Penulis: Ali Razi Tanggal Penerbitan: 3/11/2015

Dalam buku Kembali ke Islam, Allamah Mansur Hasyimi Khorasani mengatakan bahwa beliau tidak menyukai filsafat; “karena meskipun sebagian hasilnya benar, namun metodenya berbeda dari metode orang-orang yang berakal, dan lebih bersifat mental dan abstrak daripada yang bermanfaat bagi mereka.” Lalu bagaimana pendapat beliau tentang ilmu-ilmu rasional lainnya, seperti ilmu logika dan teologi Islam?

Jawaban

Teologi Islam adalah ilmu yang bermanfaat jika tujuannya adalah untuk memahami akidah Islam berdasarkan dalil dan untuk membelanya dari keraguan para penentang; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ﴿ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ[1]; “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik”, dan berfirman: ﴿قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ[2]; “Katakanlah: ‘Bawalah bukti kalian jika kalian orang-orang yang benar.’” Namun, jika tujuannya adalah untuk berdebat dengan menggunakan kekeliruan logika (sesat pikir) dan mempermainkan istilah-istilah untuk membela keyakinan yang tidak memiliki bukti, maka hal itu merupakan racun yang mematikan, sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala: ﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ[3]; “Dan di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab yang memberi cahaya”, dan Dia berfirman: ﴿إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ ۚ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ[4]; “Sesungguhnya, orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa bukti yang datang kepada mereka, di dalam dada mereka tidak lain hanyalah kesombongan yang mereka tidak akan mencapainya. Maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”, dan berfirman: ﴿الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۖ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ[5]; “Orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa bukti yang datang kepada mereka, sangat besar kebenciannya di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci setiap hati orang yang sombong lagi angkuh.” Oleh karena itu, hadis-hadis dan riwayat-riwayat sejarah yang diriwayatkan dalam rangka mencela teologi Islam dipahami merujuk kepada jenis teologi Islam yang seperti ini, di antaranya adalah riwayat-riwayat yang dihimpun oleh Abu al-Fadl ar-Razi (w. 454 H) dalam buku Ahadith Fi Dhamm al-Kalam Wa Ahlih dan oleh Abu Isma’il al-Harawi (w. 481 H) dalam buku Dhamm al-Kalam Wa Ahlih.

Keadaan ini juga berlaku pada ilmu logika. Apa saja dari ilmu tersebut yang membantu dalam memahami kaidah-kaidah berpikir dan bernalar, serta agar tidak tertipu oleh berbagai kekeliruan logika (sesat pikir), maka itu bermanfaat. Adapun segala sesuatu yang melampaui batas tersebut hanyalah pemborosan waktu dan tenaga, kesibukan dengan pembicaraan yang sia-sia, dan termasuk sikap berlebih-lebihan yang serupa dengan filsafat, sementara Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) telah melarang hal itu melalui sabda beliau: «إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ»[6]; “Sesungguhnya Allah membenci bagi kalian omong kosng, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta”, dan diriwayatkan bahwa beliau bersabda: «هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ»[7]; “Celakalah orang-orang yang berlebihan”, tiga kali.

↑[1] . An-Nahl/ 125
↑[2] . Al-Baqarah/ 111
↑[3] . Al-Hajj/ 8
↑[4] . Ghafir/ 56
↑[5] . Ghafir/ 35
↑[6] . Musnad Ahmad, vol. 30, hal. 115; Musnad al-Shihab oleh al-Quda’i, vol. 2, hal. 156
↑[7] . Musnad Ibnu Abi Shaybah, vol. 1, hal. 146