Jum’at, 26 Juni 2026 / 11 Muharam 1448 H
Mansur Hasyimi Khorasani

 Pertanyaan baru: Apa alasan Mansur Hasyimi Khorasani menggunakan panji-panji hitam? Klik di sini untuk membaca jawaban. Ucapan baru: Sebuah ucapan yang sangat penting dan mencerahkan dari Yang Mulia beliau tentang syarat bagi kemunculan al-Mahdi. Klik di sini untuk membaca. Surat baru: Sebuah kutipan dari surat Yang Terhormat untuk salah satu pendamping beliau, di mana beliau menasihatinya dan memperingatkannya agar takut kepada Allah. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web. Pelajaran baru: Pelajaran dari Yang Mulia tentang fakta bahwa bumi tidak pernah kosong dari seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang agama, yang telah Allah tunjuk sebagai khalifah, imam, dan pembimbing di atasnya sesuai dengan perintah-Nya; Ayat-ayat Al Qur’an tentangnya; Ayat no. 16. Klik di sini untuk membaca. Artikel baru: Artikel “Sebuah ulasan buku Kembali ke Islam karya Mansur Hasyimi Khorasani” ditulis oleh “Sayyed Mohammad Sadeq Javadian” telah terbit. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web.
loading
Tanya Jawab
 

Dalam buku Kembali ke Islam, Allamah Mansur Hasyimi Khorasani mengatakan bahwa beliau tidak menyukai filsafat; “karena meskipun sebagian hasilnya benar, namun metodenya berbeda dari metode orang-orang yang berakal, dan lebih bersifat mental dan abstrak daripada yang bermanfaat bagi mereka.” Lalu bagaimana pendapat beliau tentang ilmu-ilmu rasional lainnya, seperti ilmu logika dan teologi Islam?

Teologi Islam adalah ilmu yang bermanfaat jika tujuannya adalah untuk memahami akidah Islam berdasarkan dalil dan untuk membelanya dari keraguan para penentang; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ﴿ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ[1]; “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik”, dan berfirman: ﴿قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ[2]; “Katakanlah: ‘Bawalah bukti kalian jika kalian orang-orang yang benar.’” Namun, jika tujuannya adalah untuk berdebat dengan menggunakan kekeliruan logika (sesat pikir) dan mempermainkan istilah-istilah untuk membela keyakinan yang tidak memiliki bukti, maka hal itu merupakan racun yang mematikan, sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala: ﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ[3]; “Dan di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab yang memberi cahaya”, dan Dia berfirman: ﴿إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ ۚ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ[4]; “Sesungguhnya, orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa bukti yang datang kepada mereka, di dalam dada mereka tidak lain hanyalah kesombongan yang mereka tidak akan mencapainya. Maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”, dan berfirman: ﴿الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۖ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ[5]; “Orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa bukti yang datang kepada mereka, sangat besar kebenciannya di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci setiap hati orang yang sombong lagi angkuh.” Oleh karena itu, hadis-hadis dan riwayat-riwayat sejarah yang diriwayatkan dalam rangka mencela teologi Islam dipahami merujuk kepada jenis teologi Islam yang seperti ini, di antaranya adalah riwayat-riwayat yang dihimpun oleh Abu al-Fadl ar-Razi (w. 454 H) dalam buku Ahadith Fi Dhamm al-Kalam Wa Ahlih dan oleh Abu Isma’il al-Harawi (w. 481 H) dalam buku Dhamm al-Kalam Wa Ahlih.

Keadaan ini juga berlaku pada ilmu logika. Apa saja dari ilmu tersebut yang membantu dalam memahami kaidah-kaidah berpikir dan bernalar, serta agar tidak tertipu oleh berbagai kekeliruan logika (sesat pikir), maka itu bermanfaat. Adapun segala sesuatu yang melampaui batas tersebut hanyalah pemborosan waktu dan tenaga, kesibukan dengan pembicaraan yang sia-sia, dan termasuk sikap berlebih-lebihan yang serupa dengan filsafat, sementara Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) telah melarang hal itu melalui sabda beliau: «إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ»[6]; “Sesungguhnya Allah membenci bagi kalian omong kosng, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta”, dan diriwayatkan bahwa beliau bersabda: «هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ»[7]; “Celakalah orang-orang yang berlebihan”, tiga kali.

↑[1] . An-Nahl/ 125
↑[2] . Al-Baqarah/ 111
↑[3] . Al-Hajj/ 8
↑[4] . Ghafir/ 56
↑[5] . Ghafir/ 35
↑[6] . Musnad Ahmad, vol. 30, hal. 115; Musnad al-Shihab oleh al-Quda’i, vol. 2, hal. 156
↑[7] . Musnad Ibnu Abi Shaybah, vol. 1, hal. 146
Pusat Informasi Kantor Mansur Hasyimi Khorasani Bagian menjawab pertanyaan
Bagikan
Bagikan konten ini dengan teman-teman Anda untuk membantu menyebarkan pengetahuan; memberi tahu orang lain tentang pengetahuan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih.
Email
Telegram
Facebook
Twitter
Anda juga bisa membaca konten ini dalam bahasa berikut ini:
Jika Anda fasih dalam bahasa lain, terjemahkan konten ini ke bahasa tersebut dan kirimkan terjemahan Anda kepada kami untuk diterbitkan di situs web. [Formulir Terjemahan]
Ajukan Pertanyaan
Pengguna yang terhormat! Anda dapat menuliskan pertanyaan terkait pendapat Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (semoga Allah melindunginya) pada formulir di bawah ini dan mengirimkannya kepada kami untuk dijawab di bagian ini.
Perhatian: Nama Anda mungkin akan ditampilkan sebagai penulis pertanyaan ini di situs web.
Perhatian: Dikarenakan tanggapan kami akan dikirimkan ke alamat email Anda dan tidak akan dipublikasikan di situs web, maka penting untuk menuliskan alamat email Anda dengan benar.