Apa penafsiran Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani mengenai Ya’juj dan Ma’juj?
Umat Muslim selama ini memiliki berbagai penafsiran yang bersifat mitologis dan tidak masuk akal tentang Ya’juj dan Ma’juj, akibat pengaruh sebagian riwayat yang lemah bahkan palsu. Mereka menggambarkan Ya’juj dan Ma’juj sebagai makhluk-makhluk aneh dan mengerikan layaknya monster legendaris, yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada seluruh manusia lainnya, dan akan muncul pada akhir zaman dari suatu tempat yang tidak diketahui, mereka bahkan dikatakan tidak melewati laut atau sungai kecuali mengeringkan seluruh airnya! Akan tetapi, Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani
memiliki penafsiran yang realistis mengenai mereka; sebagaimana seorang pendamping beliau mengabarkan kepada kami, dia berkata:
«سَمِعْتُ الْمَنْصُورَ -رُوحِي فِدَاهُ- يَقُولُ: إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ قَبِيلَتَانِ مِنْ قَبَائِلِ الْمُغُولِ كَانُوا يُغِيرُونَ عَلَى قَوْمٍ فِي شَمَالِ فَارِسَ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا، فَاسْتَعَانُوا عَلَيْهِمْ بِكُورَشَ، فَبَنَى لَهُمْ بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ سَدًّا، فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا، حَتَّى إِذَا فَتَحَ سَبِيلَهُمْ مَلِكُ خوارَزْمَ فِي الْقَرْنِ السَّابِعِ، فَأَقْبَلُوا كَالسَّيْلِ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ! قُلْتُ: وَاللَّهِ قُلْتَ قَوْلًا عَظِيمًا! قُلْتَ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ أَتَى فَمَضَى؟! قَالَ: نَعَمْ، إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ يَأْتِي فَيَمْضِي، وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ! قُلْتُ: إِنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ كَانُوا قَوْمًا مِنَ الْخَزَرِ أَوْ يَكُونُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ! قَالَ: إِنَّ قَوْمًا مِنَ الْخَزَرِ كَانُوا مُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ فَشُبِّهُوا بِيَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ لِإِفْسَادِهِمْ، كَمَا يُقَالُ لِرَجُلٍ شَرِيرٍ إِبْلِيسُ لِشَرَارَتِهِ، فَكُلُّ مُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ، وَفِي كُلِّ قَرْنَيْنِ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ»[1]; “Aku mendengar Mansur, semoga jiwaku menjadi tebusan bagi beliau, berkata: ‘Sesungguhnya, Ya’juj dan Ma’juj adalah dua kabilah dari bangsa Mongol yang dahulu menyerang suatu kaum di wilayah utara Persia (sekarang Iran) yang hampir tidak memahami suatu pembicaraan. Maka kaum itu meminta pertolongan kepada Khores (Cyrus). Maka dia membangun untuk mereka sebuah dinding penghalang di antara dua gunung, sehingga mereka tidak mampu memanjatnya dan tidak pula mampu melubanginya, hingga ketika Raja Khawarizm (Khawarazmshah) membuka jalan untuk mereka pada abad ketujuh H. Kemudian mereka pun datang seperti banjir besar dan membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka datang menyebar dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi!’ Aku berkata: ‘Demi Allah, engkau telah mengucapkan perkataan yang sangat agung! Apakah engkau mengatakan bahwa janji Allah (dalam Al-Qur’an) telah datang dan berlalu?! Beliau berkata: ‘Ya. Sungguh janji Allah datang dan berlalu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui!’ Aku berkata: ‘Mereka berkata bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah suatu kaum dari bangsa Khazar, atau mereka adalah kaum pada akhir zaman!’ Beliau berkata: ‘Kaum Khazar dahulu membuat kerusakan di bumi, maka mereka diserupakan dengan Ya’juj dan Ma’juj karena kerusakan yang mereka lakukan, sebagaimana seseorang yang jahat disebut iblis karena kejahatannya. Maka setiap orang yang membuat kerusakan di muka bumi adalah Ya’juj dan Ma’juj, dan pada setiap dua abad, selalu ada Ya’juj dan Ma’juj.’”
Dari sini dipahami bahwa menurut Yang Mulia Allamah
, Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa Mongol, dan hal ini sesuai dengan Al-Qur’an serta riwayat-riwayat yang sahih; karena Al-Qur’an menggambarkan Ya’juj dan Ma’juj sebagai suatu kaum yang liar serta gemar menyerang dan merampas pada masa lampau, yaitu: ﴿إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ﴾[2]; “Sesungguhnya, Ya’juj dan Ma’juj adalah orang-orang yang membuat kerusakan di bumi”, dan sifat seperti ini tidak begitu menonjol pada bangsa lain sebagaimana tampak pada bangsa Mongol. Selain itu, Al-Qur’an mengabarkan bahwa kaum tersebut akan keluar lagi dari wilayah mereka dan menyebar ke berbagai negeri laksana banjir. Dalam sejarah, tidak ada peristiwa yang lebih jelas menggambarkan hal ini selain invasi bangsa Mongol pada abad ketujuh Hijriah setelah jalan mereka dibuka oleh Raja Khawarizm. Mereka keluar dari negeri asalnya di bawah pimpinan Genghis Khan, menyapu berbagai negeri seperti banjir, menghancurkan banyak kota yang makmur hingga rata dengan tanah, dan melakukan kekejaman yang hampir tidak ada bandingannya dalam sejarah. Bukti yang menguatkan penafsiran ini adalah bahwa Ya’juj dan Ma’juj dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai suatu kaum yang telah dikenal dalam sejarah sebagai bangsa liar yang gemar menyerang dan merampas, bukan sebagai makhluk aneh yang baru akan muncul pada akhir zaman. Oleh karena itu, penafsiran-penafsiran yang menggambarkan mereka sebagai makhluk menyeramkan dengan bentuk tubuh yang bukan manusia tidak dapat dianggap benar; karena tidak ada bukti sejarah maupun ilmiah yang sah mengenai keberadaan makhluk seperti itu, baik pada masa lalu maupun sekarang. Sebaliknya, terdapat banyak bukti sejarah bahwa bangsa Mongol dikenal dalam berbagai periode sebagai bangsa liar yang gemar melakukan penyerbuan dan perampasan terhadap negeri-negeri tetangganya; sebagaimana disebutkan bahwa tujuan pembangunan Tembok Besar China adalah untuk melindungi negeri itu dari serangan bangsa Mongol; karena mereka tinggal di utara negeri itu, dan oleh karena itu Qin Shi Huang yang mempersatukan berbagai wilayah China memerintahkan pembangunan Tembok Besar China karena khawatir bangsa Mongol sewaktu-waktu akan menyerang China, dan para penerusnya pun melanjutkan pembangunannya. Namun, tujuan tersebut pada akhirnya tidak tercapai; karena tembok itu berhasil ditembus di banyak tempat sehingga bangsa Mongol memperoleh kesempatan untuk menyerang China. Inilah yang dahulu dilakukan oleh Dzulqarnain terhadap suatu kaum yang ﴿لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا﴾[3]; “hampir tidak memahami perkataan”, yaitu mereka tidak berbicara dengan bahasa yang dipahami Dzulqarnain, berdasarkan ayat Al-Qur’an; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ﴿قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ ۖ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا ۖ حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا﴾[4]; “Mereka berkata: ‘Wahai Dzulqarnain! Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj adalah orang-orang yang membuat kerusakan di bumi. Maka bolehkah kami memberikan imbalan kepadamu agar engkau membuat penghalang antara kami dan mereka?’ Dia berkata: ‘Apa yang telah dianugerahkan Tuhanku kepadaku lebih baik. Maka bantulah aku dengan kekuatan, niscaya aku akan menjadikan antara kalian dan mereka sebuah timbunan. Datangkanlah kepadaku potongan-potongan besi.’ Hingga ketika dia telah menyamakan di antara kedua sisi gunung itu, dia berkata: ‘Tiuplah!’ Hingga ketika dia telah menjadikan (besi) seperti api, dia berkata: ‘Datangkanlah kepadaku tembaga cair agar aku tuangkan ke atasnya.’ Maka mereka (Ya’juj dan Ma’juj) tidak mampu menaikinya maupun melubanginya.” Kemiripan antara tindakan Dzulqarnain dan para raja China menunjukkan adanya ancaman yang sama, serta memperlihatkan bahwa pembangunan penghalang antara bangsa Mongol dan suku-suku tetangganya merupakan praktik yang umum dalam sejarah. Hal ini juga diriwayatkan secara jelas dari Ali
yang berkata: «إِنَّ التُّرْكَ -يَعْنِي الْمُغُولَ- سَرِيَّةٌ خَرَجُوا مِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ يُغِيرُونَ عَلَى النَّاسِ، فَرَدَمَ ذُو الْقَرْنَيْنِ دُونَهُمْ فَبَقُوا»[5]; “Sesungguhnya, bangsa Turk, yakni bangsa Mongol, adalah suatu kelompok yang berasal dari Ya’juj dan Ma’juj. Mereka biasa menyerang manusia. Kemudian Dzulqarnain membangun penghalang untuk menghalangi mereka sehingga mereka tetap terkurung”, dan ini adalah pernyataan yang jelas. Oleh karena itu, ad-Dahhak (w. 105 H) berkata: «إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ جِيلٌ مِنَ التُّرْكِ»[6]; “Sesungguhnya, Ya’juj dan Ma’juj adalah suatu bangsa dari orang-orang Turk”, dan Abu Ishaq as-Sabi’i (w. 127 H) berkata: «بَلَغَنِي أَنَّ هَؤُلَاءِ التُّرْكَ مِمَّا سَقَطَ مِنْ دُونِ الرَّدْمِ مِنْ وُلْدِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ»[7]; “Telah sampai kepadaku bahwa orang-orang Turk ini termasuk dari mereka yang tertinggal di sisi luar penghalang, dari keturunan Ya’juj dan Ma’juj”, dan Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H) berkata: «إِنَّمَا سُمُّوا التُّرْكَ لِأَنَّهُمْ تُرِكُوا خَلْفَ الرَّدْمِ»[8]; “Mereka dinamakan Turk karena mereka ditinggalkan di belakang penghalang.”[9]
Yang menjadi penguat terakhir bagi penafsiran ini adalah riwayat dari Rasulullah
yang mengabarkan akan adanya serangan Ya’juj dan Ma’juj terhadap negeri-negeri Islam dan menggambarkan mereka sebagai kaum dengan «عِرَاضُ الْوُجُوهِ، صِغَارُ الْعُيُونِ، شُهْبُ الشِّعَافِ»; “wajah lebar, mata kecil, dan berujung rambut yang keabu-abuan”; ciri-ciri tersebut dianggap paling sesuai dengan bangsa Turk-Mongol; sebagaimana disebutkan: «إِنَّكُمْ تَقُولُونَ: لَا عَدُوَّ، وَإِنَّكُمْ لَا تَزَالُونَ تُقَاتِلُونَ عَدُوًّا حَتَّى يَأْتِيَ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ، عِرَاضُ الْوُجُوهِ، صِغَارُ الْعُيُونِ، شُهْبُ الشِّعَافِ، مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ، كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ»[10]; “Sesungguhnya kalian berkata: ‘Tidak ada lagi musuh.’ Padahal, sesungguhnya kalian akan terus-menerus memerangi suatu musuh hingga datang Ya’juj dan Ma’juj, dengan wajah lebar, bermata kecil, berujung rambut keabu-abuan, mereka meluncur dari setiap tempat yang tinggi. Wajah mereka seakan-akan adalah perisai yang ditempa.” Tidak diragukan bahwa yang dimaksud dengan Ya’juj dan Ma’juj dalam riwayat ini adalah Turk-Mongol; sebagaimana mereka disebutkan secara jelas dalam riwayat lain: «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ التُّرْكَ قَوْمًا وُجُوهَهُمْ كَالْمَجَانِّ الْمُطْرَقَةِ»[11]; “Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga umat Muslim memerangi bangsa Turk, yaitu suatu kaum yang wajah-wajah mereka seperti perisai yang ditempa”, dan dalam riwayat lain: «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا التُّرْكَ، صِغَارَ الْعُيُونِ، حُمْرَ الْوُجُوهِ، ذُلْفَ الْأُنُوفِ، كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ»[12]; “Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga kalian memerangi bangsa Turk, yang bermata kecil, berwajah kemerah-merahan, dan berhidung pesek. Wajah mereka seakan-akan seperti perisai yang ditempa” dan dalam riwayat lain: «يَجِيءُ بَنُو قَنْطُورَاءَ عِرَاضُ الْوُجُوهِ، صِغَارُ الْعُيُونِ، حَتَّى يَنْزِلُونَ عَلَى جِسْرٍ لَهُمْ يُقَالُ لَهُ دِجْلَةُ»[13]; “Akan datang Bani Qantura’ (yakni bangsa Mongol), yang berwajah lebar dan bermata kecil, hingga mereka turun di sebuah jembatan yang mereka sebut Dijlah”, dan dalam riwayat lain: «يَأْتِيكُمْ قَوْمٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، عِرَاضُ الْوُجُوهِ، صِغَارُ الْعُيُونِ، كَأَنَّمَا ثُقِبَتْ أَعْيُنُهُمْ فِي الصَّخْرِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ»[14]; “Akan datang kepada kalian suatu kaum dari arah timur, berwajah lebar, bermata kecil, seolah-olah mata mereka tertanam pada batu. Wajah mereka seperti perisai yang ditempa.” Karena itulah, menurut sebagian riwayat, Rasulullah
memperingatkan agar tidak membuka jalan bagi bangsa Turk-Mongol, dan bersabda: «اتْرُكُوا التُّرْكَ مَا تَرَكُوكُمْ؛ فَإِنَّ أَوَّلَ مَنْ يَسْلُبُ أُمَّتِي مُلْكَهُمْ وَمَا خَوَّلَهُمُ اللَّهُ بَنُو قَنْطُورَاءَ»[15]; “Biarkanlah bangsa Turk selama mereka membiarkan kalian. Sesungguhnya orang pertama yang akan merampas kekuasaan umatku dan apa yang Allah anugerahkan kepada mereka adalah Bani Qantura’ (yakni bangsa Turk-Mongol).” Namun, peringatan ini tidak diindahkan oleh Raja Khawarizm sehingga menjadi penyebab invasi bangsa Turk-Mongol ke negeri-negeri Islam.
Berdasarkan bukti-bukti sejarah dan riwayat-riwayat tersebut, tidak ada lagi keraguan bahwa penafsiran Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani
adalah benar, yaitu bahwa yang dimaksud dengan Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa Turk-Mongol yang pernah menginvasi negeri-negeri Islam. Namun demikian, berdasarkan pernyataan Yang Mulia, istilah Ya’juj dan Ma’juj juga boleh digunakan untuk setiap kaum yang membuat kerusakan di bumi sebagai bentuk perumpamaan atau kiasan. Penggunaan seperti ini memang pernah dilakukan. Pada setiap dua abad dapat muncul suatu kaum yang berbuat kerusakan di bumi sehingga mereka diibaratkan sebagai Ya’juj dan Ma’juj!