| Penulis: Davoud | Tanggal Penerbitan: 14/9/2015 |
Kaum Syiah meyakini bahwa Nabi dan para Imam dari Ahlul Bait beliau mengetahui perkara gaib. Apakah keyakinan ini benar? Jika saya mengetahui bahwa Khalifah Allah di bumi mengetahui perkara gaib, bagaimana mungkin saya dapat melakukan amal saleh dan meninggalkan amal buruk atas pilihan saya sendiri? Dengan demikian, tidak akan tersisa ruang untuk pengembangan diri. Terima kasih atas penjelasannya.
Yang dimaksud dengan “perkara gaib” adalah pengetahuan tentang sesuatu yang tidak dapat diketahui melalui indra atau penalaran, seperti mengetahui apa yang telah terjadi di masa lalu tanpa ada seorang pun yang memberitahukannya, dan mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan tanpa adanya sebab yang diketahui pada masa sekarang, dan hal ini mengharuskan hanya Allah yang mengetahui perkara gaib; karena hanya Dia yang mengetahui segala sesuatu tanpa indra atau penalaran. Sedangkan segala sesuatu selain-Nya, berdasarkan hakikatnya sebagai makhluk ciptaan yang memiliki keterbatasan dan alat indra, mengetahui melalui indra dan penalaran, dan oleh sebab itu, tidak mungkin dia mengetahui sesuatu yang tidak dia indrai dan tidak ditemukan bukti atasnya; sebagaimana Allah Ta’ala telah menegaskan hal itu dalam Kitab-Nya dengan berfirman: ﴿إِنَّمَا الْغَيْبُ لِلَّهِ﴾[1]; “Sesungguhnya perkara gaib itu milik Allah”, dan berfirman: ﴿وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ﴾[2]; “Dan di sisi-Nya kunci-kunci segala yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia”, dan berfirman: ﴿لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ﴾[3]; “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah.” Berdasarkan hal ini, manusia tidak mungkin mengetahui perkara gaib, dan tidak ada perbedaan dalam hal ini antara Nabi dan selainnya; karena hal itu merupakan konsekuensi dari kemanusiaan, sedangkan tidak ada perbedaan dalam kemanusiaan antara Nabi dan selainnya; sebagaimana Allah Ta’ala telah menegaskan hal itu dengan berfirman: ﴿قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ﴾[4]; “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian”, dan berfirman: ﴿قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ﴾[5]; “Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui perkara gaib, serta aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa aku adalah malaikat’”, dan berfirman: ﴿قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ﴾[6]; “Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa mendatangkan manfaat atau mudarat bagi diriku sendiri kecuali apa yang Allah kehendaki, dan seandainya aku mengetahui perkara gaib, niscaya aku akan memperbanyak kebaikan bagi diriku dan tidak akan ditimpa keburukan.’” Oleh karena itu, terdapat banyak contoh tentang ketidaktahuan para Nabi terhadap perkara gaib, seperti ketidaktahuan Adam
terhadap niat Iblis ketika dia mengajak beliau memakan pohon terlarang, ketidaktahuan Nuh
bahwa putranya tidak akan selamat hingga banjir menenggelamkannya, ketidaktahuan Ibrahim dan Luth
terhadap para malaikat hingga mereka memperkenalkan diri, ketidaktahuan Ya‘qub
tentang keberadaan dan apa yang terjadi pada Yusuf
hingga pembawa kabar datang kepada beliau, ketidaktahuan Musa
bahwa para pembesar bersekongkol untuk membunuh beliau hingga seorang lelaki datang kepada beliau dari ujung kota, ketidaktahuan Sulaiman
tentang keberadaan burung hud-hud dan apa yang terjadi di negeri Saba hingga hud-hud datang kepada beliau dan memberitahukannya, meskipun beliau belum meyakininya hingga jelas bagi beliau, ketidaktahuan Ayyub
bahwa istrinya tidak melakukan perbuatan keji hingga beliau bersumpah akan mencambuknya seratus kali, ketidaktahuan Yunus
bahwa kaumnya akan segera bertobat, oleh karena itu beliau pergi dalam keadaan marah, dan ketidaktahuan Nabi
terhadap sebagian orang munafik di Madinah; sebagaimana Allah Ta’ala telah memberitakan hal ini dengan berfirman: ﴿لَا تَعْلَمُهُمْ ۖ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ﴾[7]; “Engkau tidak mengetahui mereka. Kamilah yang mengetahui mereka.” Berdasarkan hal ini, para Imam dari Ahlul Bait tentu lebih tidak mengetahui perkara gaib; karena mereka juga manusia seperti manusia lainnya, dan mereka tidak lebih utama daripada Nabi dalam ilmu maupun amal.
Ya, Allah dapat memberitahukan kepada Nabi-Nya tentang apa yang telah terjadi di masa lalu yang tidak diketahui orang lain, dan tentang apa yang akan terjadi di masa depan yang belum memiliki sebab yang diketahui pada masa sekarang; sebagaimana Dia berfirman: ﴿وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ﴾[8]; “Dan Allah tidak akan memberitahukan kepada kalian perkara gaib, tetapi Dia memilih siapa yang Dia kehendaki dari para Rasul-Nya”, dan berfirman: ﴿عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا﴾[9]; “Dia Maha Mengetahui yang gaib. Dia tidak memperlihatkan perkara gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada yang Dia pilih di antara para Rasul. Maka Dia menempatkan penjaga di depan dan di belakangnya.” Akan tetapi, hal itu tidak dianggap sebagai pengetahuan Nabi terhadap perkara gaib; karena Allah yang memberitahukannya kepada beliau. Selain itu, apabila Nabi memberitahukan hal itu kepada para sahabat dan Ahlul Bait beliau, maka hal itu juga tidak dianggap sebagai pengetahuan mereka terhadap perkara gaib; karena Nabi yang memberitahukannya kepada mereka, dan telah jelas bahwa sebutan “yang mengetahui yang gaib” tidak digunakan untuk orang yang diberi tahu oleh orang lain tentang sesuatu yang gaib. Oleh karena itu, tidak seorang pun dari para Sahabat maupun Ahlul Bait mengaku mengetahui perkara gaib, bahkan mereka secara tegas mengingkarinya; sebagaimana disebutkan dalam Nahj al-Balaghah, yang merupakan salah satu kitab Syiah paling sahih, bahwa Ali
memberitahukan manusia tentang fitnah bangsa Turki yang akan terjadi di masa depan. «فَقَالَ لَهُ بَعْضُ أَصْحَابِهِ: لَقَدْ أُعْطِيتَ، يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، عِلْمَ الْغَيْبِ؟! فَضَحِكَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقَالَ لِلرَّجُلِ، وَكَانَ كَلْبِيًّا: يَا أَخَا كَلْبٍ، لَيْسَ هُوَ بِعِلْمِ غَيْبٍ، وَإِنَّمَا هُوَ تَعَلُّمٌ مِنْ ذِي عِلْمٍ»[10]; “Oleh karena itu, beberapa sahabatnya berkata kepada beliau: ‘Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau telah diberi pengetahuan tentang perkara gaib?!’ Beliau tertawa dan berkata kepada lelaki itu, yang berasal dari kabilah Kalb: ‘Wahai saudara Kalb! Ini bukanlah pengetahuan tentang perkara gaib, melainkan pelajaran dari seseorang yang berilmu”, yakni Nabi
. Al-Kasysyi (w. 350 H) meriwayatkan dalam kitab Rijal dengan sanad sahih dari Abdullah bin al-Mughirah, bahwa dia berkata: «كُنْتُ عِنْدَ أَبِي الْحَسَنِ -يَعْنِي مُوسَى بْنَ جَعْفَرٍ- عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَا وَيَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ يَحْيَى: جُعِلْتُ فِدَاكَ، إِنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنَّكَ تَعْلَمُ الْغَيْبَ! فَقَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ! سُبْحَانَ اللَّهِ! ضَعْ يَدَكَ عَلَى رَأْسِي، فَوَاللَّهِ مَا بَقِيَتْ فِي جَسَدِي شَعْرَةٌ وَلَا فِي رَأْسِي إِلَّا قَامَتْ! ثُمَّ قَالَ: لَا وَاللَّهِ، مَا هِيَ إِلَّا وِرَاثَةٌ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ»[11]; “Aku berada di sisi Abu al-Hasan, yakni Musa bin Ja’far
bersama Yahya bin Abdullah bin Hasan (bin Ali)
. Kemudian Yahya berkata: ‘Aku rela berkorban ntukmu! Mereka mengira bahwa engkau mengetahui perkara gaib!’ Beliau berkata: ‘Subhanallah! Subhanallah! Letakkan tanganmu di atas kepalaku! Demi Allah, tidak ada sehelai rambut pun di tubuh dan kepalaku melainkan berdiri!’ Kemudian beliau berkata: ‘Tidak, demi Allah! Itu hanyalah warisan dari Rasulullah
.’” Dia juga meriwayatkan dengan sanad sahih dari Abu Basyir, bahwa dia berkata: «قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ -يَعْنِي جَعْفَرَ بْنَ مُحَمَّدٍ الصَّادِقَ- عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِنَّهُمْ يَقُولُونَ! قَالَ: وَمَا يَقُولُونَ؟ قُلْتُ: يَقُولُونَ تَعْلَمُ قَطْرَ الْمَطَرِ وَعَدَدَ النُّجُومِ وَوَرَقَ الشَّجَرِ وَوَزْنَ مَا فِي الْبَحْرِ وَعَدَدَ التُّرَابِ! فَرَفَعَ يَدَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَقَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ! سُبْحَانَ اللَّهِ! لَا وَاللَّهِ، مَا يَعْلَمُ هَذَا إِلَّا اللَّهُ»[12]; “Aku berkata kepada Abu Abdullah, yakni Ja’far bin Muhammad as-Shadiq
: ‘Mereka berkata (sesuatu)!’ Beliau berkata: ‘Apa yang mereka katakan?’ Aku berkata: ‘Mereka mengatakan bahwa engkau mengetahui jumlah tetesan hujan, jumlah bintang dan daun-daun pepohonan, berat yang ada di laut, dan jumlah butiran pasir!’ Maka beliau mengangkat tangannya ke langit dan berkata: ‘Subhanallah! Subhanallah! Tidak, demi Allah! Tidak ada yang mengetahui hal itu selain Allah.’” Al-Kulaini (w. 328 H) meriwayatkan dalam al-Kafi[13], yang merupakan kitab terpenting di kalangan Syiah, dengan sanadnya dari Sadir as-Sairafi, bahwa dia berkata: «كُنْتُ أَنَا وَأَبُو بَصِيرٍ وَيَحْيَى الْبَزَّازُ وَدَاوُدُ بْنُ كَثِيرٍ فِي مَجْلِسِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِذْ خَرَجَ إِلَيْنَا وَهُوَ مُغْضَبٌ، فَلَمَّا أَخَذَ مَجْلِسَهُ قَالَ: يَا عَجَبًا لِأَقْوَامٍ يَزْعُمُونَ أَنَّا نَعْلَمُ الْغَيْبَ! مَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، لَقَدْ هَمَمْتُ بِضَرْبِ جَارِيَتِي فُلَانَةَ، فَهَرَبَتْ مِنِّي، فَمَا عَلِمْتُ فِي أَيِّ بُيُوتِ الدَّارِ هِيَ!»; “Aku, Abu Basyir, Yahya al-Bazzaz, dan Dawud bin Katsir berada dalam majelis Abu Abdullah (Ja’far bin Muhammad)
. Beliau keluar menemui kami dalam keadaan marah. Setelah duduk di tempatnya, beliau berkata: ‘Sungguh mengherankan kaum yang mengira bahwa kami mengetahui perkara gaib! Tidak ada yang mengetahui perkara gaib selain Allah Azza wa Jalla! Sungguh, tadi aku hendak memukul budakku si fulanah, tetapi dia melarikan diri dariku, dan aku tidak tahu di ruangan mana di dalam rumah ini dia berada’”, dan riwayat serupa lainnya dari Ahlul Bait dalam masalah ini yang mencapai derajat tawatur dan sesuai dengan Kitab Allah. Oleh karena itu, para ulama besar Syiah sejak dahulu telah menegaskan bahwa menisbatkan perkara gaib kepada Ahlul Bait merupakan contoh nyata ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap mereka dan dianggap sebagai kekufuran serta kesyirikan; sebagaimana Muhammad bin Ali bin Babawayh yang dikenal sebagai Syaikh as-Saduq (w. 381 H), salah seorang ulama terbesar mereka, berkata dalam kitab Kamal al-Din wa Tamam al-Ni‘mah[14]: «مَنْ يَنْحَلُ لِلْأَئِمَّةِ عِلْمَ الْغَيْبِ، فَهَذَا كُفْرٌ بِاللَّهِ وَخُرُوجٌ عَنِ الْإِسْلَامِ عِنْدَنَا»; “Barang siapa menisbatkan perkara gaib kepada para Imam, maka itu adalah kekufuran kepada Allah dan keluar dari Islam menurut kami.” Dia berkata di tempat lain[15]: «وَالْغَيْبُ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا اللَّهُ، وَمَا ادَّعَاهُ لِبَشَرٍ إِلَّا مُشْرِكٌ كَافِرٌ»; “Perkara gaib tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan siapa pun yang mengklaimnya bagi seorang manusia maka dia adalah musyrik dan kafir.” Muhammad bin Muhammad bin Nu’man yang dikenal sebagai Syaikh al-Mufid (w. 413 H). yang juga salah seorang ulama terbesar mereka, berkata dalam kitab Awa’il al-Maqalat[16]: «فَأَمَّا إِطْلَاقُ الْقَوْلِ عَلَيْهِمْ بِأَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ فَهُوَ مُنْكَرٌ بَيِّنُ الْفَسَادِ، لِأَنَّ الْوَصْفَ بِذَلِكَ إِنَّمَا يَسْتَحِقُّهُ مَنْ عَلِمَ الْأَشْيَاءَ بِنَفْسِهِ، لَا بِعِلْمٍ مُسْتَفَادٍ، وَهَذَا لَا يَكُونُ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَعَلَى قَوْلِي هَذَا جَمَاعَةُ أَهْلِ الْإِمَامَةِ إِلَّا مَنْ شَذَّ عَنْهُمْ مِنَ الْمُفَوِّضَةِ وَمَنِ انْتَمَى إِلَيْهِمْ مِنَ الْغُلَاةِ»; “Adapun menyatakan bahwa Imam dari Ahlul Bait mengetahui perkara gaib, maka itu tidak benar dan jelas keliru; karena sifat tersebut hanya layak bagi yang mengetahui segala sesuatu dengan dirinya sendiri, bukan melalui ilmu yang diperoleh dari orang lain, dan itu tidak mungkin kecuali bagi Allah Azza wa Jalla. Mereka yang meyakini Imamah (Ahlul Bait) mengikuti keyakinan ini, kecuali segelintir Mufawwidah dan kaum ghulat yang mengikuti mereka.”
Dari sini dapat dipahami bahwa pengetahuan tentang perkara gaib hanyalah milik Allah semata dan tidak boleh dinisbatkan kepada selain-Nya. Inilah yang disepakati umat Muslim dari seluruh mazhab Islam, kecuali segelintir kaum dari kalangan Syiah Ghulat dan sufi. Bukti hal itu adalah Kitab Allah dan Sunah mutawatir, bukan anggapan bahwa apabila Khalifah Allah di bumi mengetahui perkara gaib, maka kebebasan memilih seorang mukallaf (orang yang telah dibebani kewajiban syariat) akan hilang; karena pengetahuan Khalifah Allah tentang perkara gaib tidaklah lebih besar daripada pengetahuan Allah tentangnya. Jika pengetahuan Allah tentang perkara gaib tidak bertentangan dengan kebebasan memilih seorang mukallaf, maka terlebih lagi pengetahuan Khalifah-Nya tidak bertentangan dengannya, dan tidak diragukan lagi bahwa pengetahuan Allah tentang perkara gaib sudah cukup bagi siapa saja yang ingin menjauhi dosa-dosa; sebagaimana Dia bersabda: ﴿وَكَفَى بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا﴾[17]; “Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Yang Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa-dosa hamba-hamba-Nya”, dan jika seseorang tidak takut terhadap pengetahuan Allah Ta’ala, maka rasa takutnya terhadap pengetahuan makhluk lain tidak akan bermanfaat baginya; sebagaimana Dia berfirman: ﴿يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا﴾[18]; “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi tidak bersembunyi dari Allah, padahal Dia bersama mereka ketika mereka merencanakan pada malam hari perkataan yang tidak Dia ridai, dan Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan.”
