| Penulis: Ali Razi | Tanggal Penerbitan: 17/11/2015 |
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan umat Muslim mengenai sifat-sifat Dzati Allah, seperti ilmu, kekuasaan, dan kehidupan. Sebagian berpendapat bahwa sifat-sifat tersebut identik dengan Dzat Allah; perbedaannya dengan Dzat-Nya maupun perbedaan antarsifat itu sendiri hanyalah konseptual, bukan pada hakikat yang nyata. Namun, sebagian yang lain berpendapat bahwa sifat-sifat Allah merupakan tambahan atas Dzat-Nya dan bukan identik dengan Dzat-Nya. Bagaimanakah pandangan Allamah Khorasani mengenai persoalan ini?
Tidak diragukan bahwa sifat-sifat Dzati Allah identik dengan Dzat-Nya; karena Dzat-Nya tidak mungkin dibayangkan terpisah dari sifat-sifat Dzati-Nya, dan Dzat-Nya tidak tersusun dari bagian-bagian yang berbeda seperti makhluk-Nya sehingga Dia mengetahui dengan satu bagian dan berkuasa dengan bagian yang lain. ﴿سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَصِفُونَ﴾[1]; “Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka sifatkan.” Sebaliknya, Dia adalah Satu Hakikat Yang Sempurna, pada satu sisi disifati dengan ilmu, dan pada sisi yang lain disifati dengan kekuasaan. Kehidupan-Nya pun tidak lain adalah ilmu dan kekuasaan-Nya. Dengan kata lain, Dzat-Nya apabila dipandang dalam hubungannya dengan segala yang diketahui, disebut Maha Mengetahui, dan apabila dipandang dalam hubungannya dengan segala yang berada dalam lingkup kekuasaan-Nya, disebut Maha Kuasa. Oleh karena itu, ilmu-Nya adalah identik dengan kekuasaan-Nya yang berkaitan dengan apa yang diketahui, dan kekuasaan-Nya adalah identik dengan ilmu-Nya yang berkaitan dengan apa yang dilakukan atau diwujudkan. Dengan demikian, tidak ada perbedaan pada ilmu dan kekuasaan itu sendiri, melainkan perbedaan hanya terdapat pada objek yang menjadi kaitannya. Karena, perbedaan di antara berbagai hal bersumber dari hakikat masing-masing, yaitu batas-batas eksistensinya. Sedangkan ilmu dan kekuasaan Allah tidak memiliki batas-batas seperti itu. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan di antara keduanya. Jelas pula bahwa banyaknya nama tidak mengharuskan adanya banyak hakikat yang dinamai. ﴿سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾[2]; “Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
