Jum’at, 26 Juni 2026 / 11 Muharam 1448 H
Mansur Hasyimi Khorasani

 Pertanyaan baru: Apa alasan Mansur Hasyimi Khorasani menggunakan panji-panji hitam? Klik di sini untuk membaca jawaban. Ucapan baru: Sebuah ucapan yang sangat penting dan mencerahkan dari Yang Mulia beliau tentang syarat bagi kemunculan al-Mahdi. Klik di sini untuk membaca. Surat baru: Sebuah kutipan dari surat Yang Terhormat untuk salah satu pendamping beliau, di mana beliau menasihatinya dan memperingatkannya agar takut kepada Allah. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web. Pelajaran baru: Pelajaran dari Yang Mulia tentang fakta bahwa bumi tidak pernah kosong dari seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang agama, yang telah Allah tunjuk sebagai khalifah, imam, dan pembimbing di atasnya sesuai dengan perintah-Nya; Ayat-ayat Al Qur’an tentangnya; Ayat no. 16. Klik di sini untuk membaca. Artikel baru: Artikel “Sebuah ulasan buku Kembali ke Islam karya Mansur Hasyimi Khorasani” ditulis oleh “Sayyed Mohammad Sadeq Javadian” telah terbit. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web.
loading
Tanya Jawab
 

Syiah Dua Belas Imam meyakini bahwa al-Mahdi hidup dan mengalami dua masa gaib: kegaiban kecil dan kegaiban besar. Pada masa kegaiban kecil, beliau berhubungan dengan para pengikutnya melalui empat wakil khusus. Setelah wafatnya wakil keempat, yaitu Abu al-Hasan Ali bin Muhammad as-Samuri (as-Saimuri), dimulailah kegaiban besar. Hal ini diketahui melalui sebuah surat yang ditujukan kepadanya. Di dalam surat tersebut, al-Mahdi berkata: “Wahai Ali bin Muhammad as-Samuri! Semoga Allah memberikan pahala yang besar kepada saudara-saudaramu atas musibah wafatmu. Engkau akan meninggalkan dunia ini dalam enam hari. Maka uruslah segala urusanmu dan jangan menunjuk siapa pun sebagai penggantimu, karena kegaiban besar telah dimulai. Tidak akan ada kemunculan kecuali dengan izin Allah Azza wa Jalla. Hal itu akan terjadi setelah berlalunya masa yang panjang, kerasnya hati, dan bumi dipenuhi kezaliman. Akan datang kepada para pengikutku orang-orang yang mengaku telah melihatku. Ketahuilah, siapa saja yang mengaku telah melihatku sebelum keluarnya Sufyani dan seruan dari langit, maka dia adalah pendusta dan pembohong besar. Dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” (Al-Ghaybah oleh as-Syaikh at-Tusi, hal. 395) Apa pendapat Mansur Hasyimi Khorasani terkait hal ini?

Surat yang mereka sandarkan kepada al-Mahdi tidak terbukti; karena itu adalah kabar ahad dari seorang lelaki bernama Abu Muhammad al-Hasan bin Ahmad al-Maktub yang tidak dikenal dan statusnya tidak diketahui. Sudah menjadi perkara yang pasti bahwa kabar ahad dari seseorang yang tidak dikenal tidak memberikan ilmu yang meyakinkan, sehingga kandungannya tidak dapat dipercaya. Benar bahwa siapa saja yang mengaku melihat al-Mahdi sebelum keluarnya Sufyani dan seruan dari langit adalah pendusta jika yang dimaksud dengan “melihat beliau” adalah kemunculannya; karena sesuai dengan riwayat-riwayat mutawatir yang menunjukkan bahwa al-Mahdi tidak akan muncul kecuali setelah keluarnya Sufyani dan seruan dari langit. Oleh karena itu, siapa saja yang mengaku bahwa al-Mahdi telah muncul sebelum kedua tanda tersebut, maka dia adalah pendusta dan pembohong besar. Demikian pula orang yang mengaku memiliki hubungan langsung dengan beliau; karena bagi dirinya itu berarti al-Mahdi telah muncul, sedangkan hal tersebut tidak mungkin terjadi sebelum keluarnya Sufyani dan seruan dari langit, kecuali bagi orang-orang yang tidak mengakuinya secara terbuka, seperti para pelayan al-Mahdi pada masa kegaiban beliau jika mereka memang ada. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa makna bagian ini dari riwayat mereka adalah benar. Demikian pula benar untuk mengatakan bahwa al-Mahdi hidup pada masa sekarang, dan hal itu mengharuskan adanya masa kegaiban beliau; karena yang dimaksud dengan kegaiban beliau adalah bahwa manusia tidak menyadari identitas beliau sebagai al-Mahdi. Tidak diragukan bahwa hal itu terjadi pada masa sekarang, dan alasan beliau tidak memperkenalkan dirinya kepada manusia adalah karena beliau takut akan hidupnya, mengingat kebodohan, kedurhakaan, serta kuatnya kecintaan dan ketaatan mereka terhadap para penindas. Riwayat-riwayat dari Ahlul Bait tentang al-Mahdi memiliki masa kegaiban sebelum kebangkitannya telah mencapai derajat mutawatir dan diriwayatkan oleh sekitar tujuh puluh orang, di antaranya adalah Jabir bin Abdullah al-Ansari, Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Asbagh bin Nubatah, Furat bin Ahnaf, Amr bin Sa’d, Abu Hamzah at-Thumali, Aban bin Thaglib, Abu Khalid al-Kabuli, Ma‘ruf bin Kharrabudh, Ghiyath bin Ibrahim, Amr bin Abi al-Miqdam, Sadir al-Sayrafi, Jabir bin Yazid al-Ju’fi, Abu Jarud Ziyad bin Mundhir, Hazim bin Habib, Uqbah bin Qais, Ibrahim bin Umar al-Yamani, Abdullah bin Ata’ al-Makki, Harits bin Mughirah an-Nasri, Isa bin Abdullah al-Hasyimi, Ali bin Umar bin Ali bin Husain, Ali bin Ja’far bin Muhammad, Zurarah bin A’yan, Abd al-Malik bin A’yan, Ubaid bin Zurarah, Muhammad bin Muslim, Hisyam bin Salim, Abu Basir, Ummu Hani, Ishaq bin Ammar, Mufaddal bin Umar, Abdullah bin Abi Ya’fur, Abdullah bin Yahya al-Kahili, Abdullah bin Sinan, Isma’il bin Jabir, Safwan bin Mihran, Muhammad bin Nu’man, Abdurahman bin Salit, Dawud bin Katsir ar-Raqqi, Yaman at-Tammar, Yahya bin Salim, Abdullah bin Fadl al-Hasyimi, Sayyid al-Himyari, Di’bil bin Ali al-Khuza’i, Husain bin Khalid, Yunus bin Abdurahman, Hasan bin Mahbub, Rayyan bin Salt, Hasan bin Ali bin Faddal, Ayyub bin Nuh, Abd al-Azim bin Abdullah al-Hasani, Dawud bin Qasim al-Ja’fari, Abbas bin Amir al-Qasabani, Muhammad bin Abi Ya’qub al-Balkhi, Umayyah bin Ali al-Qaysi, Muhammad bin Ziyad al-Azdi, Ahmad bin Ishaq bin Sa’d al-Asy’ari, Ali bin Mahziyar, Abu Sa’id Aqisa, Yahya bin Abi al-Qasim, Ahmad bin Zakariyya, Saqr bin Abi Dulaf, Ishaq bin Muhammad bin Ayyub, Ali bin Abd al-Ghaffar, Hammad bin Abd al-Karim al-Jallab, dan lainnya. Riwayat mereka mutawatir tanpa keraguan sedikit pun. Oleh karena itu, tidak patut diingkari bahwa al-Mahdi hidup dalam keadaan tersembunyi dan tidak dikenal sebelum bangkit menjalankan urusannya. Hal ini bukan sesuatu yang aneh, karena hal serupa juga terjadi pada lebih dari satu khalifah Allah sebelumnya; sebagaimana yang terjadi pada Musa (Alaihis Salam) ketika: ﴿جَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَا مُوسَى إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ ۝ فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ ۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ[1]; “seorang lelaki datang berlari dari ujung kota, dia berkata: ‘Wahai Musa! Para pemuka sedang berunding untuk membunuhmu, maka keluarlah. Sungguh, aku termasuk orang yang berharap kebaikan untukmu.’ Maka dia keluar dari kota itu dalam keadaan takut dan waspada. Dia berkata: ‘Ya Tuhanku! Selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.’” Kemudian dia tinggal bertahun-tahun di tengah penduduk Madyan tanpa menyebutkan apa pun tentang urusannya dan tanpa berhubungan dengan para pengikutnya, padahal Allah Ta’ala telah mengabarkan adanya pengikut Musa pada masa itu ketika Dia berfirman: ﴿وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ ۖ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ ۖ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ[2]; “Dan dia memasuki kota pada saat penduduknya sedang lengah. Dan dia mendapati di dalamnya dua orang yang sedang berkelahi, yang satu dari pengikutnya dan yang lain dari musuhnya. Kemudian orang dari pengikutnya meminta pertolongannya untuk menghadapi orang dari musuhnya. Maka Musa meninjunya dengan kepalan tangannya hingga membunuhnya. Dia berkata: ‘Ini termasuk perbuatan setan. Sesungguhnya, dia adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata.’” Demikian pula yang terjadi pada Yusuf (Alaihis Salam) ketika saudara-saudaranya datang ﴿فَدَخَلُوا عَلَيْهِ فَعَرَفَهُمْ وَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ[3]; “dan masuk menemuinya. Dia mengenali mereka, sedangkan mereka tidak mengenalinya.” Dia tidak memperkenalkan dirinya kepada mereka hingga rasa takutnya terhadap mereka hilang. Hal ini juga diisyaratkan oleh Abu Abdullah Ja’far bin Muhammad as-Shadiq (Alaihis Salam) dalam riwayat dari Sadir as-Sayrafi, dia berkata: «سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَقُولُ: إِنَّ فِي صَاحِبِ هَذَا الْأَمْرِ -يَعْنِي الْمَهْدِيَّ- شَبَهًا مِنْ يُوسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، قُلْتُ لَهُ: كَأَنَّكَ تَذْكُرُ حَيَاتَهُ أَوْ غَيْبَتَهُ، فَقَالَ لِي: وَمَا تُنْكِرُ مِنْ ذَلِكَ هَذِهِ الْأُمَّةُ أَشْبَاهُ الْخَنَازِيرِ؟! إِنَّ إِخْوَةَ يُوسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانُوا أَسْبَاطًا أَوْلَادَ الْأَنْبِيَاءِ، تَاجَرُوا يُوسُفَ وَبَايَعُوهُ وَخَاطَبُوهُ، وَهُمْ إِخْوَتُهُ وَهُوَ أَخُوهُمْ، فَلَمْ يَعْرِفُوهُ حَتَّى قَالَ لَهُمْ: ﴿أَنَا يُوسُفُ وَهَذَا أَخِي[4]، فَمَا تُنْكِرُ هَذِهِ الْأُمَّةُ الْمَلْعُونَةُ أَنْ يَفْعَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِحُجَّتِهِ فِي وَقْتٍ مِنَ الْأَوْقَاتِ كَمَا فَعَلَ بِيُوسُفَ؟! إِنَّ يُوسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ إِلَيْهِ مُلْكُ مِصْرَ، وَكَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ وَالِدِهِ مَسِيرَةُ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ يَوْمًا، فَلَوْ أَرَادَ أَنْ يُعْلِمَهُ لَقَدَرَ عَلَى ذَلِكَ، لَقَدْ سَارَ يَعْقُوبُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَوُلْدُهُ عِنْدَ الْبِشَارَةِ تِسْعَةَ أَيَّامٍ مِنْ بَدْوِهِمْ إِلَى مِصْرَ، فَمَا تُنْكِرُ هَذِهِ الْأُمَّةُ أَنْ يَفْعَلَ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ بِحُجَّتِهِ كَمَا فَعَلَ بِيُوسُفَ؟! أَنْ يَمْشِيَ فِي أَسْوَاقِهِمْ وَيَطَأَ بُسُطَهُمْ، وَهُمْ لَا يَعْرِفُونَهُ حَتَّى يَأْذَنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ أَنْ يُعَرِّفَهُمْ نَفْسَهُ كَمَا أَذِنَ لِيُوسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ حِينَ قَالَ لَهُمْ: ﴿هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُونَ ۝ قَالُوا أَإِنَّكَ لَأَنْتَ يُوسُفُ ۖ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَذَا أَخِي[5]»[6]; “Aku mendengar Abu Abdullah (Alaihis Salam) berkata: ‘Sesungguhnya, terdapat kesamaan antara pemilik urusan ini (yakni al-Mahdi) dengan Yusuf (Alaihis Salam).’ Aku berkata kepadanya: ‘Sepertinya engkau sedang menyebut tentang kehidupannya atau kegaibannya.’ Beliau berkata kepadaku: ‘Apa yang umat seperti babi ini ingkari dari hal tersebut?! Sesungguhnya, saudara-saudara Yusuf (Alaihis Salam) adalah cucu dan anak para Nabi. Mereka berdagang dengan Yusuf, berjual beli dengannya, dan berbicara dengannya. Mereka adalah saudara-saudaranya dan beliau adalah saudara mereka, namun mereka tidak mengenalinya sampai beliau berkata kepada mereka: “Aku adalah Yusuf dan ini saudaraku.” Maka mengapa umat yang terkutuk ini mengingkari bahwa Allah Azza wa Jalla akan melakukan terhadap hujjah-Nya pada suatu masa sebagaimana yang telah Dia lakukan terhadap Yusuf?! Sesungguhnya, Yusuf (Alaihis Salam) memiliki kerajaan Mesir. Jarak antara dirinya dan ayahnya hanyalah perjalanan delapan belas hari. Jika beliau ingin memberitahukan kepada ayahnya, tentu beliau mampu melakukannya. Setelah menerima kabar baik, Ya’qub (Alaihis Salam) dan anak-anaknya menempuh perjalanan sembilan hari menuju Mesir. Maka, mengapa umat ini mengingkari bahwa Allah Azza wa Jalla akan melakukan terhadap hujjah-Nya sebagaimana yang telah Dia lakukan terhadap Yusuf?! Bahwa beliau berjalan di pasar-pasar mereka dan menginjak permadani-permadani mereka, sementara mereka tidak mengenalinya sampai Allah Azza wa Jalla mengizinkannya untuk memperkenalkan dirinya kepada mereka, sebagaimana Dia mengizinkan Yusuf (Alaihis Salam) ketika beliau berkata kepada mereka: Apakah kalian tidak mengetahui apa yang telah kalian lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kalian masih bodoh?! Mereka berkata: Apakah engkau benar-benar Yusuf?! Beliau berkata: Aku adalah Yusuf dan ini saudaraku.’” Inilah yang secara terang-terangan dinyatakan oleh Mansur Hasyimi Khorasani sebagai sesuatu yang akan terjadi; sebagaimana salah seorang pendamping beliau mengabarkan kepada kami, dia berkata:

«دَخَلْتُ عَلَى الْمَنْصُورِ وَهُوَ فِي مَسْجِدٍ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّ اللَّهَ قَدْ جَعَلَ لَكُمُ الْمَهْدِيَّ وَلِيًّا، فَاتَّخِذُوهُ وَلِيًّا، وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ، قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ! فَقَامَ رَجُلٌ أَحْوَلُ مِنْ بَيْنِ النَّاسِ فَقَالَ: وَهَلْ خَلَقَ اللَّهُ الْمَهْدِيَّ؟! قَالَ: نَعَمْ، وَإِنَّهُ لَيَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ! قَالَ الرَّجُلُ: فَلِمَ لَا يَخْرُجُ إِلَيْنَا لِنَتَّبِعَهُ؟! قَالَ: يَخَافُ! قَالَ الرَّجُلُ: مِمَّ؟! قَالَ: مِنَ الْقَتْلِ -وَأَشَارَ إِلَى حَلْقِهِ.»[7]; “Aku menemui Mansur Hasyimi Khorasani ketika beliau berada di dalam sebuah masjid, kemudian aku mendengar beliau berkata: ‘Wahai manusia! Sesungguhnya, Allah telah menetapkan al-Mahdi sebagai wali kalian, maka jadikanlah beliau sebagai wali dan janganlah kalian mengambil wali selain beliau, alangkah sedikitnya kalian mengambil pelajaran!’ Saat itu, berdirilah seorang lelaki bermata juling dari tengah-tengah orang banyak dan berkata: ‘Apakah Allah telah menciptakan al-Mahdi?!’ Beliau menjawab: ‘Ya, dan sesungguhnya, beliau makan dan berjalan di pasar-pasar!’ Lelaki itu berkata: ‘Apakah engkau telah melihat beliau dengan kedua matamu?!’ Maka Mansur diam dan tidak menjawabnya hingga lelaki itu mengulangi pertanyaannya tiga kali, maka beliau berkata: ‘Aku tidak mungkin mengajak kalian kepada seseorang yang tidak pernah aku lihat!’ Lelaki itu berkata: ‘Kalau begitu, mengapa beliau tidak keluar menemui kami agar kami mengikuti beliau?!’ Beliau berkata: ‘Beliau takut!’ Lelaki itu berkata: ‘Takut terhadap apa?!’ Beliau berkata: ‘Terhadap pembunuhan’ (sambil menunjuk ke lehernya)!”

Oleh karena itu, manusia harus mengetahui bahwa Imam mereka yang dijanjikan, yang akan memperbaiki urusan agama dan dunia mereka serta memenuhi bumi dengan keadilan dan keseimbangan sebagaimana sebelumnya dipenuhi kezaliman dan penindasan, sekarang berada di tengah-tengah mereka. Mereka mampu memunculkan beliau dengan menjamin keselamatannya, dan mereka juga mampu mengantarkan beliau menuju kekuasaan dan pemerintahan dengan menyediakan perlengkapan dan kekuatan yang dibutuhkan. Oleh karena itu, mereka tidak memiliki alasan untuk menundanya. Jika mereka menundanya walau sehari karena kebodohan mereka, kesibukan mereka dengan dunia, atau keinginan mereka terhadap pemerintahan para tiran, maka mereka bertanggung jawab atas setiap kekufuran, ketidakadilan, dan dosa yang terjadi atau terus berlangsung pada hari itu akibat penundaan mereka. Ini adalah perkara yang sangat serius yang terus diingatkan oleh Mansur kepada mereka dengan seluruh kemampuan beliau agar mereka memperhatikan. Namun, beliau tidak mampu berbuat banyak; karena beliau tidak memiliki kuasa di bumi dan tidak menemukan penolong yang cukup untuk menolongnya, dan musuh-musuhnya yang merupakan para pemilik negara, kekayaan, dan senjata telah mengepungnya dari segala arah dan mereka melakukan berbagai cara untuk menghalangi beliau dari mencapai tujuannya. Sementara para ulama buruk hanya diam dan enggan membantunya meski hanya dengan satu kata, agar kedudukan mereka di mata manusia tidak berkurang dan agar mereka tidak tertimpa bahaya dalam kehidupan dunia; sebagaimana beliau menyebut mereka dalam salah satu khutbahnya:

Celakalah para ulama buruk; mereka yang mengejar keridaan penguasa, sehingga mereka menampakkan kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran, serta mengeluarkan fatwa melawan kaum tertindas dan demi kepentingan orang-orang sombong; mereka yang memakan harta al-Mahdi dan menghalangi jalan menuju beliau; ketika mereka mendengar seruanku menuju al-Mahdi, mereka menganggapnya sebagai kesesatan agar mencegah manusia menerimanya dan mengalihkan mereka dari bergerak menuju al-Mahdi supaya kekuasaan mereka di bumi tetap lestari dan mereka ditaati sebagai ganti beliau; seperti para pendeta Bani Israil yang mendustakan para Nabi Allah dan menghalangi mereka menegakkan hukum-Nya agar tradisi-tradisi mereka tetap terjaga untuk selamanya dan rezeki mereka pagi dan petang tidak berkurang! Celakalah mereka yang tenggelam dalam amalan-amalan sunah tetapi mengabaikan kewajiban yang paling utama! Mereka mengetahui nisab emas dan perak, tetapi tidak memahami penyebab ketidakhadiran! Mereka mengenal bagian Imam dari khums, tetapi melupakan bagian Imam dari pemerintahan! Mereka menganggap salat di tempat orang lain tanpa izin adalah tidak sah, tetapi menganggap memerintah (berkuasa) di tempat orang lain adalah boleh! Mereka melihat sehelai jerami di mata orang lain, tetapi tidak melihat sebatang pohon besar di mata mereka sendiri! Mereka mengusir lalat dari punggung orang lain, tetapi membiarkan unta tetap berada di atas mereka! Padahal siapa yang dahinya telah terbelah oleh kapak tidak lagi peduli pada goresan di jarinya, dan siapa yang tenggelam di lautan tidak lagi memikirkan pakaiannya yang basah! Bukankah perjanjian telah diambil dari mereka dan bukankah mereka telah mempelajari dalam Kitab Allah bahwa mereka tidak boleh mengatakan tentang Allah kecuali kebenaran, dan tidak menghalangi dari jalan-Nya, dan tidak menolong orang zalim melawan orang yang dizalimi?! Maka celakalah mereka dengan kehinaan di kehidupan dunia, dan celakalah mereka dengan api yang telah dinyalakan untuk mereka.[8]

Ini adalah keluhan seorang lelaki saleh yang menyeru kepada al-Mahdi dengan suara lantang dan mempersiapkan kemunculan beliau dengan persiapan yang baik, sesuai akal dan Syariat. Namun, para zalim memusuhinya, orang-orang bodoh menyakitinya, dan para ulama meninggalkannya, menyingkap kenyataan menyedihkan bahwa mereka tidak layak akan kemunculan al-Mahdi untuk menyelamatkan mereka dari fitnah dan bencana yang telah menguasai mereka. Sebaliknya, mereka layak tetap berada dalam kehinaan dan kerendahan di bawah kekuasaan para penindas, hingga ﴿يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ[9]; “Allah menenggelamkan mereka ke dalam bumi atau azab datang kepada mereka dari arah yang tidak mereka sadari.”

↑[1] . Al-Qasas/ 20-21
↑[2] . Al-Qasas/ 15
↑[3] . Yusuf/ 58
↑[4] . Yusuf/ 90
↑[5] . Yusuf/ 89-90
↑[6] . Al-Imamah Wa al-Tabsirah oleh Ali bin Babawayh, hal. 121; al-Kafi oleh al-Kulayni, vol. 1, hal. 336; al-Ghaybah oleh an-Nu’mani, hal. 167; Kamal al-Din Wa Tamam al-Ni‘mah oleh Ibnu Babawayh, hal. 144 dan 341; Dala’il al-Imamah oleh at-Tabari, hal. 531
↑[7] . Ucapan 22, bagian 1
↑[9] . An-Nahl/ 45
Pusat Informasi Kantor Mansur Hasyimi Khorasani Bagian menjawab pertanyaan
Bagikan
Bagikan konten ini dengan teman-teman Anda untuk membantu menyebarkan pengetahuan; memberi tahu orang lain tentang pengetahuan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih.
Email
Telegram
Facebook
Twitter
Anda juga bisa membaca konten ini dalam bahasa berikut ini:
Jika Anda fasih dalam bahasa lain, terjemahkan konten ini ke bahasa tersebut dan kirimkan terjemahan Anda kepada kami untuk diterbitkan di situs web. [Formulir Terjemahan]
Ajukan Pertanyaan
Pengguna yang terhormat! Anda dapat menuliskan pertanyaan terkait pendapat Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (semoga Allah melindunginya) pada formulir di bawah ini dan mengirimkannya kepada kami untuk dijawab di bagian ini.
Perhatian: Nama Anda mungkin akan ditampilkan sebagai penulis pertanyaan ini di situs web.
Perhatian: Dikarenakan tanggapan kami akan dikirimkan ke alamat email Anda dan tidak akan dipublikasikan di situs web, maka penting untuk menuliskan alamat email Anda dengan benar.