Jum’at, 26 Juni 2026 / 11 Muharam 1448 H
Mansur Hasyimi Khorasani

 Pertanyaan baru: Apa alasan Mansur Hasyimi Khorasani menggunakan panji-panji hitam? Klik di sini untuk membaca jawaban. Ucapan baru: Sebuah ucapan yang sangat penting dan mencerahkan dari Yang Mulia beliau tentang syarat bagi kemunculan al-Mahdi. Klik di sini untuk membaca. Surat baru: Sebuah kutipan dari surat Yang Terhormat untuk salah satu pendamping beliau, di mana beliau menasihatinya dan memperingatkannya agar takut kepada Allah. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web. Pelajaran baru: Pelajaran dari Yang Mulia tentang fakta bahwa bumi tidak pernah kosong dari seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang agama, yang telah Allah tunjuk sebagai khalifah, imam, dan pembimbing di atasnya sesuai dengan perintah-Nya; Ayat-ayat Al Qur’an tentangnya; Ayat no. 16. Klik di sini untuk membaca. Artikel baru: Artikel “Sebuah ulasan buku Kembali ke Islam karya Mansur Hasyimi Khorasani” ditulis oleh “Sayyed Mohammad Sadeq Javadian” telah terbit. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web.
loading
Tanya Jawab
 

Kami ingin mengetahui pendapat Yang Mulia Mansur mengenai hadis ini:

Amirul Mukminin Ali (Alaihis Salam) berkata: Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) bersabda: “Akan keluar seorang lelaki dari seberang Sungai Transoksiana yang disebut ‘Harits bin Harrats.’ Di barisan depan pasukannyaa ada seorang lelaki yang disebut ‘Mansur’, dan dia mempersiapkan jalan bagi kekuasaan keluarga Muhammad (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam), sebagaimana Quraisy telah mempersiapkan jalan bagi kekuasaan Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam). Wajib bagi setiap mukmin untuk menolongnya.” (Aqd ad-Durar, hal. 130)

Kami juga ingin mengetahui pendapat Yang Mulia mengenai hadis ini:

Konjungsi antara Mars dan Saturnus terjadi dua tahun sekali. Imam Ali (Alaihis Salam) menganggap bahwa pergerakan kekuatan Khorasani dan Syu’aib bin Shalih dari Samarkand menuju Irak terjadi setelah terjadinya konjungsi sempurna antara dua planet tersebut(1) pada tahun sebelum kebangkitan Imam Mahdi (Alaihis Salam); sebagaimana beliau berkata:

Ketahuilah, setelah beberapa waktu akan datang suatu masa singkat bagi kalian yang pada masa itu kalian akan memahami sebagian perkataanku, dan bukti-buktinya akan tersingkap bagi kalian, ketika Mars dan Saturnus terbit dalam konjungsi sempurna(1) Pada saat itu akan terjadi guncangan-guncangan dan gempa bumi yang berturut-turut, dan panji-panji akan bergerak dari tepi Sungai Jaihan menuju negeri Babilonia. (Mashariq Anwar al-Yaqin oleh al-Hafiz Rajab al-Barsi, hal. 266, Khutbah Tatanjiyyah)

1 . Menurut pandangan para ahli astrologi kuno, konjungsi sempurna antara dua planet terjadi ketika keduanya berada dalam satu rasi zodiak yang sama, pada derajat dan menit yang sama. Dalam istilah para astrolog modern, konjungsi itu terjadi ketika jarak antara keduanya dalam pengamatan dari bumi adalah kurang dari lima derajat astronomi.

Kabar tentang keluarnya seorang lelaki dari seberang Sungai Transoksiana yang disebut “Mansur” di hadapan seorang lelaki yang disebut “Harits” untuk mempersiapkan jalan bagi kekuasaan keluarga Muhammad (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) adalah kabar yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya[1]. Al-Maghribi berkata tentangnya: «إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ أَوْ حَسَنٌ بِلَا شَكٍّ وَلَا رِيبَةٍ»[2]; “Sanadnya sahih atau hasan tanpa keraguan dan tanpa syubhat”, sementara yang lain menganggapnya lemah. Namun, dalam naskah-naskah hadis tersebut terdapat perbedaan; karena dalam satu naskah disebut “Harits bin Harrats”, sedangkan dalam naskah-naskah lain disebut: “Harits Harrats”. Al-Azimabadi berkata bahwa bentuk yang terakhir terdapat dalam kebanyakan naskah, dan itulah yang sahih[3]. Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (Hafizhahullah Ta‘ala) berkata dalam penjelasan kabar tersebut:

Sungai yang dimaksud adalah sungai Jaihan, yaitu sungai Balkh di Khorasan. Tidak ada penyebutan tentang “Harits” di hadis lain selain dalam hadis ini, yang disebutkan hanyalah “Mahdi” dan “Mansur”. Ibnu Hayyun meriwayatkannya melalui jalur Abdurrazzaq, dan di dalamnya tidak ada penyebutan “Harits.” Di dalamnya hanya ada: «يَقُومُ رَجُلٌ مِنْ وُلْدِي، عَلَى مُقَدِّمَتِهِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ: الْمَنْصُورُ، يُوَطِّئُ لَهُ -أَوْ قَالَ: يُمَكِّنُ لَهُ- وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ نُصْرَتُهُ -أَوْ قَالَ:- إِجَابَتُهُ»; “Akan bangkit seorang lelaki dari keturunanku. Di barisan depan pasukannya ada seorang lelaki yang disebut Mansur. Dia mempersiapkan bagi beliau—atau beliau bersabda: dia menegakkan kekuasaan untuk beliau. Wajib bagi setiap mukmin untuk menolongnya—atau beliau bersabda: menjawab seruannya.” Aku khawatir bahwa sahabat Harits bin Suraij menambahkan “Harits” ke dalam riwayat; karena dia pernah keluar dari Khorasan pada tahun 116 H dan mengeklaim bahwa dirinya adalah pemilik panji-panji hitam (yang dijanjikan). Namun, jika kata tersebut benar, maka ia merujuk kepada Mahdi, yang diberi julukan “Harits” yang berarti “pembajak tanah”, karena beliau mentransformasi bumi; sebagaimana dalam hadis Hudhayfah, beliau diberi julukan “Jabir”, yang berarti “penambal kerusakan” karena perbaikannya terhadap umat Muhammad (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam). Hal ini dikuatkan oleh sabda beliau: «إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّايَاتِ السُّودَ قَدْ جَاءَتْ مِنْ قِبَلِ خُرَاسَانَ فَائْتُوهَا، فَإِنَّ فِيهَا خَلِيفَةَ اللَّهِ الْمَهْدِيَّ»; “Apabila kalian melihat panji-panji hitam datang dari Khorasan, maka bersegeralah menuju mereka; karena di tengah mereka terdapat Khalifah Allah al-Mahdi.” Ya, ada kemungkinan hadis ini mengalami kesalahan penyalinan; karena dalam sebagian kitab disebutkan: «يَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ وَرَاءِ النَّهْرِ يُقَالُ لَهُ: الْحَارِثُ، عَلَى مُقَدِّمَةِ رَجُلٍ يُقَالُ لَهُ: مَنْصُورٌ»; “Akan keluar seorang lelaki dari dari seberang Sungai Transoksiana yang disebut ‘Harits’, di barisan depan pasukan seorang lelaki yang disebut ‘Mansur.’” Berdasarkan ini, yang dimaksud dengan Harits adalah “Syu’aib bin Shalih”; sebagaimana disebutkan: «تَخْرُجُ رَايَاتٌ سُودٌ، فِيهِمْ شَابٌّ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ، عَلَى مُقَدِّمَتِهِ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ يُقَالُ لَهُ: شُعَيْبُ بْنُ صَالِحٍ»; “Akan keluar panji-panji hitam, di tengah mereka ada seorang pemuda dari Bani Hasyim, dan di barisan depan pasukannya ada seorang lelaki dari Bani Tamim yang disebut ‘Syu’aib bin Shalih.’” Hal ini dikuatkan oleh riwayat yang menyebutkan bahwa Syu’aib bin Shalih keluar dari Samarkand yang berada di seberang Sungai Transoksiana; sedemikian rupa sehingga ketika dia mendengar tentang kemunculan Mansur, dia bergerak menuju beliau bersama lima ribu orang, kemudian membaiat beliau dan memimpin pasukan beliau. Ini adalah kemungkinan yang sangat kuat, meskipun kaidah asalnya adalah tidak menganggap ada kesalahan penyalinan. Bagaimanapun juga, hadis tersebut menunjukkan wajibnya menolong Mansur. Beliau disebut “Mansur” (yang berarti “orang yang ditolong”) karena kewajiban untuk menolong beliau, dan juga karena sabda Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) tentang para pendamping beliau, bahwa mereka adalah «يُنْصَرُونَ»; “orang-orang yang ditolong.”[4]

Pernyataan beliau selesai. Kesimpulannya, berdasarkan pendapat yang lebih tepat, “Harits” adalah salah satu julukan Imam Mahdi (Alaihis Salam), yang kemungkinan besar berada di seberang Sungai Transoksiana sebelum kemunculannya, dan Mansur Khorasani akan menemani beliau; sebagaimana diriwayatkan tentang panji-panji hitam yang keluar dari Khorasan: «إِنَّ فِيهَا خَلِيفَةَ اللَّهِ الْمَهْدِيَّ»[5]; “Di tengah mereka terdapat Khalifah Allah, al-Mahdi”, dan dalam riwayat lain disebutkan: «فَإِنَّ الْمَهْدِيَّ وَالنَّصْرَ مَعَهُمْ»[6]; “Sesungguhnya, al-Mahdi dan Nasr (pertolongan) bersama mereka”; terlebih lagi mengingat tidak mustahil bahwa kata “Nasr” merupakan kesalahan penyalinan dari kata “Mansur”, dan bahwa dalam riwayat aslinya disebutkan: «فَإِنَّ الْمَهْدِيَّ وَالْمَنْصُورَ مَعَهُمْ»; “Sesungguhnya al-Mahdi dan Mansur bersama mereka”; sebagaimana disebutkan dalam riwayat: «مِنَّا الْمَهْدِيُّ وَالْمَنْصُورُ»[7]; “Dari kami ada al-Mahdi dan Mansur.” Ini menjelaskan makna riwayat Abu Dawud tersebut dan dapat dipahami dalam konteks riwayat tentang al-Mahdi yang menyatakan: «مِنَ الْمَغْرِبِ يَقُومُ، وَأَصْلُهُ مِنَ الْمَشْرِقِ، وَهُنَاكَ يَسْتَوِي قِيَامُهُ وَيَتِمُّ أَمْرُهُ»[8]; “Dia bangkit dari Barat, tetapi asalnya dari Timur, dan di sanalah kebangkitannya menjadi tegak dan urusannya sempurna.”

Bagaimanapun juga, riwayat-riwayat tentang keluarnya seorang lelaki dari Khorasan Raya dengan panji-panji hitam yang menyeru kepada al-Mahdi dan mempersiapkan kekuasaan beliau tidak terbatas pada riwayat-riwayat ini saja. Yang Mulia Allamah (Hafizhahullah Ta‘ala) telah mengumpulkan riwayat-riwayat tentang hal tersebut dalam sebuah buku berjudul al-Durr al-Mandud Fi Turuq Hadith al-Rayat al-Sud. Di dalam penelitiannya, beliau menemukan riwayat dari 47 Sahabat, Tabi’in, dan Ahlul Bait yang telah diriwayatkan melalui 147 jalur sanad yang berbeda. Sebagian orang meyakini bahwa takwil dari riwayat-riwayat tersebut telah datang, yaitu Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (Hafizhahullah Ta‘ala); karena beliau telah keluar dari Khorasan Raya dengan panji-panji hitam, menyeru kepada al-Mahdi (Alaihis Salam) dan mempersiapkan kekuasaannya, persis sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat tersebut. Akan tetapi, kenyataannya beliau tidak mengeklaim hal itu; mungkin saja beliau adalah orangnya, tetapi beliau menghindari pembicaraan tentang hal itu karena tidak menyukai sikap dibuat-buat dan pembahasan mengenai perkara yang tidak perlu[9]; karena Allah telah membuat beliau tidak membutuhkan klaim-klaim semacam itu melalui kenyataan-kenyataan yang jelas, mengingat gerakan beliau bukanlah gerakan khayalan atau buatan yang perlu bersandar pada klaim-klaim seperti itu; sebaliknya, gerakan beliau adalah gerakan yang berdiri di atas realitas-realitas objektif dan nyata. Demikian pula, kemunculan beliau dari Khorasan Raya adalah kenyataan yang objektif dan nyata; panji-panji hitam beliau adalah kenyataan yang objektif dan nyata; seruan beliau kepada al-Mahdi dan upaya beliau untuk mempersiapkan jalan bagi kekuasaannya adalah kenyataan yang objektif dan nyata; dan buku besar beliau, Kembali ke Islam, merupakan rekayasa ilmiah dan intelektual bagi sebuah revolusi global, sebagaimana buku kecil beliau, Geometri Keadilan. Oleh karena itu, beliau tidak memerlukan klaim-klaim semacam itu, sebagaimana matahari tidak perlu mengeklaim bahwa dirinya adalah matahari; sebagaimana beberapa sahabat kami mengabarkan kepada kami, mereka berkata:

Seorang pria dari negeri yang jauh datang kepada Mansur Hasyimi Khorasani (semoga Allah Ta’ala mendukung beliau), dan setelah percakapan yang terjadi di antara mereka, pria itu memegang tangan beliau dan berkata: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah yang dijanjikan, yang mempersiapkan jalan bagi kemunculan Imam Mahdi; seseorang yang Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) perintahkan kepada kami untuk membantunya!” Ketika Mansur mendengar hal ini, beliau segera menarik tangannya dari tangan pria itu dan berkata kepadanya dengan nada menegur:

Tinggalkan aku sendiri, saudaraku! Apakah engkau datang sejauh ini dari negerimu untuk menipuku tentang agamaku?! Demi Allah, aku mempersiapkan jalan bagi kemunculan Imam Mahdi, tetapi aku tidak peduli dengan sebutan apa engkau memanggilku; karena aku tidak menjadikan langit sebagai atapku dan Bumi sebagai permadaniku, dan aku tidak melemparkan diriku ke samudra musibah seperti sebongkah batu hanya agar engkau datang dari negerimu dan memanggilku sebagai yang dijanjikan! Bukankah aku juga anak dari seorang manusia?! Maka panggillah aku anak manusia dan temani aku di jalan yang telah kutempuh; karena aku sedang menuju Imam Mahdi, dan aku akan mencapainya denganmu atau tanpamu.

Kemudian beliau bangkit untuk pergi dan berkata dengan suara lantang:

Aku adalah seorang penyeru sebelum Imam Mahdi, yang berseru: Singkirkan penghalang![10]

Sekarang, kalian “para pemuda yang mencintai al-Mahdi”!

Jika kalian benar-benar “para pemuda yang mencintai al-Mahdi”, maka ketahuilah bahwa menolong “seseorang yang dijanjikan yang mempersiapkan kemunculan al-Mahdi” bukanlah wajib hanya karena beliau “yang dijanjikan”; melainkan wajib karena beliau “seseorang yang mempersiapkan kemunculan al-Mahdi”, sebagaimana Allah dan Rasul-Nya telah memberikan janji ini mengenai beliau justru karena alasan tersebut. Oleh karena itu, jika kalian benar-benar “para pemuda yang mencintai al-Mahdi”, maka kalian wajib menolong “seseorang yang mempersiapkan kemunculan al-Mahdi”, sekalipun kalian tidak menganggap beliau sebagai “yang dijanjikan”.

Beruntunglah orang-orang yang memiliki bashirah (ketajaman pandangan), karena mereka melihat kebenaran di balik seribu hijab; dan celakalah orang-orang yang buta, karena mereka tidak melihat kebenaran meskipun berada tepat di depan matanya!

Adapun riwayat tentang konjungsi Mars dan Saturnus serta petunjuknya terhadap beberapa peristiwa yang dekat dengan kemunculan al-Mahdi, itu adalah riwayat yang sangat lemah dan tidak boleh dijadikan sandaran; terlebih lagi karena ia bertentangan dengan larangan-larangan Islam terhadap usaha meramalkan peristiwa-peristiwa masa depan melalui pengamatan benda-benda langit, meskipun mungkin ada sebagian kebenaran padanya, seperti sihir.

↑[1] . Sunan Abu Dawud, vol. 4, hal. 177
↑[2] . Mu‘jam Ahadith al-Imam al-Mahdi oleh al-Kurani, vol. 1, hal. 396
↑[3] . Awn al-Ma‘bud oleh al-Azimabadi, vol. 11, hal. 258
↑[5] . Al-Fitan oleh Ibnu Hammad, vol. 1, hal. 311; Musnad Ahmad, vol. 37, hal. 70; al-Bada’ Wa al-Tarikh oleh al-Maqdisi, vol. 2, hal. 174; al-Mustadrak Ala al-Sahihain oleh al-Hakim, vol. 4, hal. 547; al-Sunan al-Waridah Fi al-Fitan oleh ad-Dani, vol. 5 hal. 32; Dala’il al-Nubuwwah oleh al-Bayhaqi, vol. 6, hal. 516
↑[6] . Al-Malahim oleh Ibnu al-Munadi, hal. 44
↑[7] . Untuk konten ini, lihat al-Fitan oleh Ibnu Hammad, vol. 1, hal. 96; Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 7, hal. 513; Fada’il al-Sahabah oleh Ahmad bin Hanbal, vol. 2, hal. 966; Ansab al-Ashraf oleh al-Baladhuri, vol. 4, hal. 47; al-Mustadrak Ala al-Sahihain oleh al-Hakim, vol. 4, hal. 559; Dala’il al-Nubuwwah oleh al-Bayhaqi, vol. 6, hal. 514; Tarikh Baghdad oleh al-Khatib al-Baghdadi, vol. 9, hal. 407.
↑[8] . Sharh al-Akhbar Fi Fada’il al-A’immah al-At’har oleh Ibnu Hayyun, vol. 3, hal. 359
↑[9] . Lihat Ucapan 10 dari ucapan-ucapan murni beliau.
Pusat Informasi Kantor Mansur Hasyimi Khorasani Bagian menjawab pertanyaan
Bagikan
Bagikan konten ini dengan teman-teman Anda untuk membantu menyebarkan pengetahuan; memberi tahu orang lain tentang pengetahuan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih.
Email
Telegram
Facebook
Twitter
Anda juga bisa membaca konten ini dalam bahasa berikut ini:
Jika Anda fasih dalam bahasa lain, terjemahkan konten ini ke bahasa tersebut dan kirimkan terjemahan Anda kepada kami untuk diterbitkan di situs web. [Formulir Terjemahan]
Ajukan Pertanyaan
Pengguna yang terhormat! Anda dapat menuliskan pertanyaan terkait pendapat Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (semoga Allah melindunginya) pada formulir di bawah ini dan mengirimkannya kepada kami untuk dijawab di bagian ini.
Perhatian: Nama Anda mungkin akan ditampilkan sebagai penulis pertanyaan ini di situs web.
Perhatian: Dikarenakan tanggapan kami akan dikirimkan ke alamat email Anda dan tidak akan dipublikasikan di situs web, maka penting untuk menuliskan alamat email Anda dengan benar.