| Penulis: Farouq Mollazehi | Tanggal Penerbitan: 2/1/2015 |
Apakah Mansur Hasyimi Khorasani meyakini bahwa kami lebih berilmu dan lebih utama daripada generasi Salaf (generasi awal umat Muslim)?!
Mansur Hasyimi Khorasani tidak mengenal kalian secara khusus untuk dapat meyakini bahwa kalian lebih berilmu dan lebih utama daripada Salaf. Namun, beliau meyakini bahwa tidak terbukti bahwa seluruh Salaf lebih berilmu dan lebih utama daripada generasi berikutnya, bahkan tidak diragukan bahwa sebagian generasi berikutnya lebih berilmu dan lebih utama daripada sebagian Salaf; karena banyak dari kalangan Salaf yang merupakan orang-orang sesat dan bermaksiat, sementara banyak dari generasi berikutnya yang merupakan orang-orang yang bertakwa dan Allah Ta’ala berfirman: ﴿إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ﴾[1]; “Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” Oleh karena itu, tidak boleh menyalahkan orang hanya karena dia berbeda dengan sebagian Salaf dalam suatu akidah atau amalan; karena bisa jadi dia lebih berilmu dan lebih utama daripada mereka, kecuali jika pendapatnya adalah sesuatu yang sama sekali tidak pernah diucapkan oleh seorang pun dari Salaf; karena hal itu tanpa diragukan dapat dianggap sebagai bid’ah; mengingat tidak mungkin suatu generasi kosong dari kebenaran. Dari sini tampak jelas kebodohan orang-orang yang menyalahkan Mansur Hasyimi Khorasani terkait pendapat beliau tentang Khilafah, dengan alasan bahwa pendapat itu bertentangan dengan apa yang dipegang oleh Salaf; karena pendapat tersebut merupakan pendapat yang dipegang oleh sebagian Sahabat; sebagaimana seorang sahabat kami mengabarkan kepada kami, dia berkata:
«دَخَلَ عَلَى الْمَنْصُورِ رِجَالٌ مِنْ أَهْلِ الْمَذَاهِبِ لِيُنَاظِرُوهُ فِي الْخِلَافَةِ، فَنَاظَرَهُمْ فِيهَا، وَكَانَ مِمَّا قَالَ لَهُمْ: أَلَا تَتَّقُونَ؟! أَلَا تَتُوبُونَ؟! فَقَدْ قَالَ اللَّهُ لَكُمْ: قُولُوا: ﴿اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ﴾[2]، فَخَالَفْتُمُوهُ وَقُلْتُمْ: نَحْنُ مَالِكُو الْمُلْكِ، نُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ نَشَاءُ وَنَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ نَشَاءُ، وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ بَدَّلُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ، فَأَرْسَلَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَظْلِمُونَ! فَوَجَدَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ، فَقَالَ: مَا لَكُمْ؟! تَنْظُرُونَ إِلَيَّ نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ! أَفَلَا تَفْقَهُونَ قَوْلِي؟! قَالُوا: لَا، قَالَ: كَذَلِكَ كَانَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، لَمْ يَفْقَهُوا قَوْلَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، حَتَّى تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ! قَالُوا: نَرَاكَ تَطْعَنُ فِي الصَّحَابَةِ كَمَا يَطْعَنُ الرَّافِضَةُ! قَالَ: وَيْحَكُمْ، لَوْ أَنَّ مَا أَقُولُ طَعْنٌ فِي الصَّحَابَةِ، فَإِنَّ مَا تَقُولُونَ طَعْنٌ فِيهِمْ كَمَا أَقُولُ! قَالُوا: وَكَيْفَ ذَلِكَ؟! قَالَ: أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ الصَّحَابَةَ كَانُوا فَرِيقَيْنِ: فَرِيقًا يَقُولُونَ مَا أَقُولُ، وَفَرِيقًا يَقُولُونَ مَا تَقُولُونَ؟! فَإِنْ طَعَنْتُ فِي فَرِيقٍ مِنْهُمْ فَقَدْ طَعَنْتُمْ فِي فَرِيقٍ آخَرَ، أَفَلَا تَعْقِلُونَ؟! فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مِنْ طَعْنٍ فَاطْعَنُوا فِي فَرِيقٍ عَصَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ، وَلَا تَطْعَنُوا فِي فَرِيقٍ أَطَاعُوهُمَا، أَفَلَا تَذَكَّرُونَ؟! فَبُهِتَ الْقَوْمُ وَتَأَمَّلُوا طَوِيلًا وَنَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، ثُمَّ قَالُوا: وَاللَّهِ مَا كَلَّمَنَا أَحَدٌ بِمِثْلِ مَا كَلَّمْتَنَا بِهِ، وَلَوْ لَا أَنَّا نَخَافُ أَنْ يَقُولَ النَّاسُ تَشَيَّعْنَا لَاتَّبَعْنَاكَ!»; “Sekelompok orang dari berbagai mazhab datang menemui Mansur untuk berdebat dengan beliau tentang Khilafah, maka beliau berdebat dengan mereka, dan salah satu hal yang beliau katakan kepada mereka adalah: ‘Tidakkah kalian takut kepada Allah?! Tidakkah kalian bertaubat? Karena Allah telah berfirman kepada kalian untuk mengatakan: “Ya Allah! Engkaulah Pemilik kerajaan! Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki”, tetapi kalian menyelisihi-Nya dan berkata: “Kamilah pemilik kerajaan! Kami berikan kerajaan kepada siapa yang kami kehendaki dan mengambil kerajaan dari siapa yang kami kehendaki”, padahal kalian mengetahui (akhir dari) orang-orang yang mengubah perkataan yang diperintahkan kepada mereka, maka Allah menurunkan azab dari langit kepada mereka atas kesalahan mereka!’ Kemudian beliau melihat mereka memandangnya (dengan keheranan dan pengingkaran), maka beliau berkata: ‘Ada apa dengan kalian?! Kalian memandangku seperti orang yang akan pingsan menjelang kematian! Apakah kalian tidak memahami perkataanku?!’ Mereka berkata: ‘Tidak.’ Beliau berkata: ‘Orang-orang sebelum kalian juga seperti itu, mereka tidak memahami perkataan Allah dan Rasul-Nya hingga mereka terpecah-belah dan berselisih setelah datang kepada mereka bukti-bukti yang jelas!’ Mereka berkata: ‘Kami melihat bahwa engkau juga mencela para Sahabat, sebagaimana kaum Rafidhah melakukannya!’ Beliau berkata: ‘Celaka kalian! Jika apa yang aku katakan adalah mencela para Sahabat, maka apa yang kalian katakan juga merupakan celaan terhadap mereka, sebagaimana ucapanku!’ Mereka berkata: ‘Bagaimana bisa?!’ Beliau berkata: ‘Tidakkah kalian tahu bahwa para Sahabat terbagi menjadi dua kelompok: satu kelompok mengatakan seperti yang aku katakan, dan satu kelompok mengatakan seperti yang kalian katakan?! Maka jika aku mencela satu kelompok dari mereka, kalian pun mencela kelompok yang lain! Tidakkah kalian menggunakan akal kalian?! Jika memang tidak ada pilihan selain mencela, maka celalah kelompok yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, dan jangan mencela kelompok yang taat kepada Keduanya! Tidakkah kalian mau berpikir?!’ Maka mereka pun terdiam kebingungan, tenggelam dalam pemikiran, dan saling memandang satu sama lain, kemudian mereka berkata: ‘Kami bersumpah kepada Allah, tidak ada seorang pun yang pernah berbicara kepada kami seperti engkau, dan seandainya kami tidak takut orang-orang akan mengatakan bahwa kami telah menjadi Syiah, niscaya kami akan mengikutimu!’”[3]
Bagaimanapun juga, tidak diragukan bahwa para Sahabat, Tabi’in, dan pengikut mereka tidaklah maksum (terjaga dari kesalahan) dalam keyakinan dan amal mereka sehingga tidak boleh menyelisihi siapa pun dari mereka dalam keyakinan dan amal. Seandainya mereka maksum, tentu mereka tidak akan berselisih di antara mereka sendiri, padahal kenyataannya mereka sangat banyak berselisih dan jika tidak boleh menyelisihi seorang pun dari mereka, maka mereka sendirilah yang pertama kali menjadi pelanggar, karena saling menyelisihi satu sama lain! Oleh karena itu, tidak boleh bertaklid kepada salah satu dari mereka dengan alasan bahwa mereka lebih berilmu dan lebih utama daripada generasi berikutnya. Yang wajib bagi setiap Muslim adalah mengikuti Al-Qur’an dan apa yang terbukti dari Sunah dalam cahaya akal yang sehat, tanpa memandang apakah hal itu menyelisihi pendapat atau perbuatan sebagian Sahabat, dan Allah lebih mengetahui siapa yang lebih mendapat petunjuk.[4]
Semoga Allah memberikan taufik kepada seluruh umat Muslim untuk meninggalkan fanatisme dan taklid, serta berpegang pada Islam yang murni dan sempurna, terbebas dari hawa nafsu dan mazhab-mazhab bid’ah.
