Jum’at, 26 Juni 2026 / 11 Muharam 1448 H
Mansur Hasyimi Khorasani

 Pertanyaan baru: Apa alasan Mansur Hasyimi Khorasani menggunakan panji-panji hitam? Klik di sini untuk membaca jawaban. Ucapan baru: Sebuah ucapan yang sangat penting dan mencerahkan dari Yang Mulia beliau tentang syarat bagi kemunculan al-Mahdi. Klik di sini untuk membaca. Surat baru: Sebuah kutipan dari surat Yang Terhormat untuk salah satu pendamping beliau, di mana beliau menasihatinya dan memperingatkannya agar takut kepada Allah. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web. Pelajaran baru: Pelajaran dari Yang Mulia tentang fakta bahwa bumi tidak pernah kosong dari seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang agama, yang telah Allah tunjuk sebagai khalifah, imam, dan pembimbing di atasnya sesuai dengan perintah-Nya; Ayat-ayat Al Qur’an tentangnya; Ayat no. 16. Klik di sini untuk membaca. Artikel baru: Artikel “Sebuah ulasan buku Kembali ke Islam karya Mansur Hasyimi Khorasani” ditulis oleh “Sayyed Mohammad Sadeq Javadian” telah terbit. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web.
loading
Tanya Jawab
 

Apakah wajib dalam salat untuk sujud di atas bumi? Kaum Syiah menggunakan tanah untuk sujud, sementara sebagian kaum Sunni mengingkari dan tidak menyukainya. Apa pendapat Allamah Mansur Hasyimi Khorasani terkait masalah ini? Apakah dianjurkan sujud di atas tanah yang diambil dari makam Imam Husain (Alaihis Salam) dan tanah Karbala?

Sujud di atas bumi adalah Sunah, berdasarkan sabda Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam): «جُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا»[1]; “Dijadikan bagiku bumi sebagai tempat sujud dan sarana bersuci”, dan berdasarkan perbuatan beliau yang dilakukan secara konsisten; karena kebanyakan sujud beliau dilakukan di atas bumi; sebagaimana diriwayatkan dari Wa’il bin Hujr, bahwa dia berkata: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ جَبْهَتَهُ وَأَنْفَهُ عَلَى الْأَرْضِ»[2]; “Aku melihat Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) apabila sujud, beliau meletakkan dahi dan hidungnya di atas bumi”, dan dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa dia berkata: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَسْجُدُ فِي الْمَاءِ وَالطِّينِ، حَتَّى رَأَيْتُ أَثَرَ الطِّينِ فِي جَبْهَتِهِ»[3]; “Aku melihat Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) sujud di atas air dan lumpur, hingga aku melihat bekas lumpur pada dahi beliau”, dan dari Aisyah, bahwa dia berkata: «مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مُتَّقِيًا وَجْهَهُ بِشَيْءٍ -تَعْنِي فِي السُّجُودِ»[4]; “Aku tidak pernah melihat Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) menempatkan dahi beliau dengan sesuatu apa pun—yakni ketika sujud.” Bumi termasuk tanah, pasir, kerikil, batu, dan lumpur, dan termasuk pula segala sesuatu yang tumbuh darinya; karena Ibnu Abbas, Anas, Ibnu Umar, Aisyah, Ummu Salamah, Maimunah dan selain mereka meriwayatkan dan berkata «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ»[5]; “bahwa Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) salat di atas khumrah”, yaitu tikar anyaman atau alas kecil yang dianyam dari pelepah kurma. Namun, apakah boleh sujud di atas sesuatu selain tanah atau sesuatu yang tumbuh darinya, seperti karpet atau tikar? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Abu Bakar sujud langsung di atas bumi[6] dan melarang salat di atas kain pelana[7], dan diriwayatkan bahwa dia melihat sekelompok orang salat di atas tikar; dia berkata kepada mereka: “Sujudlah di atas bumi.”[8] Ibnu Mas’ud hanya sujud di atas bumi[9]. Ubadah bin Samit melepas sorban dari dahinya apabila berdiri untuk salat[10]. Abdullah bin Umar mengangkat sorbannya ketika sujud agar dia dapat menempelkan dahinya di bumi[11]. Ibrahim salat di atas tikar anyaman tetapi sujud di atas bumi[12]. Hasan salat dengan kedua kaki dan lututnya di atas karpet, sedangkan kedua tangan dan dahinya berada di atas bumi[13]. Ata’ pernah ditanya tentang seseorang yang salat di atas khumrah atau sebuah alas; dia berkata: “Tidak mengapa, selama tidak berada di bawah dahi dan kedua tangannya.”[14] Ibnu Sirin dan Sa’id bin al-Musayyib berkata: “Salat di atas karpet adalah perkara yang diada-adakan.”[15] Jabir bin Zaid memakruhkan salat di atas segala sesuatu yang berasal dari hewan dan menganjurkan salat di atas segala sesuatu yang berasal dari tumbuh-tumbuhan bumi[16]. Mujahid berkata: “Tidak mengapa salat di atas bumi dan di atas apa yang tumbuh darinya.”[17] Urwah memakruhkan sujud di atas sesuatu selain bumi[18]. Aswad dan para sahabatnya memakruhkan salat di atas karpet, bulu, dan kain goni[19]. Malik memakruhkan seseorang sujud di atas karpet, tikar yang terbuat dari rambut, pakaian, dan kulit, dan dia berkata: “Tidak mengapa baginya untuk berdiri, rukuk, dan duduk di atasnya, tetapi jangan sujud di atasnya dan jangan pula meletakkan kedua telapak tangannya di atasnya.” Dia juga tidak melihat masalah apabila seseorang sujud atau meletakkan kedua telapak tangan diatas tikar anyaman dan yang semisalnya dari apa yang tumbuh dari bumi[20]. Al-Marwadzi berkata: “Ahmad tidak membolehkan sujud di atas pakaian atau kain kecuali karena panas atau dingin”,[21] dan ini merupakan salah satu dari dua riwayat darinya. Ata’ dan Ubaidah as-Salmani bersikap sangat ketat dalam masalah ini; sebagaimana Ibnu Juraij berkata: “Aku berkata kepada Ata’: ‘Apakah aku boleh salat di atas batu licin dan keras ketika aku mau, sementara di dekatku dapat ditemukan kerikil kecil?’ Dia berkata: ‘Tidak’”,[22] dan dalam riwayat lain: “Seorang lelaki berkata kepada Ata’: ‘Bagaimana menurutmu jika aku salat di suatu tempat yang keras, apakah aku harus mencari tanah untuk tempat dahiku?’ Dia menjawab: ‘Ya’”,[23] dan Ibnu Sirin berkata: “Aku pernah mengalami luka di wajah, maka aku membalutnya. Kemudian aku bertanya kepada Ubaidah as-Salmani: ‘Bolehkah aku sujud di atas balutan itu?’ Dia berkata: ‘Lepaskan balutan itu’”,[24] dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abu ad-Darda’, Hasan, dan lainnya bahwa diperbolehkan sujud di atas karpet dan tikar, dan inilah pendapat mayoritas ulama Sunni. Dalil yang menunjukkan pendapat pertama adalah riwayat dari Jabir bin Abdullah al-Ansari; dia berkata: «كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فِي شِدَّةِ الْحَرِّ، فَيَعْمِدُ أَحَدُنَا إِلَى قَبْضَةٍ مِنَ الْحَصَى، فَيَجْعَلُهَا فِي كَفِّهِ هَذِهِ، ثُمَّ فِي كَفِّهِ هَذِهِ، فَإِذَا بَرَدَتْ سَجَدَ عَلَيْهَا»[25]; “Kami salat bersama Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) dalam cuaca yang sangat panas. Kemudian salah seorang dari kami mengambil segenggam kerikil, lalu memindahkannya dari satu telapak tangan ke telapak tangan yang lain, dan ketika kerikil itu telah dingin, dia sujud di atasnya”; al-Baihaqi meriwayatkannya lalu berkata: “Seandainya sujud di atas pakaian yang melekat pada tubuh diperbolehkan, tentu hal itu lebih mudah daripada mendinginkan kerikil di telapak tangan lalu meletakkannya untuk sujud di atasnya.”[26] demikianlah perkataannya, padahal sebenarnya, jika sujud di atas pakaian yang terpisah pun diperbolehkan, tentu itu juga lebih mudah. Dalil lainnya adalah riwayat dari Khabbab bin al-Aratt; dia berkata: «شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ شِدَّةَ الرَّمْضَاءِ فِي جِبَاهِنَا وَأَكُفِّنَا فَلَمْ يُشْكِنَا»[27]; “Kami mengadu kepada Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) tentang dahsyatnya panas tanah yang membakar pada dahi dan telapak tangan kami, namun beliau tidak memberikan keringanan kepada kami”, dan riwayat dari Khalid al-Hadzdza’; dia berkata: «رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ صُهَيْبًا يَسْجُدُ كَأَنَّهُ يَتَّقِي التُّرَابَ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: تَرِّبْ وَجْهَكَ يَا صُهَيْبُ»[28]; “Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) melihat Suhaib sujud seakan-akan menghindari tanah. Maka Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) berkata kepadanya: ‘Tempelkan dahimu pada tanah, wahai Suhaib’”, dan riwayat dari Zadzan dan lainnya; mereka berkata: «رَأَتْ أُمُّ سَلَمَةَ ابْنَ عَمٍّ لَهَا سَاجِدًا، فَقَالَتْ: تَرِّبْ وَجْهَكَ، فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِمَوْلًى لَنَا يُقَالُ لَهُ رَبَاحٌ رَآهُ سَاجِدًا: تَرِّبْ وَجْهَكَ يَا رَبَاحُ»[29]; “Ummu Salamah melihat seorang kerabatnya sedang sujud. Maka dia berkata: ‘Tempelkan dahimu pada tanah; karena Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) berkata kepada seorang mantan budak kami bernama Rabah ketika beliau melihatnya sujud: ‘Tempelkan dahimu pada tanah, wahai Rabah.’” Ini juga merupakan pendapat para Imam Ahlul Bait yang Allah telah menghilangkan kotoran dari mereka dan menyucikan mereka sesuci-sucinya, dan Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) bersabda tentang mereka: «إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمْ لَنْ تَضِلُّوا»; “Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat”; sebagaimana diriwayatkan dari Hisyam bin al-Hakam, dia berkata: «قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ -يَعْنِي جَعْفَرَ بْنَ مُحَمَّدٍ- عَلَيْهِ السَّلَامُ: أَخْبِرْنِي عَمَّا يَجُوزُ السُّجُودُ عَلَيْهِ وَعَمَّا لَا يَجُوزُ؟ قَالَ: السُّجُودُ لَا يَجُوزُ إِلَّا عَلَى الْأَرْضِ أَوْ مَا أَنْبَتَتِ الْأَرْضُ إِلَّا مَا أُكِلَ أَوْ لُبِسَ، فَقُلْتُ لَهُ: جُعِلْتُ فِدَاكَ، مَا الْعِلَّةُ فِي ذَلِكَ؟ قَالَ: لِأَنَّ السُّجُودَ هُوَ الْخُضُوعُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ عَلَى مَا يُؤْكَلُ وَيُلْبَسُ، لِأَنَّ أَبْنَاءَ الدُّنْيَا عَبِيدُ مَا يَأْكُلُونَ وَيَلْبَسُونَ وَالسَّاجِدُ فِي سُجُودِهِ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ تَعَالَى، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَضَعَ جَبْهَتَهُ فِي سُجُودِهِ عَلَى مَعْبُودِ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا الَّذِينَ اغْتَرُّوا بِغُرُورِهَا، وَالسُّجُودُ عَلَى الْأَرْضِ أَفْضَلُ لِأَنَّهُ أَبْلَغُ فِي التَّوَاضُعِ وَالْخُضُوعِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»[30]; “Aku berkata kepada Abu Abdullah (yaitu Ja’far bin Muhammad) (Alaihis Salam): ‘Beritahukan kepadaku tentang apa yang boleh digunakan untuk sujud dan apa yang tidak boleh.’ Beliau berkata: ‘Sujud hanya boleh dilakukan di atas bumi atau apa yang tumbuh dari bumi, kecuali yang dimakan atau dipakai.’ Aku berkata kepada beliau: ‘Aku rela berkorban untukmu! Apa alasan untuk hal itu?’ Beliau berkata: ‘Karena sujud adalah bentuk ketundukan kepada Allah Azza wa Jalla, maka tidak pantas dilakukan di atas sesuatu yang dimakan dan dipakai; karena manusia dunia adalah hamba dari apa yang mereka makan dan pakai, sedangkan orang yang sujud sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka tidak pantas dia meletakkan dahinya ketika sujud di atas sesuatu yang menjadi sembahan manusia dunia yang tertipu oleh gemerlapnya. Sujud di atas bumi lebih utama karena lebih menunjukkan kerendahan hati dan ketundukan kepada Allah Azza wa Jalla.’” Tidak diragukan bahwa sujud di atas bumi lebih dekat kepada kekhusyukan dalam salat, dan Allah Ta’ala berfirman: ﴿الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ[31]; “Orang-orang yang khusyuk dalam salat mereka.” Selain itu, hal tersebut lebih bijak; karena siapa yang melakukannya, maka dia telah menunaikan kewajibannya tanpa ada perselisihan di antara umat Muslim, adapun orang yang tidak melakukannya, maka terdapat perselisihan tentangnya, dan orang yang bijak tidak meninggalkan sikap kehati-hatian dalam perkara seperti ini apabila dia termasuk orang-orang yang ﴿يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ[32]; “takut kepada Tuhan mereka dan khawatir terhadap buruknya perhitungan”, kecuali dia memiliki uzur seperti luka atau bisul di dahinya, atau panas maupun dingin yang ekstrem yang membahayakannya; hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: ﴿وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ[33]; “Dan Dia tidak menjadikan kesulitan bagi kalian dalam agama”, dan berdasarkan riwayat dari Anas bin Malik yang berkata: «كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فِي شِدَّةِ الْحَرِّ، فَإِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدُنَا أَنْ يُمَكِّنَ وَجْهَهُ مِنَ الْأَرْضِ بَسَطَ ثَوْبَهُ، فَسَجَدَ عَلَيْهِ»[34]; “Kami salat bersama Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) dalam cuaca yang sangat panas, dan jika salah seorang dari kami tidak mampu menempelkan dahinya ke bumi, dia akan membentangkan pakaiannya lalu sujud di atasnya.” Ini juga merupakan pendapat para Imam Ahlul Bait; sebagaimana Abu Basir meriwayatkan dari Abu Ja’far (Alaihis Salam), dia berkata: “Aku berkata kepada beliau: ‘Apabila aku sedang dalam perjalanan dan waktu salat tiba dan aku khawatir akan panas yang sangat menyengat dan ekstrem pada dahiku, apa yang harus aku lakukan?’ Beliau berkata: «تَسْجُدُ عَلَى بَعْضِ ثَوْبِكَ»; ‘Sujudlah di atas sebagian pakaianmu’”,[35] dan bertanya kepada Abu Abdullah (Alaihis Salam) tentang seorang lelaki yang salat dalam panas yang sangat terik lalu khawatir dahinya terkena bumi, beliau berkata: «يَضَعُ ثَوْبَهُ تَحْتَ جَبْهَتِهِ»[36]; “Dia boleh meletakkan pakaiannya di bawah dahinya.” Uyainah, seorang penjual tebu meriwayatkan dan berkata: “Aku berkata kepada Abu Abdullah (Alaihis Salam): ‘Aku masuk ke dalam masjid pada hari yang sangat panas, dan aku enggan salat di atas kerikil. Bolehkah aku membentangkan pakaianku dan sujud di atasnya?’ Beliau berkata: «نَعَمْ، لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ»; ‘Ya. Tidak ada yang salah dengan hal itu.’[37] Abdullah bin Ja’far meriwayatkan dari saudaranya Musa (Alaihis Salam) dan berkata: “Aku bertanya kepadanya tentang seseorang lelaki yang merasa sakit ketika dahinya menyentuh bumi saat salat sehingga dia tidak mampu sujud, ‘Apakah dia boleh menghamparkan pakaiannya di bawah tempat sujudnya, jika pakaian tersebut terbuat dari katun atau linen?’ Beliau berkata: «إِذَا كَانَ مُضْطَرًّا فَلْيَفْعَلْ»; ‘Jika dia dalam keadaan terpaksa, maka dia boleh melakukannya.’[38] Qasim bin al-Fudail meriwayatkan dan berkata: “Aku berkata kepada Rida (Alaihis Salam): ‘Aku rela berkorban untukmu! Bisakah seseorang sujud di atas lengan bajunya jika panas atau dingin menyakitinya?’ Beliau berkata: «لَا بَأْسَ بِهِ»; ‘Tidak ada yang salah dengan hal itu.’[39]

Adapun mengambil sesuatu dari bumi sebagai tempat sujud di rumah-rumah dan masjid-masjid, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Syiah, maka hal itu bukanlah perkara yang diada-adakan; sebagaimana Abu al-Walid berkata: «سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ عَمَّا كَانَ بَدْءُ هَذِهِ الْحَصْبَاءِ الَّتِي فِي الْمَسْجِدِ، قَالَ: نَعَمْ، مُطِرْنَا مِنَ اللَّيْلِ فَخَرَجْنَا لِصَلَاةِ الْغَدَاةِ، فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَمُرُّ عَلَى الْبَطْحَاءِ فَيَجْعَلُ فِي ثَوْبِهِ مِنَ الْحَصْبَاءِ فَيُصَلِّي عَلَيْهِ قَالَ: فَلَمَّا رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ ذَاكَ قَالَ: مَا أَحْسَنَ هَذَا الْبِسَاطَ، فَكَانَ ذَلِكَ فِي أَوَّلِ بَدْئِهِ»[40]; “Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang awal mula adanya kerikil-kerikil ini di masjid. Dia berkata: ‘Ya. Suatu malam ketika hujan, kami keluar untuk salat Subuh. Seorang lelaki melewati tanah berkerikil dan meletakkan sebagian kerikil itu ke dalam pakaiannya, lalu dia salat di atasnya. Ketika Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) melihat hal itu, beliau berkata: “Alangkah bagusnya alas ini.” Maka itulah awal mulanya’”, dan Umar bin Abdul Aziz membawa tanah, lalu meletakkannya di atas khumrah, dan sujud di atasnya[41], dan Masruq bin al-Ajda’, salah seorang sahabat Ibnu Mas’ud, apabila dia bepergian dengan kapal, dia membawa sebuah tanah liat dan sujud di atasnya[42]. Demikian pula mengambil sesuatu dari tanah yang Allah jadikan padanya keberkahan sebagai tempat sujud dengan tujuan mencari berkah; sebagaimana Razin, budak Ibnu Abbas, meriwayatkan dan berkata: “Ali bin Abdullah bin Abbas (semoga Allah meridainya) menulis kepadaku, memintaku untuk mengirimkannya sebongkah batu dari batu Marwah untuk sujud di atasnya.”[43] Mungkin orang pertama yang melakukan hal itu adalah Harmalah bin Zafar dari Bani Malik bin Rabi’ah. Dia datang menghadap Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) lalu mengambil segenggam tanah dari bawah kedua kaki Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam). Dia membawa tanah itu untuk keluarganya dan meletakkannya dalam sebuah kantong. Kemudian dia meletakkannya di tempat dia salat dan salat di atasnya[44]. Demikian pula mengambil sebagian tanah dari makam Nabi, Ahlul Bait beliau, dan para sahabat beliau yang saleh sebagai sarana mencari berkah; sebagaimana diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa ketika Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) telah dimakamkan, Fatimah datang lalu berdiri di sisi makam beliau. Kemudian Fatimah mengambil segenggam tanah dari makam tersebut, meletakkannya pada kedua matanya sambil menangis dan berkata: «مَاذَا عَلَى مَنْ شَمَّ تُرْبَةَ أَحْمَدَ ... أَنْ لَا يَشُمَّ مَدَى الزَّمَانِ غَوَالِيَا ... صُبَّتْ عَلَيَّ مَصَائِبٌ لَوْ أَنَّهَا ... صُبَّتْ عَلَى الْأَيَّامِ عُدْنَ لَيَالِيَا»[45]; “Orang yang telah menghirup harum tanah makam Ahmad … tidak lagi memerlukan keharuman apa pun sepanjang hidupnya … Musibah-musibah telah dicurahkan kepadaku, seandainya musibah itu dicurahkan kepada hari-hari … niscaya hari-hari yang terang pun berubah menjadi malam-malam.” Selain itu, Muttalib meriwayatkan bahwa orang-orang mengambil tanah dari makam Nabi hingga akhirnya Aisyah memerintahkan agar dibuatkan dinding di sekelilingnya untuk mencegah mereka mengambil tanah tersebut[46]. Muhammad bin Syurahbil meriwayatkan bahwa seorang lelaki mengambil segenggam tanah dari makam Sa’d bin Mu’adz pada hari pemakamannya dan membawanya pergi. Kemudian, dia melihat tanah tersebut ternyata telah menjadi kasturi. Kemudian Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) bersabda: «سُبْحَانَ اللَّهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ»; “Maha Suci Allah, Maha Suci Allah”, hingga hal itu tampak jelas pada raut wajah beliau[47]. Abd as-Salam bin Yazid as-Sunhaji berkata: “Aku bertanya kepada Ahmad bin Yakut tentang tanah makam yang dibawa orang-orang untuk mencari berkah, ‘Apakah hal itu boleh atau dilarang?’ Dia berkata: ‘Hal itu boleh. Orang-orang selalu mencari berkah dari makam para ulama, syuhada, dan orang-orang saleh, dan dahulu orang-orang biasa mengambil tanah makam tuan kami Hamzah bin Abdul Muttalib.’”[48] Az-Zarkasyi meriwayatkan adanya kesepakatan ulama terdahulu dan ulama kemudian mengenai pengambilan tanah Hamzah (semoga Allah meridainya), yaitu tanah yang diambil dari tempat dia gugur, untuk dijadikan obat sakit kepala[49], dan tidak diragukan lagi bahwa tanah makam Husain (Alaihis Salam) juga seperti itu atau bahkan lebih utama daripada itu, bahkan dapat dikatakan bahwa mengambil sebagian tanah makam Husain (Alaihis Salam) merupakan Sunah; karena orang pertama yang melakukannya adalah Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam); sebagaimana Ummu Salamah meriwayatkan dan berkata: «كَانَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ يَلْعَبَانِ بَيْنَ يَدَيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِي، فَنَزَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ أُمَّتَكَ تَقْتُلُ ابْنَكَ هَذَا مِنْ بَعْدِكَ، وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى الْحُسَيْنِ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَبَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَضَمَّهُ إِلَى صَدْرِهِ، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: وَدِيعَةٌ عِنْدَكِ هَذِهِ التُّرْبَةُ، فَشَمَّهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: رِيحُ كَرْبٍ وَبَلَاءٍ، قَالَتْ: وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: يَا أُمَّ سَلَمَةَ، إِذَا تَحَوَّلَتْ هَذِهِ التُّرْبَةُ دَمًا فَاعْلَمِي أَنَّ ابْنِي قَدْ قُتِلَ، قَالَتْ: فَجَعَلْتُهَا فِي قَارُورَةٍ، ثُمَّ جَعَلَتْ تَنْظُرُ إِلَيْهَا كُلَّ يَوْمٍ وَتَقُولُ: إِنَّ يَوْمًا تَحَوَّلِينَ فِيهِ دَمًا لَيَوْمٌ عَظِيمٌ»[50]; “Hasan dan Husain (AS) sedang bermain di hadapan Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) di rumahku. Kemudian Jibril (Alaihis Salam) turun dan berkata: ‘Wahai Muhammad! Umatmu akan membunuh anakmu ini setelahmu’, sambil menunjuk kepada Husain (Alaihis Salam). Maka Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) menangis dan memeluknya ke dada beliau. Kemudian Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) berkata (kepadaku): ‘Tanah ini kutitipkan kepadamu.’ Kemudian Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) menciumnya dan berkata: ‘Ini adalah bau kesedihan dan penderitaan’, dan berkata: ‘Wahai Ummu Salamah! Apabila tanah ini berubah menjadi darah, maka ketahuilah bahwa anakku telah terbunuh.’ Aku menyimpannya dalam sebuah botol. Kemudian aku melihatnya setiap hari dan berkata: ‘Hari ketika engkau berubah menjadi darah adalah hari yang sangat besar.’” Anas bin Malik meriwayatkan: «أَنَّ مَلَكَ الْمَطَرِ اسْتَأْذَنَ أَنْ يَأْتِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، فَأَذِنَ لَهُ، فَقَالَ لِأُمِّ سَلَمَةَ: امْلِكِي عَلَيْنَا الْبَابَ، لَا يَدْخُلْ عَلَيْنَا أَحَدٌ، قَالَ: وَجَاءَ الْحُسَيْنُ لِيَدْخُلَ فَمَنَعَتْهُ، فَوَثَبَ فَدَخَلَ فَجَعَلَ يَقْعُدُ عَلَى ظَهْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مَنْكِبِهِ، وَعَلَى عَاتِقِهِ، قَالَ: فَقَالَ الْمَلَكُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: أَتُحِبُّهُ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: أَمَا إِنَّ أُمَّتَكَ سَتَقْتُلُهُ، وَإِنْ شِئْتَ أَرَيْتُكَ الْمَكَانَ الَّذِي يُقْتَلُ فِيهِ، فَضَرَبَ بِيَدِهِ فَجَاءَ بِطِينَةٍ حَمْرَاءَ، فَأَخَذَتْهَا أُمُّ سَلَمَةَ فَصَرَّتْهَا فِي خِمَارِهَا»[51]; “bahwa Malaikat hujan meminta izin (kepada Tuhannya) untuk menemui Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) dan Dia mengizinkannya. Nabi berkata kepada Ummu Salamah: ‘Jagalah pintu untuk kami, jangan biarkan seorang pun masuk.’ Kemudian Husain datang dan mencoba untuk masuk, tetapi Ummu Salamah mencegahnya. Namun dia melompat dan masuk, lalu duduk di punggung, bahu, dan leher Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam). Kemudian Malaikat berkata kepada Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam): ‘Apakah engkau mencintainya?’ Beliau berkata: ‘Ya.’ Malaikat berkata: ‘Tetapi umatmu akan membunuhnya, dan jika engkau mau, aku akan memperlihatkan kepadamu tempat dia akan dibunuh.’ Kemudian beliau memukulkan tangannya (ke bumi) dan mengambil segumpal tanah merah. Kemudian Ummu Salamah mengambilnya dan membungkusnya dalam kerudungnya.” Aisyah, Zainab, dan Ummu al-Fadl binti al-Harits meriwayatkan yang serupa, dan Nujay al-Hadrami, yang merupakan pembawa bejana wudu Ali meriwayatkan dan berkata: «خَرَجْنَا مَعَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى صِفِّينَ، فَلَمَّا حَاذَى نِيْنَوَى قَالَ: صَبْرًا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، صَبْرًا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ بِشَطِّ الْفُرَاتِ، قَالَ: قُلْتُ: وَمَاذَا؟ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَعَيْنَاهُ تَفِيضَانِ، قَالَ: فَقُلْتُ لَهُ: هَلْ أَغْضَبَكَ أَحَدٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ مَالِي أَرَى عَيْنَيْكَ تَفِيضَانِ؟ قَالَ: أَخْبَرَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّ أُمَّتِي تَقْتُلُ ابْنِي الْحُسَيْنَ، ثُمَّ قَالَ لِي: هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ أُشِمَّكَ مِنْ تُرْبَتِهِ؟ قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: فَمَدَّ يَدَهُ فَقَبَضَ قَبْضَةً مِنْ تُرَابٍ فَأَعْطَانِيهَا، فَلَمَّا رَأَيْتُهَا لَمْ أَمْلِكْ عَيْنَيَّ أَنْ فَاضَتَا»[52]; “Kami keluar bersama Ali (semoga Allah meridai beliau) menuju Siffin. Ketika beliau melewati Niniwe, beliau berkata: ‘Bersabarlah, Aba Abdullah. Bersabarlah, Aba Abdullah, di tepi sungai Efrat.’ Aku berkata: ‘Apa maksudnya?’ Beliau berkata: ‘Aku menemui Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) sementara kedua mata beliau bercucuran air mata. Aku berkata kepada beliau: “Apakah seseorang telah membuatmu marah, wahai Rasulullah? Mengapa aku melihat kedua matamu berlinang?” Beliau berkata: “Jibril (Alaihis Salam) telah memberitahuku bahwa umatku akan membunuh putraku Husain.” Kemudian beliau berkata kepadaku: “Apakah engkau ingin mencium tanahnya?” Aku berkata: “Ya.” Kemudian beliau mengulurkan tangannya, mengambil segenggam tanah dan memberikannya kepadaku. Ketika aku melihatnya, aku tidak mampu menahan air mataku!’” Berdasarkan hal ini, mengambil sebagian tanah dari makam Husain (Alaihis Salam) adalah Sunah, dan tidak perlu menghiraukan bisikan sebagian orang bodoh dan kaum nashibi yang mengira hal itu sebagai bid’ah atau syirik karena dangkalnya pemahaman dan menyimpangnya hati mereka. Tidak ada yang salah dengan sujud di atas tanah tersebut dalam salat dengan tujuan mencari berkah; sebagaimana Mu’awiyah bin Ammar meriwayatkan dan berkata: «كَانَ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ خَرِيطَةُ دِيبَاجٍ صَفْرَاءَ فِيهَا تُرْبَةُ الْحُسَيْنِ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَكَانَ إِذَا حَضِرَتْهُ الصَّلَاةُ صَبَّهُ عَلَى سَجَّادَتِهِ وَسَجَدَ عَلَيْهِ»[53]; “Abu Abdullah Ja’far bin Muhammad (Alaihis Salam) memiliki sebuah kantong sutra kuning yang berisi tanah (makam) Husain (Alaihis Salam). Apabila waktu salat tiba, beliau menuangkan tanah itu ke atas sajadahnya lalu bersujud di atasnya.” Mansur (Hafizhahullah Ta‘ala) juga memiliki kantong yang serupa; sebagaimana seorang sahabat kami mengabarkan kepada kami, dia berkata:

«وَجَدْتُ فِي سَجَّادَةِ الْمَنْصُورِ خَرِيطَةً خَضْرَاءَ، فَسَأَلْتُهُ عَنْهَا، فَقَالَ: فِيهَا تُرْبَةُ الْحُسَيْنِ عَلَيْهِ السَّلَامُ، قُلْتُ: وَمَا تَصْنَعُ بِهَا؟ قَالَ: أَتَبَرَّكُ بِهَا وَأَسْجُدُ عَلَيْهَا»; “Aku menemukan sebuah kantong hijau di sajadah Mansur. Kemudian aku bertanya kepada beliau tentang hal itu. Maka beliau berkata: ‘Di dalamnya terdapat tanah (makam) Husain (Alaihis Salam).’ Aku berkata: ‘Apa yang engkau lakukan dengannya?’ Beliau berkata: ‘Aku mencari berkah dengannya dan sujud di atasnya.’”

Akan tetapi, tidak diperbolehkan apa yang dilakukan sebagian kaum Syiah berupa menuliskan nama Allah, nama Nabi dan Ahlul Bait beliau, atau sesuatu dari Al-Qur’an pada tanah tersebut; karena tanah itu diletakkan di atas bumi dan berada di bawah kaki. Hal tersebut merupakan perkara yang diada-adakan dan jika terdapat tulisan semacam itu padanya, maka wajib dihapus, ﴿وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ[54]; “dan siapa saja yang mengagungkan perkara-perkara yang disucikan oleh Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya.”

↑[1] . Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 2, hal. 169; Musnad Ahmad, vol. 12, hal. 207; Musnad ad-Darimi, vol. 2, hal. 873; Sahih al-Bukhari, vol. 1, hal. 95; Sahih Muslim, vol. 1, hal. 370; Sunan Ibnu Majah, vol. 1, hal. 188; Sunan at-Tirmidzi, vol. 1, hal. 418; Sunan an-Nasa’i, vol. 2, hal. 56; Musnad as-Syihab oleh Ibnu Salamah, vol. 2, hal. 166; al-Sunan al-Kubra oleh al-Bayhaqi, vol. 1, hal. 326
↑[2] . Musnad Ahmad, vol. 31, hal. 135; Musnad al-Bazzar, vol. 10, hal. 347
↑[3] . Sahih al-Bukhari, vol. 1, hal. 167; Sahih Muslim, vol. 2, hal. 826
↑[4] . Musannaf Abd ar-Razzaq, vol. 1, hal. 397
↑[5] . Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 5, hal. 349; Musnad Ishaq bin Rahwayh, vol. 4, hal. 94; Musnad ad-Darimi, vol. 2, hal. 865; Sahih al-Bukhari, vol. 1, hal. 86; Sahih Muslim, vol. 1, hal. 458; Sunan Ibnu Majah, vol. 1, hal. 328; Sunan Abu Dawud, vol. 1, hal. 176; Sunan at-Tirmidzi, vol. 2, hal. 151; Sunan an-Nasa’i, vol. 2, hal. 57; al-Sunan al-Kubra oleh al-Bayhaqi, vol. 2, hal. 590
↑[6] . Musannaf Abd ar-Razzaq, vol. 1, hal. 397
↑[7] . Musannaf Abd ar-Razzaq, vol. 1, hal. 402; Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 1, hal. 353; al-Fawa’id al-Shahir Bi al-Ghilaniyat oleh Abu Bakr as-Syafi’i, vol. 1, hal. 77; al-Mu‘jam al-Kabir oleh at-Tabarani, vol. 24, hal. 349
↑[8] . Fath al-Bari oleh Ibnu Rajab, vol. 3, hal. 19
↑[9] . Musannaf Abd ar-Razzaq, vol. 1, hal. 397; Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 1, hal. 353; al-Mu‘jam al-Kabir oleh at-Tabarani, vol. 9, hal. 255
↑[10] . Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 1, hal. 240; al-Sunan al-Kubra oleh al-Bayhaqi, vol. 2, hal. 152
↑[11] . Al-Sunan al-Kubra oleh al-Bayhaqi, vol. 2, hal. 152
↑[12] . Musannaf Abd ar-Razzaq, vol. 1, hal. 397; al-Mu‘jam al-Kabir oleh at-Tabarani, vol. 9, hal. 255
↑[13] . Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 1, hal. 352
↑[14] . Musannaf Abd ar-Razzaq, vol. 1, hal. 393
↑[15] . Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 1, hal. 352
↑[16] . Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 1, hal. 353
↑[17] . Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 1, hal. 353
↑[18] . Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 1, hal. 353
↑[19] . Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 1, hal. 351
↑[20] . Al-Mudawwanah oleh Malik bin Anas, vol. 1, hal. 170
↑[21] . Fath al-Bari oleh Ibnu Rajab, vol. 3, hal. 26
↑[22] . Musannaf Abd ar-Razzaq, vol. 1, hal. 391
↑[23] . Musannaf Abd ar-Razzaq, vol. 1, hal. 392
↑[24] . Musannaf Abd ar-Razzaq, vol. 1, hal. 401
↑[25] . Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 1, hal. 286; Musnad Ahmad, vol. 22, hal. 386; Sunan Abu Dawud, vol. 1, hal. 110; Sunan an-Nasa’i, vol. 2, hal. 204; Musnad Abu Ya’la, vol. 7, hal. 178; Hadith al-Siraj, vol. 2, hal. 372; Sahih Ibnu Hibban, vol. 6, hal. 52; al-Mustadrak Ala al-Sahihain oleh al-Hakim, vol. 1, hal. 309
↑[26] . Al-Sunan al-Kubra oleh al-Bayhaqi, vol. 2, hal. 151
↑[27] . Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 1, hal. 285; Hadith al-Siraj, vol. 2, hal. 270; al-Musnad oleh as-Syasyi, vol. 2, hal. 415; Majmu‘ Fihi Musannafat Abu Ja’far bin al-Bakhtari, vol. 1, hal. 445; al-Mu‘jam al-Kabir oleh at-Tabarani, vol. 4, hal. 80; al-Sunan al-Kubra oleh al-Bayhaqi, vol. 2, hal. 154
↑[28] . Musannaf Abd ar-Razzaq, vol. 1, hal. 391
↑[29] . Musnad Ishaq bin Rahwayh, vol. 4, hal. 134; Musnad Ahmad, vol. 44, hal. 196 dan 325; Sunan at-Tirmidzi, vol. 2, hal. 220; Musnad Abu Ya’la, vol. 12, hal. 385; al-Kuna Wa al-Asma’ oleh ad-Dulabi, vol. 2, hal. 490; al-Mu‘jam al-Kabir oleh at-Tabarani, vol. 23, hal. 324 dan 394; al-Mustadrak Ala al-Sahihain oleh al-Hakim, vol. 1, hal. 404; Ma‘rifah al-Sahabah oleh Abu Nu’aim al-Asbahani, vol. 1, hal. 335; al-Sunan al-Kubra oleh al-Bayhaqi, vol. 2, hal. 358
↑[30] . Man La Yahduruh al-Faqih oleh Ibnu Babawayh, vol. 1, hal. 272
↑[31] . Al-Mu’minun/ 2
↑[32] . Ar-Ra‘d/ 21
↑[33] . Al-Hajj/ 78
↑[34] . Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 1, hal. 241; Musnad Ahmad, vol. 19, hal. 33; Sahih al-Bukhari, vol. 2, hal. 64; Sahih Muslim, vol. 1, hal. 433; Sunan Ibnu Majah, vol. 1, hal. 329; Sunan Abu Dawud, vol. 1, hal. 177; Musnad Abu Ya’la, vol. 7, hal. 176; Mustakhraj Abu Awanah, vol. 1, hal. 288; al-Sunan al-Kubra oleh al-Bayhaqi, vol. 2, hal. 152
↑[35] . Tahdhib al-Ahkam oleh at-Tusi, vol. 2, hal. 306
↑[36] . Man La Yahduruh al-Faqih oleh Ibnu Babawayh, vol. 1, hal. 261
↑[37] . Tahdhib al-Ahkam oleh at-Tusi, vol. 2, hal. 306
↑[38] . Masa’il Ali bin Ja’far, hal. 225; Qurb al-Isnad oleh al-Himayri, hal. 184
↑[39] . Tahdhib al-Ahkam oleh at-Tusi, vol. 2, hal. 307
↑[40] . Sunan Abu Dawud, vol. 1, hal. 125; al-Sunan al-Kubra oleh al-Bayhaqi, vol. 2, hal. 618
↑[41] . Sharh Sahih al-Bukhari oleh Ibnu Battal, vol. 2, hal. 43
↑[42] . al-Tabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa’d, vol. 6, hal. 79
↑[43] . Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 1, hal. 246; Akhbar Makkah oleh al-Azraqi, vol. 2, hal. 151
↑[44] . Ansab al-Ashraf oleh al-Baladhuri, vol. 12, hal. 144
↑[45] . Al-Durrah al-Thaminah Fi Akhbar al-Madinah oleh Ibnu an-Najjar, vol. 1, hal. 139
↑[46] . Ithaf al-Za’ir Wa Itraf al-Muqim Li al-Sa’ir oleh Abu al-Yumn bin Asakir, vol. 1, hal. 180; Wafa’ al-Wafa’ Bi Akhbar Dar al-Mustafa oleh as-Samhudi, vol. 2, hal. 111; Subul al-Huda Wa al-Rashad oleh as-Salihi as-Syami, vol. 12, hal. 345
↑[47] . Maghazi al-Waqidi, vol. 2, hal. 528; al-Tabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa’d, vol. 3, hal. 431; Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 7, hal. 375; Musnad Ishaq bin Rahwayh, vol. 2, hal. 552; Ma‘rifah al-Sahabah oleh Abu Nu’aim al-Asbahani, vol. 1, hal. 196
↑[48] . Wafa’ al-Wafa’ Bi Akhbar Dar al-Mustafa oleh as-Samhudi, vol. 1, hal. 95
↑[49] . Khulasah al-Wafa’ Bi Akhbar Dar al-Mustafa oleh as-Samhudi, vol. 1, hal. 236
↑[50] . Al-Mu‘jam al-Kabir oleh at-Tabarani, vol. 3, hal. 108; Tartib al-Amali al-Khamisiyyah oleh as-Syajari, vol. 1, hal. 215; Bughyah al-Talab Fi Tarikh Halab oleh Ibnu al-Adim, vol. 6, hal. 599; Sejarah Damaskus oleh Ibnu Asakir, vol. 14, hal. 192, dan sebuah riwayat yang dekat dengannya dalam al-Tabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa’d (Tingkatan Kelima dari Para Sahabat), vol. 1, hal. 423; al-Muntakhab Min Musnad Abd bin Humaid, vol. 2, hal. 384; al-Ahad Wa al-Mathani oleh Ibnu Abi Asim, vol. 1, hal. 310; al-Mustadrak Ala al-Sahihain oleh al-Hakim, vol. 4, hal. 440; Dala’il al-Nubuwwah oleh al-Bayhaqi, vol. 6, hal. 468.
↑[51] . Musnad Ahmad, vol. 21, hal. 172; Musnad al-Bazzar, vol. 13, hal. 306; Dala’il al-Nubuwwah oleh Abu Nu’aim al-Asbahani, hal. 553; Dala’il al-Nubuwwah oleh al-Bayhaqi, vol. 6, hal. 469
↑[52] . Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 7, hal. 478; Musnad Ahmad, vol. 2, hal. 78; al-Ahad Wa al-Mathani oleh Ibnu Abi Asim, vol. 1, hal. 308; Musnad al-Bazzar, vol. 3, hal. 101; Musnad Abu Ya’la, vol. 1, hal. 298; al-Mu‘jam al-Kabir oleh at-Tabarani, vol. 3, hal. 105; Tartib al-Amali al-Khamisiyyah oleh as-Syajari, vol. 1, hal. 210
↑[53] . Misbah al-Mutahajjid oleh at-Tusi, hal. 733
↑[54] . Al-Hajj/ 30
Pusat Informasi Kantor Mansur Hasyimi Khorasani Bagian menjawab pertanyaan
Bagikan
Bagikan konten ini dengan teman-teman Anda untuk membantu menyebarkan pengetahuan; memberi tahu orang lain tentang pengetahuan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih.
Email
Telegram
Facebook
Twitter
Anda juga bisa membaca konten ini dalam bahasa berikut ini:
Jika Anda fasih dalam bahasa lain, terjemahkan konten ini ke bahasa tersebut dan kirimkan terjemahan Anda kepada kami untuk diterbitkan di situs web. [Formulir Terjemahan]
Ajukan Pertanyaan
Pengguna yang terhormat! Anda dapat menuliskan pertanyaan terkait pendapat Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (semoga Allah melindunginya) pada formulir di bawah ini dan mengirimkannya kepada kami untuk dijawab di bagian ini.
Perhatian: Nama Anda mungkin akan ditampilkan sebagai penulis pertanyaan ini di situs web.
Perhatian: Dikarenakan tanggapan kami akan dikirimkan ke alamat email Anda dan tidak akan dipublikasikan di situs web, maka penting untuk menuliskan alamat email Anda dengan benar.