Hal yang pasti adalah al-Mahdi bukanlah Abu Bakar al-Baghdadi, Ayman al-Zawahiri, Muhammad Umar, Ali Khamenei, atau orang lain semisal mereka; karena meskipun mereka menganggap diri mereka sebagai khalifah, amir, atau wali umat Muslim, mereka tidak sesuai dengan sifat-sifat dan tanda-tanda yang dijanjikan bagi al-Mahdi, dan mereka tidak membawa tanda dari Allah. Mereka juga tidak mengklaim bahwa mereka adalah al-Mahdi. Maka, melindungi, menolong, dan menaati mereka justru bertentangan dengan melindungi, menolong, dan menaati al-Mahdi, serta dianggap sebagai penghalang bagi kemunculan beliau. Oleh karena itu, diharapkan orang-orang yang melakukan hal tersebut akan meninggalkannya dan kembali kepada al-Mahdi jika mereka benar-benar ingin menegakkan Islam yang sempurna dan murni; karena jika para pemimpin mereka adalah orang baik, al-Mahdi pasti lebih baik dari mereka, dan akibatnya beliau lebih berhak akan perlindungan, pertolongan dan ketaatan mereka, dan inilah kenyataan yang tidak ada perselisihan di dalamnya.
Keempat: Dasar-dasar Islam
Pada hakikatnya, dasar Islam adalah mengenal Allah, yang dapat dicapai melalui Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang lebih dikenal daripada Dia yang dapat menjadi perantara untuk mengenal-Nya; seperti cahaya yang terlihat dengan sendirinya dan berfungsi sebagai perantara untuk melihat segala sesuatu yang lain; sebagaimana Allah Ta‘ala telah berfirman: ﴿اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ﴾[1]; “Allah adalah cahaya langit dan bumi” karena segala sesuatu yang terlihat, hanya dapat terlihat dengan adanya cahaya, sehingga mustahil melihat sesuatu sebelum melihat cahaya. Demikian pula, segala sesuatu yang ada, ia ada karena Allah, dan karenanya, keberadaannya mustahil mendahului keberadaan Allah. Oleh karena itu, mengenal Allah berperan sebagai perantara untuk mengenal segala sesuatu, dan dalam hal ini, mengenal-Nya lebih didahulukan daripada mengenal yang lainnya. Meskipun karena begitu nyatanya, hal ini sering kali tidak disadari.
[Keesaan Allah]
Mengenal Allah pada hakikatnya mengharuskan pengakuan akan keesaan-Nya, yaitu mengakui bahwa Dia adalah Yang Maha Esa. Hal ini karena keberadaan seluruh makhluk di alam semesta adalah satu, meskipun hakikat-hakikat mereka, yaitu ukuran keberadaan mereka beraneka ragam; dan yang satu pasti berasal dari satu sumber, karena tidak mungkin berasal dari banyak sumber. Keesaan Sang Sumber ditegakkan dalam tiga dimensi.
