1 . أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْبَلْخِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ الْمَنْصُورَ الْهَاشِمِيَّ الْخُرَاسَانِيَّ يَقُولُ: مَنْ وَحَّدَ اللَّهَ فِي الْخَلْقِ وَالرَّزْقِ وَتَدْبِيرِ الْعَالَمِ وَشَهِدَ أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ فَقَدْ أَسْلَمَ، وَلَكِنَّهُ لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ حَتَّى يُقِرَّ بِأَنَّ اللَّهَ وَاحِدٌ لَا شَرِيكَ لَهُ فِي الْحُكْمِ وَالْمُلْكِ، لَا يُصْدِرُ حُكْمًا وَلَا يَبْعَثُ مَلِكًا إِلَّا هُوَ، فَإِنْ جَهِلَ ذَلِكَ فَهُوَ ضَالٌّ، وَإِنْ جَحَدَهُ فَهُوَ مُشْرِكٌ.
Terjemahan ucapan:
Abdullah bin Muhammad al-Balkhi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Mansur Hasyimi Khorasani berkata: “Barang siapa menganggap bahwa Allah Esa dalam penciptaan, rezeki, dan pengaturan alam, serta bersaksi bahwa Rasul itu benar, maka dia adalah Muslim. Namun, dia belum menjadi Mukmin (yang beriman) hingga dia mengakui bahwa Allah juga Esa dalam hukum dan kekuasaan dan tidak memiliki sekutu (dalam hal tersebut), hanya Dia yang membuat hukum atau mengangkat penguasa, jika dia tidak mengetahui hal ini, maka dia sesat, dan jika dia mengingkarinya, maka dia musyrik.”
2 . أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْهَرَوِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ الْمَنْصُورَ يَقُولُ: مَنْ أَقَرَّ بِأَنَّ اللَّهَ خَالِقُهُ وَرَازِقُهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ فَقَدْ أَسْلَمَ، وَلَا يُؤْمِنُ حَتَّى يُقِرَّ بِأَنَّ الْحَرَامَ مَا حَرَّمَهُ اللَّهُ، لَا حَرَامَ غَيْرُهُ، وَأَنَّ الْإِمَامَ مَنْ جَعَلَهُ اللَّهُ إِمَامًا، لَا إِمَامَ غَيْرُهُ، فَإِنْ جَهِلَهُمَا فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا، وَإِنْ دُعِيَ إِلَيْهِمَا ثُمَّ أَنْكَرَهُمَا فَقَدْ أَشْرَكَ.
Terjemahan ucapan:
Muhammad bin Abdurahman al-Harawi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Mansur berkata: “Barang siapa mengakui bahwa Allah adalah Penciptanya dan Pemberi rezekinya dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi, maka dia telah menjadi Muslim. Namun, dia tidak beriman hingga dia mengakui bahwa yang haram hanyalah apa yang diharamkan oleh Allah dan tidak ada yang haram selain itu, dan bahwa Imam adalah yang ditetapkan Allah sebagai Imam dan tidak ada Imam selain beliau. Jika dia tidak mengetahui keduanya, maka dia telah tersesat sejauh-jauhnya, dan jika dia diajak kepada keduanya lalu mengingkarinya, maka dia menjadi musyrik.”
3 . أَخْبَرَنَا ذَاكِرُ بْنُ مَعْرُوفٍ الْخُرَاسَانِيُّ، قَالَ: قَالَ الْمَنْصُورُ: مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَالنَّارَ حَقٌّ وَالسَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا، وَأَنَّ الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ وَالصَّوْمَ وَالْحَجَّ وَالْجِهَادَ فَرِيضَةٌ مِنَ اللَّهِ، فَهُوَ مُسْلِمٌ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَلَكِنَّهُ لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ حَتَّى يَشْهَدَ أَنْ لَا حُكْمَ إِلَّا مَا أَنْزَلَهُ اللَّهُ، وَلَا حَاكِمَ إِلَّا مَنِ اخْتَارَهُ اللَّهُ بِآيَةٍ مِنْ عِنْدِهِ أَوْ وَصِيَّةٍ مِنْ رَسُولِهِ، فَإِنْ جَهِلَ ذَلِكَ فَقَدْ ضَلَّ وَخَسِرَ، وَإِنْ أُلْقِيَ إِلَيْهِ فَأَبَى فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ، وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ.
Terjemahan ucapan:
Zakir bin Ma’ruf al-Khorasani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Mansur berkata: “Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya, dan bahwa Surga itu benar, Neraka itu benar, dan Kiamat pasti datang tanpa keraguan, serta bahwa salat, zakat, puasa, haji, dan jihad adalah kewajiban dari Allah, maka Dia adalah seorang Muslim serta haram darah dan hartanya kecuali dengan alasan yang benar. Namun, dia belum menjadi Mukmin hingga dia bersaksi bahwa tidak ada hukum kecuali yang diturunkan Allah, dan tidak ada penguasa kecuali yang dipilih Allah dengan tanda dari-Nya atau wasiat dari Rasul-Nya. Jika dia tidak mengetahui hal ini, maka dia telah sesat dan merugi, dan jika hal itu disampaikan kepadanya lalu dia menolak (untuk menerimanya), maka dia tidak memiliki hubungan sedikit pun dengan Allah, dan mereka itulah orang-orang kafir.”
4 . أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ الْقَاسِمِ الطِّهْرَانِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ﴾[1]، فَقَالَ: يُؤْمِنُونَ بِأَنَّ اللَّهَ خَالِقُهُمْ وَرَازِقُهُمْ، وَلَكِنَّهُمْ يُشْرِكُونَ بِهِ فِي الْمُلْكِ، فَيَتَّخِذُونَ أَئِمَّةً وَحُكَّامًا لَمْ يَنْصِبْهُمُ اللَّهُ بِأَسْمَائِهِمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِهِمْ، وَيُشْرِكُونَ بِهِ فِي الشَّرْعِ، فَيَتَّخِذُونَ قَوَانِينَ وَأَحْكَامًا لَمْ يُنْزِلْهَا اللَّهُ فِي كِتَابٍ وَلَا سُنَّةِ نَبِيٍّ، فَيُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَهُمْ مُشْرِكُونَ.
Terjemahan ucapan:
Hasan bin Qasim at-Tehrani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Mansur tentang firman Allah Ta’ala: “Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan mereka dalam keadaan mempersekutukan (Nya)”, maka beliau berkata: “Mereka beriman bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemberi rezeki mereka, tetapi mereka menyekutukan-Nya dalam kekuasaan, maka mereka menjadikan para imam dan penguasa yang tidak ditetapkan Allah dengan nama-nama mereka dan nama-nama bapak mereka, dan mereka menyekutukan-Nya dalam syariat, maka mereka membuat hukum dan aturan yang tidak diturunkan Allah dalam Kitab maupun Sunah Nabi. Maka, mereka beriman kepada Allah sementara mereka musyrik.”
5 . أَخْبَرَنَا صَالِحُ بْنُ مُحَمَّدٍ السَّبْزَوَارِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ﴾[2]، فَقَالَ: هَذَا شِرْكُ طَاعَةٍ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ أَطَاعَ غَيْرَ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِطَاعَتِهِ فَإِنَّهُ لَمُشْرِكٌ، وَمَنْ حَكَمَ بِغَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَإِنَّهُ لَمُشْرِكٌ، وَمَنِ اعْتَقَدَ خَالِقًا أَوْ رَازِقًا غَيْرَ اللَّهِ فَإِنَّهُ لَمُشْرِكٌ.
Terjemahan ucapan:
Salih bin Muhammad as-Sabzawari mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Mansur tentang firman Allah Ta’ala: “Dan jika kalian menaati mereka, niscaya kalian benar-benar menjadi orang-orang musyrik”, maka beliau berkata: “Ini adalah syirik dalam ketaatan”, kemudian beliau berkata: “Barang siapa menaati selain yang Allah perintahkan untuk ditaati, maka dia musyrik, dan barang siapa berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, maka dia musyrik, dan barang siapa meyakini adanya pemberi rezeki atau pencipta selain Allah, maka dia musyrik.”
6 . أَخْبَرَنَا صَالِحُ بْنُ مُحَمَّدٍ السَّبْزَوَارِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ﴾[3]، فَقَالَ: هَذَا شِرْكُ تَشْرِيعٍ، يَتَّخِذُونَ أَئِمَّةً وَوُكَلَاءَ، فَيَشْرَعُونَ لَهُمْ قَوَانِينَ وَأَحْكَامًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ وَلَا سُنَّةِ نَبِيِّهِ، ثُمَّ قَالَ: مَنِ اتَّخَذَ شَارِعًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَهُوَ مُشْرِكٌ، وَمَنِ اتَّخَذَ حَاكِمًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَهُوَ مُشْرِكٌ، وَمَنِ اتَّخَذَ خَالِقًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَهُوَ مُشْرِكٌ.
Terjemahan ucapan:
Salih bin Muhammad as-Sabzawari mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Mansur tentang firman Allah Ta’ala: “Ataukah mereka memiliki sekutu-sekutu yang menetapkan bagi mereka suatu agama yang tidak diizinkan oleh Allah”, maka beliau berkata: “Ini adalah syirik dalam penetapan syariat. Mereka menjadikan para pemimpin dan wakil, sehingga orang-orang tersebut menetapkan bagi mereka hukum dan aturan yang tidak ada dalam Kitab Allah maupun Sunah Nabi-Nya.” Kemudian beliau berkata: “Barang siapa menjadikan penetap hukum selain Allah, maka dia musyrik, dan barang siapa menjadikan pencipta selain Allah, maka dia musyrik.”
7 . أَخْبَرَنَا وَلِيدُ بْنُ مَحْمُودٍ السِّجِسْتَانِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾[4]، فَقَالَ: إِنَّمَا دَعَوْا إِلَيْهِمَا لِأَنَّ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَلَا يَجْتَنِبُ الطَّاغُوتَ، قُلْتُ: كَيْفَ يَكُونُ ذَلِكَ جُعِلْتُ فِدَاكَ؟! قَالَ: يُصَلِّي لِلَّهِ وَيَذْبَحُ لَهُ، وَلَكِنْ يَتَّخِذُ سُلْطَانًا يَعْصِي اللَّهَ فَيُطِيعُهُ فِي أَحْكَامِهِ، ثُمَّ قَرَأَ: ﴿أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ﴾[5]، فَقَالَ: الْإِيمَانُ بِأَنَّ اللَّهَ خَالِقٌ وَرَازِقٌ هُوَ نَصِيبٌ مِنَ الْكِتَابِ، وَكُلُّ شَارِعٍ غَيْرِ اللَّهِ جِبْتٌ، وَكُلُّ حَاكِمٍ غَيْرِ اللَّهِ طَاغُوتٌ.
Terjemahan ucapan:
Walid bin Mahmud as-Sajistani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Mansur tentang firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh, Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rasul (yang menyeru): ‘Sembahlah Allah dan jauhilah taghut’”, maka beliau berkata: “Sesungguhnya, mereka menyeru kepada keduanya karena di antara manusia ada yang menyembah Allah tetapi tidak menjauhi taghut.” Aku berkata: “Bagaimana hal itu bisa terjadi, aku rela berkorban untukmu?!” Beliau berkata: “Mereka salat untuk Allah dan menyembelih untuk-Nya, tetapi mereka memilih seorang penguasa yang bermaksiat kepada Allah, maka mereka menaatinya dalam perintahnya.” Kemudian beliau membaca ayat: “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian dari Kitab bahwa mereka beriman kepada jibt dan taghut?!” Kemudian beliau berkata: “Beriman bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemberi rezeki merupakan bagian dari Kitab, dan setiap penetap syariat selain Allah adalah jibt, dan setiap penguasa selain Allah adalah taghut.”
8 . أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَبِيبٍ الطَّبَرِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ﴾[6]، فَقَالَ: هُوَ شِرْكُ الرَّجُلِ بِاللَّهِ، يُبَايِعُ سُلْطَانًا لَمْ يَأْمُرِ اللَّهُ بِمُبَايَعَتِهِ، فَهُوَ مَوْجٌ يَغْشَاهُ، وَيَرْضَى حُكْمًا لَمْ يُنْزِلْهُ اللَّهُ، فَهُوَ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِ الْمَوْجِ، وَيُؤْمِنُ بِخَالِقٍ أَوْ رَازِقٍ غَيْرِ اللَّهِ، فَهُوَ سَحَابٌ مِنْ فَوْقِ الْمَوْجَيْنِ، ﴿ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ﴾[7].
Terjemahan ucapan:
Abdullah bin Habib at-Tabari mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Mansur tentang firman Allah Ta’ala: “Atau seperti kegelapan di lautan yang sangat dalam, yang diliputi oleh ombak, di atasnya ombak lagi, dan di atasnya awan, kegelapan yang bertumpuk-tumpuk, sebagian di atas sebagian yang lain”, maka beliau berkata: “Itu adalah syirik seseorang kepada Allah. Dia membaiat seorang penguasa yang Allah tidak memerintahkan untuk membaiatnya, maka itu adalah ombak yang menutupinya, dan dia meridai hukum yang tidak diturunkan Allah, maka itu adalah ombak di atas ombak, dan dia meyakini adanya pencipta atau pemberi rezeki selain Allah, maka itu adalah awan di atas dua ombak, ‘kegelapan yang bertumpuk-tumpuk, sebagian di atas sebagian yang lain. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir dia tidak dapat melihatnya. Dan barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada cahaya baginya.’”
9 . أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطَّالَقَانِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ عَمَّنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ فِي هَذَا الْأَمْرِ، فَقَالَ: مَنْ مَاتَ مِنْهُمْ وَلَمْ يُبَيَّنْ لَهُ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِي الْحُكْمِ وَالْمُلْكِ فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ بَعْدَ أَنْ أَتَاهُ الْبَيَانُ جَاحِدًا أَوْ شَاكًّا أُدْخِلَ النَّارَ خَالِدًا فِيهَا، وَلَا يُقْبَلُ مِنْهُ عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهُ شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ، قُلْتُ: أَصْلَحَكَ اللَّهُ! وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِمَا؟ قَالَ: أَنْزَلَ أَنَّهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ، وَأَنَّهُ يُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ يَشَاءُ، مَا كَانَ لِلنَّاسِ الْخِيَرَةُ فِي حُكْمٍ وَلَا مُلْكٍ، ﴿سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾[8].
Terjemahan ucapan:
Ahmad bin Abdurahman at-Taloqani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Mansur tentang orang yang meninggal dari kalangan ahli Kiblat sebelum masuk dalam urusan ini[9], maka beliau berkata: “Barang siapa meninggal di antara mereka dan belum dijelaskan kepadanya apa yang Allah turunkan tentang hukum dan kekuasaan, maka urusannya terserah kepada Allah. Jika Dia menghendaki, Dia mengazabnya. Jika Dia menghendaki, Dia mengampuninya. Dan barang siapa meninggal setelah datang penjelasan kepadanya sementara dia mengingkari atau ragu, maka dia dimasukkan ke dalam neraka dan kekal di dalamnya, dan tidak diterima darinya tebusan, dan tidak bermanfaat baginya syafaat, dan mereka tidak akan ditolong.” Aku berkata: “Semoga Allah meluruskan segala urusanmu! Apa yang Allah turunkan tentang keduanya (hukum dan kekuasaan)?” Beliau berkata: “Dia telah menetapkan bahwa hanya Dia yang berhak memutuskan hukum, dan tidak seorang pun boleh melanggar aturan-Nya, dan Dia memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki, manusia tidak memiliki pilihan dalam penetapan hukum maupun dalam kekuasaan, ‘Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.’”
10 . أَخْبَرَنَا هَاشِمُ بْنُ عُبَيْدٍ الْخُجَنْدِيُّ، قَالَ: قُلْتُ لِلْمَنْصُورِ: إِنِّي لَأَرَى فِي النَّاسِ مَنْ يَخْشَى اللَّهَ وَيَرْغَبُ فِي كُلِّ خَيْرٍ، إِلَّا أَنَّهُ لَا يَعْرِفُ خَلِيفَةَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ، أَوْ يَعْرِفُهُ وَلَا يَرَى مَا نَرَى مِنَ التَّمْهِيدِ لِحُكْمِهِ، فَاسْتَوَى الْمَنْصُورُ جَالِسًا بَعْدَ أَنْ كَانَ مُتَّكِئًا، فَقَالَ: اعْلَمْ يَا هَاشِمُ! لَوْ أَنَّ عَبْدًا عَمَرَ مَا عَمَرَ نُوحٌ فِي قَوْمِهِ، يَقُومُ اللَّيْلَ وَيَصُومُ النَّهَارَ، ثُمَّ ذُبِحَ مَظْلُومًا كَمَا يُذْبَحُ الْكَبَشُ، وَلَمْ يُحَكِّمْ خَلِيفَةَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ، فَلَيْسَ بِمُؤْمِنٍ، وَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ لِخَلِيفَتِهِ: ﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ﴾[10]، قُلْتُ: جُعِلْتُ فِدَاكَ، أَهُوَ كَافِرٌ؟ قَالَ: لَيْسَ بِكَافِرٍ حَتَّى يَجْحَدَ، قُلْتُ: فَمَا الْجُحُودُ؟ قَالَ: هُوَ أَنْ يُنْكِرَ بَعْدَ مَا تَبَيَّنَ لَهُ، قُلْتُ: فَإِنْ جَحَدَ فَهُوَ كَافِرٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، كَافِرٌ مُشْرِكٌ.
Terjemahan ucapan:
Hasyim bin Ubaid al-Khujandi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Mansur: “Terkadang aku melihat di tengah manusia ada yang takut kepada Allah dan menginginkan setiap kebaikan, tetapi dia tidak mengenal Khalifah Allah di bumi, atau dia mengenalnya tetapi tidak percaya dengan apa yang kami percaya tentang persiapan bagi kemunculan beliau.” Maka Mansur duduk tegak setelah sebelumnya bersandar, kemudian beliau berkata: “Ketahuilah wahai Hasyim! Seandainya seorang hamba hidup selama masa Nabi Nuh di tengah kaumnya, sementara dia salat malam, berpuasa, kemudian disembelih secara zalim seperti disembelihnya seekor kambing, tetapi dia tidak menjadikan Khalifah Allah di bumi sebagai hakim, maka dia bukan seorang Mukmin, dan ini adalah firman Allah kepada Khalifah-Nya: ‘Tidak, demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau sebagai hakim.’” Aku berkata: “Aku rela berkorban untukmu, apakah orang tersebut kafir?” Beliau berkata: “Dia tidak kafir hingga dia mengingkari.” Aku berkata: “Apa itu mengingkari?” Beliau berkata: “Yaitu dia mengingkari setelah jelas baginya.” Aku berkata: “Jika dia mengingkari maka dia kafir?” Beliau berkata: “Ya, kafir lagi musyrik.”
11 . أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ الْجُوزَجَانِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ الْمَنْصُورَ يَقُولُ: إِنَّمَا يَسْتَقْبِلُ هَذِهِ الْقِبْلَةَ ثَلَاثَةٌ: مَنْ سَمِعَ دَعْوَتِي إِلَى تَوْحِيدِ اللَّهِ فِي الشَّرْعِ وَالْمُلْكِ فَأَجَابَهَا وَاجْتَنَبَ الْجِبْتَ وَالطَّاغُوتَ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ سَمِعَهَا فَلَمْ يُجِبْهَا فَهُوَ مُنَافِقٌ، وَمَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا وَلَمْ يَعْرِفْ ذَلِكَ فَهُوَ مُسْلِمٌ ضَالٌّ حَتَّى يَسْمَعَهَا أَوْ يَقْبِضَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ، قُلْتُ: جُعِلْتُ فِدَاكَ، أَلَيْسَ هَذَا مُسْتَضْعَفًا؟ قَالَ: إِنْ أَخْلَدَ فِي الْجِبَالِ وَالْأَوْدِيَةِ فَهُوَ مُسْتَضْعَفٌ، وَإِنْ دَخَلَ السُّوقَ وَجَالَسَ النَّاسَ وَأَحَسَّ الْإِخْتِلَافَ فَلَيْسَ بِمُسْتَضْعَفٍ، ثُمَّ رَفَعَ صَوْتَهُ فَنَادَى: أَلَا إِنَّ دَعْوَتِي هَذِهِ لَبَيَانٌ، فَلَا تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَبَّنَا لَمْ يَأْتِنَا بَيَانٌ!
Terjemahan ucapan:
Isa bin Abd al-Hamid al-Jowzjani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Mansur berkata: “Sesungguhnya, yang menghadap Kiblat ini hanya tiga: orang yang mendengar seruanku kepada tauhid Allah dalam syariat dan kekuasaan lalu menerimanya dan menjauhi jibt dan taghut, maka dia Mukmin, orang yang mendengarnya tetapi tidak menerimanya, maka dia munafik, dan orang yang tidak mendengarnya dan tidak mengetahuinya, maka dia Muslim yang sesat hingga dia mendengarnya atau wafat.” Aku berkata: “Aku rela berkorban untukmu, bukankah dia termasuk mustadh‘af (orang yang tertindas)?” Beliau berkata: “Jika dia hidup terpencil di gunung dan lembah maka dia mustadh‘af, tetapi jika dia masuk pasar, bergaul dengan manusia, dan merasakan adanya perbedaan, maka dia bukan mustadh‘af.” Kemudian beliau meninggikan suaranya dan berseru: “Ketahuilah bahwa seruanku ini adalah penjelasan. Maka, janganlah kalian berkata pada hari Kiamat, ‘Wahai Tuhan kami! Tidak datang kepada kami penjelasan’!”
12 . أَخْبَرَنَا أَبُو إِبْرَاهِيمَ السَّمَرْقَنْدِيُّ، قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ الْمَنْصُورِ يَوْمًا مِنْ أَيَّامِ الْوَبَاءِ، فَدَخَلَ عَلَيْهِ رَجُلٌ قَدْ سَتَرَ فَاهُ، فَقَالَ: وَاللَّهِ مَازَالَ النَّاسُ فِي هُدْنَةٍ حَتَّى دَعَوْتَهُمْ إِلَى حُكْمِ اللَّهِ وَمُلْكِهِ، فَتَجَاهَلُوا دَعْوَتَكَ، فَيَنْزِلُ عَلَيْهِمْ كُلَّ يَوْمٍ بَلَاءٌ جَدِيدٌ! فَقَالَ: كَانَ الْقَوْمُ مُؤَجَّلِينَ مَا لَمْ يَبْلُغْهُمْ نِدَائِي، فَإِذَا بَلَغَهُمْ نِدَائِي فَلَمْ يُجِيبُوهُ انْقَطَعَ أَجَلُهُمْ وَجَاءَهُمْ مَا يُوعَدُونَ، أَلَا وَاللَّهِ لَا يَزَالُ يَشْتَدُّ عَلَيْهِمْ يَوْمًا بَعْدَ يَوْمٍ حَتَّى يُجِيبُوا أَوْ يَهْلِكُوا كَمَا هَلَكَ عَادٌ وَثَمُودُ، فَمَكَثَ هُنَيَّةً ثُمَّ قَالَ: إِنَّ هَذَا لَفِي كِتَابِ اللَّهِ، قَالَ الرَّجُلُ: أَيْنَ ذَلِكَ أَصْلَحَكَ اللَّهُ؟ قَالَ: أَلَمْ تَسْمَعْ قَوْلَهُ تَعَالَى: ﴿وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ﴾[11]، وَقَوْلَهُ تَعَالَى: ﴿وَمَا أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا لَهَا مُنْذِرُونَ ذِكْرَى وَمَا كُنَّا ظَالِمِينَ﴾[12]، وَقَوْلَهُ تَعَالَى: ﴿وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُمْ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَذِلَّ وَنَخْزَى﴾[13]؟ قَالَ الرَّجُلُ: صَدَقْتَ جُعِلْتُ فِدَاكَ، ثُمَّ أَقْبَلَ الْمَنْصُورُ عَلَيَّ فَقَالَ: لَا تَدْعُوا إِلَى هَذَا الْأَمْرِ مَنْ لَا تَرْجُونَ إِجَابَتَهُ، فَإِنَّ الرَّجُلَ إِذَا دُعِيَ إِلَيْهِ فَلَمْ يُجِبْهُ فَقَدْ بَرِئَ مِنْ ذِمَّةِ اللَّهِ تَعَالَى، قُلْتُ: أَصْلَحَكَ اللَّهُ، أَتَأْسَى عَلَى مَنْ لَا نَرْجُو إِجَابَتَهُ؟! دَعْهُ يُعَجِّلُ اللَّهُ بِرُوحِهِ إِلَى النَّارِ! فَسَكَتَ حَتَّى رَأَيْتُ الْغَضَبَ فِي وَجْهِهِ، فَقُلْتُ: لَا جَرَمَ أَنَّا لَا نَدْعُوهُ، فَقَالَ: ادْعُوا أَوْ لَا تَدْعُوا، فَوَاللَّهِ لَا يَزَالُ يَنْتَشِرُ فِيهِمْ دَعْوَتِي، مِنْ بَيْتٍ إِلَى بَيْتٍ وَمِنْ قَرْيَةٍ إِلَى قَرْيَةٍ، حَتَّى يَسْمَعَهَا رُعَاةُ الْإِبِلِ فِي الصَّحَارِي وَالصَّيَّادُونَ فِي الْبِحَارِ، ﴿وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ﴾[14].
Terjemahan ucapan:
Abu Ibrahim as-Samarqandi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Suatu hari aku sedang bersama Mansur pada masa penyakit mematikan[15] menyebar di kalangan manusia, kemudian datang seorang lelaki yang menutup mulutnya, dan berkata: “Demi Allah, manusia dahulu berada dalam keadaan normal hingga engkau menyeru mereka kepada hukum dan kekuasaan Allah dan mereka berpura-pura tidak tahu terhadap seruanmu, maka setiap hari turun kepada mereka bencana baru!” Maka beliau berkata: “Manusia diberikan waktu selama seruanku belum sampai kepada mereka. ketika seruanku telah sampai kepada mereka dan mereka tidak menerimanya, maka waktu mereka berakhir dan datanglah kepada mereka apa yang dijanjikan kepada mereka. Ketahuilah bahwa hal itu akan semakin parah atas mereka dari hari ke hari hingga mereka menerimanya atau binasa sebagaimana ‘Ad dan Tsamud.” Kemudian beliau diam sejenak lalu berkata: “Ini terdapat dalam Kitab Allah.” Lelaki itu berkata: “Di mana itu? Semoga Allah meluruskan urusanmu.” Beliau berkata: “Tidakkah engkau mendengar firman Allah Ta’ala: ‘Dan Allah tidak menyesatkan suatu kaum setelah Dia memberi mereka petunjuk, hingga Dia menjelaskan kepada mereka apa yang harus mereka jauhi (dan mereka tidak menjauhinya)’, dan berfirman: ‘Dan Kami tidak membinasakan suatu negeri kecuali telah ada bagi mereka para pemberi peringatan, sebagai sumber peringatan, dan Kami tidaklah berlaku zalim’, dan berfirman: ‘Dan sekiranya Kami membinasakan mereka dengan suatu azab sebelum itu, niscaya mereka akan berkata: Wahai Tuhan kami! Mengapa Engkau tidak mengutus kepada kami seorang Rasul, sehingga kami dapat mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan mendapat kehinaan?’” Lelaki itu berkata: “Engkau benar, aku rela berkorban untukmu!” Kemudian Mansur menghadap kepadaku dan berkata: “Janganlah kalian menyeru kepada perkara ini orang yang kalian tidak memiliki harapan bahwa dia akan menerimanya; karena jika seseorang telah diajak dan tidak menerimanya, maka dia telah keluar dari perlindungan Allah.” Aku berkata: “Semoga Allah meluruskan urusanmu, apakah engkau bersedih atas orang yang kita tidak memiliki harapan atas penerimaannya? Biarkan saja Allah menyegerakan rohnya ke neraka!” Kemudian beliau diam hingga aku melihat kemarahan di wajahnya, maka aku berkata: “Kami tentu tidak akan mengajaknya!” Kemudian beliau berkata: “Kalian mengajaknya atau tidak, demi Allah, seruanku akan terus tersebar di tengah mereka, dari satu rumah ke rumah lain, dari satu desa ke desa lain, hingga didengar oleh para penggembala unta di padang pasir dan para nelayan di lautan, ‘Dan sungguh, Allah akan menampakkan orang-orang yang beriman, dan sungguh Dia akan menampakkan orang-orang munafik.’”
Penjelasan ucapan:
Untuk membaca lebih lanjut, rujuklah pembahasan “Keesaan Allah”, “Perselisihan di antara Umat Muslim”, dan “Kedaulatan selain Allah” dalam buku “Kembali ke Islam” karya ulama besar ini.
