Kamis, 23 April 2026 / 5 Zulkaidah 1447 H
Mansur Hasyimi Khorasani

 Ucapan baru: Sebuah ucapan yang sangat penting dan mencerahkan dari Yang Mulia beliau tentang syarat bagi kemunculan al-Mahdi. Klik di sini untuk membaca. Surat baru: Sebuah kutipan dari surat Yang Terhormat untuk salah satu pendamping beliau, di mana beliau menasihatinya dan memperingatkannya agar takut kepada Allah. Klik di sini untuk membaca. Pelajaran baru: Pelajaran dari Yang Mulia tentang fakta bahwa bumi tidak pernah kosong dari seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang agama, yang telah Allah tunjuk sebagai khalifah, imam, dan pembimbing di atasnya sesuai dengan perintah-Nya; Ayat-ayat Al Qur’an tentangnya; Ayat no. 16. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web. Pertanyaan baru: Bagaimana pandangan Islam terhadap taqlid (mengikuti secara buta)? Klik di sini untuk membaca jawaban. Artikel baru: Artikel “Sebuah ulasan buku Kembali ke Islam karya Mansur Hasyimi Khorasani” ditulis oleh “Sayyed Mohammad Sadeq Javadian” telah terbit. Klik di sini untuk membaca. Kunjungi beranda untuk membaca konten paling penting di situs web.
loading

Hal yang pasti adalah al-Mahdi bukanlah Abu Bakar al-Baghdadi, Ayman al-Zawahiri, Muhammad Umar, Ali Khamenei, atau orang lain semisal mereka; karena meskipun mereka menganggap diri mereka sebagai khalifah, amir, atau wali umat Muslim, mereka tidak sesuai dengan sifat-sifat dan tanda-tanda yang dijanjikan bagi al-Mahdi, dan mereka tidak membawa tanda dari Allah. Mereka juga tidak mengklaim bahwa mereka adalah al-Mahdi. Maka, melindungi, menolong, dan menaati mereka justru bertentangan dengan melindungi, menolong, dan menaati al-Mahdi, serta dianggap sebagai penghalang bagi kemunculan beliau. Oleh karena itu, diharapkan orang-orang yang melakukan hal tersebut akan meninggalkannya dan kembali kepada al-Mahdi jika mereka benar-benar ingin menegakkan Islam yang sempurna dan murni; karena jika para pemimpin mereka adalah orang baik, al-Mahdi pasti lebih baik dari mereka, dan akibatnya beliau lebih berhak akan perlindungan, pertolongan dan ketaatan mereka, dan inilah kenyataan yang tidak ada perselisihan di dalamnya.

Keempat: Dasar-dasar Islam

Pada hakikatnya, dasar Islam adalah mengenal Allah, yang dapat dicapai melalui Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang lebih dikenal daripada Dia yang dapat menjadi perantara untuk mengenal-Nya; seperti cahaya yang terlihat dengan sendirinya dan berfungsi sebagai perantara untuk melihat segala sesuatu yang lain; sebagaimana Allah Ta‘ala telah berfirman: ﴿اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ[1]; “Allah adalah cahaya langit dan bumi” karena segala sesuatu yang terlihat, hanya dapat terlihat dengan adanya cahaya, sehingga mustahil melihat sesuatu sebelum melihat cahaya. Demikian pula, segala sesuatu yang ada, ia ada karena Allah, dan karenanya, keberadaannya mustahil mendahului keberadaan Allah. Oleh karena itu, mengenal Allah berperan sebagai perantara untuk mengenal segala sesuatu, dan dalam hal ini, mengenal-Nya lebih didahulukan daripada mengenal yang lainnya. Meskipun karena begitu nyatanya, hal ini sering kali tidak disadari.

[Keesaan Allah]

Mengenal Allah pada hakikatnya mengharuskan pengakuan akan keesaan-Nya, yaitu mengakui bahwa Dia adalah Yang Maha Esa. Hal ini karena keberadaan seluruh makhluk di alam semesta adalah satu, meskipun hakikat-hakikat mereka, yaitu ukuran keberadaan mereka beraneka ragam; dan yang satu pasti berasal dari satu sumber, karena tidak mungkin berasal dari banyak sumber. Keesaan Sang Sumber ditegakkan dalam tiga dimensi.

↑[1] . An-Nur/ 35