1 . أَخْبَرَنَا حَيْدَرُ بْنُ سَعِيدٍ الْمُوسَوِيُّ، قَالَ: قُلْتُ لِلْمَنْصُورِ: هَلْ يَحِلُّ لِلْعَذْرَاءِ أَنْ تَتَزَوَّجَ بِغَيْرِ إِذْنِ أَبِيهَا؟ قَالَ: لَا وَلَا كَرَامَةَ، قُلْتُ: وَإِنْ كَانَتْ رَشِيدَةً؟ قَالَ: وَإِنْ كَانَتْ رَشِيدَةً، قُلْتُ: فَإِنْ تَزَوَّجَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ أَبِيهَا فَتَرَى أَنَّ زَوَاجَهَا بَاطِلٌ؟ قَالَ: لَا، إِلَّا أَنْ تَزَوَّجَتْ بِغَيْرِ كُفْوٍ وَجَاءَ أَبُوهَا يُخَاصِمُهَا، فَلَهُ أَنْ يَنْقُضَ النِّكَاحَ.
Terjemahan ucapan:
Haidar bin Sa’id al-Musawi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Mansur: “Apakah halal bagi seorang gadis perawan menikah tanpa izin ayahnya?” Beliau berkata: “Tidak, dan itu tidak terhormat.” Aku berkata: “Meskipun dia sudah dewasa?” Beliau berkata: “Meskipun dia sudah dewasa.” Aku berkata: “Maka, jika dia menikah tanpa izin ayahnya, apakah menurutmu pernikahannya tidak sah?” Beliau berkata: “Tidak, kecuali jika dia menikah dengan laki-laki yang tidak sepadan (tidak sekufu) lalu ayahnya datang menggugatnya, maka ayahnya berhak membatalkan pernikahan itu.”
2 . أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْهَرَوِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ الْمَنْصُورَ عَنِ الْمُؤْمِنَةِ لَهَا أَبٌ فَاجِرٌ أَوْ نَاصِبِيٌّ يَمْنَعُهَا مِنْ نِكَاحِ مُؤْمِنٍ تُحِبُّهُ، وَلَا يَفْعَلُ ذَلِكَ إِلَّا لِأَنَّهُ مُؤْمِنٌ، فَقَالَ: تَنْكَحُهُ وَإِنْ رَغَمَ أَنْفُ أَبِيهَا! قُلْتُ: إِنَّهَا بِكْرٌ فَتَخْشَى أَنْ تَكُونَ عَلَيْهَا مَعَرَّةٌ، قَالَ: أَبُوهَا ظَالِمٌ، وَلَا وِلَايَةَ لِظَالِمٍ، أَلَمْ تَسْمَعْ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا﴾[1]؟! فَهَلْ يَخِيبُ إِلَّا إِذَا لَمْ يَنَلْ مَا طَلَبَ؟! ثُمَّ قَالَ: إِنِ امْتَنَعَتْ مِنْ نِكَاحِ الْمُؤْمِنِ طَاعَةً لِأَبِيهَا فَقَدْ عَصَتْ رَبَّهَا، لِأَنَّهُ قَدْ نَهَى عَنْ طَاعَةِ كُلِّ ﴿مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ﴾[2] كَائِنًا مَنْ كَانَ.
Terjemahan ucapan:
Muhammad bin Abdurahman al-Harawi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku bertanya kepada Mansur tentang seorang perempuan yang beriman yang memiliki ayah fasik atau nashibi yang melarangnya menikah dengan seorang lelaki yang beriman yang dia cintai, dan dia (ayah) melarangnya hanya karena lelaki itu adalah seorang yang beriman. Maka beliau berkata: “Dia boleh menikah dengannya walaupun ayahnya tidak merelakannya!” Aku berkata: “Dia masih perawan dan khawatir akan berdosa.” Beliau berkata: “Ayahnya itu zalim, dan tidak ada perwalian bagi orang zalim. Tidakkah engkau mendengar firman Allah Ta’ala: ‘Dan sungguh rugi orang yang memikul kezaliman’?! Maka, apakah dia disebut rugi kecuali ketika dia tidak memperoleh apa yang dia inginkan?!” Kemudian beliau berkata: “Jika dia menolak menikah dengan seorang yang beriman demi menaati ayahnya, maka dia telah bermaksiat kepada Tuhannya; karena Allah Ta’ala telah melarang menaati setiap ‘orang yang menghalangi kebaikan, melampaui batas, dan berdosa’, siapa pun dia.”
Penjelasan ucapan:
Untuk membaca penjelasan atas ucapan-ucapan yang penting ini, silakan merujuk pada Tanya Jawab 411 dalam situs bahasa Arab.
