulis: ‘Bertasbihlah kepada Allah di tempat suci-Nya! Bertasbihlah kepada-Nya sesuai dengan kebesaran-Nya! Bertasbihlah kepada-Nya dengan suara terompet! Bertasbihlah kepada-Nya dengan kecapi dan harpa! Bertasbihlah kepada-Nya dengan rebana dan tarian! Bertasbihlah kepada-Nya dengan alat musik bersenar dan seruling! Bertasbihlah kepada-Nya dengan suara simbal! Bertasbihlah kepada-Nya dengan simbal yang berdentang keras!’” Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya, kaum Sufi mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan!”

Penjelasan ucapan:

Ketika beliau menganggap bahwa bernyanyi, memainkan alat musik, dan menari dalam rangka mengingat Allah dan memuji-Nya adalah diperbolehkan, beliau teringat bahwa kaum sufi melakukan hal-hal tersebut. Oleh karena itu, beliau berkata: “Sesungguhnya, kaum Sufi mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan”, untuk menegaskan bahwa tidak semua perbuatan mereka salah. Melainkan, mereka mencampurkan hal yang benar dengan yang batil. Misalnya, bernyanyi, memainkan alat musik, dan menari dalam rangka mengingat Allah dan memuji-Nya yang pada dasarnya tidak bermasalah, mereka gabungkan dengan takhayul, syair-syair sufistik tertentu, zikir-zikir buatan, dan gerakan-gerakan yang tidak lazim, yang justru bermasalah.

Untuk penjelasan lebih lanjut tentang hukum ghina, musik, dan tarian, silakan rujuk Tanya Jawab 157 dalam situs bahasa Inggris.

↑[1] . Al-Waqi‘ah/ 25
↑[2] . An-Nisa’/ 38
↑[3] . Al-Isra’/ 64
↑[4] . An-Nisa’/ 140
↑[5] . Al-Qasas/ 55
Bagikan
Bagikan konten ini dengan teman-teman Anda untuk membantu menyebarkan pengetahuan; memberi tahu orang lain tentang pengetahuan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih.
Email
Telegram
Facebook
Twitter
Anda juga bisa membaca konten ini dalam bahasa berikut ini:
Jika Anda fasih dalam bahasa lain, terjemahkan konten ini ke bahasa tersebut dan kirimkan terjemahan Anda kepada kami untuk diterbitkan di situs web. [Formulir Terjemahan]