Jum’at, 26 Juni 2026 / 11 Muharam 1448 H
Mansur Hasyimi Khorasani

 Pertanyaan baru: Apa alasan Mansur Hasyimi Khorasani menggunakan panji-panji hitam? Klik di sini untuk membaca jawaban. Ucapan baru: Sebuah ucapan yang sangat penting dan mencerahkan dari Yang Mulia beliau tentang syarat bagi kemunculan al-Mahdi. Klik di sini untuk membaca. Surat baru: Sebuah kutipan dari surat Yang Terhormat untuk salah satu pendamping beliau, di mana beliau menasihatinya dan memperingatkannya agar takut kepada Allah. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web. Pelajaran baru: Pelajaran dari Yang Mulia tentang fakta bahwa bumi tidak pernah kosong dari seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang agama, yang telah Allah tunjuk sebagai khalifah, imam, dan pembimbing di atasnya sesuai dengan perintah-Nya; Ayat-ayat Al Qur’an tentangnya; Ayat no. 16. Klik di sini untuk membaca. Artikel baru: Artikel “Sebuah ulasan buku Kembali ke Islam karya Mansur Hasyimi Khorasani” ditulis oleh “Sayyed Mohammad Sadeq Javadian” telah terbit. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web.
loading
Tanya Jawab
 

Apakah waktu berbuka puasa bagi orang yang berpuasa adalah saat matahari terbenam atau saat hilangnya cahaya kemerahan di ufuk timur?

Tidak diragukan bahwa waktu berbuka puasa adalah saat matahari terbenam; karena itulah awal malam, dan Allah Ta’ala berfirman: ﴿ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ[1]; “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kebiasaan kaum Syiah yang menunda berbuka puasa hingga hilangnya cahaya kemerahan di ufuk timur. Kebiasaan serupa juga dikabarkan dari sebagian kelompok ekstrem di antara mereka yang dikenal sebagai Khattabiyyah; sebagaimana seorang sahabat kami mengabarkan kepada kami, dia berkata: «صَلَّى الْمَنْصُورُ صَلَاةَ الْمَغْرِبِ، ثُمَّ سَمِعَ أَذَانًا، فَقَالَ: مَا هَذَا؟! قُلْنَا: هَذَا أَذَانُ الشِّيعَةِ! لَا يُؤَذِّنُونَ حَتَّى يَرْتَفِعَ اللَّيْلُ! فَقَالَ: غَلَبَ عَلَيْهِمُ الْخَطَّابِيَّةُ»; “Mansur melaksanakan salat Magrib, kemudian beliau mendengar azan. Maka beliau berkata: ‘Azan apa ini?!’ Kami berkata: ‘Ini azan kaum Syiah! Mereka tidak mengumandangkan azan hingga malam semakin gelap!’ Beliau berkata: ‘Khattabiyyah menang atas mereka.’” Diriwayatkan dari Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) bahwa beliau bersabda: «لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ»[2]; “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” Dalam riwayat lain, beliau bersabda: «عَجِّلُوا الْفِطْرَ فَإِنَّ الْيَهُودَ يُؤَخِّرُونَ»[3]; “Segerakanlah berbuka puasa, karena orang-orang Yahudi menundanya.” Diriwayatkan dari Abu Atiyyah bahwa dia berkata: «دَخَلْتُ أَنَا وَمَسْرُوقٌ عَلَى عَائِشَةَ، فَقُلْنَا: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ! رَجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلَاةَ، وَالْآخَرُ يُؤَخِّرُ الْإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ، قَالَتْ: أَيُّهُمَا الَّذِي يُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلَاةَ؟ قَالَ: قُلْنَا: عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ مَسْعُودٍ، قَالَتْ: كَذَلِكَ كَانَ يَصْنَعُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ»; “Aku dan Masruq pergi menemui Aisyah. Kemudian kami berkata: ‘Wahai Ummul Mukminin! Ada dua orang sahabat Muhammad (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam), salah seorang dari mereka menyegerakan berbuka puasa dan menyegerakan salat, sedangkan yang lain menunda berbuka puasa dan menunda salat.’ Aisyah berkata: ‘Siapa yang menyegerakan berbuka puasa dan menyegerakan salat?’ Kami berkata: ‘Abdullah, yaitu Ibnu Mas’ud. Aisyah berkata: ‘Demikianlah dahulu Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) melakukannya.’” Abu Kuraib menambahkan: «وَالْآخَرُ أَبُو مُوسَى يَعْنِي الْأَشْعَرِيَّ»; “Adapun yang seorang lagi (yang menunda berbuka puasa dan menunda salat) adalah Abu Musa Al-Asy’ari.”[4]

Namun demikian, tidak mengapa bersikap hati-hati dengan menunggu beberapa menit saja, dan kami mendapati Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (semoga Allah Ta’ala melindungi beliau) mengambil sikap kehati-hatian dengan menunggu satu derajat, dan satu derajat itu setara dengan lima menit.

↑[1] . Al-Baqarah/ 187
↑[2] . Musnad as-Syafi’i, hal. 104; Musnad Ahmad, vol. 5, hal. 331; Musnad ad-Darimi, vol. 2, hal. 7; Sahih al-Bukhari, vol. 2, hal. 241; Sahih Muslim, vol. 3, hal. 131; Sunan at-Tirmidzi, vol. 2, hal. 103
↑[3] . Sunan Ibnu Majah, vol. 1, hal. 542
↑[4] . Musnad Ahmad, vol. 6, hal. 48; Sahih Muslim, vol. 3, hal. 131; Sunan Abu Dawud, vol. 1, hal. 528; Sunan an-Nasa’i, vol. 4, hal. 144
Pusat Informasi Kantor Mansur Hasyimi Khorasani Bagian menjawab pertanyaan
Bagikan
Bagikan konten ini dengan teman-teman Anda untuk membantu menyebarkan pengetahuan; memberi tahu orang lain tentang pengetahuan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih.
Email
Telegram
Facebook
Twitter
Anda juga bisa membaca konten ini dalam bahasa berikut ini:
Jika Anda fasih dalam bahasa lain, terjemahkan konten ini ke bahasa tersebut dan kirimkan terjemahan Anda kepada kami untuk diterbitkan di situs web. [Formulir Terjemahan]
Ajukan Pertanyaan
Pengguna yang terhormat! Anda dapat menuliskan pertanyaan terkait pendapat Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (semoga Allah melindunginya) pada formulir di bawah ini dan mengirimkannya kepada kami untuk dijawab di bagian ini.
Perhatian: Nama Anda mungkin akan ditampilkan sebagai penulis pertanyaan ini di situs web.
Perhatian: Dikarenakan tanggapan kami akan dikirimkan ke alamat email Anda dan tidak akan dipublikasikan di situs web, maka penting untuk menuliskan alamat email Anda dengan benar.