Tentu dapat dipahami bahwa jihad dalam pengertian ini tidak mungkin dilakukan kecuali bersama khalifah Allah di bumi, karena terwujudnya kedaulatan Allah hanya dapat terjadi melalui tegaknya kedaulatan khalifah-Nya di bumi; dan tegaknya kedaulatan khalifah-Nya di bumi hanya dapat terwujud apabila beliau hadir dan mendampingi mereka yang berjuang demi hal itu. Oleh karena itu, tanpa keberadaan dan tanpa kehadiran beliau, jihad di jalan Allah menjadi tidak mungkin dilakukan, dan dosa atas hal ini pun ditanggung oleh mereka yang karena kelalaian mereka sendiri dalam berkehendak, menolong, dan menaati beliau, telah menghalangi keberadaan atau kehadiran beliau. Demikian pula Bani Israil, karena menyadari keharusan ini dan memahami tanggung jawab mereka, mereka meminta kepada Nabi mereka agar mengangkat seorang pemimpin dari Allah bagi mereka, supaya mereka dapat berperang di jalan Allah bersama pemimpin itu, dan Allah telah menyebut mereka untuk mengajarkan umat Muslim, dengan berfirman: ﴿أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ﴾[1]; “Apakah kamu tidak melihat sebuah kelompok Bani Israil setelah Musa, ketika mereka berkata kepada Nabi mereka: ‘Angkatlah seorang pemimpin untuk kami, agar kami berperang di jalan Allah’?” Nabi mereka tidak mengatakan kepada mereka bahwa mereka tidak perlu seorang pemimpin dari Allah untuk berperang di jalan Allah, atau mereka boleh memilih sendiri pemimpin di antara mereka sesuai pendapat mereka sendiri; sebaliknya, beliau menganggap permintaan mereka tepat, dan hanya mempertimbangkan keinginan, bantuan, dan ketaatan mereka sebagai syarat agar Allah menerima permintaan mereka; sebagaimana Allah telah menyebut mereka untuk mengajarkan umat Muslim, dengan berfirman: ﴿ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا ۖ قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا ۖ ﴾[2]; “Dia berkata: ‘Apakah kalian memikirkan bahwa bisa saja jika berperang diwajibkan atas kalian, kalian tidak akan berperang?!’ Mereka menjawab: ‘Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari kampung halaman kami dan anak-anak kami?!’” Oleh karena itu, ketika mereka menunjukkan keinginan mereka dan menjamin bantuan serta ketaatan mereka, Nabi mereka menerima permintaan mereka dan menetapkan seorang pemimpin dari Allah untuk mereka; sebagaimana Allah telah menyebut mereka untuk mengajarkan umat Muslim, dengan berfirman: ﴿وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا﴾[3]; “Dan Nabi mereka berkata kepada mereka: ‘Allah telah mengangkat Talut menjadi pemimpin bagi kalian.’” Kemudian beliau tidak mengindahkan ketidaksukaan mereka terhadapnya dan menempatkan ketetapan Allah di atas pilihan mereka; sebagaimana Allah telah menyebut mereka untuk mengajarkan umat Muslim,
