1 . أَخْبَرَنَا مُؤْمِنُ بْنُ مَحْمُودٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَبِيبٍ جَمِيعًا، قَالَا: كُنَّا عِنْدَ الْمَنْصُورِ الْهَاشِمِيِّ الْخُرَاسَانِيِّ فِي دَارِهِ، فَذَكَرْنَا الْمَذَاهِبَ، فَقَالَ: لَا يَذْهَبَنَّ بِكُمُ الْمَذَاهِبُ، إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ وَأَكْمَلَهُ لَكُمْ، وَجَعَلَ لَهُ حَدًّا بَيِّنًا كَحُدُودِ دَارِي هَذِهِ، فَمَا كَانَ فِي الطَّرِيقِ فَهُوَ مِنَ الطَّرِيقِ، وَمَا كَانَ فِي الدَّارِ فَهُوَ مِنَ الدَّارِ.
Terjemahan ucapan:
Mu’min bin Mahmud dan Abdullah bin Habib keduanya mengabarkan kepada kami, mereka berkata: Kami berada di rumah Mansur Hasyimi Khorasani. Kemudian kami membicarakan berbagai mazhab, maka beliau berkata: “Jangan biarkan mazhab-mazhab menyeret kalian (seperti banjir)! Sesungguhnya, Allah telah memilihkan agama untuk kalian, menyempurnakannya bagi kalian, dan menetapkan baginya batas yang jelas, seperti batas-batas rumahku ini. Maka apa yang berada di jalan adalah bagian dari jalan, dan apa yang berada di dalam rumah adalah bagian dari rumah!”
Penjelasan ucapan:
Maksud beliau dari ucapan ini adalah bahwa batas-batas Islam diketahui dari kalam Allah dan Rasul-Nya yang mutawatir, dan batas-batas itu tidak bertambah dan tidak berkurang hingga Hari Kiamat. Oleh karena itu, apa pun yang termasuk di dalamnya adalah bagian dari Islam, meskipun tidak terdapat dalam mazhabmu, dan apa pun yang tidak termasuk di dalamnya bukanlah bagian dari Islam, meskipun terdapat dalam mazhabmu.
2 . أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْهَرَوِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ عَنِ السُّنَّةِ وَالشِّيعَةِ، أَيُّهُمَا حَقٌّ؟ فَقَالَ: أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُحَمَّدُ؟! قُلْتُ: لَا، جُعِلْتُ فِدَاكَ، وَلَكِنْ أَرْهَقَنِي التَّنَازُعُ بَيْنَهُمَا، فَإِنَّ كُلًّا مِنْهُمَا يَرَى أَنَّ الْحَقَّ كُلَّهُ فِيهِ وَلَيْسَ لِلْآخَرِ مِنْهُ نَصِيبٌ! قَالَ: ذَرْهُمَا؛ فَإِنَّهُمَا أَهْلُ التَّفْرِيطِ وَالْإِفْرَاطِ! قُلْتُ: أَتَأْذَنُ لِي أَنْ أَكْتُبَ جُعِلْتُ فِدَاكَ؟ فَقَالَ: اكْتُبْ: أَمَّا السُّنَّةُ فَهَجَرُوا أَهْلَ بَيْتِ نَبِيِّهِمْ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَاتَّبَعُوا أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ، وَأَمَّا الشِّيعَةُ فَعَرَفُوا شَيْئًا مِنَ الْحَقِّ فَزَادُوا فِيهِ وَنَقَصُوا حَتَّى صَارُوا مِنْهُ عَلَى غَيْرِ شَيْءٍ، وَأَمَّا نَحْنُ فَالنُّمْرُقَةُ الْوُسْطَى، يَلْحَقُ بِنَا التَّالِي وَيَرْجِعُ إِلَيْنَا الْغَالِي.
Terjemahan ucapan:
Muhammad bin Abdurahman al-Harawi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Mansur tentang Sunni dan Syiah, manakah di antara keduanya yang benar? Maka beliau berkata: “Apakah engkau orang yang menimbulkan perselisihan, wahai Muhammad?!” Aku berkata: “Tidak, aku rela berkorban untukmu, tetapi perselisihan di antara keduanya telah melelahkanku; karena masing-masing dari keduanya menganggap bahwa seluruh kebenaran ada pada pihaknya dan pihak lain sama sekali tidak memiliki bagian darinya!” Beliau berkata: “Tinggalkanlah keduanya; karena keduanya adalah golongan yang berlebihan atau lalai!” Aku berkata: “Apakah engkau mengizinkanku untuk menuliskannya, aku rela berkorban untukmu?” Beliau berkata: “Tulislah: ‘Adapun Sunni, mereka telah meninggalkan Ahlul Bait Nabi mereka dan mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah sesat sebelumnya dan telah menyesatkan banyak orang, serta mengikuti perintah setiap penguasa yang sewenang-wenang dan keras kepala. Adapun Syiah, mereka telah mengetahui sebagian dari kebenaran, tetapi mereka menambah dan menguranginya hingga akhirnya mereka menjadi tidak berada di atas sesuatu pun darinya. Adapun kami, maka kami adalah posisi tengah; yang tertinggal akan menyusul kepada kami, dan yang melampaui batas akan kembali kepada kami!’”
3 . أَخْبَرَنَا جُبَيْرُ بْنُ عَطَاءٍ الْخُجَنْدِيُّ، قَالَ: دَخَلَ عَلَى الْمَنْصُورِ رَجُلٌ وَقَالَ لَهُ: أَشِيعِيٌّ أَنْتَ أَمْ سُنِّيٌّ؟! فَقَالَ: إِنِّي حَنِيفٌ مُسْلِمٌ، وَمَنْ لَمْ يَرْضَ عَنِّي بِهَذَا الْقَوْلِ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ! ثُمَّ قَرَأَ: ﴿مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾[1].
Terjemahan ucapan:
Jubair bin Ata’ al-Khujandi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Seorang laki-laki datang menemui Mansur dan berkata kepada beliau: “Apakah engkau seorang Syiah atau Sunni?!” Beliau berkata: “Aku adalah Muslim yang hanif, dan siapa yang tidak puas kepadaku atas pernyataan ini, semoga Allah menjauhkannya dariku!” Kemudian beliau membaca (ayat ini): “Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang Muslim yang hanif, dan dia bukan termasuk orang-orang musyrik.”
4 . أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الشِّيرَازِيُّ، قَالَ: قَالَ لِي رَجُلٌ: إِنَّ صَاحِبَكَ هَذَا يَدْعُو إِلَى اللَّهِ وَيَعْمَلُ صَالِحًا، إِلَّا أَنَّ فِيهِ عَيْبًا! قُلْتُ: وَمَا ذَلِكَ الْعَيْبُ؟! قَالَ: قَوْلُهُ مَا أَنَا شِيعِيًّا وَلَا سُنِّيًّا، وَلَكِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ! فَأَخْبَرْتُ بِذَلِكَ الْمَنْصُورَ فَقَالَ: قُلْ لَهُ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: ﴿وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾؟![2] فَأَخْبَرْتُ بِذَلِكَ الرَّجُلَ، فَقَالَ: كَأَنِّي لَمْ أَسْمَعْ بِهَذِهِ الْآيَةِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ! فَانْصَرَفَ وَهُوَ يَقُولُ: ﴿اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ﴾![3]
Terjemahan ucapan:
Muhammad bin Ibrahim al-Shirazi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Seorang laki-laki berkata kepadaku: “Sahabatmu menyeru kepada Allah dan beramal saleh, tetapi ada satu cela pada dirinya!” Aku berkata: “Cela apa?!” Dia berkata: “Ucapannya: ‘Aku bukan Syiah dan bukan pula Sunni, melainkan aku termasuk orang-orang Muslim!’” Kemudian aku menyampaikan hal itu kepada Mansur. Maka beliau berkata: “Katakan kepadanya: Allah Ta‘ala berfirman: ‘Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal saleh dan berkata: Aku termasuk orang-orang Muslim?’”’ Maka aku pun menyampaikan hal itu kepada laki-laki tersebut. Maka dia berkata: “Seakan-akan aku belum pernah mendengar ayat ini dari Kitab Allah!” Kemudian dia pergi sambil berkata: “Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya!”
5 . أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْبَلْخِيُّ، قَالَ: اسْتَأْذَنَ رَجُلٌ مِنَ الشِّيعَةِ عَلَى الْمَنْصُورِ فَأَذِنَ لَهُ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ قَالَ: بَلَغَنَا كِتَابُكَ فَنَظَرْنَا فِيهِ، فَظَنَنَّا أَنَّكَ مِنَ الشِّيعَةِ، ثُمَّ نَظَرْنَا فِيهِ فَظَنَنَّا أَنَّكَ مِنَ السُّنَّةِ! فَمَا أَنْتَ، أَصْلَحَكَ اللَّهُ؟! أَمِنَ الشِّيعَةِ أَمْ مِنَ السُّنَّةِ؟! قَالَ: وَيْحَكَ أَيُّهَا الرَّجُلُ! دَعْنِي حَتَّى أُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ! قَالَ الرَّجُلُ: لَا وَاللَّهِ، إِنَّا لَا نَتَّبِعُكَ حَتَّى تَكُونَ مِنَ الشِّيعَةِ! فَاسْتَوَى الْمَنْصُورُ جَالِسًا وَكَانَ مُتَّكِئًا، فَقَالَ: أَتَزْعُمُ -أَيُّهَا الْجَاهِلُ- أَنِّي أَسْأَلُكُمْ إِلْحَافًا أَنْ تَتَّبِعُونِي؟! لَا وَاللَّهِ، مَنِ اتَّبَعَنِي فَإِنَّمَا يَتَّبِعُنِي لِنَفْسِهِ، وَمَنْ عَصَانِي فَعَلَيْهَا، ﴿وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ﴾[4]! ثُمَّ قَالَ: أَلَسْتُمْ تَزْعُمُونَ أَنَّكُمْ تَتَّبِعُونَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ؟ قَالَ: بَلَى، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْهُ، أَكَانَ مِنَ الشِّيعَةِ أَمْ مِنَ السُّنَّةِ؟! فَنَكَسَ الرَّجُلُ رَأْسَهُ سَاعَةً يَتَفَكَّرُ، فَيَقُولُ لِنَفْسِهِ بِصَوْتٍ خَافِتٍ: كَيْفَ كَانَ مِنَ الشِّيعَةِ وَكَانَ لَهُ شِيعَةٌ؟! وَكَيْفَ كَانَ مِنَ السُّنَّةِ؟! ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَقَالَ: لَمْ يَكُنْ مِنَ الشِّيعَةِ وَلَا مِنَ السُّنَّةِ، وَلَكِنْ كَانَ عَلَى دِينِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ! قَالَ: صَدَقْتَ، فَأَنَا عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ!
Terjemahan ucapan:
Abdullah bin Muhammad al-Balkhi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Seorang laki-laki dari kalangan Syiah meminta izin kepada Mansur (untuk menemui beliau), maka beliau mengizinkannya. Ketika dia datang kepada beliau, dia berkata: “Bukumu telah sampai kepada kami. Kemudian kami menelitinya, dan kami mengira engkau termasuk Syiah! Kemudian kami menelitinya lagi, maka kami mengira engkau termasuk Sunni! Maka sebenarnya engkau yang mana, semoga Allah memperbaiki keadaanmu?! Apakah engkau dari golongan Syiah atau dari golongan Sunni?!” Beliau berkata: “Celaka engkau, wahai lelaki! Biarkan aku agar aku dapat memperbaiki manusia!” Lelaki itu berkata: “Tidak, demi Allah, kami tidak akan mengikutimu kecuali engkau adalah Syiah!” Kemudian Mansur yang sedang bersandar pun duduk tegak dan berkata: “Wahai orang yang tidak mengetahui! Apakah engkau mengira bahwa aku memohon kepada kalian dengan putus asa agar kalian mengikutiku?! Tidak, demi Allah, barang siapa mengikutiku, maka sesungguhnya dia mengikutiku untuk kebaikan dirinya sendiri, dan barang siapa mendurhakaiku, maka (telah mendurhakaiku) untuk kerugian dirinya sendiri, dan ‘aku bukanlah penjaga atas kalian!’” Kemudian beliau berkata: “Bukankah kalian mengaku bahwa kalian mengikuti Ali bin Abi Thalib?” Dia berkata: “Ya.” Beliau berkata: “Maka katakan kepadaku tentang beliau, apakah beliau dari golongan Syiah atau dari golongan Sunni?!” Lelaki itu menundukkan kepalanya sejenak sambil berpikir. Kemudian dia berkata dengan suara lirih: “Bagaimana mungkin beliau dari golongan Syiah, sementara beliau sendiri memiliki para pengikut (syiah)?! Dan bagaimana mungkin beliau dari golongan Sunni?!” Kemudian dia mengangkat kepalanya dan berkata: “Beliau bukan dari golongan Syiah dan bukan pula dari golongan Sunni. Melainkan beliau berada di atas agama Muhammad
!” Beliau berkata: “Engkau berkata benar. Aku pun berada di atas apa yang dahulu ditempuh oleh Ali bin Abi Thalib!”
6 . أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ دَاوُودَ الْفَيْضآبَادِيُّ، قَالَ: قَرَأْتُ عِنْدَ الْمَنْصُورِ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَى عَلَى شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَى لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ ۗ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ﴾[5]، قَالَ: أَتَعْلَمُ مَنْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ فَقَالُوا مِثْلَ قَوْلِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى؟ قُلْتُ: اللَّهُ وَوَلِيُّهُ أَعْلَمُ! قَالَ: هُمُ السُّنَّةُ وَالشِّيعَةُ! قَالَتِ السُّنَّةُ لَيْسَتِ الشِّيعَةُ عَلَى شَيْءٍ، وَقَالَتِ الشِّيعَةُ لَيْسَتِ السُّنَّةُ عَلَى شَيْءٍ، وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ! قُلْتُ: إِنِّي أَرْجُو أَنْ يَنْتَهِيَ اخْتِلَافُهُمْ هَذَا بَعْدَ أَنْ جَاءَهُمُ الْمَهْدِيُّ، قَالَ: لَا، وَلَكِنَّ اللَّهَ ﴿يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ﴾[6]!
Terjemahan ucapan:
Ali bin Dawud al-Fayzabadi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Di hadapan Mansur aku membaca firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Orang-orang Nasrani itu tidak berada di atas apa pun’, dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Orang-orang Yahudi itu tidak berada di atas apa pun’, padahal keduanya membaca Kitab (Allah)! Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui mengatakan seperti ucapan mereka itu!” Beliau berkata: “Apakah engkau tahu siapa orang-orang yang tidak mengetahui yang berkata seperti ucapan orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Aku berkata: “Allah dan teman-Nya lebih mengetahui!” Beliau berkata: “Mereka adalah Sunni dan Syiah! Sunni berkata: ‘Syiah tidak berada di atas apa pun’, dan Syiah berkata: ‘Sunni tidak berada di atas apa pun’, padahal keduanya membaca Kitab (Allah)!” Aku berkata: “Aku berharap perselisihan mereka akan berakhir setelah al-Mahdi datang kepada mereka!” Beliau berkata: “Tidak, tetapi Allah ‘memutuskan di antara mereka pada hari Kiamat tentang perkara apa yang dahulu mereka perselisihkan!’”
7 . أَخْبَرَنَا وَلِيدُ بْنُ مَحْمُودٍ السِّجِسْتَانِيُّ، قَالَ: ذُكِرَ عِنْدَ الْمَنْصُورِ الشِّيعَةُ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَعَنَهُمُ اللَّهُ، فَإِنَّ كُلَّهُمْ كُفَّارٌ! فَغَضِبَ عَلَيْهِ الْمَنْصُورُ وَقَالَ: ﴿أَوْلَى لَكَ فَأَوْلَى﴾![7] أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ الرَّجُلَ إِذَا كَفَّرَ مُسْلِمًا بَاءَ بِهَا؟! فَقَالَ الرَّجُلُ: إِنَّهُمْ لَيْسُوا مُسْلِمِينَ جُعِلْتُ فِدَاكَ! فَقَامَ عَنْهُ الْمَنْصُورُ غَضَبًا وَقَالَ: لَوِ امْتَلَأَ جَوْفُ الرَّجُلِ قَيْحًا خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ تَعَصُّبًا، اللَّهُمَّ أَخْزِ الْمُتَعَصِّبِينَ! ثُمَّ ذَهَبَ، فَأَدْرَكَهُ الرَّجُلُ مِنْ خَلْفِهِ وَقَالَ: جُعِلْتُ فِدَاكَ، إِنَّ هَؤُلَاءِ يَسُبُّونَ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ! فَقَالَ الْمَنْصُورُ: فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا، أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانُوا يَسُبُّونَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا؟! قَالَ الرَّجُلُ: إِنَّ هَؤُلَاءِ يَقْذِفُونَنَا وَيَقُولُونَ لَنَا أَوْلَادَ الزِّنَا! فَقَالَ الْمَنْصُورُ: هَلْ هُمْ إِلَّا جَاهِلُونَ يُخَاطِبُونَكُمْ؟! فَقُولُوا لَهُمْ سَلَامًا كَمَا أَمَرَكُمُ اللَّهُ! قَالَ الرَّجُلُ: أَلَمْ يَأْمُرْهُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ كَمَا أَمَرَنَا؟! قَالَ الْمَنْصُورُ: بَلَى، أَمَرَهُمْ بِالْكَفِّ عَنْكُمْ فَعَصَوْهُ، فَهَلْ تُرِيدُونَ أَنْ تَعْصَوْهُ كَمَا عَصَوْهُ فَتَكُونُوا سَوَاءً؟! ﴿فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ﴾[8]، قَالَ الرَّجُلُ: وَمَا أَمْرُهُ؟ قَالَ: خَلِيفَتُهُ، فَإِنَّهُ إِذَا جَاءَ بَيَّنَ لَكُمْ وَلَهُمْ بَعْضَ الَّذِي تَخْتَلِفُونَ فِيهِ.
Terjemahan ucapan:
Walid bin Mahmud as-Sajistani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Disebutkan di hadapan Mansur tentang kaum Syiah. Kemudian seorang lelaki berkata: “Semoga Allah melaknat mereka, karena mereka semua kafir!” Maka Mansur marah kepadanya dan berkata: “‘Celakalah engkau! Celakalah engkau! (Atau, engkau lebih pantas! Engkau lebih pantas)!’ Tidakkah engkau tahu bahwa seseorang apabila mengkafirkan seorang Muslim, maka tuduhan itu akan kembali kepadanya sendiri?!” Lelaki itu berkata: “Aku rela berkorban untukmu, mereka bukanlah Muslim!” Maka Mansur bangkit dengan marah dan berkata: “Jika perut seseorang dipenuhi nanah, itu lebih baik daripada dipenuhi fanatisme! Ya Allah! Hinakanlah orang-orang yang fanatik!” Kemudian beliau pergi. Kemudian lelaki itu menyusul beliau dari belakang dan berkata: “Aku rela berkorban untukmu, mereka mencaci para sahabat Muhammad
!” Maka Mansur berkata: “Maka maafkanlah dan berpalinglah! Tidakkah engkau tahu bahwa para sahabat Muhammad
juga saling mencaci satu sama lain?!” Lelaki itu berkata: “Mereka menuduh kami dan mengatakan bahwa kami adalah anak-anak hasil zina!” Maka Mansur berkata: “Bukankah mereka hanyalah orang-orang bodoh yang berbicara kepada kalian?! Maka katakanlah kepada mereka salam sebagaimana Allah memerintahkan kalian!” Lelaki itu berkata: “Bukankah Allah juga memerintahkan mereka dengan sesuatu sebagaimana Dia memerintahkan kami?!” Mansur berkata: “Ya, Dia memerintahkan mereka agar menahan diri dari (menuduh) kalian, tetapi mereka mendurhakai-Nya! Apakah engkau ingin mendurhakai-Nya sebagaimana mereka mendurhakai-Nya sehingga kalian menjadi sama?! ‘Maka maafkanlah dan berpalinglah hingga Allah mendatangkan perintah-Nya!’” Lelaki itu berkata: “Apakah perintah-Nya itu?” Beliau berkata: “Khalifah-Nya. Maka apabila beliau datang, beliau akan menjelaskan kepada kalian dan kepada mereka sebagian dari apa yang kalian perselisihkan.”
8 . أَخْبَرَنَا ذَاكِرُ بْنُ مَعْرُوفٍ، قَالَ: سَمِعَ الْمَنْصُورُ رَجُلًا يُكَفِّرُ رَجُلًا مِنَ الشِّيعَةَ، فَقَالَ لَهُ: وَيْحَكَ، هَلْ هُوَ إِلَّا رَجُلٌ يُفَضِّلُ عَلِيًّا عَلَى أَبِي بَكْرٍ كَمَا أَنْتَ تُفَضِّلُ أَبَا بَكْرٍ عَلَى عَلِيٍّ؟! فَوَاللَّهِ لَوْ أَنَّ رَجُلًا فَضَّلَ الشَّافِعِيَّ عَلَى أَبِي بَكْرٍ لَمْ يَكُنْ بِذَلِكَ كَافِرًا، فَكَيْفَ بِمَنْ فَضَّلَ عَلَيْهِ عَلِيًّا؟! إِنَّمَا الْكَافِرُ مَنْ يُفَضِّلُ الْكَافِرَ عَلَى الْمُؤْمِنِ، ثُمَّ قَرَأَ: ﴿أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا﴾[9]، فَقَالَ الرَّجُلُ: صَدَقْتَ جُعِلْتُ فِدَاكَ، وَلَكِنَّهُ يَسُبُّ أَبَا بَكْرٍ! قَالَ: هَذَا إِثْمٌ، وَلَا يُكَفِّرُ الرَّجُلَ بِالْإِثْمِ إِلَّا حَرُورِيٌّ! ثُمَّ قَالَ: إِنَّ رَجُلًا سَبَّ أَبَا بَكْرٍ، فَقَالَ أَبُو بَرْزَةَ لِأَبِي بَكْرٍ: أَلَا أَضْرِبُ عُنُقَهُ يَا خَلِيفَةَ رَسُولِ اللَّهِ؟ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا أَبَا بَرْزَةَ! إِنَّهَا لَيْسَتْ لِأَحَدٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ.[10]
Terjemahan ucapan:
Zakir bin Ma‘ruf mengabarkan kepada kami, dia berkata: Mansur mendengar seorang lelaki mengkafirkan seorang lelaki dari kalangan Syiah. Maka beliau berkata kepadanya: “Celakalah engkau! Bukankah dia hanyalah seorang lelaki yang menganggap Ali lebih baik daripada Abu Bakar, sebagaimana engkau menganggap Abu Bakar lebih baik daripada Ali?! Demi Allah, seandainya ada seseorang menganggap asy-Syafi’i lebih baik daripada Abu Bakar, niscaya hal itu tidak membuatnya menjadi kafir. Maka bagaimana dengan orang yang menganggap Ali lebih baik daripada Abu Bakar?! Seorang kafir hanyalah orang yang menganggap orang kafir lebih baik daripada orang yang beriman.” Kemudian beliau membaca (ayat ini): “Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang diberi sebagian dari Kitab, mereka beriman kepada jibt dan taghut dan berkata tentang orang-orang kafir bahwa mereka itu lebih mendapat petunjuk daripada orang-orang yang beriman?!” Maka lelaki itu berkata: “Engkau berkata benar, aku rela berkorban untukmu, tetapi mereka mencaci Abu Bakar!” Beliau berkata: “Itu adalah dosa, dan tidaklah seseorang kecuali Khawarij mengkafirkan seseorang karena dosa!” Kemudian beliau berkata: “Seorang lelaki mencaci Abu Bakar. Kemudian Abu Barzah berkata kepada Abu Bakar: ‘Haruskah aku penggal lehernya, wahai Khalifah Rasulullah?’ Maka Abu Bakar berkata: ‘Semoga ibumu bersedih untukmu, wahai Abu Barzah! Hal itu tidak berlaku bagi siapa pun setelah Rasulullah
!’”
Penjelasan ucapan:
Pernyataan Yang Mulia tentang bolehnya menganggap Ali lebih baik daripada Abu Bakar adalah pernyataan yang adil, masuk akal, jauh dari taklid dan fanatisme mazhab, dan hal ini telah dikenal luas di kalangan para pendahulu yang saleh dari Ahlus Sunnah wal Jama‘ah; sebagaimana diriwayatkan dari Abd ar-Razzaq ash-Shan’ani (w. 211 H) bahwa dia berkata: “Suatu kali Ma’mar (w. 153 H) tertawa ketika aku sedang duduk di hadapannya dan tidak ada orang lain bersama kami. Maka aku berkata kepadanya: ‘Ada apa denganmu?’ Dia berkata: ‘Aku heran dengan penduduk Kufah! Seakan-akan Kufah dibangun semata-mata di atas kecintaan kepada Ali! Aku tidak berbicara dengan seorang pun dari mereka kecuali yang paling moderat di antara mereka adalah orang yang menganggap Ali lebih baik daripada Abu Bakar dan Umar. Sufyan ats-Tsuri termasuk di antara mereka!’ Aku berkata kepada Ma‘mar: ‘Apakah engkau melihatnya sendiri?!’ Seakan-akan aku menganggap hal itu besar. Maka Ma‘mar berkata: ‘Apa yang aneh dari itu?! Jika seseorang berkata: “Menurut pendapatku, Ali lebih baik daripada dua orang itu”, aku tidak menyalahkannya selama dia juga menyebutkan keutamaan mereka dan mengatakan itu hanyalah menurut pendapatnya, dan jika seseorang berkata: “Menurut pendapatku, Umar lebih baik daripada Ali dan Abu Bakar”, aku pun tidak menyalahkannya.’”[11] Inilah sikap yang baik yang perlu diambil oleh umat Muslim agar persatuan yang menjaga kebaikan dan kemaslahatan mereka dapat terwujud; sebagaimana Muhammad bin Sirin (w. 110 H) berkata: “Akan ada seorang Khalifah di umat ini yang Abu Bakar dan Umar tidak lebih baik darinya”,[12] namun tidak seorang pun menuduhnya kafir atau mengatakan bahwa dia termasuk golongan Syiah karena pernyataan ini!
9 . أَخْبَرَنَا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ عَبْدِ الْقَيُّومِ، قَالَ: كُنَّا مَعَ الْمَنْصُورِ فِي مَسْجِدٍ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: أَنَا مِنَ الشِّيعَةِ، قَالَ: وَمَا تُرِيدُ بِالشِّيعَةِ؟ قَالَ: شِيعَةَ آلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: كُنْ مُسْلِمًا تَكُنْ مِنْ شِيعَةِ آلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ! فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: أَنَا مِنَ السُّنَّةِ، قَالَ: وَمَا تُرِيدُ بِالسُّنَّةِ؟ قَالَ: أَهْلَ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: كُنْ مُسْلِمًا تَكُنْ مِنْ أَهْلِ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ! ثُمَّ قَالَ: أَخَذْتُمُ الْأَسَامِي وَتَرَكْتُمُ الْمَعَانِي! كُونُوا مُسْلِمِينَ -أَيُّهَا الْأَحْجَارُ- كَمَا كُنْتُمْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَلَا تَكُونُوا ﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ﴾[13]!
Terjemahan ucapan:
Abd as-Salam bin Abd al-Qayyum mengabarkan kepada kami, dia berkata: Kami bersama Mansur di dalam sebuah masjid. Kemudian seorang lelaki berkata kepada beliau: “Aku termasuk golongan Syiah!” Beliau berkata: “Apa yang engkau maksud dengan Syiah?” Dia berkata: “Pengikut keluarga Muhammad
!” Beliau berkata: “Jadilah engkau seorang Muslim, niscaya engkau termasuk pengikut keluarga Muhammad
!” Kemudian seorang lelaki lain berkata kepada beliau: “Aku termasuk golongan Sunni!” Beliau berkata: “Apa yang engkau maksud dengan Sunni?” Dia menjawab: “Pengikut Sunnah Rasulullah
!” Beliau berkata: “Jadilah engkau seorang Muslim, niscaya engkau termasuk pengikut Sunnah Rasulullah
!” Kemudian beliau berkata: “Kalian telah mengambil nama-nama, tetapi meninggalkan maknanya! Jadilah Muslim, wahai orang-orang yang keras seperti batu, sebagaimana kalian dahulu bersama Rasulullah
dan janganlah menjadi ‘orang-orang yang memecah-belah agama mereka menjadi beberapa bagian dan golongan-golongan yang berbeda, setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka!’”
Penjelasan ucapan:
Maksud ucapan Yang Mulia: “Jadilah engkau seorang Muslim, niscaya engkau termasuk pengikut keluarga Muhammad
” adalah bahwa siapa pun yang benar-benar seorang Muslim pasti merupakan pengikut keluarga Muhammad
; karena tidak ada seorang Muslim yang membenci keluarga Muhammad
atau enggan mengikuti mereka, kecuali dia seorang munafik; sebagaimana telah ditetapkan bahwa Rasulullah
bersabda kepada Ali: «لَا يُحِبُّكَ إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَلَا يُبْغِضُكَ إِلَّا مُنَافِقٌ»[14]; “Tidaklah mencintaimu kecuali seorang yang beriman, dan tidaklah membencimu kecuali seorang munafik.” Demikian pula, maksud ucapan Yang Mulia: “Jadilah engkau seorang Muslim, niscaya engkau termasuk pengikut Sunnah Rasulullah
” adalah bahwa siapa pun yang benar-benar seorang Muslim pasti merupakan pengikut Sunnah Rasulullah
; karena tidak ada seorang Muslim yang menolak mengikuti Sunnah beliau, kecuali dia seorang munafik. Oleh karena itu, tidak ada seorang Muslim kecuali dia adalah Syiah dan Sunni sekaligus, meskipun dengan tingkatan yang berbeda-beda.
10 . أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطَّالَقَانِيُّ، قَالَ: أَدْخَلْتُ عَلَى الْمَنْصُورِ رَجُلَيْنِ مِنْ أَصْحَابِنَا، فَقُلْتُ لَهُ: هَذَا فُلَانٌ مِنْ أَصْحَابِكَ وَهُوَ مِنَ الشِّيعَةِ، وَهَذَا فُلَانٌ مِنْ أَصْحَابِكَ وَهُوَ مِنَ السُّنَّةِ، قَالَ: دَعْنَا -يَا أَحْمَدُ- مِنْ شِيعَتِكُمْ وَسُنَّتِكُمْ! إِنَّ اللَّهَ قَدْ رَضِيَ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا، فَتَدَيَّنُوا بِهِ، ﴿مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ﴾[15]، فَلَا تَسَمُّوا إِلَّا بِالْمُسْلِمِينَ، ﴿وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ﴾[16]! ثُمَّ قَالَ: مَنْ أَتَى اللَّهَ وَلَمْ يُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ.
Terjemahan ucapan:
Ahmad bin Abdurahman at-Talaqani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku membawa masuk dua orang dari sahabat-sahabat kami menghadap Mansur. Kemudian aku berkata kepada beliau: “Ini fulan, termasuk pendampingmu dan dia dari kalangan Syiah, dan ini fulan, termasuk pendampingmu dan dia dari kalangan Sunni.” Beliau berkata: “Tinggalkanlah Syiah dan Sunni kalian, wahai Ahmad! Sesungguhnya, Allah telah meridai Islam sebagai agama bagi kalian, maka beragamalah dengannya, karena ‘ini adalah agama ayah kalian, Ibrahim. Dia yang menamai kalian Muslim sejak dahulu’, maka janganlah kalian menamakan diri kecuali dengan sebutan ‘Muslim’, ‘dan janganlah kalian saling memanggil dengan julukan-julukan!’” Kemudian beliau berkata: “Barang siapa datang kepada Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, maka akan masuk Surga!”