Bahkan banyak dari mereka telah membentuk aliansi tidak resmi melalui jaringan rahasia untuk melindungi kepentingan bersama mereka di seluruh dunia dan mencegah terwujudnya tujuan-tujuan Islam. Mereka mendukung segala kegiatan budaya, politik, dan ekonomi yang bertentangan dengan Islam. Dalam konteks ini, mereka secara sistematis melacak dan berhubungan dengan siapa pun di berbagai sudut dunia yang melayani tujuan mereka dan bermanfaat bagi mereka baik secara sadar maupun tidak. Dengan cara inilah mereka memperluas jaringan dan menambah jumlah afiliasi mereka. Para ilmuwan, penulis, inovator, penyair, penyanyi, aktor, atlet dan secara umum siapa pun yang dapat memengaruhi sekelompok masyarakat karena keunggulan atau ketenarannya, ditempatkan di bawah pengawasan mereka. Jika mereka sejalan, maka orang-orang tersebut dapat menikmati dukungan ekonomi, politik, dan promosi, bahkan dapat bergabung dalam jaringan rahasia mereka jika menghendakinya; sebaliknya, jika tidak sejalan, mereka akan menghadapi berbagai masalah, bahkan sekadar mencapai kesuksesan dalam bidangnya pun bisa menjadi sesuatu yang sulit.
Hal ini sepenuhnya wajar, bahwa para pemilik kekuasaan dan kapitalis di dunia merasa berkewajiban melindungi sistem yang telah memberikan mereka kekuasaan dan kekayaan; karena jika sistem itu runtuh, maka kekuasaan dan kekayaan mereka juga akan lenyap. Hal ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik: mereka bergantung pada sistem itu, dan sistem itu pun bergantung pada mereka. Padahal sistem ini berdiri di atas prinsip-prinsip yang zalim dan tidak bermoral, dan mereka menyadari kenyataan ini. Oleh karena itu, mereka mengusulkan landasan-landasan filosofis baru untuk membenarkannya. Mereka tahu bahwa sistem politik dan ekonomi ini dibangun di atas kebohongan, kezaliman, dan perampasan harta manusia secara batil, padahal semua itu tidak dibenarkan dalam agama ilahi mana pun. Maka, tidak ada jalan lain bagi mereka selain mengingkari agama-agama ilahi, dan akhirnya mereka pun tertarik pada ateisme. Bahkan, dengan membenarkan kejahatan terhadap kemanusiaan demi meraih keuntungan pribadi, mereka akhirnya menemukan diri mereka sejalan dengan setan dalam keyakinan dan perbuatan, mereka pun berubah menjadi penyembah setan; karena pandangan politik dan ekonomi mereka begitu selaras dengan pandangan setan, sehingga tidak mungkin membelanya kecuali dengan ikut membela pandangan-pandangan setan. Dengan cara ini, sebagian dari mereka yang memiliki latar belakang keagamaan mulai membenarkan setan setelah mencapai tingkat pelanggaran seperti ini; pada kenyataannya, mereka sedang membenarkan diri mereka sendiri dengan kedok membenarkan setan. Oleh karena itu, para pemimpin utama sistem kekuasaan dan kapitalisme kebanyakan adalah penyembah setan berlatarbelakang Yahudi, yang memiliki kecenderungan anti-agama dan anti-Islam yang kuat. Selain itu, karena sejarah mereka yang akrab dengan pengetahuan sihir yang mereka dapatkan dari budaya kaum Yahudi di Mesir, mereka mengembangkan kecenderungan yang berbahaya terhadap praktik sihir untuk menjaga dan menambah kekuasaan serta modal mereka dengan bantuan mantra para penyihir.
