أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَبِيبٍ الطَّبَرِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ الْمَنْصُورَ الْهَاشِمِيَّ الْخُرَاسَانِيَّ يَقُولُ: الْعِلْمُ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي قَلْبِ مَنْ يَشَاءُ لِيُرِيَهُ فِيهِ مَا يَكُونُ، وَلَوْ أَنَّ النَّاسَ أَجْهَدُوا أَنْفُسَهُمْ وَرَكِبَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا لِكَيْ يَعْلَمُوا مِمَّا يَكُونُ شَيْئًا لَا يَعْلَمُونَهُ حَتَّى يُعَلِّمَهُمُ اللَّهُ، ثُمَّ قَرَأَ: ﴿سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ﴾[1]. قُلْتُ: جُعِلْتُ فِدَاكَ، وَمَا خَيْرُ الْعُلُومِ؟ قَالَ: مَا ثَمَّ عُلُومٌ يَابْنَ حَبِيبٍ، وَلَكِنَّهُ عِلْمٌ وَاحِدٌ، وَالْعِلْمُ لَا يَتَفَاوَتُ! قُلْتُ: فَمَا هَذِهِ الَّتِي فِي أَيْدِي النَّاسِ؟! قَالَ: تِلْكَ الظُّنُونُ، تِلْكَ الْعِبَارَاتُ، وَهِيَ شَبِيهَةٌ بِالْعِلْمِ، وَلَيْسَتِ الْعِلْمَ.
Terjemahan ucapan:
Abdullah bin Habib at-Tabari mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Mansur Hasyimi Khorasani berkata: “Ilmu adalah cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati siapa yang Dia kehendaki untuk memperlihatkan kepadanya apa yang ada di dalamnya, dan sekiranya manusia mengerahkan seluruh kemampuan mereka, bahkan sebagian mereka saling bertumpuk satu sama lain untuk mengetahui sesuatu yang ada di dalamnya, mereka tidak akan mengetahuinya sampai Allah mengajarkannya kepada mereka!” Kemudian beliau membaca (ayat ini): “Maha Suci Engkau! Tidak ada pengetahuan bagi kami kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya, Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Aku berkata: “Aku rela berkorban untukmu! Apa ilmu yang paling utama?” Beliau berkata: “Tidak ada berbagai macam ilmu, wahai Ibnu Habib, sesungguhnya ilmu itu satu, dan ilmu tidaklah berbeda-beda!” Aku berkata: “Lalu apa yang berada di tangan manusia itu?!” Beliau berkata: “Itu hanyalah dugaan-dugaan dan ungkapan-ungkapan, mereka menyerupai ilmu, tetapi bukanlah ilmu.”
Penjelasan ucapan:
Dari hikmah yang sangat berharga ini diketahui bahwa ilmu adalah cahaya ilahi yang bersumber dari Tuhan semesta alam dan sampai kepada akal-akal yang sehat, sehingga dengan cahayanya mereka dapat melihat segala sesuatu yang ada di alam sebagaimana adanya. Oleh karena itu, ilmu ibarat cahaya, dan akal yang sehat ibarat mata yang dapat melihat, yang mampu melihat dalam cahaya, tanpanya, ia tidak dapat melihat apa pun walaupun bersungguh-sungguh. Berdasarkan hal ini, maka ilmu layaknya cahaya, adalah hakikat yang satu, meskipun ia menjadi sebab terlihatnya berbagai objek yang berbeda; karena perbedaan informasi tidak meniscayakan perbedaan ilmu; sebagaimana perbedaan objek yang terlihat tidak menjadikan cahaya itu berbeda-beda. Berdasarkan prinsip ini, jelaslah bahwa ilmu hanyalah milik Allah semata, bukan milik selain-Nya, dan inilah yang dimaksud dalam firman-Nya: ﴿إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾[2]; “Sesungguhnya, Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui”; karena yang lain memperoleh ilmu melalui ilmu-Nya; sebagaimana mereka melihat melalui cahaya. Adapun apa yang berada di tangan manusia dengan label “ilmu” dan saling bertentangan satu sama lain, pada hakikatnya bukan ilmu, melainkan sekumpulan dugaan dan anggapan mereka yang menyerupai ilmu dan menipu orang-orang yang bodoh; seperti fatamorgana yang menyerupai air dan menipu orang-orang yang kehausan; karena ilmu adalah cahaya Allah di langit dan di bumi, tidak mengandung perbedaan, dan suci dari dugaan serta anggapan manusia.