Minggu, 17 Mei 2026 / 29 Zulkaidah 1447 H
Mansur Hasyimi Khorasani

 Pertanyaan baru: Apa alasan Mansur Hasyimi Khorasani menggunakan panji-panji hitam? Klik di sini untuk membaca jawaban. Ucapan baru: Sebuah ucapan yang sangat penting dan mencerahkan dari Yang Mulia beliau tentang syarat bagi kemunculan al-Mahdi. Klik di sini untuk membaca. Surat baru: Sebuah kutipan dari surat Yang Terhormat untuk salah satu pendamping beliau, di mana beliau menasihatinya dan memperingatkannya agar takut kepada Allah. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web. Pelajaran baru: Pelajaran dari Yang Mulia tentang fakta bahwa bumi tidak pernah kosong dari seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang agama, yang telah Allah tunjuk sebagai khalifah, imam, dan pembimbing di atasnya sesuai dengan perintah-Nya; Ayat-ayat Al Qur’an tentangnya; Ayat no. 16. Klik di sini untuk membaca. Artikel baru: Artikel “Sebuah ulasan buku Kembali ke Islam karya Mansur Hasyimi Khorasani” ditulis oleh “Sayyed Mohammad Sadeq Javadian” telah terbit. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web.
loading
Tanya Jawab
 

Apakah Yang Mulia Mansur Hasyimi Khorasani keturunan Imam Hasan bin Ali (AS)? Apakah di antara para pendamping beliau ada seseorang yang bernama atau memiliki julukan Syu’aib bin Shalih?

Pertanyaan Anda ini bersumber dari ketertarikan Anda terhadap sebagian riwayat ahad dan penerapannya kepada individu-individu tertentu, dan ini merupakan salah satu kekeliruan orang-orang yang berbuat kesalahan; karena hal tersebut bertumpu pada mengikuti dugaan dan prasangka, sementara Allah Ta’ala telah mencela para pelakunya ketika Dia berfirman: ﴿إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ[1]; “Mereka tidak mengikuti kecuali dugaan, dan mereka hanyalah menerka-nerka”; selain itu, hal tersebut menimbulkan kebingungan; karena riwayat ahad sangat bertentangan satu sama lain, sehingga tidak mungkin mengikuti sebagian darinya kecuali dengan berpaling dari sebagian yang lain, dan hal ini menyebabkan keraguan dan perselisihan, serta mempersulit banyak orang untuk mengenali kebenaran; karena, sebagai contoh, jika kami menyatakan bahwa nasab Yang Mulia Mansur bersambung kepada Hasan bin Ali (AS), maka sebagian orang akan terjatuh ke dalam fitnah dan berkata bahwa beliau tidak mungkin menjadi seseorang yang dijanjikan untuk mempersiapkan kemunculan Imam Mahdi (Alaihis Salam); karena telah diriwayatkan bahwa seseorang yang dijanjikan itu adalah seorang lelaki dari keturunan Husain, seperti dalam riwayat: «يَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ وُلْدِ الْحُسَيْنِ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، لَوِ اسْتَقْبَلَتْهُ الْجِبَالُ لَهَدَّهَا وَاتَّخَذَ فِيهَا طُرُقًا»[2]; “Seorang lelaki dari keturunan Husain akan muncul dari Timur; jika gunung-gunung menghalanginya, niscaya dia akan menghancurkannya dan membuat jalan-jalan di dalamnya.” Maka, apabila mereka terjatuh ke dalam fitnah karena hal itu, mereka akan meninggalkan pertimbangan terhadap dakwah Yang Mulia Mansur dan tidak menilai kesesuaiannya dengan akal dan Syariat. Apabila kami menyatakan bahwa nasab Yang Mulia Mansur bersambung kepada Husain bin Ali (AS), maka sebagian orang akan jatuh ke dalam fitnah dan berkata bahwa beliau tidak mungkin menjadi seseorang yang dijanjikan untuk mempersiapkan kemunculan Imam Mahdi (Alaihis Salam); karena telah diriwayatkan bahwa seseorang yang dijanjikan itu adalah seorang lelaki dari keturunan Hasan, seperti dalam riwayat: «ثُمَّ يَخْرُجُ الْحَسَنِيُّ»[3]; “Kemudian akan keluar Hasani (seorang lelaki dari keturunan Hasan)”, dan dalam riwayat: «تَحَرَّكَ الْحَسَنِيُّ»[4]; “Hasani akan bergerak.” Maka, jika mereka terjatuh ke dalam fitnah karena hal itu, mereka akan meninggalkan pertimbangan terhadap dakwah Yang Mulia Mansur dan tidak menilai kesesuaiannya dengan akal dan Syariat. Apabila kami menyatakan bahwa nasab Yang Mulia Mansur bersambung kepada Hasan dan Husain (AS), maka sebagian orang akan terjatuh ke dalam fitnah dan berkata bahwa beliau tidak mungkin menjadi seseorang yang dijanjikan untuk mempersiapkan kemunculan Imam Mahdi (Alaihis Salam); karena telah diriwayatkan bahwa seseorang yang dijanjikan itu adalah seorang lelaki dari keturunan Ja’far bin Abi Thalib (semoga Allah meridainya); sebagaimana diriwayatkan: «قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: يَا جَعْفَرُ، أَلَا أُبَشِّرُكَ؟ أَلَا أُخْبِرُكَ؟ قَالَ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَالَ: كَانَ جَبْرَئِيلُ عِنْدِي آنِفًا، فَأَخْبَرَنِي أَنَّ الَّذِي يَدْفَعُهَا (أَيِ الرَّايَةَ) إِلَى الْقَائِمِ هُوَ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ»[5]; “Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) berkata: ‘Wahai Ja’far! Maukah aku memberi kabar gembira kepadamu? Maukah aku memberitahumu?’ Dia berkata: ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Maka beliau bersabda: ‘Jibril baru saja berada di sisiku, dan memberitahuku bahwa orang yang akan menyerahkan (panji) kepada Qa’im (Mahdi) adalah dari keturunanmu.’” Maka, jika mereka terjatuh ke dalam fitnah karena hal itu, mereka akan meninggalkan pertimbangan terhadap dakwah Yang Mulia Mansur dan tidak menilai kesesuaiannya dengan akal dan Syariat! Berdasarkan hal ini, yang paling aman adalah meninggalkan pembahasan semacam itu; karena bagaimana pun keadaannya, hal itu dapat merugikan sebagian orang dan menghalangi usaha mereka untuk mengenali kebenaran yang terbebas dari prasangka-prasangka sebelumnya, dan hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ[6]; “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian bertanya tentang hal-hal yang jika dijelaskan kepada kalian akan membuat kalian tidak senang” hingga firman-Nya: ﴿قَدْ سَأَلَهَا قَوْمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ ثُمَّ أَصْبَحُوا بِهَا كَافِرِينَ[7]; “Suatu kaum sebelum kalian telah menanyakannya, lalu mereka tidak percaya”; terlebih lagi mengingat bahwa nasab yang tampak secara lahiriah bisa jadi tidak benar di sisi Allah; karena nasab bisa bercampur, nama-nama bisa serupa, dan manuskrip-manuskrip bisa hilang, sampai-sampai perkara itu menimbulkan kebingungan bahkan bagi para ahli nasab. Oleh karena itulah Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) bersabda dalam riwayat yang datang dari beliau: «كَذَبَ النَّسَّابُونَ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا[8]»[9]; “Para ahli nasab telah berdusta. Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Dan banyak generasi di antara mereka’”, dan diriwayatkan pula bahwa beliau pernah berdiri dalam suatu majelis dalam keadaan marah lalu berkata: «لَا تَسْأَلُونِي الْيَوْمَ عَنْ شَيْءٍ إِلَّا أَنْبَأْتُكُمْ بِهِ»; “Hari ini, janganlah kalian bertanya kepadaku tentang sesuatu kecuali aku memberitahukannya kepada kalian.” Kemudian beberapa orang bertanya kepada beliau tentang nasab mereka, maka beliau menghubungkan sebagian dari mereka dengan orang yang berhubungan dengan mereka, dan sebagian lain dengan orang yang tidak berhubungan dengan mereka, hingga Umar bin Khattab mendekati beliau dan memohon agar beliau menghentikan hal itu seraya berkata: “Wahai Rasulullah, kami dekat dengan masa jahiliah dan kesyirikan, dan Allah mengetahui siapa ayah-ayah kami”, maka kemarahan beliau pun reda[10], dan diriwayatkan dari al-Kalbi an-Nassabah bahwa dia berkata: «دَخَلْتُ عَلَى جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ، فَابْتَدَأَنِي بَعْدَ أَنْ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَقَالَ لِي: مَنْ أَنْتَ؟ فَقُلْتُ: أَنَا الْكَلْبِيُّ النَّسَّابَةُ، فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى جَبْهَتِهِ وَقَالَ: كَذَبَ الْعَادِلُونَ بِاللَّهِ، وَضَلُّوا ضَلَالًا بَعِيدًا، وَخَسِرُوا خُسْرَانًا مُبِينًا، يَا أَخَا كَلْبٍ! إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: ﴿وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا، أَفَتَنْسُبُهَا أَنْتَ؟ فَقُلْتُ: لَا جُعِلْتُ فِدَاكَ، فَقَالَ لِي: أَفَتَنْسُبُ نَفْسَكَ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، أَنَا فُلَانُ بْنُ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ، حَتَّى ارْتَفَعْتُ، فَقَالَ لِي: قِفْ، لَيْسَ حَيْثُ تَذْهَبُ»[11]; “Aku menemui Ja’far bin Muhammad (AS). Setelah aku memberi salam kepada beliau, beliau mulai bertanya kepadaku: ‘Siapa engkau?’ Maka aku berkata, ‘Aku al-Kalbi, an-Nassabah (ahli nasab).’ Maka beliau menepukkan tangannya ke dahinya dan berkata: ‘Orang-orang yang berpaling dari Allah telah berdusta, mereka tersesat sejauh-jauhnya dan merugi dengan kerugian besar. Wahai saudara Kalb! Sesungguhnya, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan Ad, dan Tsamud, dan penduduk Rass, dan banyak generasi di antara mereka.” Apakah engkau dapat menyebutkan nasab mereka?’ Maka aku berkata: ‘Tidak, aku rela berkorban untukmu.’ Kemudian beliau berkata kepadaku: ‘Apakah engkau dapat menyebutkan nasab dirimu sendiri?’ Aku berkata: ‘Ya, aku fulan bin fulan bin fulan,’ dan aku melanjutkannya. Kemudian beliau berkata kepadaku: ‘Berhenti! Tidak seperti yang engkau katakan.’” Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ilmu tentang nasab berada di sisi Allah, Rasul-Nya, dan para pewaris ilmu dari Rasul-Nya, dan tidak mungkin mengetahui akidah agama dengan bersandarkan kepada nasab-nasab yang diklaim manusia. Contohnya, bersandar kepada nasab yang diklaim para pemimpin ISIS dalam meyakini sahnya kekhalifahan mereka, atau bersandar kepada nasab yang diklaim sebagian dajjal dalam meyakini bahwa mereka adalah penerus Imam Mahdi (Alaihis Salam); karena akidah agama mengharuskan keyakinan, sedangkan keyakinan tidak diperoleh dari klaim-klaim semacam ini yang tersebar di tengah manusia karena adanya kemungkinan dusta atau kekeliruan di dalamnya, meskipun klaim itu boleh dijadikan sandaran dalam hukum fikih seperti kebolehan mengelola khums atau zakat.

Berdasarkan hal ini, siapa yang menjadikan nasab yang diklaim seseorang sebagai dasar untuk mengenali kebenaran orang tersebut, maka dia telah tersesat sejauh-jauhnya, dan perumpamaannya adalah ﴿كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا[12]; “seperti laba-laba yang membuat rumah”, atau ﴿مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ[13]; “orang yang membangun bangunannya di tepi jurang yang rapuh lalu bangunan itu runtuh bersama dirinya ke dalam neraka Jahannam.” Namun, tidak demikian halnya dengan orang yang saleh dan bijak; karena dia tidak tertipu oleh perkara-perkara yang bersifat dugaan dan dangkal semacam ini, yang bisa jadi bertentangan dengan kenyataan, dan jika mereka sesuai dengan kenyataan pun, mereka ﴿لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ[14]; “tidak memberikan nutrisi dan tidak pula menghilangkan rasa lapar”, melainkan dia berpegang pada hal-hal yang pasti terkait agamanya; sebagaimana yang digambarkan oleh Ali (Alaihis Salam) dalam khutbah terkenalnya, ketika beliau berkata: «إِنَّ مِنْ أَحَبِّ عِبَادِ اللَّهِ إِلَيْهِ عَبْدًا أَعَانَهُ اللَّهُ عَلَى نَفْسِهِ»; “Sesungguhnya, termasuk hamba Allah yang paling dicintai-Nya adalah seorang hamba yang Allah bantu menghadapi dirinya sendiri”, hingga beliau berkata: «وَاسْتَمْسَكَ مِنَ الْعُرَى بِأَوْثَقِهَا، وَمِنَ الْحِبَالِ بِأَمْتَنِهَا، فَهُوَ مِنَ الْيَقِينِ عَلَى مِثْلِ ضَوْءِ الشَّمْسِ»; “Dia berpegang pada ikatan yang paling kuat dan tali yang paling kokoh, sehingga keyakinannya seperti cahaya matahari”[15]. Tidak diragukan bahwa hal yang pasti dari sifat-sifat seseorang yang dijanjikan yang mempersiapkan kemunculan Imam Mahdi (Alaihis Salam) yang ditunjukkan oleh riwayat-riwayat mutawatir adalah beliau seorang lelaki yang muncul dari Khorasan dengan panji-panji hitam dan mempersiapkan kemunculan Imam Mahdi (Alaihis Salam) dengan cara yang sesuai dengan akal dan Syariat, baik beliau keturunan Hasan, Husain, Ja’far, atau lainnya. Oleh karena itu, hal yang bermanfaat bagi Anda untuk diketahui bukanlah nasab Yang Mulia Mansur (Hafizhahullah Ta‘ala), melainkan pemikiran, perkataan, dan perbuatan beliau; karena itulah yang menunjukkan kepada Anda tanpa keraguan apakah beliau benar atau batil, meskipun Anda tidak mengetahui nasab beliau, dan berlaku pula untuk nama-nama para pendamping beliau; mengingat bahwa adanya seseorang di antara mereka yang bernama atau memiliki julukan Syu’aib tidak menunjukkan bahwa beliau adalah seseorang yang dijanjikan yang mempersiapkan kemunculan Imam Mahdi (Alaihis Salam); karena orang yang bernama demikian banyak jumlahnya dan tidak semuanya adalah lelaki yang dijanjikan itu; sebagaimana tidak adanya seseorang di antara mereka yang bernama atau memiliki julukan Syu’aib tidak menunjukkan bahwa beliau bukan seseorang yang dijanjikan yang mempersiapkan kemunculan Imam Mahdi (Alaihis Salam); karena riwayat tentang perkara ini tidak mencapai tingkat tawatur, dan apabila riwayat tersebut sahih, maka mungkin saja orang itu akan bergabung dengan beliau di waktu yang akan datang.

Berdasarkan hal ini, kami menasihati Anda agar meninggalkan pembahasan masalah-masalah semacam ini, dan agar membaca karya-karya Yang Mulia Mansur (Hafizhahullah Ta‘ala) yang telah dipublikasikan di situs ini sehingga Anda dapat mengenali pemikiran, perkataan, dan amal saleh beliau yang berpusat pada persiapan kemunculan Imam Mahdi (Alaihis Salam) sesuai dengan akal dan Syariat, tanpa klaim apa pun terkait diri beliau sendiri; karena beliau (Hafizhahullah Ta‘ala) tidak termasuk orang-orang yang berpura-pura dan beliau membenci menyerupai para pengeklaim dusta. Beliau berjalan di jalannya yang lurus dan menghindari ucapan yang tidak diperlukan, melaksanakan kewajiban akal dan Syariat, serta mengajarkan Islam yang hakiki dan memperbaiki keyakinan dan amal umat Muslim berdasarkan Kitab Allah, Sunah Nabi-Nya yang mutawatir, dan tuntutan akal sehat. Beliau melakukan semua itu secara nyata tanpa klaim apa pun; karena dengan amalnya, beliau tidak membutuhkan klaim. Beliau menyerahkan klaim kepada orang yang tidak memiliki amal, meskipun beliau tetap mengharap karunia Allah atas dirinya dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya; karena Allah memiliki karunia yang besar dan Dia mengkhususkan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan tidak ada yang berputus asa dari rahmat-Nya kecuali orang-orang yang sesat, tetapi beliau tidak terlibat dalam hal tersebut[16]; berbeda dengan orang-orang yang klaim-klaim mereka telah membuat telinga manusia tuli, namun mereka tidak mempersiapkan kemunculan Imam Mahdi (Alaihis Salam) secara nyata. Mereka hanyalah para penipu sesat yang mengumpulkan segelintir orang bodoh dan pecinta takhayul di sekeliling mereka, dan menghabiskan umur, harta, dan kehormatan mereka demi khayalan dan kebatilan mereka. Mereka yang dengan klaim-klaim berlebihan, gelar-gelar aneh, penghormatan yang diada-adakan, mimpi-mimpi yang ditanamkan, dan riwayat-riwayat palsu, telah mematahkan punggung Imam Mahdi (Alaihis Salam) dan mengubah siang hari Mansur (Hafizhahullah Ta‘ala) (seseorang yang benar-benar mempersiapkan kemunculan Imam Mahdi) menjadi malam yang dingin dan gelap; sebagaimana beliau telah menggambarkannya dalam salah satu khutbah beliau, yaitu:

Mereka mengabarkan tentang apa yang ada di atas langit ketujuh dan di bawah bumi keempat, tetapi mereka tidak memiliki pemahaman yang benar tentang akidah Islam, dan tidak mengetahui halal dan haramnya dengan pengetahuan yang layak, dan kata-kata mutiara mereka seperti suara gagak yang gaduh tanpa makna dan tanpa kejelasan! Mereka tidak memiliki akar di bumi ilmu dan tidak pula mempunyai satu bintang pun di langit takwa! Mereka menyesatkan yang satu dengan mimpi yang tak pernah dilihat, dan yang lainnya dengan panggilan yang tak pernah terdengar! Mereka menjebak yang satu dengan ayat yang tak pernah diturunkan, dan yang lainnya dengan riwayat yang tak pernah diriwayatkan! Mereka memperdaya yang satu dengan kata-kata kosong, dan yang lainnya dengan mantra yang rumit! Dengan demikian, mereka tidak membiarkan satu pun pintu terbuka menuju al-Mahdi kecuali mereka menutupnya, tidak membiarkan satu pun jalan pintas menuju para pendukung beliau kecuali mereka menghalanginya, dan tidak membiarkan satu pun tempat tinggal yang murni dan bersih bagi para pecinta beliau kecuali mereka mencemarinya! Setiap hari mereka tampil dengan wajah yang berbeda, mengajukan klaim baru tentang diri mereka, dan membuat penemuan-penemuan baru; karena ambisi dan berlebih-lebihan mereka tidak mengenal batas. Mereka mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan mengotori kejujuran dengan kebohongan, hingga pada titik di mana tidak tersisa lagi kehormatan bagi kebenaran dan tidak ada lagi nilai bagi kejujuran! Ketika panji kebenaran dikibarkan, siapa yang mampu mengenalinya?! Dan ketika kejujuran diucapkan, siapa yang mau menerimanya?! Mata telah buta, telinga telah tuli, dan tangan telah letih, tak ada lagi kesabaran untuk menilai dan meneliti; karena para pengklaim itu telah menabur benih kecurigaan di segala penjuru, mengaduk debu pesimisme di seluruh ruang dan waktu, mendorong kehidupan ke tepi jurang, dan menghantarkan pisau hingga ke tulang.[17]

↑[1] . Al-An‘am/ 116
↑[2] . Al-Fitan oleh Ibnu Hammad, vol. 1, hal. 371; Aqd al-Durar Fi Akhbar al-Muntadar oleh al-Maqdisi, vol. 1, hal. 195;
↑[3] . Al-Hidayah al-Kubra oleh Ibnu Hamdan, hal. 403; Bihar al-Anwar oleh al-Majlisi, vol. 53, hal. 15
↑[4] . Al-Kafi oleh al-Kulayni, vol. 8, hal. 225; al-Ghaybah oleh an-Nu’mani, hal. 278
↑[5] . al-Ghaybah oleh an-Nu’mani, hal. 256
↑[6] . Al-Ma’idah/ 101
↑[7] . Al-Ma’idah/ 102
↑[8] . Al-Furqan/ 38
↑[9] . Al-Tabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa’d, vol. 1, hal. 56; al-Tabaqat oleh Khalifah bin Khayyat, hal. 27; Ansab al-Ashraf oleh al-Baladhuri, vol. 1, hal. 12; Sejarah Damaskus oleh Ibnu Asakir, vol. 3, hal. 52
↑[10] . Lihat Jami‘ oleh Ma’mar bin Rasyid, vol. 11, hal. 379; Ahadith Isma’il bin Ja’far, hal. 299; al-Usul al-Sittah Ashar oleh beberapa perawi, hal. 40; Musannaf Ibnu Abi Shaybah, vol. 6, hal. 322; Musnad Ahmad, vol. 16, hal. 314, vol. 21, hal. 246; Sahih al-Bukhari, vol. 1, hal. 30; Sahih Muslim, vol. 4, hal. 1834; Musnad al-Bazzar, vol. 8, hal. 146; Musnad Abu Ya’la, vol. 6, hal. 360, vol. 13, hal. 288; Sharh Mushkil al-Athar oleh at-Tahawi, vol. 4, hal. 112; Ahkam al-Quran oleh al-Jassas, vol. 2, hal. 604.
↑[11] . Al-Kafi oleh al-Kulayni, vol. 1, hal. 349
↑[12] . Al-‘Ankabut/ 41
↑[13] . At-Taubah/ 109
↑[14] . Al-Ghasyiyah/ 7
↑[15] . Al-Mujtana oleh Ibnu Duraid, hal. 21 dan 22; Nahj al-Balaghah oleh asy-Syarif ar-Radi, khutbah no. 87; Dastur Ma‘alim al-Hikam oleh Ibnu Salamah, hal. 66
↑[16] . Lihat Ucapan 3 dan 10 dari ucapan-ucapan beliau yang murni.
Pusat Informasi Kantor Mansur Hasyimi Khorasani Bagian menjawab pertanyaan
Bagikan
Bagikan konten ini dengan teman-teman Anda untuk membantu menyebarkan pengetahuan; memberi tahu orang lain tentang pengetahuan ini merupakan bentuk ucapan terima kasih.
Email
Telegram
Facebook
Twitter
Anda juga bisa membaca konten ini dalam bahasa berikut ini:
Jika Anda fasih dalam bahasa lain, terjemahkan konten ini ke bahasa tersebut dan kirimkan terjemahan Anda kepada kami untuk diterbitkan di situs web. [Formulir Terjemahan]
Ajukan Pertanyaan
Pengguna yang terhormat! Anda dapat menuliskan pertanyaan terkait pendapat Yang Mulia Allamah Mansur Hasyimi Khorasani (semoga Allah melindunginya) pada formulir di bawah ini dan mengirimkannya kepada kami untuk dijawab di bagian ini.
Perhatian: Nama Anda mungkin akan ditampilkan sebagai penulis pertanyaan ini di situs web.
Perhatian: Dikarenakan tanggapan kami akan dikirimkan ke alamat email Anda dan tidak akan dipublikasikan di situs web, maka penting untuk menuliskan alamat email Anda dengan benar.