Penulis: Ali Razi Tanggal Penerbitan: 9/12/2015

Kitab tafsir apa yang Anda anjurkan untuk dibaca oleh para pemuda?

Jawaban

Ayat-ayat muhkamat dalam Al-Qur’an tidak memerlukan tafsir; karena jika ayat-ayat tersebut memerlukan tafsir, niscaya akan terjadi daur (penjelasan yang berputar) atau tasalsul (rantai penjelasan tanpa akhir), dan keduanya adalah sesuatu yang mustahil. Akan tetapi, ayat-ayat mutasyabihat, yaitu makna-makna kiasannya dan penerapan lafaz-lafaz umumnya, memerlukan tafsir. Untuk menafsirkannya, seseorang harus merujuk kepada Allah dan kepada orang-orang yang mendalam ilmunya; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ﴿هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ[1]; “Dialah Yang menurunkan Kitab kepadamu. Di dalamnya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Kitab. Dan yang lain adalah ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada penyimpangan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya selain Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya.” Oleh karena itu, untuk mengetahui takwilnya, seseorang harus merujuk kepada Allah dan kepada orang-orang yang mendalam ilmunya. Merujuk kepada Allah dilakukan dengan merujuk kepada ayat-ayat muhkamat dalam Kitab-Nya, sedangkan merujuk kepada orang-orang yang mendalam ilmunya dilakukan dengan merujuk kepada para khalifah-Nya di bumi, karena merekalah yang secara pasti termasuk golongan orang-orang yang mendalam ilmunya.

Dari sini dapat dipahami bahwa merujuk kepada kitab-kitab tafsir Al-Qur’an bukanlah suatu kewajiban dan tidak dapat menggantikan kewajiban merujuk kepada Allah dan khalifah-Nya di bumi. Akan tetapi, merujuk sebagian kitab tafsir tersebut, meskipun masing-masing mengandung kekurangan dan kelemahan, dapat sangat bermanfaat, dengan syarat seseorang tidak menjadikan pendapat para penulisnya sebagai wahyu yang diturunkan dari Allah. Sebaliknya, dia harus menguji pendapat-pendapat tersebut dengan membandingkannya dengan ayat-ayat muhkamat Al-Qur’an dan Sunah Nabi serta para khalifahnya yang lurus lagi mendapat petunjuk, berdasarkan akal yang sehat. Dengan demikian, dia menerima pendapat yang sesuai dengannya dan meninggalkan pendapat yang bertentangan. Di antara kitab-kitab tafsir Al-Qur’an yang paling bermanfaat dari kalangan Sunni adalah Jami‘ al-Bayan An Ta’wil Ay al-Quran oleh at-Tabari (w. 310 H), Ahkam al-Quran oleh at-Tahawi (w. 321 H), Tafsir al-Quran al-Azim oleh Ibnu Abi Hatim ar-Razi (w. 327 H), al-Nasikh Wa al-Mansukh oleh an-Nahhas (w. 338 A), al-Taysir Fi al-Qira’at al-Sab‘ oleh Abu Amr ad-Dani (w. 444 H), Asbab al-Nuzul oleh al-Wahidi (w. 468 H), al-Mufradat Fi Gharib al-Quran oleh ar-Raghib al-Asbahani (w. 502 H), al-Kashshaf An Haqa’iq Ghawamid al-Tanzil oleh az-Zamakhsyari (w. 538 H), Zad al-Masir Fi Ilm al-Tafsir dan Nawasikh al-Quran oleh Ibnu al-Jawzi (w. 597 H), al-Tafsir al-Kabir oleh Fakhr ad-Din ar-Razi (w. 606 H), al-Jami‘ Li Ahkam al-Quran oleh al-Qurtubi (w. 671 H), Tafsir al-Quran al-Azim oleh Ibnu Katsir (w. 774 H), dan al-Itqan Fi Ulum al-Quran oleh as-Suyuti (w. 911 H). Sedangkan dari kalangan Syiah adalah al-Tiolehan Fi Tafsir al-Quran oleh Muhammad bin Ja’far at-Tusi (w. 460 H), Majma‘ al-Bayan Fi Tafsir al-Quran oleh al-Fadl bin Hasan at-Tabarsi (w. 548 H), Tafsir Gharib al-Quran oleh Fakhr ad-Din at-Turayhi (w. 1085 H), al-Mizan Fi Tafsir al-Quran oleh Muhammad Husain at-Tabataba’i (w. 1403 H), dan al-Bayan Fi Tafsir al-Quran oleh Abu al-Qasim al-Khoei (w. 1413 H).

↑[1] . Ali ‘Imran/ 7