Senin, 24 Agustus 2026 / 11 Rabiul Awal 1448 H
Mansur Hasyimi Khorasani

 Pertanyaan baru: Para Imam Ahlul Bait tidak pernah mengambil emas untuk diri mereka sendiri walaupun hanya seberat satu mitsqal selama mereka masih hidup. Bagaimana mungkin makam-makam mereka dipenuhi dengan emas?! Klik di sini untuk membaca jawaban. Ucapan baru: Sebuah ucapan yang sangat penting dan mencerahkan dari Yang Mulia beliau tentang syarat bagi kemunculan al-Mahdi. Klik di sini untuk membaca. Surat baru: Sebuah kutipan dari surat Yang Terhormat untuk salah satu pendamping beliau, di mana beliau menasihatinya dan memperingatkannya agar takut kepada Allah. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web. Pelajaran baru: Pelajaran dari Yang Mulia tentang fakta bahwa bumi tidak pernah kosong dari seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang agama, yang telah Allah tunjuk sebagai khalifah, imam, dan pembimbing di atasnya sesuai dengan perintah-Nya; Ayat-ayat Al Qur’an tentangnya; Ayat no. 16. Klik di sini untuk membaca. Artikel baru: Artikel “Sebuah ulasan buku Kembali ke Islam karya Mansur Hasyimi Khorasani” ditulis oleh “Sayyed Mohammad Sadeq Javadian” telah terbit. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web.
loading
Tanya Jawab
 

Apa hukum salat di dalam pesawat dan bagaimana tata caranya?

Salat ketika sedang dalam perjalanan hanya dibolehkan bagi orang yang khawatir akan mengalami bahaya terhadap dirinya atau hartanya apabila menunda salat hingga akhir waktunya; karena Allah Ta’ala berfirman: ﴿فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا[1]; “Jika kalian dalam keadaan takut, maka (salatlah) sambil berjalan atau berkendaraan.” Oleh karena itu, apabila seseorang salat dalam keadaan sedang bepergian, kemudian rasa takutnya hilang dan waktu salat masih ada, maka dia wajib mengulang salatnya; karena Allah Ta’ala berfirman: ﴿فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ[2]; “Jika kalian telah aman, maka ingatlah Allah”, dan berfirman: ﴿فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ[3]; “Jika kalian telah merasa tenteram, maka dirikanlah salat.” Orang yang salat dalam keadaan sedang dalam perjalanan, hendaknya salat sambil berdiri dan menghadap kiblat selama dia mampu melakukannya. Jika hal itu tidak memungkinkan, maka hendaklah dia salat sesuai dengan kemampuannya; karena Allah Ta’ala berfirman: ﴿لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا[4]; “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”, dan berfirman: ﴿وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ[5]; “Dan Dia tidak menjadikan kesulitan bagi kalian dalam agama.” Setidaknya, dia harus mengucapkan takbiratul ihram sambil menghadap kiblat; sebagaimana seorang sahabat kami mengabarkan kepada kami, dia berkata:

«سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ عَنِ الصَّلَاةِ فِي الطَّيَّارَةِ، فَقَالَ: اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَكَبِّرْ، ثُمَّ اسْتَقْبِلْ حَيْثُ تَسْتَقْبِلُ الطَّيَّارَةُ، وَلَا تُصَلِّ فِيهَا مَكْتُوبَةً إِلَّا وَأَنْتَ خَائِفٌ، قُلْتُ: أُصَلِّي فِيهَا جَالِسًا؟ قَالَ: تُصَلِّي قَائِمًا أَبَدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبِكَ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَبِالْإِيمَاءِ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَبِالنِّيَّةِ، وَهَذَا كَقَوْلِ الْحَدَّادِ لِفَتَاهُ: مُتْ وَأَنْتَ نَافِخٌ!»[6]“Aku bertanya kepada Mansur tentang salat di dalam pesawat, maka beliau berkata: ‘Hadapkanlah dirimu ke kiblat dan bertakbirlah, kemudian hadaplah ke arah mana saja pesawat menghadap, dan janganlah engkau melaksanakan salat wajib di dalamnya kecuali dalam keadaan takut (waktunya akan terlewat)!’ Aku berkata: ‘Apakah aku salat di dalamnya dalam keadaan duduk?’ Beliau berkata: ‘Engkau salat dalam keadaan berdiri, dan jika engkau tidak mampu, maka dengan duduk, dan jika engkau tidak mampu, maka dengan berbaring miring, dan jika engkau tidak mampu, maka dengan isyarat, dan jika engkau tidak mampu, maka dengan niat, dan ini seperti perkataan seorang pandai besi (dalam peribahasa yang terkenal) yang berkata kepada muridnya: Matilah sambil meniup!’[7]

↑[1] . Al-Baqarah/ 239
↑[2] . Al-Baqarah/ 239
↑[3] . An-Nisa’/ 103
↑[4] . Al-Baqarah/ 286
↑[5] . Al-Hajj/ 78
↑[7] . Ini merupakan peribahasa Persia. Mereka berkata: «بمير و بدم», yang maknanya, “Lakukanlah semampumu”, dan mereka memiliki sebuah kisah terkait hal tersebut yang telah diisyaratkan oleh Yang Mulia Allamah (Hafizhahullah Ta‘ala).
Pusat Informasi Kantor Mansur Hasyimi Khorasani Bagian menjawab pertanyaan
Bagikan
Bagikan konten ini dengan teman-teman Anda untuk membantu menyebarkan pengetahuan; memberi tahu orang lain tentang pengetahuan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih.
Email
Telegram
Facebook
Twitter
Anda juga bisa membaca konten ini dalam bahasa berikut ini:
Ajukan Pertanyaan
Pengguna yang terhormat! Anda dapat menuliskan pertanyaan terkait pendapat Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (semoga Allah melindunginya) pada formulir di bawah ini dan mengirimkannya kepada kami untuk dijawab di bagian ini.
Perhatian: Nama Anda mungkin akan ditampilkan sebagai penulis pertanyaan ini di situs web.
Perhatian: Dikarenakan tanggapan kami akan dikirimkan ke alamat email Anda dan tidak akan dipublikasikan di situs web, maka penting untuk menuliskan alamat email Anda dengan benar.