Tokoh terhormat ini meyakini bahwa manusia bertanggung jawab atas tidak munculnya al-Mahdi, dan aku setuju dengan hal itu. Namun, pertanyaanku adalah dalam keadaan sekarang, ketika al-Mahdi belum tampak, bagaimana manusia dapat mencapai keyakinan (kepastian) terhadap hukum-hukum Islam?
Dalam keadaan sekarang, ketika al-Mahdi belum tampak, manusia tidak dapat mencapai keyakinan terhadap hukum-hukum Islam kecuali yang telah tetap melalui teks (nash) Al-Qur’an atau hadis mutawatir dari Nabi
yang hanya ada sedikit. Hal ini merupakan konsekuensi yang wajar dan alami dari tidak munculnya al-Mahdi, dan ketidakmunculan beliau itu berasal dari kelalaian mereka. Oleh karena itu, ketidakmampuan mereka untuk mencapai keyakinan terhadap sebagian besar hukum Islam merupakan hukuman dari Allah atas kezaliman mereka; sebagaimana dia telah berfirman: ﴿ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ﴾[1]; “Yang demikian itu disebabkan oleh apa yang telah diperbuat oleh tangan-tangan kalian, dan sesungguhnya Allah tidak zalim terhadap hamba-hamba-Nya”, sementara itu, dugaan (zhan) terhadap hukum-hukum Islam tidaklah mencukupi bagi mereka; sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman: ﴿إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا﴾[2]; “Sesungguhnya, dugaan itu tidak cukup untuk (membuktikan) kebenaran”, dan hal ini menunjukkan kesengsaraan, kemalangan, dan ketiadaan jalan keluar bagi mereka dalam ketiadaan al-Mahdi, sesuatu yang berat untuk mereka terima dan mereka mengingkarinya, padahal itu adalah kebenaran; sebagaimana Allah Ta’ala telah memberitakan kepada mereka tentang keadaan yang serupa dan berfirman: ﴿ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ﴾[3]; “Mereka ditimpa kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali dengan tali dari Allah dan tali dari manusia, dan mereka kembali dengan kemurkaan dari Allah, serta ditimpakan kepada mereka kemiskinan.” Oleh karena itu, perumpamaan mereka dalam hal ini seperti seseorang yang kehilangan botol air minumnya di padang tandus; dia tidak mampu menghilangkan dahaganya dengan mengisap batu atau memakan duri, dan kebinasaannya dalam keadaan itu menjadi sesuatu yang pasti, yang berasal dari kelalaiannya dalam menjaga botol air minumnya, kecuali dia kembali ke tempat dia meninggalkannya lalu mengambilnya kembali. Sekarang, jika ditanya bagaimana dia dapat menghilangkan dahaganya sebelum melakukan hal itu, maka tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu; karena Allah Ta’ala tidak menjadikan pada batu dan duri sesuatu yang dapat menghilangkan dahaganya. Inilah yang ingin disampaikan oleh Mansur Hasyimi Khorasani kepada umat Muslim; sebagaimana seorang sahabat kami mengabarkan kepada kami, dia berkata:
«قُلْتُ لِلْمَنْصُورِ: مَنْ لَمْ يَظْفَرْ بِخَلِيفَةِ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ فَمَاذَا يُغْنِيهِ؟ قَالَ: إِنَّمَا جَعَلَ اللَّهُ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ لِيُظْفَرَ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يَظْفَرْ بِهِ كَانَ كَمَنْ أَصَابَهُ الْعَطَشُ وَلَمْ يَظْفَرْ بِالْمَاءِ، أَرَأَيْتَ الرَّمْلَ وَالْحَصَاةَ يُغْنِيَانِ عَنْهُ شَيْئًا؟! لَا وَاللَّهِ، بَلْ يَمُوتُ عَطَشًا وَلَا يَنْتَطِحُ فِيهِ عَنْزَانِ.»[4]; “Aku berkata kepada Mansur: ‘Jika seseorang tidak dapat menjangkau Khalifah Allah, apa yang bisa membebaskannya dari kebutuhan akan beliau?’ Beliau menjawab: ‘Allah pasti menetapkan seorang Khalifah di bumi agar beliau bisa dijangkau, dan barang siapa tidak dapat menjangkau beliau, maka dia seperti orang yang kehausan tetapi tidak mendapatkan air; menurutmu, apakah pasir dan bebatuan dapat membebaskannya dari kebutuhan akan air?! Tidak, demi Allah, bahkan dia akan mati kehausan, dan dua kambing jantan tidak akan saling menanduk demi dia.’”
Seorang sahabat kami juga mengabarkan kepada kami, dia berkata:
«قُلْتُ لِلْمَنْصُورِ: أَرَأَيْتَ الَّذِي لَا يَعْرِفُ خَلِيفَةَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَوْ لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ، فَهَلْ لَهُ مِنْ بُدٍّ أَوْ مَنْدُوحَةٍ مَا لَمْ يَعْرِفْهُ وَيَقْدِرْ عَلَيْهِ؟ فَطَأْطَأَ رَأْسَهُ كَأَنَّهُ يَتَفَكَّرُ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَقَالَ: لَا، قُلْتُ: وَاللَّهِ يَهْلِكُ إِذَنْ! قَالَ: نَعَمْ وَهُوَ صَاغِرٌ!»[5]; “Aku berkata kepada Mansur: ‘Bagaimana dengan seseorang yang tidak mengetahui atau tidak dapat menjangkau Khalifah Allah di bumi, apakah dia memiliki pilihan atau jalan keluar selama dia tidak mengetahui atau tidak dapat menjangkau beliau?’ Maka beliau menundukkan kepala sejenak seakan-akan sedang berpikir, kemudian beliau mengangkat kepalanya dan berkata: ‘Tidak.’ Aku berkata: ‘Demi Allah, dia binasa dalam keadaan itu!’ Beliau berkata: ‘Ya, dan dalam keadaan hina.’”
Ini berarti bahwa Allah tidak menjadikan alternatif atau pengganti untuk Khalifah-Nya di bumi. Kebutuhan terhadap beliau adalah ketetapan yang pasti bagi manusia. Oleh karena itu, perdebatan mereka untuk mencari pengganti al-Mahdi tidak ada gunanya. Dengan kata lain, ketiadaan al-Mahdi merupakan musibah besar dan kerugian yang sangat besar yang tidak dapat diperbaiki, dan upaya manusia untuk mengisi kekosongan tersebut adalah sia-sia. Dalam keadaan yang sangat berat dan menyedihkan seperti ini, lebih baik bagi manusia, daripada membuang waktu dan tenaga dalam perdebatan dan usaha yang tidak membuahkan hasil, untuk menjawab seruan Mansur dan mempersiapkan kemunculan al-Mahdi secepat mungkin; karena inilah tindakan paling bijak yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang kehausan dan kebingungan di padang tandus. Namun sayangnya, kebanyakan mereka tidak bijaksana.