Penulis: Muhammad Jawad Tanggal Penerbitan: 22/1/2016

Baru-baru ini aku melihat seorang Arab meminum air kencing unta sebagai obat. Dia mengeklaim bahwa hal itu merupakan Sunah Nabi dan dia mengutip kitab-kitab Sunni dan Syiah. Hal itu membuatku merasa heran! Bagaimana mungkin dalam kitab-kitab Sunni dan Syiah disebutkan bahwa air kencing unta itu suci dan dapat menyembuhkan penyakit?

Jawaban

Meminum air kencing unta bukan Sunah; karena hal itu bukan sesuatu yang disyariatkan oleh Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam). Melainkan, itu merupakan metode pengobatan masyarakat padang pasir dalam pengobatan tradisional yang biasa direkomendasikan oleh para tabib Arab kepada sebagian pasien, dan Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) mengizinkan mereka melakukannya dalam keadaan darurat, dan jelas bahwa dalam kondisi darurat seseorang boleh mengonsumsi segala sesuatu, tanpa menganggap hal itu sebagai Sunah; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ﴿فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ[1]; “Maka barang siapa terpaksa karena keadaan darurat untuk melakukan sesuatu yang dilarang, bukan karena sengaja berbuat dosa, maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Namun, tidak mengherankan bahwa Allah menjadikan air kencing unta sebagai penyembuh bagi sebagian penyakit; karena Dia juga menjadikan kesembuhan bagi sebagian penyakit pada hal-hal yang lebih tidak menyenangkan, seperti racun ular dan sengatan kalajengking; terlebih lagi jika mengingat bahwa unta di padang pasir mengonsumsi air yang kaya akan garam mineral dan tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat. Oleh karena itu, tidak mustahil terdapat khasiat penyembuhan dalam air kencing unta. Bahkan, kemungkinan adanya khasiat penyembuhan di dalamnya bisa jadi lebih besar daripada adanya khasiat penyembuhan pada sebagian obat-obatan kimia baru yang umum digunakan, dengan kemasan yang indah dan menipu, yang diproduksi semata-mata karena dorongan ekonomi dan keuntungan. Pada hakikatnya, kesembuhan hanya berasal dari Allah; Dia meletakkannya pada apa saja yang Dia kehendaki. Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

↑[1] . Al-Ma’idah/ 3