| Penulis: Reza Razi | Tanggal Penerbitan: 13/1/2016 |
Sering kali kita melihat dan mendengar bahwa orang-orang non-Muslim, bahkan kaum ateis, Budha, atau penyembah sapi, memperoleh kesembuhan dari penyakit mereka dan terpenuhinya kebutuhan mereka melalui kunjungan ke kuil-kuil dan tempat-tempat suci mereka. Mohon jelaskan kepada kami, bagaimana hal itu dapat terjadi?
Kesembuhan manusia hanya berasal dari Allah, dan Dialah Yang memenuhi kebutuhan mereka, baik mereka menyadarinya maupun mereka lalai terhadapnya; sebagaimana Dia berfirman, dengan merujuk kepada umat Muslim dan kaum kafir: ﴿كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ ۚ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا﴾[1]; “Kepada masing-masing golongan, baik mereka (yang menginginkan dunia) maupun mereka yang lain (yang menginginkan Akhirat), Kami berikan bantuan dari karunia Tuhanmu. Dan karunia Tuhanmu tidaklah terhalang”, dan berfirman: ﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ﴾[2]; “Barang siapa menghendaki hasil Akhirat, Kami akan tambahkan baginya pada hasil itu. Dan barang siapa menghendaki hasil dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya, tetapi di Akhirat dia tidak memperoleh bagian”, dan hal itu terjadi melalui dua cara:
Pertama, rezeki dan rahmat Allah; sebagaimana Dia berfirman: ﴿وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا﴾[3]; “Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya”, dan berfirman: ﴿وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ﴾[4]; “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” Oleh karena itu, Allah tidak memutus rezeki orang-orang yang mengingkari-Nya karena pengingkaran mereka, dan tidak mengabaikan kebutuhan musuh-musuh-Nya karena permusuhan mereka; karena sekalipun mereka tidak mengenal-Nya, Dia mengenal mereka, dan sekalipun mereka tidak memedulikan-Nya, Dia tetap memedulikan mereka, dan inilah perwujudan rahmat-Nya serta penampakan nama-Nya «أرحم الراحمين»; “Yang Maha Pengasih di antara semua pengasih”; sebagaimana seorang sahabat kami mengabarkan kepada kami, dia berkata:
«كُنْتُ مَعَ الْمَنْصُورِ الْهَاشِمِيِّ الْخُرَاسَانِيِّ فِي مَسْجِدٍ، فَسَمِعَ رَجُلًا يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى فَيَقُولُ: ”يَا مَنْ يُؤْتِي مَنْ لَا يَسْأَلُهُ وَمَنْ لَا يَعْرِفُهُ تَحَنُّنًا مِنْهُ وَرَحْمَةً“، فَأَخَذَهُ الْبُكَاءُ ثُمَّ قَالَ: كَذَلِكَ اللَّهُ رَبُّنَا، يُؤْتِي مَنْ لَا يَسْأَلُهُ وَمَنْ لَا يَعْرِفُهُ وَمَنْ يَسْأَلُ غَيْرَهُ، يَأْتِي إِلَى شَجَرٍ فَيَسْأَلُهُ، فَيُؤْتِيهِ اللَّهُ تَعَالَى، فَيَنْصَرِفُ وَهُوَ يَقُولُ: ”آتَانِيَ الشَّجَرُ“، وَأَنَّى لِلشَّجَرِ أَنْ يُؤْتِيَهُ؟! أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ»; “Aku bersama Mansur Hasyimi Khorasani di sebuah masjid, kemudian beliau mendengar seorang lelaki berdoa kepada Allah Ta’ala dengan berkata: ‘Wahai Dzat yang memberi kepada orang yang tidak meminta kepada-Nya dan kepada orang yang tidak mengenal-Nya, sebagai bentuk kasih sayang dan rahmat dari-Nya.’ Maka beliau menangis, kemudian berkata: ‘Demikianlah Allah, Tuhan kita; Dia memberi kepada orang yang tidak meminta kepada-Nya, kepada orang yang tidak mengenal-Nya, bahkan kepada orang yang meminta kepada selain-Nya; ada seseorang yang meminta kepada pohon, kemudian Allah Ta’ala memberinya, setelah itu dia pergi sambil berkata: “Pohon itulah yang memberiku”, bagaimana mungkin pohon dapat memberinya?! Mereka itulah orang-orang yang lalai.’”
Kedua, rencana dan ujian Allah, dan hal ini karena ketika Allah Ta’ala mengetahui bahwa seorang hamba berpaling dari kebenaran dan cenderung kepada kebatilan, lalu Allah menghendaki kesesatannya, maka Allah menghiasi baginya keburukan amalnya dan menjadikan baginya berbagai hal yang mengaburkan agamanya serta semakin menambah kesesatannya. Di antara dalil yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah: ﴿فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا﴾[5]; “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit mereka”, dan Allah berfirman: ﴿اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ﴾[6]; “Allah memperolok-olok mereka dan membiarkan mereka terus berada dalam kedurhakaan mereka, sementara mereka kebingungan”, dan berfirman: ﴿إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ زَيَّنَّا لَهُمْ أَعْمَالَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُونَ﴾[7]; “Sesungguhnya, orang-orang yang tidak beriman kepada Akhirat, Kami jadikan amal-amal mereka terasa indah bagi mereka sehingga mereka terus kebingungan”, dan berfirman: ﴿وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ﴾[8]; “Kami bolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka dahulu tidak beriman kepadanya pada kali pertama, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kedurhakaan mereka”, dan berfirman: ﴿كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾[9]; “Demikianlah Kami jadikan setiap umat memandang baik perbuatan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah mereka kembali, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”, dan berfirman: ﴿وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ﴾[10]; “Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim”, dan berfirman: ﴿وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا﴾[11]; “Dan (Tuhanku) janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim selain kesesatan”, dan berfirman: ﴿مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ۚ وَيَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ﴾[12]; “Barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Dan Dia membiarkan mereka dalam kedurhakaan mereka sehingga mereka bingung”, dan berfirman: ﴿وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ﴾[13]; “Dan mereka membuat tipu daya, dan Allah membuat tipu daya, dan Allah adalah sebaik-baik Pembuat tipu daya”, serta ayat-ayat lainnya. Sebagaimana pula seorang sahabat kami mengabarkan kepada kami, dia berkata:
«قُلْتُ لِلْمَنْصُورِ: هَلْ تَعْرِفُ فِي هَذَا الزَّمَانِ رَجُلًا أَظْلَمَ وَأَطْغَى مِنْ فُلَانٍ؟ يَعْنِي رَجُلًا مِنْ أَئِمَّةِ الضَّلَالِ، فَقَالَ: لَا، قُلْتُ: وَاللَّهِ لَا يَزَالُ إِنْسَانٌ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَأَى مِنَ الْأَحْلَامِ وَالْخَوَارِقِ مَا يُصَدِّقُهُ! فَقَالَ: يَا فُلَانُ! إِنَّهُ مِنْ مَكْرِ اللَّهِ وَفِتْنَتِهِ، إِنَّهُ إِذَا عَلِمَ اللَّهُ مِنْ عَبْدٍ زَيْغًا مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْحَقُّ، أَضَلَّهُ مِنْ حَيْثُ يَسْتَهْدِي، ﴿كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ مُرْتَابٌ﴾[14]! فَمَكَثَ هُنَيَّةً ثُمَّ قَالَ: يَا فُلَانُ! إِيَّاكَ وَجِدَالَ كُلِّ مَفْتُونٍ، فَإِنَّ كُلَّ مَفْتُونٍ مُلَقَّنٌ حُجَّتَهُ إِلَى انْقِضَاءِ مُدَّتِهِ، فَإِذَا انْقَضَتْ مُدَّتُهُ خَرَّتْ عَلَيْهِ فِتْنَتُهُ فَأَهْلَكَتْهُ»; “Aku berkata kepada Mansur: ‘Apakah engkau mengetahui pada zaman ini seseorang yang lebih zalim dan lebih melampaui batas daripada si Fulan? Yaitu, seorang pemimpin kesesatan.’ Maka beliau berkata: ‘Tidak.’ Aku berkata: ‘Demi Allah, selalu saja ada orang yang mengaku telah melihat mimpi-mimpi dan kejadian-kejadian luar biasa yang membenarkan dirinya!’ Maka beliau berkata: ‘O, si Fulan! Itu termasuk rencana dan ujian Allah. Apabila Allah melihat adanya kecenderungan penyimpangan pada diri seorang hamba setelah kebenaran menjadi jelas baginya, maka Allah menyesatkannya melalui jalan yang dia sangka sebagai petunjuk. “Demikianlah Allah menyesatkan orang yang melampaui batas lagi dipenuhi keraguan!”’ Kemudian beliau terdiam sejenak, lalu berkata lagi: ‘Wahai Fulan! Jauhilah berdebat dengan setiap orang yang telah terfitnah; karena setiap orang yang terfitnah telah diberi kemampuan untuk menyampaikan hujah yang membelanya hingga berakhir masa yang telah ditetapkan baginya. Maka apabila telah habis masa tersebut, fitnah yang menimpanya akan menjatuhkannya, lalu membinasakannya.’”
