Apa pendapat Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani mengenai Masjid Jamkaran dan Masjid Sahla?
Masjid Sahla di Irak merupakan salah satu masjid Islam kuno. Terdapat beberapa riwayat dari Ahlul Bait yang menunjukkan keutamaan salat di dalamnya[1]; sebagaimana diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad as-Shadiq
bahwa beliau berkata: «بِالْكُوفَةِ مَسْجِدٌ يُقَالُ لَهُ مَسْجِدُ السَّهْلَةِ، لَوْ أَنَّ عَمِّي زَيْدًا أَتَاهُ فَصَلَّى فِيهِ وَاسْتَجَارَ اللَّهَ لَأَجَارَهُ عِشْرِينَ سَنَةً، وفي رواية أخرى: لَأَجَارَهُ سَنَةً»[2]; “Di Kufa terdapat sebuah masjid yang disebut Masjid Sahla. Seandainya pamanku, Zaid, mendatanginya dan salat di dalamnya dan memohon perlindungan kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan perlindungan kepadanya selama dua puluh tahun.’ Dalam riwayat lain, beliau berkata: ‘niscaya Allah akan memberikan perlindungan kepadanya selama satu tahun.’” Adapun Masjid Jamkaran di Qom, merupakan masjid yang dibangun belakangan dan tidak memiliki keutamaan khusus untuk salat di dalamnya. Bahkan, menisbatkan pembangunannya kepada al-Mahdi berdasarkan sebuah kisah yang tidak dapat dipercaya dari seorang yang tidak dikenal bernama Hasan bin Mutslah al-Jamkarani, sama saja dengan berdusta atas nama al-Mahdi, dan berdusta atas nama beliau merupakan dosa besar. Ada yang mengatakan bahwa kisah tersebut tercantum dalam buku Tarikh Qom karya Hasan bin Muhammad bin Hasan al-Qomi, yang mengutip dari buku Mu’nis al-Hazin Fi Ma‘rifah al-Haqq Wa al-Yaqin karya Muhammad bin Ali bin Babawayh, sebagaimana dinyatakan oleh al-Majlisi[3] dan an-Nouri[4]. Namun, tidak diketahui adanya buku karya Muhammad bin Ali bin Babawayh dengan judul tersebut. Buku Tarikh Qom karya Hasan bin Muhammad juga sudah tidak tersedia. Yang ada hanyalah terjemahan bahasa Persianya oleh Hasan bin Ali bin Hasan bin Abd al Malik al-Qomi, yang wafat pada tahun 805 H. Di dalamnya tidak terdapat kisah tersebut, juga tidak ada penyebutan tentang Masjid Jamkaran, kecuali ucapannya berikut ini: “Dikatakan bahwa masjid pertama yang dibangun di kawasan ini sebelum kedatangan orang-orang Arab adalah masjid di desa Jamkaran. Masjid itu dibangun oleh seorang Muslim bernama Khattab bin al-Asadi, dan dia salat di dalamnya seorang diri.”[5] Jelas bahwa pernyataan ini tidak ada hubungannya dengan kisah yang dimaksud. Di antara bukti bahwa penisbatan kisah tersebut kepada Muhammad bin Ali bin Babawayh adalah tidak benar yaitu apa yang diriwayatkan dari Hasan bin Mutslah pada bagian awal kisah itu, dia berkata: “Pada malam Selasa, tanggal tujuh belas bulan Ramadan yang penuh berkah tahun 393 H, aku sedang tidur di rumahku. Ketika telah berlalu separuh malam, sekelompok orang datang ke depan pintu rumahku. Mereka membangunkanku dan berkata: ‘Bangunlah dan penuhilah panggilan Imam Mahdi, sang pemilik zaman, karena beliau memanggilmu’”; karena Muhammad bin Ali bin Babawayh wafat pada tahun 381 H, tidak mungkin dia mencantumkan kisah yang menurut pengakuan Hasan bin Mutslah baru terjadi pada tahun 393 H!