1 . أَخْبَرَنَا ذَاكِرُ بْنُ مَعْرُوفٍ الْخُرَاسَانِيُّ، قَالَ: قُلْتُ لِلْمَنْصُورِ: إِنَّهُمْ يَقُولُونَ أَنَّكَ مُشْرِكٌ! قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَمَا شِرْكِي؟! قُلْتُ: قَوْلُكَ أَنَّ الْمُلْكَ بِيَدِ اللَّهِ، وَلَيْسَ بِأَيْدِي النَّاسِ! فَضَحِكَ تَعَجُّبًا مِنْ قَوْلِهِمْ وَقَالَ: أَفَمَنْ يَجْعَلُ الْأَمْرَ لِلَّهِ وَحْدَهُ مُشْرِكٌ، وَمَنْ يَجْعَلُهُ لِلَّذِينَ مِنْ دُونِهِ مُوَحِّدٌ؟! ﴿سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ﴾[1]! قُلْتُ: إِنَّهُمْ يَقُولُونَ أَنَّكَ رَافِضِيٌّ! قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَمَا رَفْضِي؟! قُلْتُ: تَقْدِيمُكَ أَهْلَ الْبَيْتِ! فَضَحِكَ تَعَجُّبًا مِنْ قَوْلِهِمْ وَقَالَ: لَيْسَ هَذَا مِنَ الرَّفْضِ فِي شَيْءٍ، إِنَّمَا الرَّفْضُ تَكْفِيرُ الشَّيْخَيْنِ أَوْ سَبُّهُمَا! فَدَخَلَ الْغُرْفَةَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِنَا بِيَدِهِ إِنَاءٌ، فَوَضَعَهُ مَنْكُوسًا، فَأَشَارَ إِلَيْهِ الْمَنْصُورُ وَقَالَ: إِنْ كَانَ اللَّهُ قَدْ نَكَّسَ عُقُولَهُمْ كَمَا نَكَّسَ هَذَا إِنَاءَهُ فَمَا ذَنْبِي؟!
Terjemahan ucapan:
Zakir bin Ma’ruf al-Khorasani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Mansur: “Mereka mengatakan bahwa engkau musyrik!” Beliau berkata: “Subhanallah! Di mana kesyirikanku?!” Aku berkata: “Ucapanmu bahwa kerajaan berada di tangan Allah, bukan di tangan manusia!” Maka beliau tertawa karena heran atas ucapan mereka dan berkata: “Apakah orang yang menjadikan urusan hanya milik Allah semata dianggap musyrik, sedangkan orang yang menjadikannya untuk selain-Nya dianggap bertauhid?! ‘Betapa buruknya keputusan mereka!’” Aku berkata: “Mereka mengatakan bahwa engkau rafidhi!” Beliau berkata: “Subhanallah! Apa rafidhahku?!” Aku berkata: “Karena engkau mendahulukan Ahlul Bait!” Maka beliau tertawa karena heran atas ucapan mereka dan berkata: “Ini sama sekali bukan bagian dari rafidhah; rafidhah adalah mengkafirkan dua syaikh (Abu Bakar dan Umar) atau mencela keduanya!” Kemudian, masuklah seorang laki-laki dari sahabat kami ke dalam ruangan dengan membawa sebuah bejana, kemudian dia meletakkannya terbalik, maka Mansur menunjuknya dan berkata: “Jika Allah telah membalikkan akal mereka sebagaimana dia membalikkan bejananya, maka apa dosaku?!”
2 . أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْهَرَوِيُّ، قَالَ: سَأَلَ الْمَنْصُورَ رَجُلٌ عَنْ قَوْلِهِ فِي الْخِلَافَةِ، فَقَالَ: إِنَّا نَقُولُ أَنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ كَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا، فَقَالَ الرَّجُلُ: فَمَا الْفَرْقُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الرَّافِضَةِ إِذَنْ؟ قَالَ: الْفَرْقُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ أَنَّهُمْ يُسِيئُونَ الْقَوْلَ فِي الصَّحَابَةِ، وَنَحْنُ لَا نَقُولُ فِيهِمْ إِلَّا خَيْرًا، قَالَ الرَّجُلُ: فَهَلْ هَذِهِ إِلَّا أَخَفُّ الْبِدْعَتَيْنِ؟! قَالَ: بِدْعَةُ الرَّافِضَةِ أَخَفُّ مِنْ بِدْعَتِكُمْ، وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ!
Terjemahan ucapan:
Muhammad bin Abdurahman al-Harawi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Seorang lelaki bertanya kepada Mansur tentang pendapat beliau mengenai Khilafah, maka beliau berkata: “Kami berpendapat bahwa Ahlul Bait lebih berhak atasnya dan lebih layak untuk itu.” Maka lelaki itu berkata: “Kalau begitu, apa perbedaan antara kalian dan rafidhah?” Beliau berkata: “Perbedaan antara kami dan mereka adalah bahwa mereka berkata buruk tentang para Sahabat, sedangkan kami tidak mengatakan tentang mereka kecuali kebaikan.” Lelaki itu berkata: “Bukankah ini hanya bid’ah yang lebih ringan?!” Beliau berkata: “Bid’ah rafidhah lebih ringan daripada bid’ah kalian, tetapi kalian tidak menyadari!”
3 . أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَبِيبٍ الطَّبَرِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ الْمَنْصُورَ يَقُولُ: عَجَبًا لِأَقْوَامٍ يُرَفِّضُونَ كُلَّ مَنْ قَالَ أَهْلُ الْبَيْتِ أَحَقُّ! أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَدْنَى عَلِيًّا وَفَاطِمَةَ، فَأَجْلَسَهُمَا بَيْنَ يَدَيْهِ، وَأَجْلَسَ حَسَنًا وَحُسَيْنًا عَلَى فَخِذَيْهِ، ثُمَّ لَفَّ عَلَيْهِمْ ثَوْبَهُ، ثُمَّ تَلَا قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا﴾[2]، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلُ بَيْتِي، وَأَهْلُ بَيْتِي أَحَقُّ»[3]؟! قُلْتُ: جُعِلْتُ فِدَاكَ، فَمَنِ الرَّافِضَةُ إِذَنْ؟ قَالَ: هُمُ الَّذِينَ يَغْلُونَ فِي أَهْلِ الْبَيْتِ، فَيَقُولُونَ أَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ، وَيَتَصَرَّفُونَ فِي الْخَلْقِ وَالرَّزْقِ مَتَى شَاؤُوا، وَيَفْضُلُونَ عَلَى أُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ، وَقَدْ أُسْقِطَ مِنَ الْقُرْآنِ كَثِيرٌ مِمَّا نَزَلَ فِيهِمْ، ثُمَّ يُكَفِّرُونَ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَيَقُولُونَ أَنَّهُمَا كَفَرَا بَعْدَ إِسْلَامِهِمَا، بَلْ كَانَا مُنَافِقَيْنِ مُنْذُ أَوَّلِ يَوْمٍ، وَأَنَّهُمَا ضَرَبَا فَاطِمَةَ وَقَتَلَاهَا، فَيَلْعَنُونَهُمَا وَيَشْتُمُونَهُمَا، ثُمَّ يَنَالُونَ مِنْ عُثْمَانَ، فَيَقُولُونَ أَنَّهُ حَرَّفَ الْقُرْآنَ، وَكَانَ كَذَا وَكَذَا، فَيَلْعَنُونَهُ وَيَشْتُمُونَهُ، ثُمَّ يَرْمُونَ زَوْجَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، فَيَقُولُونَ فِيهَا مَا لَوْ قَالَهُ أَحَدٌ فِي أَزْوَاجِهِمْ لَشَدَخُوا رَأْسَهُ بِالْحِجَارَةِ، ثُمَّ يَقَعُونَ فِي الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ، فَيَقُولُونَ أَنَّهُمُ ارْتَدُّوا عَنْ إِسْلَامِهِمْ إِلَّا ثَلَاثَةً أَوْ أَرْبَعَةً، وَيَتَبَرَّؤُونَ مِنْهُمْ، ﴿وَلَهُمْ أَعْمَالٌ مِنْ دُونِ ذَلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ﴾[4]، قُلْتُ: مَتَى قِيلَ لَهُمُ الرَّافِضَةُ؟ قَالَ: كَانَ زَيْدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ يُفَضِّلُ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ عَلَى سَائِرِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَلَا يَقُولُ فِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ إِلَّا خَيْرًا، كَسَبِيلِ آبَائِهِ، فَلَمَّا ظَهَرَ بِالْكُوفَةِ فِي أَصَحَابِهِ الَّذِينَ بَايَعُوهُ، سَمِعَ مِنْ بَعْضِهِمُ الطَّعْنَ عَلَيْهِمَا، فَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ، فَكَفُّوا عَنْ نُصْرَتِهِ وَقَالُوا: لَا نَنْصُرُكَ حَتَّى تُخْبِرَنَا بِرَأْيِكَ فِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ اللَّذَيْنِ ظَلَمَا جَدَّكَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ! فَقَالَ زَيْدٌ: لَا أَقُولُ فِيهِمَا إِلَّا خَيْرًا، وَمَا سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ فِيهِمَا إِلَّا خَيْرًا، فَرَفَضُوهُ، فَحِينَئِذٍ قِيلَ لَهُمُ الرَّافِضَةُ، وَهُمْ يَرْفِضُونَنِي الْيَوْمَ كَمَا رَفَضُوهُ بِالْأَمْسِ، فَقَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ.
Terjemahan ucapan:
Abdullah bin Habib at-Tabari mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Mansur berkata: “Sungguh mengherankan mereka yang menuduh rafidhah kepada setiap orang yang mengatakan bahwa Ahlul Bait lebih berhak! Tidakkah mereka mengetahui bahwa Rasulullah
mendekatkan Ali dan Fatimah, dan mendudukkan keduanya di hadapannya, serta mendudukkan Hasan dan Husain di atas kedua pahanya, kemudian beliau menyelimuti mereka dengan pakaiannya, dan membaca firman Allah Ta’ala: ‘Sesungguhnya, Allah berkehendak untuk menghilangkan dari kalian segala kotoran, wahai Ahlul Bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya’, kemudian beliau bersabda: ‘Ya Allah! Mereka adalah Ahlul Baitku, dan Ahlul Baitku lebih berhak’?!” Aku berkata: “Aku rela berkorban untukmu, lalu siapakah rafidhah itu?” Beliau berkata: “Mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan terhadap Ahlul Bait, sehingga mereka mengatakan bahwa Ahlul Bait mengetahui yang gaib, menguasai makhluk dan mengatur rezeki kapan saja mereka kehendaki, lebih utama daripada Rasul-rasul ulul ‘azmi, banyak ayat tentang mereka telah dihapus dari Al-Qur’an, mengkafirkan Abu Bakar dan Umar dengan mengatakan bahwa keduanya kafir setelah Islamnya bahkan sejak awal mereka adalah munafik, serta bahwa keduanya memukul Fatimah dan membunuhnya, maka mereka melaknat dan mencela keduanya, kemudian mereka mencela Utsman dengan mengatakan bahwa dia telah mengubah Al-Qur’an dan berbagai tuduhan lainnya, maka mereka melaknat dan mencelanya, kemudian mereka menuduh istri Nabi
dengan tuduhan yang jika seseorang mengatakannya terhadap istri-istri mereka sendiri, niscaya mereka akan menghancurkan kepalanya dengan batu, kemudian mereka mencela kaum Muhajirin dan Anshar dengan mengatakan bahwa mereka murtad dari Islam kecuali tiga atau empat orang dari mereka, serta berlepas diri dari mereka, ‘dan mereka memiliki perbuatan-perbuatan lain, yang terus mereka kerjakan!’” Aku berkata: “Kapan mereka disebut rafidhah?” Beliau berkata: “Zaid bin Ali bin al-Husain lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas seluruh Sahabat Rasulullah
, tetapi beliau tidak berkata tentang Abu Bakar dan Umar kecuali kebaikan, sebagaimana akhlak para leluhurnya, kemudian ketika beliau muncul di Kufah bersama para pengikutnya yang membaiatnya, beliau mendengar sebagian mereka mencela keduanya, maka beliau mengingkari mereka atas perbuatan itu, lalu mereka berhenti menolong beliau dan berkata: ‘Kami tidak akan menolongmu sampai engkau menjelaskan pendapatmu tentang Abu Bakar dan Umar yang telah menzalimi leluhurmu, Ali bin Abi Thalib!’ Maka Zaid berkata: ‘Aku tidak mengatakan tentang keduanya kecuali kebaikan, dan aku tidak pernah mendengar ayahku (Ali bin al-Husain) mengatakan tentang keduanya kecuali kebaikan.’ Maka mereka pun menolak beliau, dan sejak saat itu mereka disebut rafidhah[5], dan mereka menolakku hari ini sebagaimana dahulu mereka menolak Zaid. Maka, semoga Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka dipalingkan?!”
4 . أَخْبَرَنَا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ عَبْدِ الْقَيُّومِ الْبَلْخِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ الْمَنْصُورَ يَقُولُ: قَبَّحَ اللَّهُ الرَّوَافِضَ! فَلَوْلَا هُمْ لَمْ يَتَخَلَّفِ النَّاسُ عَنْ أَهْلِ الْبَيْتِ بَعْدَ إِذْ دَعَوْنَاهُمْ إِلَيْهِمْ، لَكِنَّهُمْ نَفَّرُوهُمْ وَفَتَّنُوهُمْ، حَتَّى أَصْبَحْنَا أَضَلَّ عِنْدَهُمْ وَأَبْغَضَ إِلَيْهِمْ مِمَّنْ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْجَبَّارِينَ وَالْمُفْسِدِينَ! قُلْتُ: وَمَنِ الرَّوَافِضُ جُعِلْتُ فِدَاكَ؟ قَالَ: الَّذِينَ يَلْعَنُونَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارَ أَوْ يَسُبُّونَهُمْ سَبًّا، وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لَهُمْ، أَلَا وَاللَّهِ لَيْسُوا مِنَّا وَلَسْنَا مِنْهُمْ، وَهُمْ أَشَدُّ مَؤُونَةً عَلَيْنَا مِنَ الْكُفَّارِ وَالنَّوَاصِبِ.
Terjemahan ucapan:
Abd as-Salam bin Abd al-Qayyum al-Balkhi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Mansur berkata: “Semoga Allah memburukkan kaum rafidhah! Seandainya bukan karena mereka, niscaya manusia tidak akan berpaling dari Ahlul Bait setelah kami mengajak mereka kepada Ahlul Bait. Akan tetapi, mereka membuat orang lari dan menimbulkan fitnah, hingga kami menjadi lebih sesat di mata mereka dan lebih dibenci daripada orang yang mengajak mereka kepada para tiran dan para perusak!” Aku berkata: “Siapakah rafidhah itu, aku rela berkorban untukmu?” Beliau berkata: “Mereka adalah orang-orang yang melaknat atau mencela kaum Muhajirin dan Anshar, padahal mereka diperintahkan untuk memohonkan ampun bagi mereka. Ketahuilah, demi Allah, mereka bukan dari golongan kami dan kami bukan dari golongan mereka, dan mereka lebih berat bebannya atas kami daripada orang-orang kafir dan nashibi.”
5 . أَخْبَرَنَا هَاشِمُ بْنُ عُبَيْدٍ الْخُجَنْدِيُّ، قَالَ: قُلْتُ لِلْمَنْصُورِ: إِنَّهُمْ يَنْسِبُونَكَ إِلَى الرَّفْضِ، لِأَنَّكَ تُكْثِرُ مِنْ ذِكْرِ أَهْلِ الْبَيْتِ، فَقَالَ: ذَرِ النَّوْكَى الَّذِينَ يُشْبِهُونَ الْمَجَانِينَ! أَلَمْ يَنْسِبُوا الشَّافِعِيَّ إِلَى الرَّفْضِ حَتَّى قَالَ: «قِفْ بِالْمُحَصَّبِ مِنْ مِنًى فَاهْتِفْ بِهَا ... وَاهْتِفْ بِقَاعِدِ خِيفِهَا وَالنَّاهِضِ ... إِنْ كَانَ رَفْضًا حُبُّ آلِ مُحَمَّدٍ ... فَلْيَشْهَدِ الثَّقَلَانِ أَنِّي رَافِضِي»[6]؟!
Terjemahan ucapan:
Hasyim bin Ubaid al-Khujandi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Mansur: “Mereka menganggap engkau rafidhi; karena engkau banyak menyebut Ahlul Bait.” Maka beliau berkata: “Tinggalkan orang-orang bodoh yang menyerupai orang gila itu! Bukankah mereka juga menganggap asy-Syafi’i rafidhi hingga dia berkata: ‘Berdirilah di Muhassab dari Mina dan berserulah … kepada siapa saja yang duduk atau berdiri di Khayf … bahwa jika mencintai keluarga Muhammad adalah rafidhah … maka biarlah jin dan manusia menjadi saksi bahwa aku adalah seorang rafidhi’?!”
6 . أَخْبَرَنَا وَلِيدُ بْنُ مَحْمُودٍ السِّجِسْتَانِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ الْمَنْصُورَ يَقُولُ: مَنْ زَعَمَ أَنِّي رَافِضِيٌّ فَهُوَ نَاصِبِيٌّ، وَمَنْ زَعَمَ أَنِّي نَاصِبِيٌّ فَهُوَ رَافِضِيٌّ، وَمَنْ زَعَمَ أَنِّي مُشْرِكٌ فَهُوَ مِنَ الْإِسْلَامِ بَرِيءٌ.
Terjemahan ucapan:
Walid bin Mahmud as-Sajistani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Mansur berkata: “Barang siapa mengira bahwa aku seorang rafidhi, maka dia adalah nashibi, dan barang siapa mengira bahwa aku seorang nashibi, maka dia adalah rafidhi, dan barang siapa mengira bahwa aku musyrik, maka dia berlepas diri dari Islam.”
7 . أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَبْدِ الْبَارِئِ الْقَنْدَهَارِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾[7]، فَقَالَ: يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَنْ يَشَاءُ، مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ لِيَخْتَارُوا نَبِيًّا أَوْ مَلِكًا، فَمَنِ اخْتَارَ نَبِيًّا أَوْ مَلِكًا مِنْ دُونِ الَّذِي اخْتَارَهُ اللَّهُ فَقَدْ أَشْرَكَ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ، قُلْتُ: مَا سَمِعْنَا فِي الْمَلِكِ شَيْئًا! قَالَ: وَيْحَكُمْ، أَلَمْ تَسْمَعُوا قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا﴾[8]؟! قُلْتُ: بَلَى، وَلَكِنَّهُ كَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ، قَالَ: إِنَّهُ كَانَ مِنْ سُنَنِ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، وَمَا ذَكَرَهُ اللَّهُ إِلَّا ﴿لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ﴾[9]، أَلَمْ تَسْمَعُوا قَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّكُمْ تَرْكَبُونَ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ»[10]؟! قُلْتُ: وَمَا الْمَلِكُ؟ قَالَ: الْخَلِيفَةُ، قُلْتُ: وَهَلِ اخْتَارَ اللَّهُ خَلِيفَةً بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: نَعَمْ، كَمَا اخْتَارَ بَعْدَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِهِ، أَلَمْ يَقُلْ: ﴿لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ﴾[11]؟ قُلْتُ: وَبِمَا دَلَّ عَلَيْهِ؟ قَالَ: بِوَصِيَّةٍ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، قُلْتُ: كَانَتْ ظَاهِرَةً أَمْ بَاطِنَةً؟ قَالَ: كَانَتْ ظَاهِرَةً، وَلَكِنَّ أَكْثَرَ الْقَوْمِ لَمْ يَفْقَهُوهَا، قُلْتُ: كَيْفَ لَمْ يَفْقَهُوهَا وَكَانَ فِيهِمُ الْمُهَاجِرُونَ وَالْأَنْصَارُ؟! قَالَ: وَمَا تُنْكِرُ مِنْ ذَلِكَ؟! أَلَمْ يَكُونُوا الَّذِينَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِمْ: ﴿فَمَالِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا﴾[12]؟! قُلْتُ: أَرَوَوْهَا أَمْ كَتَمُوهَا؟ قَالَ: بَلْ رَوَوْهَا، قُلْتُ: فَمَا بَالُ الَّذِينَ جَاؤُوا مِنْ بَعْدِهِمْ لَمْ يَفْقَهُوهَا؟! وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: «رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ وَلَا فِقْهَ لَهُ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ»[13] قَالَ: كَانُوا يَهْتَمُّونَ بِالرِّوَايَةِ، وَلَا يَهْتَمُّونَ بِالدِّرَايَةِ، وَكَانُوا يَقُولُونَ: ﴿إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ﴾[14]، إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمُ اتُّهِمُوا بِالْبِدْعَةِ، قُلْتُ: وَمَنْ كَانَ الْخَلِيفَةُ؟ قَالَ: لَا تَسْأَلْ عَنْ هَذَا، فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ﴾[15]، ﴿قَدْ سَأَلَهَا قَوْمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ ثُمَّ أَصْبَحُوا بِهَا كَافِرِينَ﴾[16]! قُلْتُ: إِنَّمَا أَطْلُبُ الْعِلْمَ، وَلَا أَتَعَصَّبُ لِمَذْهَبٍ! قَالَ: كَانَ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ، أَلَمْ يَبْلُغْكَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: «إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ خَلِيفَتَيْنِ: كِتَابَ اللَّهِ وَأَهْلَ بَيْتِي»[17]؟! قُلْتُ: كَأَنَّكَ تُرِيدُ عَلِيًّا! قَالَ: وَمَا تُنْكِرُ مِنْ ذَلِكَ؟! إِنَّ دَاوُدَ قَتَلَ جَالُوتَ، فَـ﴿آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ﴾[18]، وَإِنَّ عَلِيًّا قَتَلَ جَوَالِيتَ، مِنْهُمْ طَلْحَةُ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ حَامِلُ لِوَاءِ الْمُشْرِكِينَ يَوْمَ بَدْرٍ، وَعَمْرُو بْنُ عَبْدِ وُدٍّ فَارِسُ قُرَيْشٍ يَوْمَ الْأَحْزَابِ، وَمَرْحَبٌ بَطَلُ الْيَهُودِ يَوْمَ خَيْبَرَ! فَمَاذَا تَرَى أَنْ يَفْعَلَ اللَّهُ بِهِ؟! قُلْتُ: لَا أُنْكِرُ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا، وَلَكِنَّهُمْ يَقُولُونَ أَنَّ هَذَا طَعْنٌ فِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ! قَالَ: دَعْهُمْ، فَإِنَّهُمْ يَتَّخِذُونَهُمَا إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْ نَبِيَّيْنِ مِنْ بَعْدِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَإِنِّي لَا أَقُولُ فِيهِمَا إِلَّا خَيْرًا، قُلْتُ: فَلَمَّا مَضَى عَلِيٌّ فَهَلِ اخْتَارَ اللَّهُ خَلِيفَةً مِنْ بَعْدِهِ؟ قَالَ: نَعَمْ، إِنَّ الْأَرْضَ لَا تَخْلُو مِنْ خَلِيفَةٍ اخْتَارَهُ اللَّهُ، قُلْتُ: وَبِمَا دَلَّ عَلَيْهِ؟ قَالَ: بِوَصِيَّةٍ مِنْ عَلِيٍّ، وَقَدْ أَوْصَى إِلَى الْحَسَنِ، قُلْتُ: وَهَكَذَا أَبَدًا؟ قَالَ: نَعَمْ، وَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾[19]، قُلْتُ: فَمَنِ الْخَلِيفَةُ الْيَوْمَ؟ قَالَ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ، فَبِهِمْ فَتَحَ اللَّهُ وَبِهِمْ يَخْتِمُ، قُلْتُ: تُرِيدُ الْمَهْدِيَّ؟ قَالَ: نَعَمْ، قُلْتُ: إِنَّهُمْ يَقُولُونَ أَنَّهُ لَمْ يُولَدْ بَعْدُ! قَالَ: وَمَا عِلْمُهُمْ بِذَلِكَ؟! ﴿أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ﴾[20]؟! قُلْتُ: فَتَقُولُ أَنَّهُ وُلِدَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قُلْتُ: فَمَا الْفَرْقُ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُمْ إِذَنْ؟! قَالَ: وَيْحَكَ، لَيْسَ الْمُثْبِتُ كَالنَّافِي، وَلَا الْعَالِمُ كَالْجَاهِلِ، قُلْتُ: فَمَا لَهُ لَا يَظْهَرُ؟! قَالَ: لَئِنْ ظَهَرَ قَبْلَ أَنْ يُنَادَى بِاسْمِهِ فِي الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ فَلَيْسَ بِمَهْدِيٍّ! فَتَدَبَّرْتُ قَوْلَهُ سَاعَةً، ثُمَّ قُلْتُ: وَاللَّهِ لَمْ تَقُلْ شَيْئًا إِلَّا بِالْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، لَكِنَّهُ عِنْدَهُمْ رَفْضٌ! فَقَالَ: لَا أُبَالِي مَا هُوَ عِنْدَهُمْ بَعْدَ أَنْ قُلْتُهُ بِالْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ! فَإِنْ شَاؤُوا سَمَّوْهُ رَفْضًا، وَإِنْ شَاؤُوا سَمَّوْهُ كُفْرًا! فَإِنَّهُ الْإِيمَانُ!
Terjemahan ucapan:
Abu Bakr bin Abd al-Bari al-Qandahari mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Mansur tentang firman Allah Ta’ala, di mana Dia telah berfirman: “Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Mereka tidak memiliki pilihan. Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan dengan-Nya.” Maka beliau berkata: “(Allah) menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Mereka tidak memiliki pilihan dalam memilih nabi atau penguasa. Barang siapa memilih nabi atau penguasa yang tidak dipilih oleh Allah, maka dia telah mempersekutukan sesuatu (dengan Allah), dan Allah Maha Suci dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).” Aku berkata: “Kami tidak pernah mendengar apa pun tentang penguasa!” Beliau berkata: “Celaka kalian. Tidakkah kalian mendengar firman Allah, di mana Dia telah berfirman: ‘Dia menetapkan para Nabi di antara kalian dan menetapkan (sebagian dari) kalian sebagai penguasa’?!” Aku berkata: “Ya, tetapi itu di kalangan Bani Israil.” Beliau berkata: “Itu adalah sunah dari orang-orang sebelum kalian dan Allah tidak menyebutnya kecuali untuk ‘menjelaskannya kepada kalian dan membimbing kalian kepada sunah orang-orang sebelum kalian.’ Tidakkah kalian mendengar sabda Nabi
, di mana beliau telah bersabda: ‘Sungguh, akan terjadi pada kalian seperti yang terjadi pada umat-umat sebelum kalian’?!” Aku berkata: “Siapa penguasa itu?” Beliau berkata: “Khalifah.” Aku berkata: “Apakah Allah memilih Khalifah setelah Nabi
?” Beliau berkata: “Ya, sebagaimana Dia melakukannya setelah para Nabi sebelumnya. Bukankah dia telah bersabda: ‘Dia pasti akan menetapkan mereka sebagai Khalifah di bumi sebagaimana Dia telah menetapkan orang-orang sebelum mereka sebagai Khalifah’?!” Aku berkata: “Dengan apa Dia menunjukkannya?” Beliau berkata: “Dengan wasiat dari Nabi
.” Aku berkata: “Apakah (wasiat itu) terang-terangan atau tersembunyi?” Beliau berkata: “Terang-terangan, tetapi kebanyakan orang tidak memahaminya.” Aku berkata: “Bagaimana mereka tidak memahaminya, padahal kaum Muhajirin dan Anshar berada di antara mereka?!” Beliau berkata: “Apa yang membuatmu heran dari hal ini?! Bukankah mereka adalah orang-orang yang sama yang tentangnya Allah telah berfirman: ‘Ada apa dengan kaum ini, yang hampir tidak memahami suatu perkataan pun?!’” Aku berkata: “Apakah mereka meriwayatkan (wasiat) itu atau menyembunyikannya?” Beliau berkata: “Bahkan mereka meriwayatkannya.” Aku berkata: “Lalu mengapa orang-orang setelah mereka tidak memahaminya?! Padahal Nabi
telah bersabda: ‘Betapa banyak pembawa ilmu yang tidak berilmu, dan betapa banyak yang menyampaikan ilmu kepada orang yang lebih berilmu darinya.’” Beliau berkata: “Mereka fokus untuk meriwayatkan dan tidak fokus untuk kognisi (yakni analisis dan pemahaman) dan mereka berkata: ‘Kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk dengan mengikuti mereka’, kecuali sebagian kecil dari mereka yang dituduh melakukan bid’ah.” Aku berkata: “Siapa Khalifah itu?” Beliau berkata: “Jangan bertanya tentang hal ini; karena Allah telah berfirman: ‘Janganlah kamu menanyakan sesuatu yang jika dijelaskan kepadamu akan membuatmu tidak senang.’ ‘Beberapa orang sebelum kamu menanyakan tentang itu, lalu mereka tidak percaya!’” Aku berkata: “Aku hanya mencari ilmu dan tidak fanatik terhadap mazhab apa pun!” Beliau berkata: “Dia adalah seorang laki-laki dari Ahlul Bait. Tidakkah sampai kepadamu sabda Nabi
: ‘Aku meninggalkan di antara kalian dua Khalifah: Kitab Allah dan Ahlul Baitku’?!” Aku berkata: “Sepertinya yang engkau maksud adalah Ali!” Beliau berkata: “Apa yang engkau ingkari darinya?! Sungguh, Dawud membunuh Jalut, maka ‘Allah memberinya kerajaan dan hikmah dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki’, sedangkan Ali telah membunuh beberapa Jalut, seperti Talha bin Abi Talha, pembawa panji kaum musyrik pada hari Badar, Amr bin Abd Wudd, pendekar tunggal Quraisy pada hari Ahzab, dan Marhab, jagoan Yahudi pada hari Khaibar! Maka menurutmu apa yang Allah perbuat dengannya?!” Aku berkata: “Aku tidak mengingkari apa pun tentangnya. Tetapi mereka berkata bahwa ini adalah celaan terhadap Abu Bakar dan Umar!” Beliau berkata: “Biarkan mereka; karena mereka telah menjadikan keduanya sebagai tuhan selain Allah atau nabi setelah Muhammad
. Namun, aku tidak mengatakan apa pun tentang keduanya kecuali kebaikan.” Aku berkata: “Maka ketika Ali wafat, apakah Allah memilih Khalifah lain setelahnya?” Beliau berkata: “Ya, karena bumi tidak pernah kosong dari Khalifah yang dipilih Allah.” Aku berkata: “Dengan apa Dia menunjukkannya?” Beliau berkata: “Dengan wasiat dari Ali, dan dia mewasiatkannya kepada Hasan.” Aku berkata: “Dan begitu seterusnya selamanya?” Beliau berkata: “Ya, dan ini adalah firman Allah, di mana Dia telah berfirman: ‘Mereka adalah keturunan satu sama lain. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.’” Aku berkata: “Siapa Khalifah hari ini?” Beliau berkata: “Seorang laki-laki dari Ahlul Bait; karena Allah memulainya dengan mereka dan mengakhirinya dengan mereka.” Aku berkata: “Maksudmu Mahdi?” Beliau berkata: “Ya.” Aku berkata: “Mereka berkata bahwa beliau belum lahir!” Beliau berkata: “Dari mana mereka tahu?! ‘Apakah mereka memiliki (ilmu) gaib, lalu mereka menuliskannya?!’” Aku berkata: “Maka apakah engkau berkata bahwa beliau telah lahir?” Beliau berkata: “Ya.” Aku berkata: “Jika demikian, apa bedanya engkau dengan mereka?!” Beliau berkata: “Celaka engkau. Orang yang membuktikan tidaklah sama dengan orang yang mengingkari, dan orang yang mengetahui tidaklah sama dengan orang yang tidak mengetahui.” Aku berkata: “Lalu mengapa beliau tidak menampakkan diri?!” Beliau berkata: “Jika beliau menampakkan diri sebelum namanya diseru di langit dan bumi, maka beliau bukan Mahdi!” Maka aku merenungi perkataan beliau sejenak, lalu berkata: “Demi Allah, engkau tidak mengatakan sesuatu pun kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah, tetapi menurut mereka itu adalah rafidhah!” Maka beliau berkata: “Aku tidak peduli bagaimana mereka menyebutnya setelah aku mengatakannya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah! Maka mereka boleh menyebutnya rafidhah jika mereka mau, dan mereka boleh menyebutnya kekafiran jika mereka mau; karena ini adalah iman!”
8 . أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ الْجُوزَجَانِيُّ، قَالَ: دَخَلَ عَلَى الْمَنْصُورِ رِجَالٌ مِنْ أَهْلِ الْمَذَاهِبِ لِيُنَاظِرُوهُ فِي الْخِلَافَةِ، فَنَاظَرَهُمْ فِيهَا، وَكَانَ مِمَّا قَالَ لَهُمْ: أَلَا تَتَّقُونَ؟! أَلَا تَتُوبُونَ؟! فَقَدْ قَالَ اللَّهُ لَكُمْ: قُولُوا: ﴿اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ﴾[21]، فَخَالَفْتُمُوهُ وَقُلْتُمْ: نَحْنُ مَالِكُو الْمُلْكِ، نُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ نَشَاءُ وَنَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ نَشَاءُ، وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ بَدَّلُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ، فَأَرْسَلَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَظْلِمُونَ! فَوَجَدَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ، فَقَالَ: مَا لَكُمْ؟! تَنْظُرُونَ إِلَيَّ نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ! أَلَا تَفْقَهُونَ قَوْلِي؟! قَالُوا: لَا، قَالَ: كَذَلِكَ كَانَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، لَمْ يَفْقَهُوا قَوْلَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، حَتَّى تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ! قَالُوا: نَرَاكَ تَطْعَنُ فِي الصَّحَابَةِ كَمَا يَطْعَنُ الرَّافِضَةُ! قَالَ: وَيْحَكُمْ، لَوْ أَنَّ مَا أَقُولُ طَعْنٌ فِي الصَّحَابَةِ، فَإِنَّ مَا تَقُولُونَ طَعْنٌ فِيهِمْ كَمَا أَقُولُ! قَالُوا: وَكَيْفَ ذَلِكَ؟! قَالَ: أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ الصَّحَابَةَ كَانُوا فَرِيقَيْنِ: فَرِيقًا يَقُولُونَ مَا أَقُولُ، وَفَرِيقًا يَقُولُونَ مَا تَقُولُونَ؟! فَإِنْ طَعَنْتُ فِي فَرِيقٍ مِنْهُمْ، فَقَدْ طَعَنْتُمْ فِي فَرِيقٍ آخَرَ، أَفَلَا تَعْقِلُونَ؟! فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مِنْ طَعْنٍ فَاطْعَنُوا فِي فَرِيقٍ عَصَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ، وَلَا تَطْعَنُوا فِي فَرِيقٍ أَطَاعُوهُمَا، أَفَلَا تَذَكَّرُونَ؟! فَبُهِتَ الْقَوْمُ وَتَأَمَّلُوا طَوِيلًا وَنَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، ثُمَّ قَالُوا: وَاللَّهِ مَا كَلَّمَنَا أَحَدٌ بِمِثْلِ مَا كَلَّمْتَنَا بِهِ، وَلَوْ لَا أَنَّا نَخَافُ أَنْ يَقُولَ النَّاسُ تَشَيَّعْنَا لَاتَّبَعْنَاكَ! قَالَ: وَيْلَكُمْ، أَتَتَّقُونَ النَّاسَ، وَلَا تَتَّقُونَ اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ؟! أَنْتُمْ عُلَمَاءُ قَوْمِكُمْ، فَلَا تَرْضَوْا بِأَنْ تَكُونُوا تَبَعَةً لِجُهَّالِهِمْ، ﴿وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾![22] ثُمَّ تَمَثَّلَ بِقَوْلِ الشَّاعِرِ فَقَالَ:
دَعِ النَّاسَ يَا قَلْبِي يَقُولُونَ مَا بَدَا ... لَهُمْ وَاتَّثِقْ بِاللَّهِ رَبِّ الْخَلَائِقِ
وَلَا تَرْتَجِي فِي النَّفْعِ وَالضَّرِّ غَيْرَهُ ... تَبَارَكَ مِنْ رَبٍّ كَرِيمٍ وَخَالِقٍ
Terjemahan ucapan:
Isa bin Abd al-Hamid al-Jowzjani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Sekelompok orang dari berbagai mazhab datang menemui Mansur untuk berdebat dengan beliau tentang Khilafah, maka beliau berdebat dengan mereka, dan salah satu hal yang beliau katakan kepada mereka adalah: “Tidakkah kalian takut kepada Allah?! Tidakkah kalian bertaubat? Karena Allah telah berfirman kepada kalian untuk mengatakan: ‘Ya Allah! Engkaulah Pemilik kerajaan! Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki’, tetapi kalian menyelisihi-Nya dan berkata: ‘Kamilah pemilik kerajaan! Kami berikan kerajaan kepada siapa yang kami kehendaki dan mengambil kerajaan dari siapa yang kami kehendaki’, padahal kalian mengetahui (akhir dari) orang-orang yang mengubah perkataan yang diperintahkan kepada mereka, maka Allah menurunkan azab dari langit kepada mereka atas kesalahan mereka[23]!” Kemudian beliau melihat mereka memandangnya (dengan keheranan dan pengingkaran), maka beliau berkata: “Ada apa dengan kalian?! Kalian memandangku seperti orang yang akan pingsan menjelang kematian! Apakah kalian tidak memahami perkataanku?!” Mereka berkata: “Tidak.” Beliau berkata: “Orang-orang sebelum kalian juga seperti itu, mereka tidak memahami perkataan Allah dan Rasul-Nya hingga mereka terpecah-belah dan berselisih setelah datang kepada mereka bukti-bukti yang jelas!” Mereka berkata: “Kami melihat bahwa engkau juga mencela para Sahabat, sebagaimana kaum Rafidhah melakukannya!” Beliau berkata: “Celaka kalian! Jika apa yang aku katakan adalah mencela para Sahabat, maka apa yang kalian katakan juga merupakan celaan terhadap mereka, sebagaimana ucapanku!” Mereka berkata: “Bagaimana bisa?!” Beliau berkata: “Tidakkah kalian tahu bahwa para Sahabat terbagi menjadi dua kelompok: satu kelompok mengatakan seperti yang aku katakan, dan satu kelompok mengatakan seperti yang kalian katakan?! Maka jika aku mencela satu kelompok dari mereka, kalian pun mencela kelompok yang lain! Tidakkah kalian menggunakan akal kalian?! Jika memang tidak ada pilihan selain mencela, maka celalah kelompok yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, dan jangan mencela kelompok yang taat kepada Keduanya! Tidakkah kalian mau berpikir?!” Maka mereka pun terdiam kebingungan, tenggelam dalam pemikiran, dan saling memandang satu sama lain, kemudian mereka berkata: “Kami bersumpah kepada Allah, tidak ada seorang pun yang pernah berbicara kepada kami seperti engkau, dan seandainya kami tidak takut orang-orang akan mengatakan bahwa kami telah menjadi Syiah, niscaya kami akan mengikutimu!” Beliau berkata: “Celaka kalian! Apakah kalian takut kepada manusia tetapi tidak takut kepada Allah yang kepada-Nya kalian akan dikumpulkan?! Kalian adalah para ulama di tengah kaum kalian, maka janganlah kalian rela menjadi pengikut orang-orang bodoh dari mereka, ‘dan bertawakallah kepada Allah jika kalian benar-benar beriman!’” Kemudian beliau memberikan contoh dengan perkataan seorang penyair dan berkata: “Wahai hatiku! Biarkan manusia mengatakan apa yang mereka inginkan, dan bersandarlah kepada Allah, Tuhan seluruh makhluk. Janganlah mengharapkan manfaat atau takut akan mudarat dari selain-Nya, karena Maha Berkah Tuhan Yang Maha Mulia dan Pencipta.”
9 . أَخْبَرَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْخَتْلَانِيُّ، قَالَ: بَعَثَنِي الْمَنْصُورُ إِلَى رِجَالٍ يَطْعَنُونَ فِيهِ لِتَقْدِيمِهِ أَهْلَ الْبَيْتِ وَقَالَ لِي: قُلْ لَهُمْ: اتَّقُوا اللَّهَ، وَلَا تَطْعَنُوا فِي سَلْمَانَ، فَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: «سَلْمَانُ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ»[24]، وَقَالَ: «لَقَدْ أُشْبِعَ سَلْمَانُ عِلْمًا»[25]، وَكَانَ سَلْمَانُ يُقَدِّمُ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولُ: «لَوْ جَعَلْتُمُوهَا فِي أَهْلِ بَيْتِ نَبِيِّكُمْ لَأَكَلْتُمُوهَا رَغَدًا»[26]، وَلَا تَطْعَنُوا فِي عَمَّارٍ، فَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: «مَا خُيِّرَ عَمَّارٌ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا اخْتَارَ أَرْشَدَهُمَا»[27]، وَقَالَ: «اهْتَدُوا بِهَدْيِ عَمَّارٍ»[28]، وَكَانَ عَمَّارٌ يُقَدِّمُ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولُ: «أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّ اللَّهَ أَكْرَمَنَا بِنَبِيِّهِ وَأَعَزَّنَا بِدِينِهِ، فَأَنَّى تَصْرِفُونَ هَذَا الْأَمْرَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِ نَبِيِّكُمْ؟!»[29]، وَلَا تَطْعَنُوا فِي أَبِي ذَرٍّ، فَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: «مَا أَظَلَّتِ الْخَضْرَاءُ وَلَا أَقَلَّتِ الْغَبْرَاءُ عَلَى ذِي لَهْجَةٍ أَصْدَقَ مِنْ أَبِي ذَرٍّ»[30]، وَكَانَ أَبُو ذَرٍّ يُقَدِّمُ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولُ: «مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ سَفِينَةِ نُوحٍ، مَنْ رَكِبَهَا نَجَا، وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا هَلَكَ»[31]، وَذَكَرَ رِجَالًا آخَرِينَ مِنَ الصَّحَابَةِ كَانُوا يُقَدِّمُونَ أَهْلَ الْبَيْتِ، فَجِئْتُهُمْ وَأَبْلَغْتُهُمْ ذَلِكَ، فَوَاللَّهِ لَمْ يَرُدُّوا عَلَيَّ شَيْئًا.
Terjemahan ucapan:
Yunus bin Abdullah al-Khatlani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Mansur mengutusku kepada orang-orang yang mencelanya karena beliau mendahulukan Ahlul Bait, dan berkata kepadaku: “Katakan kepada mereka: Bertakwalah kepada Allah dan jangan mencela Salman; karena Rasulullah
bersabda: ‘Salman bagian dari Ahlul Bait kami’, dan bersabda: ‘Salman telah dipenuhi ilmu’, dan Salman mendahulukan Ahlul Bait dan berkata: ‘Jika kalian menempatkan Khilafah pada Ahlul Bait Nabi kalian, niscaya kalian akan mendapatkan manfaat dari setiap keberkahan’, dan jangan mencela Ammar; karena Rasulullah
bersabda: ‘Ammar tidak pernah memilih antara dua perkara kecuali memilih yang paling benar’, dan bersabda: ‘Ikutilah jalan Ammar’, dan Ammar mendahulukan Ahlul Bait dan berkata: ‘Wahai manusia! Allah telah memuliakan kita dengan Nabi-Nya dan mengangkat derajat kita dengan agama-Nya, maka sampai kapan kalian akan terus menjauhkan urusan ini dari Ahlul Bait Nabi kalian!’ dan jangan mencela Abu Dzar; karena Rasulullah
bersabda: ‘Tidaklah langit menaungi dan tidak pula bumi memikul seseorang yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar’, dan Abu Dzar mendahulukan Ahlul Bait dan berkata: ‘Perumpamaan mereka seperti bahtera Nuh, siapa yang menaikinya selamat dan siapa yang tertinggal binasa’”, maka aku pergi kepada orang-orang yang mencela beliau, dan menyampaikan (pesan ini) kepada mereka, dan demi Allah, mereka tidak menjawab sedikit pun.
10 . أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطَّالَقَانِيُّ، قَالَ: كُنَّا جَمَاعَةً عِنْدَ الْمَنْصُورِ، فَسَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا﴾[32]، فَقَالَ: هُمْ سَلْمَانُ، وَأَبُو ذَرٍّ، وَعَمَّارٌ، وَالْمِقْدَادُ، وَحُذَيْفَةُ، وَجَابِرٌ، وَأَمْثَالُهُمْ، قَالَ الرَّجُلُ: أَلَيْسَ مِنْهُمْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ؟! فَالْتَفَتَ إِلَيْنَا كَالْمُتَعَجِّبِ مِنْ قَوْلِهِ وَقَالَ: أَلَا تَسْمَعُونَ إِلَى هَذَا؟! أَنَا أُسَمِّي لَهُ حِزْبَ عَلِيٍّ، وَهُوَ يَقُولُ لِي: أَلَيْسَ مِنْهُمْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ؟! قُلْتُ: جُعِلْتُ فِدَاكَ، أَكَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ حِزْبَيْنِ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَكَانَ أَزْوَاجُهُ حِزْبَيْنِ، فَحِزْبٌ فِيهِ عَائِشَةُ وَحَفْصَةُ وَصَفِيَّةُ وَسَوْدَةُ، وَالْحِزْبُ الْآخَرُ فِيهِ أُمُّ سَلَمَةَ وَسَائِرُ أَزْوَاجِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ[33]، وَكَانَ حِزْبُ عَائِشَةَ يُبْغِضُ عَلِيًّا، وَكَانَ حِزْبُ أُمِّ سَلَمَةَ يُحِبُّ عَلِيًّا، وَكَانَا يَتَنَازَعَانِ، فَغَلَبَ حِزْبُ عَائِشَةَ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَسَبَقَ بِالْمُلْكِ، فَظَهَرَ فِي النَّاسِ بُغْضُ عَلِيٍّ، حَتَّى تَظَاهَرُوا عَلَيْهِ، وَمَنَعُوهُ وَذُرِّيَّتَهُ الْمُلْكَ، وَأَعَانُوا عَلَيْهِمْ كُلَّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ عَلِيًّا وَذُرِّيَّتَهُ وَيُوصِي بِهِمْ خَيْرًا، وَكَانَ يَقُولُ: «إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي: كِتَابَ اللَّهِ وَأَهْلَ بَيْتِي»[34]، وَكَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَقُولُ: «حَسْبُنَا كِتَابُ اللَّهِ»[35]خِلَافًا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَرَنَ أَهْلَ بَيْتِهِ بِكِتَابِ اللَّهِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمَ بِصَلَاحِ أُمَّتِهِ وَأَنْصَحَ لَهُمْ مِنْ عُمَرَ، ﴿وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا﴾[36]، وَلَمَّا حَضَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ الْمَوْتُ قَالَ لِأَصْحَابِهِ: «ائْتُونِي بِكَتْفٍ أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا»، فَقَالَ عُمَرُ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَهْجُرُ، وَعِنْدَكُمُ الْقُرْآنُ، حَسْبُنَا كِتَابُ اللَّهِ! فَاخْتَلَفَ الْأَصْحَابُ وَاخْتَصَمُوا، فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ: قَرِّبُوا يَكْتُبْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ مَا قَالَ عُمَرُ! فَلَمَّا أَكْثَرُوا اللَّغَطَ وَالْإِخْتِلَافَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: «قُومُوا عَنِّي»! فَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَبْكِي حَتَّى يَبُلَّ دَمْعُهُ الْحَصَى وَيَقُولُ: «إِنَّ الرَّزِيئَةَ كُلَّ الرَّزِيئَةِ مَا حَالَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ أَنْ يَكْتُبَ لَهُمْ ذَلِكَ الْكِتَابَ لِاخْتِلَافِهِمْ وَلَغَطِهِمْ»![37] فَكَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ حِزْبَيْنِ: حِزْبَ عُمَرَ وَحِزْبَ عَلِيٍّ، فَأَمَّا حِزْبُ عَلِيٍّ فَيَقُولُونَ بِكِتَابِ اللَّهِ وَأَهْلِ بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَّا حِزْبُ عُمَرَ فَيَقُولُونَ: حَسْبُنَا كِتَابُ اللَّهِ! فَلَمَّا مَاتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ غَلَبَ حِزْبُ عُمَرَ وَسَبَقُوا بِالْمُلْكِ، فَظَهَرَ فِي النَّاسِ قَوْلُهُمْ وَالْإِعْرَاضُ عَنْ أَهْلِ بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَصَارَ حِزْبُ عَلِيٍّ مَذْمُومِينَ مَطْرُودِينَ، وَقِيلَ لَهُمُ الرَّافِضَةُ، وَمَا الرَّافِضَةُ إِلَّا الَّذِينَ غَلَوْا مِنْهُمْ، وَقِيلَ لِحِزْبِ عُمَرَ لِكَثْرَتِهِمْ وَغَلَبَتِهِمْ أَهْلَ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ! فَيَا لَلَّهِ مِنْ هَذَا الْجَهْلِ وَالتَّعَصُّبِ! كَيْفُ يَكُونُ أَتْبَاعُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ الْآخِذُونَ بِقَوْلِهِ رَوَافِضَ، وَالرَّادُّونَ عَلَيْهِ الْآخِذُونَ بِقَوْلِ ابْنِ الْخَطَّابِ أَهْلَ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ؟! هَذَا مَا لَا يَكُونُ! وَلَكِنَّ الْقَوْمَ خُدِعُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ، وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ، وَكَانُوا قَوْمًا بُورًا! كَمَثَلِ ﴿الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ فَإِذًا لَا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۖ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا﴾![38] ثُمَّ خَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ سُفَهَاءُ، مُقَلِّدُونَ، مُتَكَلِّفُونَ، مُتَشَدِّدُونَ، مُتَكَبِّرُونَ، مُتَجَرِّئُونَ، كَذَّابُونَ عَلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، ضُلَّالٌ، فُسَّاقٌ، أَخْبَاثٌ، كَأَمْثَالِ الشَّيَاطِينِ، لَا عِلْمَ لَهُمْ بِالْحَقِّ، وَلَا بَصِيرَةَ لَهُمْ فِي الدِّينِ، وَلَا مَعْرِفَةَ لَهُمْ بِالرِّجَالِ، وَلَا إِنْصَافَ لَهُمْ فِي الْحُكْمِ، ﴿صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ﴾![39] ثُمَّ سَكَتَ سَاعَةً، وَكَأَنَّ عَلَى رُؤُوسِنَا الطَّيْرَ، وَالْغَضَبُ يَبْدُو فِي وَجْهِهِ، ثُمَّ قَالَ: كُونُوا مِنْ حِزْبِ عَلِيٍّ، فَإِنَّ حِزْبَ عَلِيٍّ هُمُ الْفَائِزُونَ!
Terjemahan ucapan:
Ahmad bin Abdurahman at-Taloqani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Kami berkumpul bersama Mansur, kemudian seorang lelaki bertanya kepada beliau tentang firman Allah Ta’ala: “Di antara orang-orang mukmin itu ada laki-laki yang benar dalam apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang telah menunaikan janjinya (hingga gugur), dan di antara mereka ada yang masih menunggu, dan mereka tidak mengubah apa pun.” Maka beliau berkata: “Mereka adalah Salman, Abu Dzar, Ammar, Miqdad, Hudzaifah, Jabir, dan yang semisal mereka.” Lelaki itu berkata: “Apakah Ali tidak termasuk?!” Maka beliau melihat kami dengan heran dan berkata: “Apakah kalian tidak mendengar apa yang dia katakan?! Aku menyebutkan kelompok Ali kepadanya, dan dia berkata: ‘Apakah Ali tidak termasuk?!’” Aku berkata: “Aku rela berkorban untukmu, apakah Sahabat Rasulullah
terbagi menjadi dua kelompok?” Beliau berkata: “Ya, dan istri-istri Nabi juga terbagi menjadi dua kelompok: satu kelompok yaitu Aisyah, Hafshah, Shafiyyah, dan Saudah, dan kelompok lain yaitu Ummu Salamah dan istri-istri Rasulullah
yang lainnya, dan kelompok Aisyah tidak menyukai Ali, sedangkan kelompok Ummu Salamah menyukai Ali, dan mereka berselisih satu sama lain. Kemudian, setelah Rasulullah
wafat, kelompok Aisyah menang dan memperoleh kekuasaan, sehingga kebencian terhadap Ali menyebar di antara manusia hingga mereka merencanakan makar terhadap beliau, menghalangi beliau dan keturunannya dari kekuasaan, serta membantu para tiran melawan mereka. Padahal Rasulullah
mencintai Ali dan keturunannya, berwasiat untuk berlaku baik terhadap mereka, dan bersabda: ‘Aku akan tinggalkan di tengah-tengah kalian yang jika kalian berpegang teguh padanya, kalian tidak akan pernah tersesat sepeninggalanku: Kitab Allah dan Ahlul Baitku’, tetapi Umar bin Khattab berkata: ‘Cukuplah bagi kami Kitab Allah’, berbeda dengan Rasulullah
yang menjadikan keluarganya selalu bersama dengan Kitab Allah, dan Rasulullah
lebih mengetahui kemaslahatan umatnya dan lebih penyayang kepada mereka daripada Umar, ‘dan tidaklah pantas bagi laki-laki mukmin maupun perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, masih ada pilihan bagi mereka dalam urusan itu, dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah tersesat jauh’, kemudian, ketika ajal mendekati
, beliau berkata kepada para Sahabatnya: ‘Bawakan kepadaku tulang belikat unta agar aku menuliskan untuk kalian sesuatu yang setelahnya kalian tidak akan pernah tersesat’, maka Umar berkata: ‘Rasulullah
sedang mengigau (karena sakit), dan kalian telah memiliki Al-Qur’an. Cukuplah bagi kita Kitab Allah!’ Kemudian para sahabat berselisih dan bertengkar, sebagian dari mereka berkata: ‘Bawakan tulang belikat unta itu agar Rasulullah
menuliskan untuk kalian’, dan sebagian lainnya mengatakan seperti yang dikatakan Umar! Kemudian, ketika kegaduhan dan perselisihan semakin memuncak, Rasulullah
bersabda: ‘Tinggalkan aku!’ Kemudian Ibnu Abbas menangis hingga air matanya membasahi kerikil, dan dia berkata: ‘Itu adalah musibah besar, bahwa Rasulullah
dihalangi untuk menuliskan bagi mereka tulisan itu karena perselisihan dan kegaduhan mereka!’ Maka para Sahabat Rasulullah
terbagi menjadi dua kelompok: kelompok Umar dan kelompok Ali; kelompok Ali berdiri teguh membela Kitab Allah dan Ahlul Bait Rasulullah
, sedangkan kelompok Umar mengatakan: ‘Kitab Allah cukup bagi kami!’ Kemudian, ketika Rasulullah
wafat, kelompok Umar menang dan unggul dalam kekuasaan, maka pandangan mereka serta sikap berpaling dari Ahlul Bait Rasulullah
tersebar di tengah manusia, sementara kelompok Ali diremehkan dan disingkirkan, dan mereka disebut sebagai rafidhah, padahal rafidhah itu hanyalah orang-orang di antara mereka yang bersikap berlebihan, adapun kelompok Umar disebut Ahlus Sunah wal Jama’ah karena jumlah mereka yang banyak dan dominasi mereka! Maka aku mengadu kepada Allah atas kebodohan dan fanatisme ini! Bagaimana mungkin para pengikut Rasulullah
yang menerima perkataan beliau justru disebut rafidhah, sedangkan orang-orang yang menolaknya dan mengikuti perkataan Ibnu Khattab disebut Ahlus Sunah wal Jama’ah?! Ini tidak mungkin! Akan tetapi manusia telah tertipu dan mengikuti hawa nafsu mereka, dan setan menghiasinya bagi mereka serta menghalangi mereka dari jalan (yang benar), dan mereka adalah kaum yang tidak memiliki kebaikan! Seperti ‘orang-orang yang telah diberi bagian dari Kitab, namun mereka beriman kepada jibt dan taghut, dan mereka mengatakan tentang orang-orang kafir: “Mereka itu lebih mendapat petunjuk daripada orang-orang yang beriman!” Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah, dan barang siapa dilaknat Allah, maka engkau tidak akan mendapatkan penolong baginya. Ataukah mereka memiliki bagian dalam kekuasaan, yang jika demikian, mereka tidak akan memberikan kepada (orang lain) walaupun sebesar titik pada biji kurma?! Ataukah mereka dengki kepada (sekelompok) manusia atas karunia yang telah Allah berikan kepada mereka?! Karena Kami telah memberikan kepada keluarga Ibrahim Kitab dan hikmah, dan Kami telah menganugerahkan kepada mereka kerajaan yang besar!’ Kemudian datanglah setelah mereka generasi-generasi yang bodoh, suka taklid, berpura-pura, fanatik, sombong, ceroboh, pendusta atas nama Allah dan Rasul-Nya, sesat, berdosa, dan jahat seperti setan! Mereka tidak memiliki pengetahuan tentang kebenaran, tidak memiliki pemahaman dalam agama, tidak mengenal manusia, dan tidak memiliki keadilan dalam penilaian! ‘Mereka itu tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak menggunakan akal!’” Kemudian beliau terdiam sejenak, seakan-akan ada burung di atas kepala kami, dan tampak kemarahan di wajahnya. Kemudian beliau berkata: “Jadilah kalian kelompok Ali; karena kelompok Ali itulah orang-orang yang beruntung!”
Penjelasan ucapan:
Kalimat-kalimat hikmah yang sempurna ini sudah cukup bagi orang-orang yang memiliki akal sehat dan bertakwa kepada Allah serta Hari Akhir, ﴿وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ﴾[40]; “dan tanda-tanda serta peringatan-peringatan tidaklah bermanfaat bagi suatu kaum yang tidak beriman.” Untuk mempelajari lebih lanjut tentang pendapat Yang Terhormat mengenai rafidhah, rujuklah ucapan 175, dan untuk mempelajari lebih lanjut tentang pendapat beliau mengenai para Sahabat, rujuklah ucapan 128 dari ucapan-ucapan beliau yang suci.
