| Penulis: Ali Alavi | Tanggal Penerbitan: 9/2/2015 |
Siapakah yang dimaksud dengan al-Masih ad-Dajjal dalam hadis-hadis? Apakah dajjal itu seorang individu atau sebuah sistem di dunia? Apakah dia hidup atau sudah ada pada masa sekarang? Bagaimana Imam Mahdi membunuh dajjal? Telah diriwayatkan dari Rasulullah
bahwa dajjal adalah Ibnu Sayyad. Apakah Ibnu Sayyad adalah dajjal?
Silakan perhatikan hal-hal berikut:
1 . Dalam buku berharga Kembali ke Islam[1], Mansur Hasyimi Khorasani, telah menyingkap adanya sebuah jaringan setan yang bersifat rahasia dan tersebar luas di dunia, yang berusaha membuka jalan bagi tegaknya kekuasaan setan atas dunia secara terang-terangan melalui aliansi tidak resmi antara para perusak paling berkuasa dan ateis kaya di satu sisi, serta para pendeta Yahudi dan para penyihir penyembah setan di sisi lain, di bawah pengawasan dan pengelolaan setan itu sendiri. Kekuasaan setan atas dunia secara terang-terangan akan terwujud ketika khalifahnya di dunia mencapai kekuasaan untuk menjalankan hukum-hukumnya di dunia atas namanya. “Khalifah setan” ini adalah seorang manusia yang disebut “dajjal”, meskipun pada asalnya dia termasuk “keturunan setan”; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ﴿أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا﴾[2]; “Apakah kalian menjadikan dia dan keturunannya sebagai wali selain Aku, padahal mereka adalah musuh bagi kalian?! Seburuk-buruk pengganti bagi orang-orang zalim!” Di hadapan jaringan setan yang bersifat rahasia dan tersebar luas, yang berusaha membuka jalan bagi tegaknya kekuasaan “dajjal” atas dunia sebagai “khalifah setan”, terdapat jaringan Ilahi yang bersifat rahasia dan tersebar luas, yang berusaha mempersiapkan jalan bagi pemerintahan “al-Mahdi” atas dunia sebagai “khalifah Allah”. Keduanya berlomba menuju negeri yang diberkahi Allah seperti dua kuda pacuan, yang satu dari Barat dan yang lain dari Timur. Tidak diragukan bahwa orang-orang dari Timur yang akan menang; karena mereka adalah penolong Allah, ﴿وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ﴾[3]; “dan sungguh, Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya.” Oleh karena itu, pemimpin mereka disebut “Mansur”, yang berarti yang ditolong, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang terkenal[4].
2 . Mansur Hasyimi Khorasani
berkata dalam sebagian kalimat hikmahnya: «إِنَّ الدَّجَّالَ لَقَبٌ كَفِرْعَوْنَ، يَتَوَارَثُهُ رِجَالٌ مِنْ آلِ إِبْلِيسَ»[5]; “Sesungguhnya, ‘dajjal’ adalah sebuah gelar seperti ‘Fir’aun’ yang diwarisi oleh beberapa lelaki dari keturunan Iblis!” Ini berarti bahwa “dajjal” bukanlah nama asli bagi “khalifah setan”, melainkan gelar umum seperti “Fir’aun” yang diberikan untuk jabatan tertinggi dalam jaringan setan pada setiap zaman. Oleh karena itu, tidak ada zaman tanpa “dajjal”, sebagaimana tidak ada zaman tanpa “al-Mahdi”[6]; karena “dajjal” adalah khalifah setan sebagai lawan dari khalifah Allah, dan setiap khalifah Allah dianggap sebagai “al-Mahdi”, yang berarti yang mendapat petunjuk; mengingat “al-Mahdi” juga bukan nama asli “khalifah Allah”, melainkan gelar umum seperti “Imam” yang diberikan untuk jabatan tertinggi dalam jaringan Ilahi pada setiap zaman; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang Ibrahim
: ﴿وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ كُلًّا هَدَيْنَا ۚ وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ﴾[7]; “Dan Kami menganugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya’qub. Masing-masing telah Kami beri petunjuk, dan Nuh sebelumnya juga telah Kami beri petunjuk”, dan ini berarti bahwa mereka semua adalah “al-Mahdi”, yang berarti yang diberi petunjuk. Berdasarkan hal ini, mungkin saja Ibnu Sayyad adalah dajjal pada zamannya, sebagaimana Rasulullah
adalah al-Mahdi pada zamannya. Akan tetapi, jelas bahwa dajjal pada zaman kita bukanlah Ibnu Sayyad, sebagaimana Rasulullah
bukan al-Mahdi pada zaman kita. Melainkan, dajjal pada zaman kita adalah pemimpin jaringan setan global yang sedang dipersiapkan kemunculannya oleh sebuah kelompok di Barat; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ﴿وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ﴾[8]; “Dan Kami jadikan mereka para pemimpin yang mengajak ke neraka”, sedangkan al-Mahdi pada zaman kita adalah pemimpin jaringan Ilahi global yang sedang dipersiapkan kemunculannya oleh sebuah kelompok di Timur; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ﴿وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا﴾[9]; “Dan Kami jadikan mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.” Keduanya akan terus berselisih; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ﴿هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ﴾[10]; “Inilah dua golongan yang saling berlawanan dan bermusuhan satu sama lain mengenai Tuhan mereka”, hingga “Masih Allah” kembali ke dunia dan memutuskan perkara di antara keduanya dengan kebenaran. Sekelompok orang berilmu juga mengatakan hal yang serupa dengan yang kami katakan terkait Ibnu Sayyad; sebagaimana Ibnu Battal (w. 449 H) berkata: «إِنْ وَقَعَ الشَّكُّ فِي أَنَّهُ الدَّجَّالُ الَّذِي يَقْتُلُهُ عِيسَى بْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمْ يَقَعِ الشَّكُّ فِي أَنَّهُ أَحَدُ الدَّجَّالِينَ الَّذِينَ أَنْذَرَ بِهِمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ»[11]; “Jika masih ada keraguan apakah dia adalah dajjal yang akan dibunuh oleh Isa putra Maryam
, maka tidak ada keraguan bahwa dia adalah salah satu dari para dajjal yang telah diperingatkan oleh Nabi
”, dan al-Baihaqi (w. 458 H) berkata dalam apa yang dikutip darinya: «إِنَّ الدَّجَّالَ الْأَكْبَرَ الَّذِي يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ غَيْرُ ابْنِ صَيَّادٍ، وَكَانَ ابْنُ صَيَّادٍ أَحَدَ الدَّجَّالِينَ الْكَذَّابِينَ الَّذِينَ أَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِخُرُوجِهِمْ»[12]; “Dajjal terbesar yang muncul di akhir zaman bukanlah Ibnu Sayyad. Ibnu Sayyad hanyalah salah satu dari para dajjal pendusta yang telah diberitakan oleh Nabi
akan kemunculan mereka”, dan Abdul Ghani al-Maqdisi (w. 600 H) berkata: «كَانَ ابْنُ صَائِدٍ دَجَّالًا صَغِيرَ السِّنِّ غَيْرَ الدَّجَّالِ الْأَكْبَرِ»[13]; “Ibnu Sa’id adalah seorang dajjal kecil, bukan dajjal terbesar”, dan an-Nawawi (w. 676 H) meriwayatkan dari para ulama, dia berkata: «قِصَّةُ ابْنِ صَيَّادٍ مُشْكِلَةٌ، وَأَمْرُهُ مُشْتَبَهٌ فِي أَنَّهُ هَلْ هُوَ الْمَسِيحُ الدَّجَّالُ الْمَشْهُورُ أَمْ غَيْرُهُ، وَلَا شَكَّ فِي أَنَّهُ دَجَّالٌ مِنَ الدَّجَاجِلَةِ»[14]; “Kisah Ibnu Sayyad adalah perkara yang sulit, dan keadaannya samar apakah dia al-Masih ad-Dajjal yang terkenal atau bukan. Namun tidak ada keraguan bahwa dia adalah salah satu dari para dajjal”, dan Ibnu Katsir (w. 774 H) meriwayatkan dari sebagian ulama, dia berkata: «ابْنُ صَيَّادٍ كَانَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ يَظُنُّهُ الدَّجَّالَ الْأَكْبَرَ، وَلَيْسَ بِهِ، إِنَّمَا كَانَ دَجَّالًا مِنَ الدَّجَاجِلَةِ صَغِيرًا»[15]; “Sebagian Sahabat mengira bahwa Ibnu Sayyad adalah dajjal terbesar, padahal bukan. Dia hanyalah seorang dajjal kecil dari kalangan para dajjal”, dan dia juga berkata: «الصَّحِيحُ أَنَّ الدَّجَّالَ غَيْرُ ابْنِ صَيَّادٍ، وَأَنَّ ابْنَ صَيَّادٍ كَانَ دَجَّالًا مِنَ الدَّجَاجِلَةِ، ثُمَّ تَابَ بَعْدَ ذَلِكَ، فَأَظْهَرَ الْإِسْلَامَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِضَمِيرِهِ وَسَرِيرَتِهِ»[16]; “Yang benar adalah bahwa dajjal bukanlah Ibnu Sayyad, dan Ibnu Sayyad hanyalah salah satu dari para dajjal. Kemudian dia bertobat dan masuk Islam. Allah lebih mengetahui isi hati dan pikirannya.”
| Appendix Number: 1 | Penulis: Homayun Danesh | Tanggal Penerbitan: 4/4/2015 |
Diriwayatkan dari Rasulullah
bahwa “dajjal akan tinggal di bumi selama empat puluh hari, satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti satu pekan, dan sisa hari-harinya seperti hari-hari kalian.” Apakah riwayat ini sahih? Beberapa orang menafsirkannya dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah tiga periode kekuasaan kekuatan-kekuatan kafir Barat dalam dua abad terakhir. Apakah penafsiran ini benar?
Riwayat-riwayat tentang keluarnya dajjal bersifat mutawatir. Akan tetapi, riwayat tentang lamanya dia tinggal di bumi adalah kabar ahad yang diriwayatkan secara tunggal oleh Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, dari Yahya bin Jabir at-Tha’i, dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, dari ayahnya Jubair bin Nufair, dari Nawwas bin Sam’an al-Kilabi, dari Rasulullah
[1]. Sudah pasti bahwa kabar ahad tidak menghasilkan ilmu yang yakin meskipun sanadnya dinilai sahih oleh ahli hadis. Oleh karena itu, tidak boleh meyakini kandungan riwayat ini; terlebih lagi mengingat Asma’ binti Yazid meriwayatkan sesuatu yang berlawanan, dia berkata: «قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: يَمْكُثُ الدَّجَّالُ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً، السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَالْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَالْيَوْمُ كَاضْطِرَامِ السَّعْفَةِ فِي النَّارِ»[2]; “Rasulullah
bersabda: ‘Dajjal akan tinggal di bumi selama empat puluh tahun, setiap tahun seperti satu bulan, dan setiap bulan seperti satu pekan, dan setiap pekan seperti satu hari, dan setiap hari seperti nyala pelepah kurma dalam api.’”
Adapun penafsiran yang disebutkan itu hanyalah dugaan dan spekulasi semata, dan bersandar kepada dugaan dan spekulasi dalam persoalan agama tidak diperbolehkan; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ﴿إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ﴾[3]; “Mereka tidak mengikuti kecuali dugaan, dan mereka hanyalah menduga-duga.” Selain itu, hal yang melemahkan penafsiran tersebut adalah bahwa ia bertentangan dengan pemahaman perawi terhadap riwayat tersebut; karena Nawwas bin Sam’an tidak memahaminya sebagai kiasan, melainkan memahaminya secara literal; sehingga dia bertanya kepada Rasulullah
tentang hukum salat pada hari-hari tersebut, dan Rasulullah
juga menjawab sesuai dengan pemahaman itu dan membenarkannya. Oleh karena itu, an-Nawawi berkata: «قَالَ الْعُلَمَاءُ: هَذَا الْحَدِيثُ عَلَى ظَاهِرِهِ وَهَذِهِ الْأَيَّامُ الثَّلَاثَةُ طَوِيلَةٌ عَلَى هَذَا الْقَدْرِ الْمَذْكُورِ فِي الْحَدِيثِ»[4]; “para ulama berkata bahwa hadis ini dipahami secara literal, dan tiga hari tersebut memang panjang sesuai kadar yang disebutkan dalam Hadis”, kecuali dikatakan bahwa Rasulullah
menjawab si perawi sesuai dengan tingkat pemahamannya, dan ini adalah kemungkinan yang kuat, dan yang semakin menguatkan kemungkinan ini adalah bahwa kebanyakan riwayat tentang sifat-sifat dajjal bersifat samar; seperti riwayat yang menyebutkan bahwa dia terikat di sebuah pulau di antara pulau-pulau di tengah laut bersama seekor makhluk berbulu yang disebut “al-Jassasah”, dan bahwa dia melintasi seluruh negeri seperti hujan yang dibawa angin kecuali Makkah dan Madinah, dan bahwa dia memiliki seekor keledai yang telinganya memiliki bayangan yang dapat menaungi tujuh puluh ribu orang dan langkahnya sejauh perjalanan tertentu, dan bahwa di antara kedua matanya tertulis “kafir” yang dapat dibaca oleh setiap mukmin, baik yang bisa baca tulis maupun tidak, dan bahwa dia memiliki surga dan neraka, namun nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka, dan bahwa dia membawa gunung-gunung roti dan daging serta sungai-sungai air, dan hal-hal lain yang tampak samar dan seperti kiasan. Bahkan, secara objektif, riwayat yang menyebut bahwa dajjal tinggal di bumi selama empat puluh hari, satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti satu pekan, dan sisa hari-harinya seperti hari-hari kalian juga hampir tampak samar dan seperti kiasan; karena tidak mungkin adanya hari-hari seperti itu sebelum Hari Kiamat. Karena alasan ini, sebagian ulama mencoba menafsirkannya; sebagaimana Ibnu al-Munadi menafsirkannya dengan berkata: «الْمَعْنَى أَنَّهُ يَهْجُمُ عَلَيْكُمْ غَمٌّ عَظِيمٌ لِشِدَّةِ الْبَلَاءِ، وَأَيَّامُ الْبَلَاءِ طِوَالٌ، ثُمَّ يَتَنَاقَصُ ذَلِكَ الْغَمُّ فِي الْيَوْمِ الثَّانِي، ثُمَّ يَنْقُصُ فِي الثَّالِثِ، ثُمَّ يَعْتَادُ الْبَلَاءُ، كَمَا يَقُولُ الرَّجُلُ: الْيَوْمَ عِنْدِي سَنَةٌ؛ إِلَّا أَنَّ الزَّمَانَ تَغَيَّرَ، كَقَوْلِ الشَّاعِرِ: ”وَلَيْلُ الْمُحِبِّ بِلَا آخِرٍ“»; “Maksudnya adalah karena beratnya bencana, kesedihan besar akan menimpa kalian dan hari-hari bencana terasa panjang. Kemudian kesedihan itu berkurang pada hari kedua, dan semakin berkurang pada hari ketiga, dan kemudian bencana kembali biasa, seperti ketika seseorang berkata: ‘Hari ini bagiku terasa seperti setahun,’ sementara waktu berubah; sebagaimana ucapan seorang penyair: ‘Malam seorang pecinta tiada akhirnya’”, dan Hammad bin Salamah berkata: «سَأَلْتُ أَبَا سِنَانٍ عَنْ مَعْنَى ذَلِكَ، فَقَالَ: يَسْتَلِينُونَ الْعَيْشَ، فَتَقْصُرُ الْأَيَّامُ عَلَيْهِمْ»; “Aku bertanya kepada Abu Sinan tentang maknanya, dan dia berkata: ‘Mereka menikmati kehidupan, sehingga hari-hari terasa pendek bagi mereka.’” Ibnu al-Jawzi menyebutkan kedua penafsiran tersebut, kemudian dia berkata: «هَذَا التَّأْوِيلُ الْمَذْكُورُ يَرُدُّهُ قَوْلُهُمْ بَعْدَ هَذَا: ”أَتَكْفِينَا فِيهِ صَلَاةُ يَوْمٍ وَلَيْلِهِ؟ قَالَ: لَا، اقْدُرُوا لَهُ قَدْرَهُ“، وَالْمَعْنَى: اقْدُرُوا لِأَوْقَاتِ الصَّلَوَاتِ، غَيْرَ أَنَّ أَبَا الْحُسَيْنِ بْنَ الْمُنَادِي قَدْ طَعَنَ فِي صِحَّةِ هَذِهِ اللَّفَظَاتِ، يَعْنِي قَوْلَهُمْ: ”أَتَكْفِينَا فِيهِ صَلَاةُ يَوْمٍ وَلَيْلِهِ؟ قَالَ: لَا، اقْدُرُوا لَهُ قَدْرَهُ“ فَقَالَ: هَذَا عِنْدَنَا مِنَ الْمَدَاسِيسِ الَّتِي كَادَنَا بِهَا ذَوُو الْخِلَافِ عَلَيْنَا قَدِيمًا، وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ صَحِيحًا لَاشْتَهَرَ ذَلِكَ عَلَى أَلْسِنَةِ الرُّوَاةِ كَحَدِيثِ الدَّجَّالِ، فَإِنَّهُ قَدْ رَوَاهُ ابْنُ عَبَّاسٍ وَابْنُ عُمَرَ وَجَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَحُذَيْفَةٌ وَعُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ وَأَبُو هُرَيْرَةٍ وَسَمُرَةُ بْنُ جُنْدُبٍ وَأَبُو الدَّرْدَاءِ وَأَبُو مَسْعُودٍ الْبَدْرِيُّ وَأَنَسُ بْنُ مَالِكٍ وَعِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَمُجَمِّعُ بْنُ جَارِيَةَ فِي آخَرِينَ، وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ لَقَوِيَ اشْتِهَارُهُ، وَلَكَانَ أَعْظَمَ وَأَفْظَعَ مِنْ طُلُوعِ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ هُوَ الظَّاهِرُ»[5]; “Penafsiran yang disebutkan dibantah oleh bagian riwayat yang menyatakan: ‘“Apakah salat satu hari satu malam cukup bagi kami?” Beliau berkata: “Tidak, perkirakanlah waktunya”’, yang berarti memperkirakan waktu-waktu salat, meskipun Abu Husain bin al-Munadi tidak mengakui kesahihan lafaz-lafaz ini, yakni bagian riwayat yang menyatakan: ‘“Apakah salat satu hari satu malam cukup bagi kami?” Beliau berkata: “Tidak, perkirakanlah waktunya.”’ Dan dia berkata: ‘Menurut kami, ini termasuk sisipan-sisipan yang dahulu dimasukkan oleh orang-orang yang menyelisihi kami untuk melawan kami. Seandainya itu sahih, tentu akan terkenal di antara para perawi sebagaimana hadis dajjal yang diriwayatkan Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Jabir bin Abdullah, Hudzaifah, Ubadah bin Samit, Ubay bin Ka’b, Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Abu Darda’, Abu Mas’ud al-Badri, Anas bin Malik, Imran bin Husain, Mu’adz bin Jabal, Mujammi’ bin Jariah, dan lainnya. Seandainya sisipan itu benar, niscaya ketenarannya akan lebih kuat, bahkan akan lebih besar dan lebih dahsyat daripada terbitnya matahari dari Barat.’ Dan apa yang dia (Ibnu al-Munadi) katakan adalah pendapat yang lebih jelas.
Kesimpulannya, riwayat tentang lamanya dajjal tinggal di bumi tidak terbukti, dan seandainya ia sahih, ia tidak dapat dipahami secara literal. Namun, menafsirkannya sebagai tiga periode kekuasaan kekuatan-kekuatan kafir Barat dalam dua abad terakhir juga tidak memiliki cukup bukti yang pasti[6].
