1 . أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطَّالَقَانِيُّ، قَالَ: قُلْتُ لِلْمَنْصُورِ: إِنَّ النَّاسَ يَقُولُونَ مَا بَالُ الْمَنْصُورِ يُكْثِرُ التَّمَسُّكَ بِالْقُرْآنِ وَلَا يُكْثِرُ التَّمَسُّكَ بِالْحَدِيثِ؟! قَالَ: مَا بَالُهُمْ يُكْثِرُونَ التَّمَسُّكَ بِالْحَدِيثِ وَلَا يُكْثِرُونَ التَّمَسُّكَ بِالْقُرْآنِ؟! أَمَا بَلَغَهُمْ قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: «أَحَدُهُمَا أَكْبَرُ مِنَ الْآخَرِ»؟! أَلَا إِنَّ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ الْقُرْآنُ وَكُلَّ حَدِيثٍ لَا يُوَافِقُ الْقُرْآنَ فَهُوَ زُخْرُفٌ ﴿وَلِتَصْغَى إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا مَا هُمْ مُّقْتَرِفُونَ[3]! ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِهِ مُصْحَفًا وَقَالَ: إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَنْطِقُ عَلَيْكُمْ بِالْحَقِّ فَاسْتَنْطِقُوهُ! قُلْتُ: أَفَيَنْطِقُ جُعِلْتُ فِدَاكَ؟! قَالَ: نَعَمْ، يُنْطِقُهُ اللَّهُ الَّذِي يُنْطِقُ كُلَّ شَيْءٍ! قُلْتُ: وَكَيْفَ يُنْطِقُهُ؟! قَالَ: يُنْطِقُهُ عَلَى لِسَانِ خَلِيفَتِهِ! أَمَا بَلَغَكُمْ قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ»؟! قُلْتُ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ خَلِيفَتِهِ مَتَى يَنْطِقُ بِالْقُرْآنِ؟! قَالَ: إِذَا أَعْطَيْتُمُوهُ صَفْقَةَ أَيْدِيكُمْ وَثَمَرَةَ قُلُوبِكُمْ!

Terjemahan ucapan:

Ahmad bin Abdurahman at-Talaqani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Aku berkata kepada Mansur: “Orang-orang mengatakan, ‘Mengapa Mansur banyak berpegang pada Al-Qur’an dan tidak banyak berpegang pada hadis?!’” Beliau berkata: “Mengapa mereka justru banyak berpegang pada hadis dan tidak banyak berpegang pada Al-Qur’an?! Tidakkah sampai kepada mereka sabda Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam): ‘Salah satunya (yaitu Al-Qur’an) lebih besar daripada yang lain’?! Ketahuilah, hadis terbaik adalah Al-Qur’an, dan setiap hadis yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an adalah perhiasan palsu ‘agar hati orang-orang yang tidak beriman kepada Akhirat cenderung kepadanya, dan mereka merasa senang dengannya, dan mengerjakan apa yang mereka kerjakan!’” Kemudian beliau mengambil Al-Qur’an dan berkata: “Sesungguhnya, Al-Qur’an ini berbicara kepada kalian dengan kebenaran, maka mintalah ia berbicara!” Aku berkata: “Aku rela berkorban untukmu, apakah ia benar-benar berbicara?!” Beliau berkata: “Ya. Allah yang membuat segala sesuatu berbicara, membuatnya berbicara!” Aku berkata: “Bagaimana Dia membuatnya berbicara?!” Beliau berkata: “Dia membuatnya berbicara melalui lisan Khalifah-Nya! Tidakkah sampai kepadamu sabda Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam): ‘Sesungguhnya, keduanya tidak akan berpisah hingga datang kepadaku di Telaga’?!” Aku berkata: “Kalau begitu, beritahukan kepadaku tentang Khalifah-Nya, kapan beliau akan berbicara dengan Al-Qur’an?!” Beliau berkata: “Apabila kalian telah memberikan beliau telapak tangan kalian dan buah hati kalian!”

Penjelasan ucapan:

Yang dimaksud dengan “telapak tangan” dalam ucapan ulama ini adalah baiat yang dilakukan dengan telapak tangan sebagai perjanjian ketaatan, sedangkan yang dimaksud dengan “buah hati” adalah sesuatu yang paling dicintai oleh manusia dan menjadi penyejuk matanya di kehidupan dunia. Oleh karena itu, menurut pandangan Mansur (Hafizhahullah Ta‘ala), Kemunculan al-Mahdi (Alaihis Salam) terjadi ketika sejumlah orang yang mencukupi membaiat beliau dan rela mengorbankan hal yang paling mereka cintai di jalannya. Pada saat itulah beliau berbicara dan Al-Qur’an pun berbicara melalui ucapan beliau.

2 . أَخْبَرَنَا وَلِيدُ بْنُ مَحْمُودٍ السِّجِسْتَانِيُّ، قَالَ: قَالَ لِلْمَنْصُورِ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَهُوَ يُخَاصِمُهُ: صَدَقَةُ الْفِطْرَةِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ وَإِنْ كَانَتْ فَقِيرَةً تَحْتَاجُ إِلَيْهَا لِحَدِيثٍ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ! قَالَ: كَذَبْتَ وَكَذَبَ أَبُو دَاوُدَ! إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: ﴿لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا![4] قَالَ الرَّجُلُ: أَتَدَعُ الْحَدِيثَ الصَّحِيحَ؟! قَالَ: أَدَعُهُ إِلَى مَا هُوَ أَصَحُّ مِنْهُ، أَدَعُهُ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ! قَالَ: لَكِنَّا لَا نَدَعُ الْحَدِيثَ الصَّحِيحَ! قَالَ وَأَقْبَلَ عَلَى أَصْحَابِهِ وَهُمْ بَيْنَ سَاخِطٍ وَمُتَعَجِّبٍ: إِذَا رَأَيْتُمُ النَّاسَ يَتَقَلْقَلُونَ فِي الضَّلَالَةِ تَقَلْقُلًا فَكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ! فَقَالَ أَصْحَابُهُ: اللَّهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا! ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى الرَّجُلِ وَقَالَ: اعْلَمْ أَيُّهَا الرَّجُلُ أَنَّ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَكُلَّ حَدِيثٍ خَالَفَ كِتَابَ اللَّهِ فَهُوَ زُخْرُفٌ!

Terjemahan ucapan:

Walid bin Mahmud as-Sajistani mengabarkan kepada kami, dia berkata: Seorang lelaki dari kalangan ahli hadis berkata kepada Mansur sambil membantahnya: “Zakat fitrah itu wajib atas setiap jiwa, meskipun dia miskin dan membutuhkannya, berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud!” Beliau berkata: “Engkau berdusta, dan Abu Dawud berdusta! Sesungguhnya, Allah Ta‘ala berfirman: ‘Allah tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya!’” Lelaki itu berkata: “Apakah engkau meninggalkan hadis sahih?!” Beliau berkata: “Aku meninggalkannya menuju sesuatu yang lebih sahih darinya; aku meninggalkannya menuju Kitab Allah!” Lelaki itu berkata: “Namun kami tidak pernah meninggalkan hadis sahih!” Kemudian beliau berpaling kepada para pendampingnya, beberapa di antara mereka ada yang marah dan ada yang heran, dan berkata: “Setiap kali kalian melihat manusia terombang-ambing dalam kesesatan, maka agungkanlah Allah atas petunjuk yang telah Dia berikan kepada kalian!” Maka para pendampingnya berkata: “Allahu Akbar atas petunjuk yang telah Dia berikan kepada kami!” Kemudian beliau kembali menghadap lelaki itu dan berkata: “Ketahuilah wahai lelaki, hadis terbaik adalah Kitab Allah, dan setiap hadis yang menyelisihi Kitab Allah adalah perhiasan palsu!”

Penjelasan ucapan:

Hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan dijadikan dalil oleh lelaki tersebut untuk mewajibkan zakat fitrah atas orang miskin yang justru membutuhkannya adalah hadis Tsa’labah bin Abu Su’air, yang menyebutkan bahwa Allah mewajibkan zakat fitrah atas orang kaya dan orang miskin. Tidak diragukan bahwa hadis ini dengan pemahaman seperti yang diambil oleh lelaki itu bertentangan dengan Al-Qur’an; karena Al-Qur’an menegaskan: ﴿لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا; “Allah tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya.” Berdasarkan ini, kedustaan lelaki itu terletak pada penisbatan suatu hukum yang bertentangan dengan Al-Qur’an kepada Allah; klaimnya tentang kesahihan hadis tersebut juga bisa merupakan dusta; karena hadis ini sangat mudhtharib (goncang, simpang siur) dan sebagian ulama hadis menilainya tidak sahih; sebagaimana Ahmad bin Hanbal berkata: “’Hadis ini tidak sahih, melainkan mursal, diriwayatkan oleh Ma’mar dan Ibnu Juraij dari az-Zuhri sebagai hadis mursal.’ Ketika ditanya: ‘Dari pihak siapa ini berasal?’ Dia menjawab: ‘Dari Nu’man bin Rasyid, dan dia tidak dapat dipercaya dalam hadis’, dan dia menganggap hadis Ibnu Abi Su’air lemah. Ketika ditanya tentang Ibnu Abi Su’air, ‘Apakah dia dikena?’ dia menjawab: ‘Siapa yang mengenal Ibnu Abi Su’air?! Dia tidak dikenal.’”[5] Pada kesempatan lain dia juga berkata: “Nu’man bin Rasyid meriwayatkannya dan menyandarkannya kepada Tsa’labah bin Abu Su’air dari ayahnya, sementara yang lain tidak mengangkatnya hingga tingkatan ini, dan mereka tidak menyandarkannya kepada ayahnya, dan mayoritas ulama hadis tidak menganggapnya berasal dari Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam).”[6] Adapun kedustaan Abu Dawud, penulis kitab Sunan, adalah karena Dia meriwayatkan hadis dari Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) yang bertentangan dengan Al-Qur’an lalu diam terhadapnya, dan sikap diam semacam ini dipandang sebagai bentuk kedustaan. Yang dimaksud dengan «الزخرف»; “perhiasan palsu” adalah setiap ucapan batil yang tampak indah di permukaannya.

↑[1] . [Catatan penerjemah: Hadis]
↑[2] . [Catatan penerjemah: Perhiasan palsu]
↑[3] . Al-An‘am/ 113
↑[4] . At-Talaq/ 7
↑[5] . Al-Jami‘ Li Ulum Ahmad, vol. 14, hal. 400; al-Mughni oleh Ibnu Qudamah, vol. 3, hal. 82
↑[6] . Al-Jami‘ Li Ulum Ahmad, vol. 14, hal. 400; al-Tahqiq Fi Masa’il al-Khilaf oleh Ibnu al-Jawzi, vol. 2, hal. 54