Senin, 24 Agustus 2026 / 11 Rabiul Awal 1448 H
Mansur Hasyimi Khorasani

 Pertanyaan baru: Para Imam Ahlul Bait tidak pernah mengambil emas untuk diri mereka sendiri walaupun hanya seberat satu mitsqal selama mereka masih hidup. Bagaimana mungkin makam-makam mereka dipenuhi dengan emas?! Klik di sini untuk membaca jawaban. Ucapan baru: Sebuah ucapan yang sangat penting dan mencerahkan dari Yang Mulia beliau tentang syarat bagi kemunculan al-Mahdi. Klik di sini untuk membaca. Surat baru: Sebuah kutipan dari surat Yang Terhormat untuk salah satu pendamping beliau, di mana beliau menasihatinya dan memperingatkannya agar takut kepada Allah. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web. Pelajaran baru: Pelajaran dari Yang Mulia tentang fakta bahwa bumi tidak pernah kosong dari seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang agama, yang telah Allah tunjuk sebagai khalifah, imam, dan pembimbing di atasnya sesuai dengan perintah-Nya; Ayat-ayat Al Qur’an tentangnya; Ayat no. 16. Klik di sini untuk membaca. Artikel baru: Artikel “Sebuah ulasan buku Kembali ke Islam karya Mansur Hasyimi Khorasani” ditulis oleh “Sayyed Mohammad Sadeq Javadian” telah terbit. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web.
loading
Tanya Jawab
 

Saya adalah seorang penceramah yang mengagumi Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (Hafizhahullah Ta‘ala) di Iran. Terkadang saya menggunakan kalimat hikmah beliau yang mencerahkan dan nasihat beliau yang fasih dalam khutbah-khutbah saya untuk mengenalkan hakikat-hakikat Islam kepada masyarakat. Sayangnya, mengingat situasi keamanan di Iran dan suasana penuh racun yang diciptakan oleh para penguasa terhadap ulama yang terzalimi ini, saya tidak dapat menyebut nama beliau, dan saya juga tidak bisa secara terang-terangan meriwayatkan hikmah-hikmah serta nasihat-nasihat beliau; terutama karena adanya sebagian orang fanatik di antara jamaah masjid yang apabila mereka mendengar saya menyebut nama ulama ini, mereka tidak akan lagi salat di belakang saya dan akan menimbulkan banyak masalah bagi saya. Meskipun demikian, terkadang saya merujuk ulama ini secara umum, misalnya dengan berkata, “Menurut ungkapan seorang tokoh besar”, atau “Menurut ungkapan seorang ulama”, atau “Seorang bijak berkata”, dan ungkapan-ungkapan semisalnya. Akan tetapi, saya tidak tahu apakah isyarat-isyarat semacam ini sudah mencukupi atau tidak. Bagaimanapun, apakah tindakan saya ini diperbolehkan, mengingat tujuan saya adalah menyebarkan pengetahuan-pengetahuan Islam? Jika hal itu tidak diperbolehkan, apa yang harus saya lakukan?

Terima kasih kepada kalian dan kepada ulama besar ini yang merepresentasikan firman Allah Ta’ala: «إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ»; “Sesungguhnya, engkau benar-benar berada di atas kebenaran yang nyata.” Melalui karya-karyanya, beliau telah mengangkat pemikiran dan wawasan kami tentang Islam ke tingkatan yang lebih tinggi, memperbaiki pandangan-pandangan kami yang keliru, khususnya dalam masalah al-Mahdi, dan telah memulai sebuah revolusi budaya besar yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia Islam, yang InSyaAllah menjadi kabar gembira bagi revolusi global al-Mahdi.

Sungguh sesuatu yang menyejukkan hati bahwa masih terdapat di antara para penceramah sejumlah kecil orang-orang merdeka seperti Anda, yang tidak menjual agama mereka dengan dunia, tidak mengikuti hawa nafsu para tiran, dan tidak tertipu oleh kebohongan para pencari keuntungan. Mereka menyadari kebenaran Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (Hafizhahullah Ta‘ala) dan nilai tinggi dari karya beliau. Mereka berpegang teguh kepada Kitab Allah dan Sunah Nabi-Nya, dan tidak mempedulikan bisikan setan-setan dari kalangan jin dan manusia. Mereka menghargai “kalimat hikmah beliau yang mencerahkan dan nasihat beliau yang fasih” pada zaman kebodohan ini dan tidak memperhatikan sesuatu pun selain “menyebarkan pengetahuan Islam.” Namun, sangat disayangkan bahwa penindasan dalam masyarakat Iran telah mencapai tingkat di mana para ahli ilmu bahkan tidak berani menyebut nama siapa pun selain para penguasa dan para pengikut mereka dan takut menyebut nama seorang ulama Muslim yang independen atau meriwayatkan perkataan-perkataan ilmiah serta moral dari beliau; seperti penindasan dalam Bani Umayyah yang melarang para ahli ilmu menyebut nama Ali bin Abi Thalib atau meriwayatkan perkataan-perkataan beliau, serta memaksa mereka untuk membuat hadis-hadis palsu yang menentang beliau demi menyenangkan para penguasa, serta menciptakan suasana jahat yang gelap, di mana kebencian terhadap beliau menyebar kepada anak muda dan orang tua, hingga para penguasa Umayyah dianggap sebagai khalifah-khalifah yang sah dari Nabi (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) sedangkan Ahlul Bait beliau dianggap sebagai kelompok pemberontak yang sesat dengan klaim-klaim palsu dan berusaha memecah belah umat Muslim! Arus yang sama masih berlanjut hingga hari ini, hanya saja nama-nama telah berubah sebagai ujian bagi manusia. Mereka yang mengeklaim wilayah (perwalian) mutlak dan menyeru manusia kepada pemerintahan mereka tanpa hak dianggap sebagai wakil-wakil Islam yang sejati. Sedangkan orang yang mempersiapkan jalan bagi kemunculan al-Mahdi dan menyeru manusia kepada pemerintahan keluarga Muhammad (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) dianggap sebagai pemberontak yang sesat dengan klaim-klaim palsu, dan berusaha memecah belah umat Muslim! Para ahli ilmu dilarang menyebut nama Mansur Hasyimi Khorasani atau meriwayatkan perkataan-perkataan beliau, dan mereka dipaksa untuk memfitnah beliau dan menyebarkan kebohongan terhadap beliau demi menyenangkan para penguasa. Suasana jahat yang gelap telah diciptakan, sehingga kebencian terhadap beliau menyebar di antara anak muda dan orang tua. Kini keadaan telah sampai pada titik bahwa segelintir pemuda bodoh dan fanatik, yang tidak memiliki ilmu maupun adab, dengan hasutan para pemimpin mereka yang munafik dan jahat, mengarahkan segala bentuk cacian dan laknat kepada ulama yang terzalimi ini. Mereka tidak berhenti dari segala bentuk penghinaan dan celaan terhadap pribadi beliau yang suci, serta melakukan penahanan dan penyiksaan terhadap para pendamping dan para pengagum beliau; sebagaimana dahulu nenek moyang mereka, dengan hasutan para penguasa Umayyah, mengarahkan segala bentuk cacian dan laknat kepada Ali bin Abi Thalib, tidak berhenti dari penghinaan dan celaan terhadap beliau, serta melakukan penahanan dan penyiksaan terhadap para sahabat dan para pencinta beliau. Padahal ulama yang terzalimi ini, mengikuti jalan Ali bin Abi Thalib, berbicara berdasarkan Kitab Allah dan Sunah Nabi-Nya. Satu-satunya kejahatan beliau adalah menolak untuk menjilat para tiran atau tunduk kepada para zalim. Celakalah orang-orang hina itu, yang senantiasa menjadi permainan di tangan para tiran dan menjadi pembantu para zalim untuk melawan Ahlul Bait Nabi mereka sendiri, mereka menginjak-injak para pembaharu yang dizalimi dengan kaki mereka demi menyenangkan para penguasa zalim!

Adapun Anda meriwayatkan dari Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani tanpa menyebut nama beliau atau menyebutnya secara umum karena takut kepada pemerintah Iran, maka hal itu serupa dengan sebagian sahabat dan tabi’in yang meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib tanpa menyebut nama beliau atau menyebut secara umum karena takut kepada pemerintahan Bani Umayyah; sebagaimana diketahui secara luas bahwa apabila mereka ingin meriwayatkan sesuatu dari beliau, mereka berkata, “Seorang lelaki dari Quraisy berkata” atau “Seorang sahabat berkata” dan mereka tidak menyebut nama beliau. Selain itu, diriwayatkan dari sebagian mereka bahwa apabila mereka ingin meriwayatkan dari beliau, mereka berkata, “Abu Zainab berkata” agar tidak ada seorang pun yang memahami bahwa yang dimaksud adalah Ali bin Abi Thalib[1]. Oleh karena itu, jika perbuatan mereka ini dianggap benar, maka perbuatan Anda juga benar. Akan tetapi, tampaknya perbuatan mereka ini tidak dapat dianggap benar; karena, meskipun hal itu melindungi jiwa dan harta mereka dari orang-orang zalim, tetapi hal itu membantu keberlangsungan pemerintahan orang-orang zalim, dan membawa generasi-generasi Muslim berikutnya yang tidak mengetahui keutamaan Ali bin Abi Thalib kepada penyimpangan dari beliau. Dengan demikian, hal itu merupakan contoh dari menyembunyikan ayat-ayat Allah dan mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, hal ini adalah yang diinginkan oleh para penguasa zalim. Karena itu, di antara para sahabat dan tabi‘in terdapat orang-orang merdeka yang menyebut nama Ali dan menyampaikan keutamaan beliau meskipun menghadapi tekanan dan ancaman dari para penguasa zalim. Mereka mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan ini. Tidak diragukan lagi bahwa seandainya mereka tidak ada, nama Ali akan dilupakan, keutamaan beliau akan hilang, dan tidak akan tersisa kesempatan untuk membimbing generasi-generasi berikutnya, dan dengan demikian tujuan para penguasa zalim akan tercapai.

Dari sini dipahami bahwa meriwayatkan perkataan-perkataan Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (Hafizhahullah Ta‘ala) tanpa menyebut nama beliau atau menyebut secara umum, khususnya pada masa genting ini tidaklah pantas dan merupakan contoh menyembunyikan kebenaran dan mencampurkannya dengan kebatilan. Sebaliknya, harus ada di tengah manusia orang-orang yang mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, yang menentang kebiasaan-kebiasaan zalim para penindas, dan melakukan sesuatu yang lebih besar serta lebih berat bagi mereka, sehingga dengan kehendak dan usaha orang-orang merdeka ini suasana jahat dan gelap yang ada sekarang berubah, kondisi untuk kebangkitan umat Muslim di dunia menjadi siap, dan terwujudlah firman Allah: ﴿يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ[2]; “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, tetapi Allah menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya.”

Berdasarkan hal ini, kami menasihati seluruh para penceramah, pemikir, dan penulis Muslim agar mengingat Allah dan Hari Akhir dan janganlah takut menyebut nama manusia hebat ini, janganlah ragu untuk meriwayatkan perkataan-perkataan ilmiah dan moral beliau, janganlah menari mengikuti setiap irama yang dimainkan oleh para tiran, dan janganlah menerima kehinaan serta kerendahan seperti ini bagi diri mereka; karena kehidupan dunia terlalu singkat untuk menyembunyikan kebenaran atau mencampurkannya dengan kebatilan demi kepentingannya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa, bukan bagi orang-orang yang sombong, dan bukan pula bagi orang-orang yang menjual dirinya dengan harga yang murah.

*Untuk informasi lebih lanjut, lihat lampiran.
↑[1] . Lihat al-Mustarshid oleh at-Tabari al-Imami, hal. 676; al-Irshad oleh al-Mufid, vol. 1, hal. 310; Manaqib Al-i Abi Talib oleh Ibnu Syahrasyub, vol. 2, hal. 174.
↑[2] . As-Saff/ 8
Pusat Informasi Kantor Mansur Hasyimi Khorasani Bagian menjawab pertanyaan
Lampiran
Sub-Tanya Jawab
Sub-Pertanyaan 1
Penulis: Baqer Eskandari

Apakah diperbolehkan bagi saya untuk menyebutkan materi-materi yang dipublikasikan di situs ini dan jawaban-jawaban yang saya terima dari kalian melalui email di forum-forum ilmiah dan akademik, serta dalam tulisan saya, dan menyebutkan kalian sebagai sumbernya? Terima kasih atas usaha kalian.

Jawaban untuk
Sub-Pertanyaan 1
Tanggal: 1/10/2017

Setiap penggunaan atau pengutipan dari buku Kembali ke Islam dan materi lainnya yang dipublikasikan di situs Islam ini, dengan menyebutkan sumber secara lengkap dan menyatakan nama pemilik hak cipta, yaitu Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (Hafizhahullah Ta‘ala) adalah diperbolehkan. Akan tetapi, hal itu tidak diperbolehkan tanpa menyebutkan sumber secara lengkap dan tanpa menyatakan nama beliau. Tidak ada perbedaan antara tindakan tersebut dengan pencurian dan penipuan.

Sangat disayangkan bahwa ada orang yang suka memanfaatkan, para oportunis, dan orang-orang yang tidak bertakwa kepada Allah, mengutip materi-materi ilmiah yang dipublikasikan di situs Islam ini tanpa menyebutkan sumber secara lengkap dan tanpa menyatakan nama Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (Hafizhahullah Ta‘ala). Mereka menyajikannya seolah-olah itu adalah kata-kata mereka sendiri, dengan alasan yang bahkan lebih buruk daripada dosanya sendiri, mereka mengaku tidak ingin mempromosikannya, padahal yang sebenarnya mereka inginkan adalah mempromosikan diri mereka sendiri! Tidak diragukan lagi bahwa hal itu merupakan contoh nyata dari penyamaran, pengkhianatan kepercayaan, dan membantu musuh-musuh kebenaran dalam menyembunyikannya serta mencampurkannya dengan kebatilan. Hal itu merupakan dosa yang sangat besar; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ﴿وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ[1]; “Dan janganlah kalian mencampurkan kebenaran dengan kebatilan, dan janganlah kalian menyembunyikan kebenaran padahal kalian mengetahuinya.”

Sangat disayangkan bahwa materi-materi ilmiah dan catatan-catatan unik yang dipublikasikan di situs Islam ini telah berkali-kali dikirimkan kepada seorang ulama, profesor universitas, situs internet, atau seorang politisi agar menjadi sebab bagi terbukanya pemahaman dan hidayah mereka menuju kebenaran, namun setelah beberapa waktu, materi-materi tersebut diterbitkan sebagai pendapat mereka sendiri, tanpa sedikit pun rujukan kepada sumber aslinya dan pemilik hak ciptanya. Orang-orang mengira bahwa itu adalah salah satu pendapat orang tersebut, dan yang mengetahui kenyataan sebenarnya hanyalah Allah, kami, dan orang itu sendiri! Tidak diragukan lagi bahwa hal yang membuka ruang bagi eksploitasi pengecut semacam ini di Iran, terlepas dari tersebarnya kesombongan dan kemerosotan akhlak di antara berbagai kelompok manusia, adalah terhalangnya akses terhadap situs Islam ini di negeri tersebut. Hal itu memungkinkan para pemanfaat, oportunis, dan orang-orang yang tidak bertakwa kepada Allah melakukan perbuatan buruk ini tanpa diketahui oleh siapa pun; karena kebanyakan orang di negeri ini tidak dapat mengakses situs Islam ini, sementara akses mereka kepada orang-orang tersebut mudah dan melimpah. Selain itu, mereka memiliki kepercayaan dan prasangka baik terhadap orang-orang tersebut, sehingga mereka tidak membayangkan kemungkinan semacam ini dari mereka!

Selain para pemanfaat, oportunis, dan orang-orang yang tidak bertakwa kepada Allah, terdapat pula orang-orang yang mencuri materi-materi ilmiah dan catatan-catatan unik yang dipublikasikan di situs Islam ini. Mereka adalah para pengeklaim palsu tentang Imamah atau al-Mahdi, yang menganggap halal bagi diri mereka dan para pengikut mereka segala bentuk kezaliman dan kebohongan. Mereka tidak menghormati hak atas materi maupun kekayaan intelektual milik pihak lawan mereka, menganggap karya dan pernyataan lawan mereka dapat dirampas demi kepentingan mereka sendiri dan dimanfaatkan untuk mengangkat citra diri mereka. Mereka juga dengan sengaja berusaha meremehkan kebenaran serta membuatnya tampak tidak lagi relevan, agar menurut anggapan mereka, mereka tidak kehilangan pasar atau pengaruh di tengah masyarakat. Mereka benar-benar merupakan suatu malapetaka besar![2]

Tentu saja, jelas bahwa berbagai penyalahgunaan ini tidak merugikan ulama yang terzalimi dan terasing, Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (Hafizhahullah Ta‘ala), maupun para pendamping beliau yang tulus dan tidak dikenal, yang berbicara dan menulis karena Allah; karena pahala mereka tersimpan di sisi Allah dan tidak akan disia-siakan oleh keburukan dan gangguan orang-orang hina. Demikian pula, kebenaran tidak akan tersembunyi selamanya dan pada akhirnya akan muncul suatu hari nanti. Akan tetapi, penyalahgunaan ini tanpa keraguan merugikan manusia; karena orang-orang yang melakukan penyalahgunaan tersebut tidak berbicara dan menulis karena Allah, melainkan demi kepentingan pribadi serta ambisi duniawi mereka. Mereka sering mencampurkan kebenaran yang mereka curi dari kami dengan kebatilan mereka, lalu menyebabkan kebenaran itu menjadi rendah nilainya dan membuat manusia semakin menyimpang daripada sebelumnya! Tanpa diragukan lagi ini merupakan ujian bagi manusia dan menyebabkan mereka terjatuh ke dalam keraguan. Oleh karena itu, Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (Hafizhahullah Ta‘ala) telah menunjukkan hal tersebut dalam sebagian kalimat hikmah beliau, dengan berkata:

«دَعْنِي مِنْ هَؤُلَاءِ السَّفَلَةِ الْمَرَدَةِ الْقَائِلِينَ عَلَى اللَّهِ بِمَا لَا يَعْلَمُونَ! أَلَا تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْعِلْمَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ هَبَطَ مِنْهَا مَعَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، ثُمَّ انْتَقَلَ مِنْهُ إِلَى النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ مِنْ ذُرِّيَّتِهِ، حَتَّى يَرْجِعَ مَعَ آخِرِهِمْ إِلَى الْجَنَّةِ؟! أَفَتُرِيدُ أَنْ تَجْعَلَ مِثْلَ هَذَا الْكَنْزِ فِي أَيْدِي الصِّبْيَانِ وَالْمَجَانِينِ وَالْمُدْمِنِينَ عَلَى الْمُخَدِّرَاتِ؟! لَا وَاللَّهِ لَيْسَ هَؤُلَاءِ بِمَأْمُونِينَ عَلَيْهِ وَلَا مِنْ أَهْلِهِ، وَإِنَّ فِيهِمْ سَارِقِينَ يَسْرُقُونَهُ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا وَيَسْتَعِينُوا بِهِ عَلَى حُجَجِ اللَّهِ وَأَوْلِيَائِهِ! ﴿فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّى حِينٍ[3]»[4]; “Jangan libatkan aku dengan orang-orang rendahan dan sombong ini yang berkata tentang Allah apa yang tidak mereka ketahui! Tidakkah engkau tahu bahwa ilmu ini adalah sebuah harta dari harta-harta Surga, yang turun darinya bersama Adam (Alaihis Salam) dan kemudian berpindah kepada para Nabi, orang-orang yang benar (shiddiqin), para syuhada, dan orang-orang saleh dari keturunan beliau, hingga akhirnya kembali bersama yang terakhir dari mereka ke Surga?! Apakah engkau ingin menjadikan harta tersebut berada di tangan anak-anak kecil, orang-orang gila, dan para pecandu narkoba?! Tidak, demi Allah, mereka ini tidak dapat dipercaya untuk memegangnya dan bukan pula termasuk pemegangnya, dan di antara mereka ada para pencuri yang mencurinya untuk ditukar dengan harga yang sedikit dan untuk dijadikan alat melawan hujah-hujah Allah dan para teman-Nya! ‘Maka biarkanlah mereka tenggelam dalam kesesatan mereka sampai suatu waktu!’”

Beliau juga berkata dalam kalimat hikmah lainnya, yang merujuk kepada para pendamping beliau yang jujur dan saleh:

Saat itu engkau akan mendapati mereka sebagai para pendamping yang teguh dan para penolong yang setia kepadaku; mereka membawa ilmuku dan menjaganya dari pencuri, mengalirkan mata airnya, dan berlomba-lomba untuk mengamalkannya; karena mereka memiliki mata yang melihat dan telinga yang mendengar, serta mengetahui nilai ulama.[5]

Dari sini dipahami bahwa setiap penggunaan dan pemanfaatan karya-karya Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (Hafizhahullah Ta‘ala) harus disertai dengan penyebutan nama beliau dan penyebutan sumber secara lengkap, agar kebenaran tidak mengabdi kepada orang-orang yang batil, agar ilmu tidak menjadi perisai di tangan orang-orang bodoh, agar hikmah tidak membantu berkembangnya pasar orang-orang dungu, dan agar kejujuran tidak berubah menjadi sarana untuk mempromosikan kebohongan, dan agar orang-orang yang ingin mengetahui lebih banyak dapat merujuk kepada sumber aslinya dan melihat isi serta catatan-catatan yang berkaitan dengannya, jauh dari pengaruh dan penafsiran orang lain, semoga mereka mendapatkan petunjuk.

↑[1] . Al-Baqarah/ 42
↑[2] . Tentang mereka, lihat ucapan 18.
↑[3] . Al-Mu’minun/ 54
↑[4] . Ucapan 43, bagian 1
↑[5] . Sebuah kutipan dari ucapan 11
Pusat Informasi Kantor Mansur Hasyimi Khorasani Bagian menjawab pertanyaan
Bagikan
Bagikan konten ini dengan teman-teman Anda untuk membantu menyebarkan pengetahuan; memberi tahu orang lain tentang pengetahuan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih.
Email
Telegram
Facebook
Twitter
Anda juga bisa membaca konten ini dalam bahasa berikut ini:
Ajukan Pertanyaan
Pengguna yang terhormat! Anda dapat menuliskan pertanyaan terkait pendapat Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (semoga Allah melindunginya) pada formulir di bawah ini dan mengirimkannya kepada kami untuk dijawab di bagian ini.
Perhatian: Nama Anda mungkin akan ditampilkan sebagai penulis pertanyaan ini di situs web.
Perhatian: Dikarenakan tanggapan kami akan dikirimkan ke alamat email Anda dan tidak akan dipublikasikan di situs web, maka penting untuk menuliskan alamat email Anda dengan benar.