أَخْبَرَنَا وَلِيدُ بْنُ مَحْمُودٍ السِّجِسْتَانِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ الْهَاشِمِيَّ الْخُرَاسَانِيَّ عَنِ الْعَقْلِ أَهُوَ مَوْهُوبٌ مِنَ اللَّهِ أَوْ لِلنَّاسِ فِيهِ صُنْعٌ؟ قَالَ: بَلْ هُوَ مَوْهُوبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَيْسَ لِلنَّاسِ فِيهِ صُنْعٌ، قُلْتُ: فَلِمَاذَا ذَمَّ اللَّهُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ؟! قَالَ: أَيْنَ ذَهَبْتَ يَا وَلِيدُ؟! إِنَّ اللَّهَ قَدْ وَهَبَ لَهُمْ عَقْلًا وَأَمَرَهُمْ بِاسْتِعْمَالِهِ، فَلَمْ يَسْتَعْمِلُوهُ، فَذَمَّهُمْ عَلَى تَرْكِ الْإِسْتِعْمَالِ، أَمَا سَمِعْتَ قَوْلَهُ: ﴿لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا﴾[1] وَقَوْلَهُ: ﴿أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا﴾[2]؟! قُلْتُ: جُعِلْتُ فِدَاكَ، إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَزْدَادَ عَقْلًا! قَالَ: يَا وَلِيدُ، إِنَّكَ لَمْ تَسْتَعْمِلْ عَقْلَكَ كُلَّهُ حَتَّى تَحْتَاجَ إِلَى زِيَادَةٍ، لَا وَاللَّهِ بَلْ لَمْ تَسْتَعْمِلْ مِنْهُ جُزْءًا مِنَ السَّبْعِينَ، فَلَعَلَّكَ إِنْ تَسْتَعْمِلْهُ لَنْ تَحْتَاجَ إِلَى زِيَادَةٍ، لِأَنَّ اللَّهَ قَسَّمَ الْعَقْلَ عَلَى قَدْرِ حَاجَةٍ بِهِ، وَلَمْ يَنْقُصْ مِنْهُ وَلَمْ يَزِدْ عَلَيْهِ، وَجَعَلَ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدَرًا مَقْدُورًا، فَاسْتَعْمِلْ عَقْلَكَ يُغْنِيكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، وَإِنِ احْتَجْتَ بَعْدَهُ إِلَى شَيْءٍ فَاسْتَعِنْ بِعَقْلِ أَخِيكَ، فَإِنَّ اللَّهَ فَضَّلَ الْعُقُولَ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ، لِيَسْتَعِينَ بَعْضُهَا بِبَعْضٍ، وَيَكُونَ بَعْضُهَا تَبَعًا لِبَعْضٍ، وَجَعَلَ عَقْلَ خَلِيفَتِهِ فِي الْأَرْضِ أَكْمَلَ الْعُقُولِ لِيَكُونَ مَصِيرَهَا وَمَأْوَاهَا، فَلَوْ أَنَّ رَجُلًا اسْتَعْمَلَ عَقْلَهُ حَقَّ اسْتِعْمَالِهِ وَاتَّبَعَ خَلِيفَةَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ حَقَّ اتِّبَاعِهِ، لَكَانَ كَمَنْ عَقْلُهُ كَامِلٌ لَا نُقْصَانَ فِيهِ وَلَا عَاهَةَ!
Terjemahan ucapan:
Walid bin Mahmud as-Sajistani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Mansur Hasyimi Khorasani tentang akal, apakah ia dianugerahkan oleh Allah, ataukah manusia memiliki peran dalam membentuknya. Beliau berkata: “Ia dianugerahkan oleh Allah, dan manusia tidak memiliki peran apa pun dalam pembentukannya!” Aku berkata: “Kalau begitu, mengapa Allah mencela orang-orang yang tidak menggunakan akalnya?!” Beliau berkata: “Ke mana pikiranmu pergi, wahai Walid?! Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan kepada mereka akal dan memerintahkan mereka untuk menggunakannya, tetapi mereka tidak menggunakannya, maka Dia mencela mereka karena meninggalkan penggunaannya! Tidakkah engkau mendengar firman-Nya: ‘Mereka mempunyai akal, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami’, dan firman-Nya: ‘Apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an, ataukah akal mereka terkunci (maka mereka tidak menggunakannya)’?!” Aku berkata: “Aku rela berkorban untukmu, aku ingin menambah akalku!” Beliau berkata: “Wahai Walid! Engkau belum menggunakan seluruh akalmu sehingga engkau membutuhkan tambahan. Tidak, demi Allah! Bahkan engkau belum menggunakan satu bagian pun dari tujuh puluh bagian darinya! Maka barangkali jika engkau menggunakannya, engkau tidak akan memerlukan tambahan; karena Allah telah membagi akal sesuai dengan kadar kebutuhan terhadapnya, tidak menguranginya dan tidak pula menambahkannya, dan Dia telah menetapkan ukuran yang tepat bagi segala sesuatu. Maka gunakanlah akalmu, niscaya ia akan mencukupimu, InSyaAllah, dan jika setelah itu engkau masih memerlukan sesuatu, maka mintalah bantuan akal saudaramu, karena Allah telah melebihkan sebagian akal atas sebagian yang lain agar sebagian mereka mendapatkan pertolongan dari sebagian yang lain, dan sebagian mereka mengikuti sebagian yang lain, dan Dia telah menjadikan akal khalifah-Nya di bumi sebagai akal yang paling sempurna untuk menjadi rujukan dan tempat bernaung! Maka jika seseorang menggunakan akalnya dengan sebenar-benarnya dan mengikuti Khalifah Allah di bumi dengan sebenar-benarnya, niscaya dia seperti orang yang memiliki akal sempurna, tanpa kekurangan dan tanpa penyimpangan!”
Penjelasan ucapan:
Ulama ilahi ini, dalam hikmah yang luhur ini dengan kefasihan yang sangat tinggi, telah melukiskan sistem intelektual yang mengatur alam semesta, serta menjelaskan secara jelas asal-usul akal, ukurannya, tingkatan-tingkatannya, dan hubungannya dengan sesamanya. Menurut hikmah yang luhur ini, akal memiliki hakikat ilahi dan tidak bersifat perolehan, dan manusia tidak dapat menambah atau menguranginya sedikit pun dengan cara apa pun. Namun, akal telah dianugerahkan kepada setiap orang sesuai dengan kebutuhannya, tidak lebih dan tidak kurang dari itu. Meski demikian, manusia dapat memanfaatkan akal satu sama lain, sehingga dengan cara ini mereka dapat menutupi ketidaksempurnaan relatif akal mereka. Sementara itu, akal Khalifah Allah di bumi adalah yang paling sempurna di antara seluruh akal, dan oleh karena itu dipandang sebagai rujukan tempat seluruh akal seharusnya bermuara. Berdasarkan hal ini, kunci kesempurnaan manusia adalah memaksimalkan penggunaan akalnya dan memaksimalkan mengikuti Khalifah Allah di bumi.
Terus terang, hikmah-hikmah yang unik ini laksana berlian berharga yang jatuh di jalan manusia, tetapi mereka melewatinya tanpa memungutnya; karena mereka sangat lalai dan sombong, tidak dapat membedakan antara berlian dan batu! Sungguh, sangat menyedihkan bahwa di tengah mereka terdapat seorang ulama yang sempurna seperti ini, tetapi mereka tidak mengambil manfaat dari ilmu beliau. Hal ini seperti keadaan Ali bin Abi Thalib yang di dalam dadanya tersimpan ilmu yang melimpah, tetapi tidak menemukan para pembawanya; hingga beliau mengeluh penuh kepedihan seraya berkata: «إِنَّ هَاهُنَا لَعِلْمًا جَمًّا لَوْ وَجَدْتُ لَهُ حَمَلَةً»; “Di sini terdapat ilmu yang sangat banyak. Seandainya aku dapat menemukan orang yang sanggup membawanya”, dan beliau berseru: «سَلُونِي قَبْلَ أَنْ تَفْقِدُونِي»; “Tanyalah aku sebelum kalian kehilangan aku”, namun tidak seorang pun menjawab beliau; karena masyarakat pada zaman beliau tidak menghargai beliau dan tidak pantas memiliki manusia seperti beliau. Maka akibat dari kelalaian, kesombongan, dan pengingkaran mereka terhadap nikmat Allah adalah murka Allah menimpa mereka, mengangkat ulama itu dari tengah-tengah mereka dan menggantikannya dengan orang-orang bodoh, yang dengan kezaliman mereka menjerumuskan manusia ke dalam penderitaan, sehingga mereka menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelah mereka!