Penulis: Ali Razi Tanggal Penerbitan: 9/12/2015

Apakah bertemu dengan al-Mahdi dapat dicapai dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban agama, memperbanyak amalan-amalan yang dianjurkan, bernazar untuk salat, puasa, sedekah, dan berbagai bentuk ibadah lainnya?

Jawaban

Bertemu dengan al-Mahdi, dengan pandangan bahwa beliau memang ada pada masa sekarang, adalah sesuatu yang mungkin bagi siapa saja yang berjumpa dengan beliau. Akan tetapi, mengenali beliau sebelum kemunculannya tidaklah mungkin, kecuali bagi orang yang memiliki bagian yang cukup dari akal dan ketakwaan, serta tidak membahayakan beliau, baik secara sadar maupun tidak. Oleh karena itu, orang yang telah dilihat oleh kebanyakan orang yang mengaku pernah bertemu dengan al-Mahdi dalam keadaan-keadaan yang tidak biasa, lalu mereka mengira bahwa dia adalah al-Mahdi, kemungkinan adalah seseorang selain al-Mahdi, mungkin seorang malaikat, jin, atau salah seorang dari orang-orang saleh. Selain itu, tidak diragukan bahwa pertemuan yang paling bermanfaat dengan al-Mahdi hanya mungkin terjadi setelah beliau muncul dan memegang kekuasaan. Oleh karena itu, orang-orang yang berharap dapat bertemu dengan beliau seharusnya bergabung dengan orang yang mempersiapkan jalan bagi kemunculan beliau dan membantunya dalam menegakkan kekuasaan beliau, daripada menyiksa diri mereka di sudut-sudut rumah dengan berbagai ibadah yang tidak diwajibkan oleh Allah Ta’ala kepada mereka.

Appendix Number: 1 Penulis: Mohammad Taqi Tanggal Penerbitan: 15/5/2017

Apa pendapat Yang Mulia Allamah (Hafizhahullah Ta‘ala) mengenai riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada tokoh-tokoh seperti Syeikh al-Mufid dan Ayatullah ... tentang pertemuan mereka dengan Imam Mahdi (Alaihis Salam)? Apakah pada dasarnya mungkin bertemu dengan Imam Mahdi (Alaihis Salam) sebelum kemunculan beliau dan mengenali beliau bukan sekadar sebagai seorang lelaki biasa? Terima kasih sebelumnya atas jawabannya.

Jawaban

Silakan perhatikan beberapa poin berikut:

1. Berdasarkan keyakinan bahwa Imam Mahdi (Alaihis Salam) ada pada masa sekarang, secara rasional tidak ada halangan untuk bertemu dengan beliau. Akan tetapi, mengingat bahwa beliau harus melakukan taqiyah dalam menghadapi musuh-musuhnya maupun orang-orang awam dari kalangan orang yang mencintainya demi menjaga keselamatan dirinya, maka kemungkinan untuk bertemu dengan beliau sekaligus mengenali beliau sangatlah terbatas. Oleh karena itu, bertemu dengan beliau tanpa mengenali beliau tentu saja mungkin dan bisa terjadi. Adapun bertemu dengan beliau sambil mengenali beliau juga bukan sesuatu yang mustahil, tetapi dalam kebanyakan keadaan, hal itu tidak diperlukan serta bertentangan dengan prinsip kehati-hatian dan kemaslahatan.

2. Bertemu dengan Imam Mahdi (Alaihis Salam), sekalipun benar-benar terjadi, pada umumnya merupakan sesuatu yang tidak dapat dibuktikan. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengaku telah bertemu dengan beliau, meskipun dalam banyak keadaan juga tidak dapat dipastikan bahwa hal itu mustahil.

3. Pertemuan Imam Mahdi (Alaihis Salam) dengan orang-orang yang mengaku telah bertemu dengan beliau sementara mereka jelas terlibat dalam kezaliman atau kesesatan merupakan hal yang sangat tidak mungkin; karena di satu sisi, pertemuan beliau dengan mereka bertentangan dengan prinsip kehati-hatian dan kemaslahatan, dan di sisi lain, jika pertemuan itu terjadi, tentu tidak mungkin tanpa beliau menegur dan melarang mereka dari kezaliman serta kesesatan mereka. Selain itu, klaim orang-orang yang menisbatkan kepada Imam Mahdi (Alaihis Salam) suatu ucapan atau perbuatan yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam yang pasti, tidak lain hanyalah kebohongan dan fitnah terhadap beliau. Hal ini merupakan bentuk kezaliman yang sangat banyak dilakukan oleh para pengaku dan para pengikut mereka. Bahkan, sebagian dari mereka, untuk membenarkan keyakinan dan amalan mereka yang bertentangan dengan akal dan Syariat, mengaku bahwa mereka telah bertemu dengan Imam Mahdi (Alaihis Salam) dan bahwa beliaulah yang memerintahkan mereka melakukan hal-hal tersebut. Padahal, pengakuan seperti itu tidak lain hanyalah dusta dan fitnah terhadap beliau. Jelas bahwa pihak yang mengajarkan kepada mereka keyakinan dan amalan yang bertentangan dengan akal dan Syariat itu bukanlah Imam Mahdi (Alaihis Salam), melainkan setan yang menampakkan diri kepada para pengikutnya dalam berbagai rupa dan menyesatkan mereka dari jalan akal dan syariat. Ini adalah suatu kenyataan yang mengerikan, yang telah diungkapkan oleh Mansur Hasyimi Khorasani (Hafizhahullah Ta‘ala) dalam salah satu kalimat hikmah beliau; sebagaimana seorang sahabat kami mengabarkan kepada kami, dia berkata:

«ذُكِرَ عِنْدَ الْمَنْصُورِ أَحْمَدُ الْحَسَنُ[1]، فَقَالَ: أَدْرَكْتُ شَيْطَانَهُ بِمُلْتَقَى الطَّرِيقَيْنِ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَقْتُلَهُ فَهَرَبَ مِنِّي! أَلَا وَاللَّهِ لَوْ قَتَلْتُهُ لَارْتَاحَ الرَّجُلُ كَأَنَّمَا نَشِطَ مِنْ عِقَالٍ! قُلْتُ: أَلَهُ شَيْطَانٌ -جُعِلْتُ فِدَاكَ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَيُقَالُ لَهُ الْمُتَكَوِّنُ، يَأْتِيهِ وَأَصْحَابَهُ فِي كُلِّ صُورَةٍ فَيُغْوِيهِمْ، إِلَّا أَنَّهُ لَا يَأْتِيهِمْ فِي صُورَةِ الْمَهْدِيِّ»[2]; “Kami sedang bersama Yang Mulia Mansur ketika disebutkan nama Ahmad al-Hasan, maka beliau berkata: Aku bertemu dengan setannya di persimpangan dua jalan. Kemudian aku hendak membunuhnya, tetapi ia melarikan diri dariku! Demi Allah, seandainya aku membunuhnya, niscaya orang itu akan merasa lega, seakan-akan terlepas dari belenggu! Aku berkata: Aku rela berkorban untukmu, apakah dia memiliki setan? Beliau berkata: Ya, ia disebut Mutakawwin. Ia mendatangi dia dan para pengikutnya dengan setiap rupa, lalu menyesatkan mereka, kecuali bahwa ia tidak mendatangi mereka dalam rupa al-Mahdi!”

Kami berlindung kepada Allah dari setan dan para pengikutnya, yang tidak pernah berhenti menyesatkan manusia, serta memanfaatkan nama Imam Mahdi (Alaihis Salam) demi mencapai tujuan-tujuan mereka yang jahat dan menyebarkan keyakinan serta amalan mereka yang keliru.

↑[1] . Dia adalah Ahmad Isma’il al-Basri, yang dikenal sebagai Ahmad al-Hasan al-Yamani, salah seorang dajal kontemporer dari kalangan Syiah yang mengklaim Imamah, perwalian, dan kedutaan (yakni sebagai wakil al-Mahdi) tanpa bukti maupun dalil apa pun (lihat Tanya Jawab 4 dalam situs bahasa Arab).
↑[2] . Ucapan 19, bagian 7