Senin, 24 Agustus 2026 / 11 Rabiul Awal 1448 H
Mansur Hasyimi Khorasani

 Pertanyaan baru: Para Imam Ahlul Bait tidak pernah mengambil emas untuk diri mereka sendiri walaupun hanya seberat satu mitsqal selama mereka masih hidup. Bagaimana mungkin makam-makam mereka dipenuhi dengan emas?! Klik di sini untuk membaca jawaban. Ucapan baru: Sebuah ucapan yang sangat penting dan mencerahkan dari Yang Mulia beliau tentang syarat bagi kemunculan al-Mahdi. Klik di sini untuk membaca. Surat baru: Sebuah kutipan dari surat Yang Terhormat untuk salah satu pendamping beliau, di mana beliau menasihatinya dan memperingatkannya agar takut kepada Allah. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web. Pelajaran baru: Pelajaran dari Yang Mulia tentang fakta bahwa bumi tidak pernah kosong dari seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang agama, yang telah Allah tunjuk sebagai khalifah, imam, dan pembimbing di atasnya sesuai dengan perintah-Nya; Ayat-ayat Al Qur’an tentangnya; Ayat no. 16. Klik di sini untuk membaca. Artikel baru: Artikel “Sebuah ulasan buku Kembali ke Islam karya Mansur Hasyimi Khorasani” ditulis oleh “Sayyed Mohammad Sadeq Javadian” telah terbit. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web.
loading
Tanya Jawab
 

Saya adalah seorang pria paruh baya yang ingin kembali memperbaiki akhlak dan menjadi seorang Muslim yang bertauhid serta tulus sebagaimana yang Allah kehendaki. Saya telah beberapa kali berusaha mengendalikan diri dan akhlak buruk saya, tetapi hingga kini belum berhasil. Saya juga sangat merindukan untuk menjadi bagian dari orang-orang yang mempersiapkan jalan bagi pemerintahan pemimpin umat Muslim sedunia, Imam Mahdi (Alaihis Salam), bersama ulama rabbani Yang Mulia Mansur (Hafizhahullah Ta‘ala). Namun, saya mendapati diri saya sangat lemah!

Apakah nasihat Yang Mulia Allamah bagi orang-orang seperti saya yang mencintai beliau dan ingin menunaikan kewajiban mereka, tetapi merasa lemah? Adakah harapan untuk meraih kemenangan atas diri?

Tentu saja, selama masih ada kehidupan, harapan tetap ada; karena kematianlah yang mengakhiri setiap harapan dan menutup kemungkinan untuk bertobat serta memperbaiki diri; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ﴿وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا[1]; “Dan tobat itu tidaklah diterima bagi orang-orang yang terus-menerus mengerjakan keburukan, hingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara mereka, dia berkata: ‘Sesungguhnya, aku bertobat sekarang’, dan tidak pula bagi orang-orang yang mati dalam keadaan kafir. Bagi mereka telah Kami sediakan azab yang pedih”, dan berfirman: ﴿حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ[2]; “Hingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara mereka, dia berkata: ‘Ya Tuhanku! Kembalikanlah aku, agar aku dapat mengerjakan kebajikan yang telah aku tinggalkan!’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada alam barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” Oleh karena itu, setiap manusia harus menyadari betapa berharganya setiap detik kehidupannya, serta memikirkan cara untuk menyelamatkan diri dari kerugian sebelum datang saat kematiannya yang tidak diketahui kapan akan tiba. Cara itu telah dijelaskan oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dalam Kitab-Nya melalui empat tahapan, yaitu: iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran; sebagaimana Dia berfirman: ﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ۝ وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ[3]; “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi masa! Sesungguhnya, manusia benar-benar berada dalam kerugian; kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” Artinya, untuk terbebas dari kerugian, manusia dibebani empat kewajiban pokok: pertama, memperbaiki akidahnya melalui pengenalan terhadap kebenaran, inilah yang disebut “iman” dan merupakan kewajiban pribadi; kedua, memperbaiki amal perbuatannya dengan berpegang teguh pada kebenaran, inilah “amal saleh” dan juga merupakan kewajiban pribadi; ketiga, mengajak orang lain kepada iman, yaitu memperbaiki akidah mereka dengan menyebarkan kebenaran, inilah “saling menasihati dalam kebenaran” yang merupakan kewajiban sosial; dan keempat, mengajak orang lain kepada amal saleh, yaitu memperbaiki perbuatan mereka dengan mendorong mereka untuk berpegang teguh pada kebenaran, inilah “saling menasihati dalam kesabaran” yang merupakan kewajiban sosial.

Berdasarkan hal tersebut, maka kewajiban Anda pada tahap pertama adalah memperbaiki akidah Anda, pada tahap kedua memperbaiki amal Anda, pada tahap ketiga memperbaiki akidah orang lain, dan pada tahap keempat memperbaiki amal orang lain. Perlu dipahami bahwa urutan ini penting; karena Anda tidak akan dapat memperbaiki amal Anda sebelum memperbaiki akidah Anda; mengingat akidah adalah fondasi amal dan jika fondasinya tidak benar, maka amal pun tidak akan benar; bahkan bisa menjadi sia-sia; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ﴿أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا[4]; “Mereka tidak beriman, maka Allah menghapus amal-amal mereka. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah”, dan hamba-Nya yang saleh, Yang Mulia Mansur Hasyimi Khorasani (Hafizhahullah Ta‘ala) berkata:

Iman dan amal saleh saling berkaitan seperti dua jari ini (beliau menyatukan jari telunjuk dan jari tengah) tidak satu pun darinya bermanfaat bagi kalian tanpa yang lain. Iman adalah kalian memiliki akidah yang benar, dan orang yang tidak memiliki akidah yang benar tidak akan berhasil meskipun dia paling rajin beribadah. Oleh karena itu, letakkan keyakinan kalian pada timbangan akal dan cocokkanlah ia dengan al-Qur’an dan sunnah, agar kalian tidak tersesat.[5]

Beliau juga berkata:

Apakah sebuah bangunan akan tetap berdiri kokoh jika tidak memiliki fondasi?! Atau apakah seseorang akan mendapatkan manfaat dari anggota tubuh lainnya jika dia tidak memiliki kepala?! Atau apakah ibadah Haji dan puasa akan diterima dari orang yang tidak menunaikan shalat?! Dengan cara yang sama, jika seseorang tidak memiliki pengetahuan, maka dia bukanlah seorang yang beriman, dan amal salehnya pun tidak akan bermanfaat baginya.

Aku mengatakan yang sebenarnya kepada kalian: Jika seseorang mati di antara Shafa dan Marwah atau tergantung di tirai Ka‘bah, dengan membawa seluruh amal saleh jin dan manusia, namun dia tidak mengetahui kebenaran dan para pengikutnya dari kebohongan dan para pengikutnya, sungguh dia telah mati dalam keadaan jahiliah dan masuk neraka. Dari sini, menjadi kewajiban bagi kalian untuk mengetahui kebenaran dan para pengikutnya dari kebohongan dan para pengikutnya, serta mengutamakan pengetahuan ini di atas segala amal saleh, dan kalian harus tahu bahwa tanpa pengetahuan ini, maka kalian tidak memiliki iman, dan salat, puasa, haji, maupun zakat tidak akan bermanfaat bagi kalian, dan kalian akan termasuk orang-orang yang merugi.[6]

Demikian pula, Anda tidak akan mampu memperbaiki akidah orang lain sebelum Anda memperbaiki amal Anda sendiri; karena amal buruk Anda akan memberikan bayangan pada akidah Anda yang benar dan membuat orang mengira bahwa akidah itu tidak benar; sebagaimana seorang penyair berkata: «وعظ بي‌عملان، واجب است نشنيدن», yang berarti bahwa nasihat dari orang yang tidak mengamalkannya tidak patut didengarkan! Oleh karena itu, Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani memandang bahwa memperbaiki diri sendiri harus didahulukan daripada memperbaiki orang lain; sebagaimana beliau berkata:

Di berbagai penjuru bumi yang luas ini, ada orang-orang milik Allah yang memilih berzikir (mengingat Allah) daripada kepentingan dunia, dan jual beli tidak melalaikan mereka dari salat di awal waktunya. Mereka menghabiskan siang dan malam dengan beribadah kepada Allah dan menyampaikan peringatan-Nya kepada orang-orang yang lalai. Mereka mengajak manusia kepada keadilan dan mereka sendiri lebih dahulu melaksanakannya.[7]

Beliau juga menyatakan bahwa memperbaiki diri adalah perhatian terbesar orang-orang saleh, seraya berkata:

Jika engkau menemukan mereka dan melihat kedudukan mereka yang luhur, bagaimana mereka membuka lembaran-lembaran amal mereka dan bersiap untuk dihisab; mereka merenungkan betapa banyak perbuatan besar dan kecil yang diperintahkan kepada mereka namun mereka lalaikan, dan betapa banyak larangan yang mereka langgar! Mereka merasakan beratnya beban dosa-dosa mereka, hingga tidak sanggup lagi menanggungnya, kemudian terjatuh berlutut, menangis dan merintih seolah-olah merasakan sakit.[8]

Begitu pula, Anda tidak akan mampu memperbaiki amal orang lain sebelum Anda memperbaiki akidah mereka; karena akidah mereka adalah fondasi bagi amal mereka. Jika fondasi mereka tidak benar, maka amal mereka pun tidak akan benar, bahkan mungkin menjadi sia-sia. Oleh karena itu, Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (Hafizhahullah Ta‘ala) menganggap bahwa dalam memperbaiki manusia harus mendahulukan perkara yang paling penting. Beliau menyindir para ulama yang diam terhadap akidah masyarakat yang keliru tetapi sangat keras terhadap kesalahan amal mereka, beliau berkata:

Mereka melihat sehelai jerami di mata orang lain, tetapi tidak melihat sebatang pohon besar di mata mereka sendiri! Mereka mengusir lalat dari punggung orang lain, tetapi membiarkan unta tetap berada di atas mereka! Padahal siapa yang dahinya telah terbelah oleh kapak tidak lagi peduli pada goresan di jarinya, dan siapa yang tenggelam di lautan tidak lagi memikirkan pakaiannya yang basah![9]

Dari sini dapat dipahami bahwa ketidakberhasilan Anda, jika memang Anda merasakannya, berasal dari kegagalan Anda dalam menjalankan seluruh atau sebagian dari empat kewajiban tersebut. Oleh karena itu, Anda harus mengenal diri Anda sendiri, yaitu mengetahui kekurangan Anda pada masing-masing dari keempat bidang tersebut; karena orang yang tidak mengetahui penyakitnya tidak akan mampu mengobatinya, dan dia seperti orang yang melempar anak panah dalam kegelapan. Inilah alasan Yang Mulia Allamah (Hafizhahullah Ta‘ala) berkata:

Hidup mulialah kepala yang mengetahui nilai dirinya sendiri, dan kekallah hati yang mengenal aib dirinya.[10]

↑[1] . An-Nisa’/ 18
↑[2] . Al-Mu’minun/ 99-100
↑[3] . Al-‘Asr/ 1-3
↑[4] . Al-Ahzab/ 19
Pusat Informasi Kantor Mansur Hasyimi Khorasani Bagian menjawab pertanyaan
Bagikan
Bagikan konten ini dengan teman-teman Anda untuk membantu menyebarkan pengetahuan; memberi tahu orang lain tentang pengetahuan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih.
Email
Telegram
Facebook
Twitter
Anda juga bisa membaca konten ini dalam bahasa berikut ini:
Ajukan Pertanyaan
Pengguna yang terhormat! Anda dapat menuliskan pertanyaan terkait pendapat Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (semoga Allah melindunginya) pada formulir di bawah ini dan mengirimkannya kepada kami untuk dijawab di bagian ini.
Perhatian: Nama Anda mungkin akan ditampilkan sebagai penulis pertanyaan ini di situs web.
Perhatian: Dikarenakan tanggapan kami akan dikirimkan ke alamat email Anda dan tidak akan dipublikasikan di situs web, maka penting untuk menuliskan alamat email Anda dengan benar.