Terjemahan ucapan:
Salah seorang sahabat kami mengabarkan kepada kami, dia berkata: Pada suatu malam, aku datang menghadap Mansur Hasyimi Khorasani, beliau sedang sendirian dan memandang bintang-bintang di langit dari balik jendela. Kemudian aku berkata: “Aku rela berkorban untukmu, apa yang sedang engkau pikirkan?!” Tanpa mengalihkan pandangannya dari bintang-bintang di langit, beliau berkata:
Wahai Fulan dan Fulan! Di tengah zaman ini, ketika matahari agama tersembunyi di balik awan-awan gelap, Allah memiliki hamba-hamba yang Dia senantiasa berada dalam hati mereka. Mereka menyalakan pelita di mata manusia dari cahaya kewaspadaan, mengingatkan manusia kepada hari-hari Allah, serta mengingatkan mereka akan akhir yang penuh pelajaran dari orang-orang terdahulu. Mereka bagaikan penunjuk jalan di padang pasir yang menakutkan dan tanpa tanda. Mereka memberi kabar gembira kepada orang yang mengikuti kebenaran dan memperingatkan orang yang condong kepada kebatilan. Ya, di berbagai penjuru bumi yang luas ini, ada orang-orang milik Allah yang memilih berzikir (mengingat Allah) daripada kepentingan dunia, dan jual beli tidak melalaikan mereka dari salat di awal waktunya. Mereka menghabiskan siang dan malam dengan beribadah kepada Allah dan menyampaikan peringatan-Nya kepada orang-orang yang lalai. Mereka mengajak manusia kepada keadilan dan mereka sendiri lebih dahulu melaksanakannya. Mereka telah melepaskan hati mereka dari dunia dan bergabung dengan Mala’ al-a’la (Golongan Tertinggi). Seakan-akan mereka telah meninggalkan dunia ini dan memulai perjalanan ke akhirat, atau mereka masih di dunia tetapi telah menyaksikan apa yang ada di balik tabir. Seakan-akan mereka telah mengetahui keadaan tersembunyi penduduk Barzakh dan telah tinggal di dalamnya untuk suatu masa. Seakan-akan Kiamat telah menampakkan wajahnya yang mengerikan di hadapan mereka, atau api Neraka yang membakar telah mengepung mereka. Seakan-akan mereka melihat rahasia yang tidak dilihat manusia dan mendengar apa yang tidak didengar manusia.
Kemudian beliau memandangku, menghela napas, dan dengan air mata mengalir dari kedua matanya, beliau melanjutkan:
Wahai Fulan dan Fulan! Jika engkau menemukan mereka dan melihat kedudukan mereka yang luhur, bagaimana mereka membuka lembaran-lembaran amal mereka dan bersiap untuk dihisab; mereka merenungkan betapa banyak perbuatan besar dan kecil yang diperintahkan kepada mereka namun mereka lalaikan, dan betapa banyak larangan yang mereka langgar! Mereka merasakan beratnya beban dosa-dosa mereka, hingga tidak sanggup lagi menanggungnya, kemudian terjatuh berlutut, menangis dan merintih seolah-olah merasakan sakit. Banyak malam di mana mereka tidak bisa tidur, maka mereka duduk sendiri di sudut di dalam kegelapan, memeluk lutut dan merenung! Terkadang mereka bangkit untuk salat, terkadang mereka bersujud, dan terkadang mereka memandang langit dengan berlinang air mata, seolah-olah mereka mencari sesuatu di antara bintang-bintangnya. Jika tabir tersingkap dari depan matamu, niscaya engkau akan melihat para Malaikat turun kepada mereka dan mengelilingi mereka, pintu-pintu langit dibukakan untuk mereka, dan Surga-surga penuh kenikmatan telah disiapkan untuk mereka.
Ah, betapa aku merindukan mereka! Tentu mereka adalah saudara-saudaraku yang telah dipisahkan dariku oleh zaman dan yang dihalangi dariku oleh jarak. Namun, mereka akan segera mendengar seruanku seperti seruan pemilik burung merpati, dan bergegas menuju kepadaku dari berbagai penjuru bumi untuk menemaniku di jalan yang telah aku mulai dan menolongku mencapai tujuan yang telah aku niatkan. Saat itu engkau akan mendapati mereka sebagai para pendamping yang teguh dan para penolong yang setia kepadaku; mereka membawa ilmuku dan menjaganya dari pencuri, mengalirkan mata airnya, dan berlomba-lomba untuk mengamalkannya; karena mereka memiliki mata yang melihat dan telinga yang mendengar, serta mengetahui nilai ulama. Mereka bukan orang-orang bodoh, bukan buruk lisan, bukan orang lemah, dan bukan pula orang yang tidak sabar. Keraguan tidak menghampiri mereka dan prasangka buruk tidak mendekati mereka. Mereka saling mencintai dan hidup selaras satu sama lain. Allah telah memuji mereka dengan akhlak yang mulia ini dan menyimpan mereka untuk tugas yang berkah ini. Mereka bagaikan biji-bijian yang telah disaring, dan bagaikan awan-awan hujan yang saling menyatu dari berbagai arah. Sekarang, jika engkau memiliki pertanyaan, tanyakanlah.
Aku berkata: “Aku rela berkorban untukmu, ajarkanlah kepadaku sebuah doa yang dapat kubaca di masa yang penuh fitnah ini.” Maka beliau berkata:
Ucapkanlah pada pagi dan petang:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَمِنْ تَحْوِيلِ عَافِيَتِكَ، وَمِنْ فُجَاءَةِ نَقِمَتِكَ، وَمِنْ دَرَكِ الشَّقَاءِ، وَمِنْ شَرِّ مَا قُدِّرَ وَقُضِيَ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِعِزَّةِ مُلْكِكَ، وَشِدَّةِ قُوَّتِكَ، وَبِعَظِيمِ سُلْطَانِكَ، وَبِقُدْرَتِكَ عَلَى خَلْقِكَ، أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَأَنْ تُعِيذَنِي مِنْ فِتْنَةٍ عَمْيَاءَ مُضِلَّةٍ يَسُوقُهَا إِلَيَّ الشَّيْطَانُ وَحِزْبُهُ وَيَسُوقُهَا إِلَيَّ الْمَسِيحُ الدَّجَّالُ!
Penjelasan ucapan:
Makna doa yang diajarkan oleh tokoh besar zaman ini, Yang Mulia Mansur Hasyimi Khorasani, kepada salah seorang pendamping dan muridnya adalah: “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya nikmat-Mu, dari hilangnya keselamatan yang Engkau berikan, dari datangnya azab-Mu dengan tiba-tiba, dari terjerumus ke dalam kesengsaraan, dan dari keburukan segala sesuatu yang telah ditetapkan dan ditentukan! Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan kerajaan-Mu, dengan dahsyatnya kekuatan-Mu, dengan kebesaran kekuasaan-Mu, dan dengan kekuasaan-Mu atas makhluk-Mu, agar Engkau bershalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan agar Engkau melindungiku dari fitnah yang buta dan menyesatkan, yang digiring kepadaku oleh setan dan golongannya, serta yang digiring kepadaku oleh al-Masih ad-Dajjal!”