Rabu, 28 Januari 2026 / 9 Sya’ban 1447 H
Mansur Hasyimi Khorasani
 Ucapan baru: Sebuah ucapan dari Yang Mulia dalam menjelaskan nilai hikmah (kebijaksanaan) dan celaan terhadap orang-orang yang tidak mengambil manfaat darinya. Klik di sini untuk membaca. Surat baru: Sebuah kutipan dari surat Yang Terhormat untuk salah satu pendamping beliau, di mana beliau menasihatinya dan memperingatkannya agar takut kepada Allah. Klik di sini untuk membaca. Pelajaran baru: Pelajaran dari Yang Mulia tentang fakta bahwa bumi tidak pernah kosong dari seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang agama, yang telah Allah tunjuk sebagai khalifah, imam, dan pembimbing di atasnya sesuai dengan perintah-Nya; Ayat-ayat Al Qur’an tentangnya; Ayat no. 16. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web. Pertanyaan baru: Bagaimana pandangan Islam terhadap taqlid (mengikuti secara buta)? Klik di sini untuk membaca jawaban. Artikel baru: Artikel “Sebuah ulasan buku Kembali ke Islam karya Mansur Hasyimi Khorasani” ditulis oleh “Sayyed Mohammad Sadeq Javadian” telah terbit. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web.
loading
Ucapan
 

Terjemahan ucapan:

Suatu hari, Yang Mulia Mansur Hasyimi Khorasani bersama sejumlah murid beliau memasuki sebuah desa untuk melaksanakan salat dan beristirahat. Kemudian orang-orang berkumpul di sekeliling beliau untuk melihat beliau dan mendengar sepatah kata dari beliau. Ketika beliau melihat mereka berkumpul dan memandangi beliau, beliau mendatangi mereka, memperlakukan mereka dengan lembut, memberi nasihat, memperingatkan mereka dari keyakinan yang salah dan perbuatan yang tidak benar, mengajak mereka untuk mengenal kebenaran dan menolongnya, serta berbicara banyak kata-kata hikmah kepada mereka. Namun, tidak lama kemudian mereka berpencar dan kembali ke rumah masing-masing untuk mengurus pekerjaan sehari-hari mereka. Maka tinggallah beliau hanya bersama para pendamping beliau. Kemudian beliau menuju sebuah pohon di kaki gunung untuk menunaikan salat di bawah naungannya; karena beliau sangat mencintai salat dan setiap kali beliau mendapat kesempatan, beliau akan melaksanakan salat dan berkata: “Ketenanganku adalah dalam salat.” Setelah beliau selesai, murid-murid beliau berkata kepada beliau:

Wahai guru! Kami mendengar ucapanmu kepada orang-orang itu. Demi Allah, kata-katamu seperti kata-kata para Nabi, memberikan kesucian dan kesegaran seperti hujan; karena engkau berbicara dengan kekuatan Ruhul Qudus dan mengucapkan hal-hal yang Allah letakkan di mulutmu, tetapi semua itu tidak memperbaiki mereka dan tidak satu pun dari mereka mau menemanimu: “Ini sungguh mengherankan!”

Maka Yang Mulia berkata:

Apakah kalian heran akan hal itu? Aku akan menjelaskannya kepada kalian jika kalian membuka telinga untuk mendengar dan menggunakan akal untuk memahami; karena mulutku berbicara kebenaran dan tanganku menunjuk yang benar. Orang yang berakal mengambil hikmah dan menyimpannya sebagai bekal bagi dirinya; karena ia akan menjadi air bagi hari-hari kehausannya dan makanan bagi malam-malam kelaparannya, tetapi orang bodoh membenci hikmah dan menjauhkan dirinya darinya; karena hawa nafsu jasadnya menyala dan kekuatan rohaninya telah padam. Dia berkata kepada dirinya sendiri: “Untuk apa aku mempelajari hikmah dan menyusahkan diri?! Padahal ia menghalangiku dari kenikmatan dan menjauhkanku dari kesenangan sehingga aku harus meninggalkan hal-hal yang aku sukai dan melakukan hal-hal yang aku tidak sukai, seperti para pertapa yang meninggalkan kenikmatan dan seperti para rahib yang berpaling dari dunia, padahal dunia menyenangkan bagiku dan kehidupannya tampak indah di mataku, dan aku tidak mampu menjauhinya; karena aku masih muda dan memiliki banyak angan-angan, dan kematian masih jauh dariku!” Maka dengan demikian dia terhalang dari hikmah dan terampas dari pengetahuan, hingga ruhnya mati sementara tubuhnya masih hidup. Apakah hikmah tidak memberinya kenikmatan dan pengetahuan tidak memberi jiwanya ketenangan?! Padahal penderitaan manusia berasal dari kebodohan dan musibah timbul dari kelalaian; ia telah menyalakan api peperangan dan membentangkan bayang-bayang kemiskinan ketika kekayaan diserahkan kepada orang-orang bodoh dan kekuasaan diberikan kepada orang-orang bodoh sehingga mereka merusak bumi dengan harta mereka dan mereka menindas dan menekan orang-orang lemah dengan kekuasaan mereka serta menyakiti orang-orang tak berdaya.

Orang-orang bodoh yang berkuasa adalah anak-anak setan, dan orang-orang bodoh yang kaya adalah penyakit bumi, dan manusia tidak akan tenteram dari mereka; mereka yang condong kepada setiap keburukan dan berpaling dari setiap kebaikan. Mereka berusaha menyebarkan kebodohan di bumi dan berupaya memusnahkan orang-orang bijak, agar tidak tersisa hikmah di bumi dan tidak ditemukan satu pun orang bijak di bawah langit, padahal kebinasaan pantas bagi mereka dan seharusnya mereka tidak ada di darat maupun di laut. Sesungguhnya, kekayaan bermanfaat bagi orang-orang bijak dan kekuasaan pantas berada di tangan mereka, agar dengan keduanya mereka memperindah dunia dan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan. Bukankah keindahan dunia itu menyenangkan dan kebahagiaan manusia itu diinginkan?!

Kebodohan telah membuat wajah bumi menjadi buruk dan kelalaian telah menjadikan penghuninya sengsara. Kebodohan telah melahirkan kezaliman dan menumbuhkan kemiskinan. Laknat turun kepada orang-orang bodoh dan kesialan menyelimuti orang-orang yang kurang ilmu ketika mereka tidak mengetahui kebenaran dari kebatilan dan tidak dapat membedakan yang baik dari yang buruk. Sehingga mereka memusuhi sahabat mereka dan berteman dengan musuh mereka. Apakah anak-anak manusia telah berubah sehingga hidup seperti binatang, tanpa akal dan kecerdasan, serta kosong dari ilmu dan hikmah?! Seperti anjing dan kucing, seperti serigala dan domba, sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain dan sebagian memangsa sebagian yang lain demi memuaskan nafsu jasad mereka dan menekan keinginan ruh mereka sehingga mereka menjadi jasad-jasad gemuk dengan ruh-ruh yang kurus.

Kemalasan telah menguasai manusia dan kekhawatiran telah menaungi mereka; karena kebodohan telah membuat mereka sakit dan lemahnya kehendak telah membuat mereka dingin. Tidak ada semangat dalam diri mereka dan tidak tersisa cita-cita bagi mereka; seperti batu di padang pasir atau seperti bata dalam bangunan, tanpa perasaan dan kehendak, tanpa tenaga dan gerak, terhimpit oleh batu-batu lain dan ditekan oleh bata-bata lain, tunduk dan serupa, bertumpuk satu di atas yang lain hingga membentuk gundukan kerusakan, menjadikan waktu cocok untuk kesengsaraan dan tempat telah siap untuk kehancuran.

Kemudian beliau menoleh ke kanan dan ke kiri kemudian berkata:

Sekarang waktu cocok untuk kesengsaraan dan tempat telah siap untuk kehancuran; karena kebodohan telah menyebar dan hikmah menjadi langka. Kebodohan diperjualbelikan seperti emas, sedangkan hikmah disamakan dengan debu. Kata-kata kosong menjadi terkenal, sementara kata-kata hikmah dilupakan. Pasar kebatilan ramai, tetapi tidak ada pembeli hikmah. Kelucuan lebih disukai daripada nasihat, dan para badut lebih dihargai daripada para bijak. Penyelewengan memenuhi penjuru, tetapi tidak ada tanda-tanda kebijaksanaan di mana pun. Sepanjang hari untuk kesia-siaan terasa kurang, tetapi satu jam nasihat dianggap terlalu banyak. Manusia tidak tertarik kepada hikmah dan tidak menyediakan waktu untuknya. Kepala-kepala berat dan dada-dada sempit. Tangan-tangan terikat dan kaki-kaki lemah. Dalam suasana yang gelap seperti ini, apakah kalian mengharapkan sesuatu selain berpaling dariku?! Ataukah kalian menunggu sesuatu selain permusuhan terhadapku?! Tidak, demi Allah! Mereka tidak akan pernah menemaniku dan tidak akan pernah mengikutiku, kecuali jika aku mengikuti keinginan mereka atau membasahi bumi dengan darah dan keringat!

Penjelasan ucapan:

Maksud Yang Mulia dengan kalimat terakhir dari ucapan beliau adalah jika beliau mengikuti keinginan manusia, sebagaimana yang dilakukan beberapa pemimpin dan tetua mereka, atau membasahi bumi dengan darah dan keringat, sebagaimana yang dilakukan beberapa dari mereka, maka mereka akan menjadi teman dan mengikuti beliau. Namun, beliau tidak mengikuti keinginan mereka dan tidak memaksa mereka dengan pedang, dan oleh karena itu, mereka tidak menemani dan tidak mengikuti beliau dan hanya menemani dan mengikuti pemimpin dan tetua mereka yang memiliki lidah manis atau pedang yang tajam. Ini adalah kebiasaan yang sudah lazim dilakukan manusia sejak mereka ada, dan hal itu tidak seharusnya menjadi sesuatu yang mengherankan.

Untuk membaca ucapan dalam bahasa aslinya, klik di sini.
Bagikan
Bagikan konten ini dengan teman-teman Anda untuk membantu menyebarkan pengetahuan; memberi tahu orang lain tentang pengetahuan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih.
Email
Telegram
Facebook
Twitter
Anda juga bisa membaca konten ini dalam bahasa berikut ini:
Jika Anda fasih dalam bahasa lain, terjemahkan konten ini ke bahasa tersebut dan kirimkan terjemahan Anda kepada kami untuk diterbitkan di situs web. [Formulir Terjemahan]