Jum’at, 26 Juni 2026 / 11 Muharam 1448 H
Mansur Hasyimi Khorasani

 Pertanyaan baru: Apa alasan Mansur Hasyimi Khorasani menggunakan panji-panji hitam? Klik di sini untuk membaca jawaban. Ucapan baru: Sebuah ucapan yang sangat penting dan mencerahkan dari Yang Mulia beliau tentang syarat bagi kemunculan al-Mahdi. Klik di sini untuk membaca. Surat baru: Sebuah kutipan dari surat Yang Terhormat untuk salah satu pendamping beliau, di mana beliau menasihatinya dan memperingatkannya agar takut kepada Allah. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web. Pelajaran baru: Pelajaran dari Yang Mulia tentang fakta bahwa bumi tidak pernah kosong dari seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang agama, yang telah Allah tunjuk sebagai khalifah, imam, dan pembimbing di atasnya sesuai dengan perintah-Nya; Ayat-ayat Al Qur’an tentangnya; Ayat no. 16. Klik di sini untuk membaca. Artikel baru: Artikel “Sebuah ulasan buku Kembali ke Islam karya Mansur Hasyimi Khorasani” ditulis oleh “Sayyed Mohammad Sadeq Javadian” telah terbit. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web.
loading
Tanya Jawab
 

Sejauh mana hubungan Imam Mahdi (Alaihis Salam) dengan mazhab-mazhab Islam?

Sungguh telah sesat orang-orang yang menjadikan al-Mahdi menjadi dua al-Mahdi: al-Mahdi Syiah dan al-Mahdi Sunni; karena al-Mahdi itu satu, yaitu seorang lelaki dari keturunan Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) dari keturunan Fatimah, yang akan muncul pada akhir zaman untuk memenuhi bumi dengan keadilan dan keseimbangan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penindasan, dan menolong beliau adalah kewajiban atas setiap Muslim. Tidak ada perbedaan terkait hal ini di antara dua kelompok tersebut. Perbedaan mereka hanyalah mengenai nama ayah beliau dan waktu kelahiran beliau. Kelompok yang satu meyakini bahwa beliau adalah putra Hasan dan telah lahir sebelumnya, sedangkan kelompok yang lain meyakini bahwa beliau adalah putra Abdullah dan tidak diketahui apakah beliau telah lahir atau belum. Namun, perbedaan ini tidak memiliki pengaruh terhadap upaya mempersiapkan jalan bagi kemunculan beliau; karena mempersiapkan jalan bagi kemunculan beliau tetap wajib dalam kedua keadaan tersebut, baik nama ayah beliau Abdullah maupun Hasan, dan baik beliau telah lahir sebelumnya ataupun lahir pada waktu yang akan datang; sebagaimana hal itu telah dijelaskan oleh Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (Hafizhahullah Ta‘ala) dalam buku Geometri Keadilan, ketika beliau berkata:

Mereka yang bersikeras bahwa al-Mahdi belum lahir, dan tidak melihat peran mereka dalam keberadaannya, dan menunggu hal itu terjadi secara kebetulan, tidak menyadari bahwa keberadaan al-Mahdi bukanlah suatu hal yang kebetulan dan tidak mengikuti hukum probabilitas. Melainkan, sebuah rencana ilahi yang mengikuti hukum Allah yang tidak berubah, dan akan terjadi pada waktu yang tepat, yaitu ketika umat manusia siap dan layak untuk menerima kedaulatannya serta terwujudnya keadilan mutlak universal. Jika tidak, keberadaan atau ketidakadaan al-Mahdi akan sama saja bagi mereka. Tidak diragukan lagi bahwa kelahiran al-Mahdi, meskipun terjadi dengan kekuasaan Allah, bergantung pada kesiapan umat manusia; karena tanpa kesiapan umat manusia, kelahiran al-Mahdi tidak akan berguna dan kontraproduktif, hal tersebut tidak akan mengarah pada kedaulatannya atau terwujudnya keadilan mutlak universal; sebab jelas bahwa keberadaan al-Mahdi saja tidak cukup untuk mewujudkan kedaulatannya dan keadilan mutlak universal, dan ketaatan penuh umat manusia kepadanya juga merupakan syarat terwujudnya hal tersebut. Berdasarkan hal ini, selama umat manusia belum siap untuk sepenuhnya menaatinya, mustahil Allah menciptakannya, dan bahkan jika Dia menciptakannya, mustahil Dia menunjukkannya kepada umat manusia; karena kemungkinan mereka akan membunuhnya. Demikian pula, ketika umat manusia siap sepenuhnya untuk menaati dia, mustahil Allah tidak menciptakannya, atau tidak menunjukkannya jika Dia sudah menciptakannya; karena ini juga akan kontraproduktif dan bahkan bertentangan dengan keadilan Allah, dan Allah tidaklah zalim kepada hamba-hamba-Nya. Dari sini, dapat dipahami bahwa umat manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan ketidakberadaan al-Mahdi, dan mereka berkewajiban menciptakan kondisi yang tepat untuk keberadaan dan kedatangannya, dan oleh karena itu, ketidakberadaannya dan ketidakhadirannya adalah akibat dari kegagalan mereka memenuhi kewajiban ini.[1]

Berdasarkan hal ini, al-Mahdi adalah Imam bagi seluruh umat Muslim dan tidak termasuk ke dalam mazhab mana pun. Wajib bagi mereka semua untuk mempersiapkan jalan bagi kemunculan beliau dan menolong beliau, terlepas dari perselisihan mereka mengenai sebagian sifat-sifat beliau.

↑[1] . Geometri Keadilan; Sebuah narasi dari dialog bersama Allamah Mansur Hasyimi Khorasani, hal. 54-56
Pusat Informasi Kantor Mansur Hasyimi Khorasani Bagian menjawab pertanyaan
Bagikan
Bagikan konten ini dengan teman-teman Anda untuk membantu menyebarkan pengetahuan; memberi tahu orang lain tentang pengetahuan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih.
Email
Telegram
Facebook
Twitter
Anda juga bisa membaca konten ini dalam bahasa berikut ini:
Jika Anda fasih dalam bahasa lain, terjemahkan konten ini ke bahasa tersebut dan kirimkan terjemahan Anda kepada kami untuk diterbitkan di situs web. [Formulir Terjemahan]
Ajukan Pertanyaan
Pengguna yang terhormat! Anda dapat menuliskan pertanyaan terkait pendapat Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (semoga Allah melindunginya) pada formulir di bawah ini dan mengirimkannya kepada kami untuk dijawab di bagian ini.
Perhatian: Nama Anda mungkin akan ditampilkan sebagai penulis pertanyaan ini di situs web.
Perhatian: Dikarenakan tanggapan kami akan dikirimkan ke alamat email Anda dan tidak akan dipublikasikan di situs web, maka penting untuk menuliskan alamat email Anda dengan benar.