Terdapat sejumlah pria yang tertindas di berbagai negeri telah memenuhi seruan Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani
kepada Khalifah Allah di bumi dan satu-satunya Imam bagi hamba-hamba Allah yang tulus, yaitu al-Mahdi
, yang akan memenuhi bumi dengan keadilan dan keseimbangan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan kekejaman, sesuai dengan janji Nabi yang benar
. Oleh karena itu, mereka telah bergabung dengan gerakan “Kembali ke Islam” dan berdakwah mengajak manusia kepada agama yang murni, memerangi berbagai bid’ah, serta melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar. Karena alasan tersebut, mereka menjadi sasaran serangan para penguasa zalim beserta para pendukungnya, juga berbagai orang bodoh, menyimpang, dan para pengikut fanatik mazhab serta ulama tertentu. Keadaan mereka sedemikian rupa sehingga mereka dapat ditangkap dan dibunuh, terutama di negeri seperti Iran yang diperintah oleh penguasa yang paling sesat dan paling zalim. Pertanyaan saya adalah, jika mereka terbunuh di jalan ini, apakah mereka tergolong sebagai syuhada di sisi Allah?
Orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka demi terwujudnya pemerintahan Allah di bumi melalui tegaknya pemerintahan Khalifah-Nya, al-Mahdi
adalah para syuhada yang hidup. Jika mereka terbunuh di jalan ini, maka mereka dianggap sebagai sebaik-baik syuhada pada akhir zaman. Bahkan, pada masa sekarang tidak ada syahid selain mereka; karena tidak ada seorang pun selain mereka yang berjihad demi menegakkan pemerintahan Allah di bumi. Adapun seluruh kelompok lainnya, masing-masing berjuang demi menegakkan pemerintahan selain Allah, baik mereka menyadarinya maupun tidak. Padahal, tidak ada kesyahidan kecuali dalam rangka menegakkan pemerintahan Allah di bumi; sebagaimana Dia berfirman: ﴿الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ﴾[1]; “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, sedangkan orang-orang yang kafir berperang di jalan taghut”, dan berfirman: ﴿وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ﴾[2]; “Janganlah kalian mengatakan terhadap orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka itu mati. Bahkan mereka hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya.” Oleh karena itu, orang-orang yang terbunuh demi mendirikan atau mempertahankan pemerintahan pemimpin ISIS, pemimpin Taliban, pemimpin Suriah, pemimpin Iran, atau pemimpin lain dari berbagai negara maupun partai, adalah orang-orang yang telah mati, dan penyebutan mereka sebagai syuhada hanyalah sebuah tipu daya; karena syahid dalam Islam adalah orang yang terbunuh demi mendirikan atau mempertahankan pemerintahan Khalifah Allah di bumi, bukan demi mendirikan atau mempertahankan pemerintahan selain-Nya, dan pada masa sekarang tidak ada yang memiliki sifat tersebut selain Mansur Hasyimi Khorasani dan para pendampingnya yang tulus, yang berjihad demi mendirikan dan mempertahankan pemerintahan al-Mahdi
; sebagaimana seorang sahabat kami mengabarkan kepada kami, dia berkata:
«سَمِعْتُ الْمَنْصُورَ يَقُولُ لِأَصْحَابِهِ: أَلَا تَتَعَجَّبُونَ مِنْهُمْ؟! يُسَمُّونَ قَتِيلَ هَذَا شَهِيدًا وَقَتِيلَ هَذَا شَهِيدًا، وَمَا هُمَا إِلَّا جِيفَتَانِ تَهُبُّ عَلَيْهِمَا الرِّيَاحُ! أَلَا وَاللَّهِ مَا الشَّهِيدُ إِلَّا أَنَا وَأَصْحَابِي، وَإِنْ مِتْنَا عَلَى فُرُشِنَا»[3]; “Aku mendengar Mansur berkata kepada para pendamping beliau: ‘Tidakkah kalian merasa heran terhadap mereka?! Mereka menamakan orang yang terbunuh ini sebagai syahid dan orang yang terbunuh itu sebagai syahid, padahal keduanya hanyalah dua bangkai yang diterpa angin! Ketahuilah, demi Allah, tidak ada syahid kecuali aku dan para pendampingku, meskipun kami mati di atas tempat tidur kami.’”
Kami memohon kepada Allah agar menganugerahkan kepada kami taufik untuk memperoleh kesyahidan yang sejati di jalan-Nya bersama orang yang mempersiapkan jalan bagi kemunculan Khalifah-Nya, al-Mahdi
.