Terjemahan ucapan:

Salah seorang sahabat kami mengabarkan kepada kami, dia berkata: Kami berada di sisi Yang Mulia Mansur Hasyimi Khorasani, kemudian beliau menyampaikan kepada kami sebuah khutbah, di dalamnya beliau menggambarkan sifat orang-orang saleh dan berkata:

Tidakkah kalian melihat orang-orang yang terjaga di malam hari karena mengantisipasi kematian dan menangis karena takut akan api Neraka? Mereka percaya terhadap akhirat seakan-akan mereka melihatnya. Keinginan mereka kepada surga adalah seperti keinginan orang-orang yang berjalan di padang-padang hijaunya, duduk di tepi sungai-sungainya yang indah, dan beristirahat di bawah naungan pepohonan berbuah lebat yang kekal, sementara mereka mengetahui bahwa mereka tidak akan mati setelah kematian pertama dan akan hidup dalam kedekatan dengan Allah selamanya. Setiap dari mereka telah meninggalkan dunia yang hina dan bergabung dengan Negeri Keabadian. Ketika mereka memandang ke depan, mereka melihat rumah-rumah yang ditinggikan oleh cahaya Allah dan dikelilingi taman-taman yang terbentang sejauh mata memandang; Surga-surga dengan luas yang tak terbatas dan menakjubkan, seluas hamparan langit yang luas. Pada saat itu mereka tidak lagi menoleh ke belakang, kepada dunia yang buruk rupa; karena apa yang mereka lihat di hadapan mereka telah menyibukkan mereka dari apa yang ada di belakang mereka. Allah Maha Agung Maha Mulia menyingkapkan tabir dari mata mereka dan memperlihatkan apa yang telah Dia sediakan untuk mereka; maka mereka sangat menginginkannya dan menahan diri dengan sabar dari hal-hal yang diharamkan karena takut tidak memperolehnya. Di Surga, mereka akan menjadi tetangga para nabi dan sahabat para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Mereka saling mengunjungi satu sama lain, dan itulah salah satu kenikmatan surga yang paling agung.

Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata:

Tidakkah engkau ingin menjadi tetangga Muhammad (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam) dan menjadi sahabat Ahlul Bait beliau?!

Kemudian beliau melanjutkan khutbahnya dan berkata:

Ketika seorang mukmin diletakkan di dalam kuburnya, dia merasa takut; maka Allah mengizinkannya mencium aroma Surga agar dia merasa tenang, dan barang siapa tidak mencium aroma Surga, maka kebaikan tidak dikehendaki baginya. Setelah itu, tidak ada sesuatu pun yang lebih menyenangkan bagi seorang mukmin selain menemukan para teman Allah di sekitarnya dan merasa akrab dengan mereka. Kemudian, setelah masa penantian yang tidak dapat dihindari, sebuah pintu dari pintu-pintu Surga dibukakan baginya, dan dia masuk ke dalam Surga bersama para teman Allah, seperti seorang pengantin lelaki memasuki kamar pengantin wanita, dan pandangannya disinari oleh cakrawala Surga. Pada saat itu, sebagian orang yang bersamanya berkata: “Biarkanlah dia menenangkan diri sejenak, karena dia baru saja datang dari dunia.” Kemudian dia duduk di bawah sebuah pohon atau di tepi sungai atau di atas sebuah singgasana atau di dalam salah satu rumah, dan dihidangkan kepadanya makanan dan minuman, dan matanya menjadi bercahaya, dan dia melepaskan diri dari keletihan akibat kematian. Setelah itu, dengan perlahan, para sahabat saleh dan kerabat baiknya yang telah wafat sebelumnya datang menemuinya, menyambutnya, dan mereka pun bergembira bertemu satu sama lain. Maka dia merasa seakan-akan baru kembali dari sebuah perjalanan atau bangun dari tidur singkat. Kemudian mereka menberinya kabar gembira bahwa dia akan bertemu Rasulullah (Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam), maka dia merasakan kegembiraan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Kemudian dia mengunjungi Yang Mulia dan para khalifah beliau, dan mereka memperlakukannya dengan penuh kemurahan. Setelah itu, mereka menempatkannya di dalam Surga yang telah disiapkan Allah khusus baginya dan dia menikmati kenikmatan-kenikmatan yang tiada akhir.

Aku berkata: “Aku rela berkorban untukmu, engkau telah memikat hati kami dengan ucapanmu! Aku berharap engkau bersedia menggambarkan lebih banyak lagi kenikmatan surga!” Maka beliau berkata:

Seandainya kalian melihat kenikmatan Surga yang tiada akhir dan mengetahui keindahan-keindahannya yang tersembunyi, niscaya tidak ada sesuatu yang lebih hina di mata kalian selain dunia dan perhiasannya. Seandainya kalian melihat pepohonan hijau Surga, yang dahan-dahannya bergoyang ditiup angin sepoi-sepoi dari bawah Arsy, sementara akar-akarnya tertanam di bukit-bukit kesturi dan safron, dan di bawahnya memancar mata air air mawar, niscaya kalian akan berpaling dari nafsu dunia dan menyerahkannya kepada para pencintanya. Tidakkah kalian mengetahui bahwa pada batang-batang pohon Surga tergantung amber, melati dan bunga lili melilit di sekelilingnya, dan pohon-pohon itu tumbuh di tengah hamparan padang yang dipenuhi bunga-bunga beraneka warna dan rerumputan hijau yang menyejukkan pandangan? Tidakkah kalian mengetahui bahwa di antara padang-padang yang subur itu dan di sekitar pepohonan yang berbuah lebat, mengalir sungai-sungai air yang jernih, sungai-sungai susu yang segar, sungai-sungai madu yang lezat, dan sungai-sungai khamar yang suci? Dan di antaranya ada sebuah sungai yang disebut Tasnim, dan sungai lainnya yang disebut Salsabil, yang rasanya seperti jahe. Tidakkah kalian mengetahui bahwa dari atap rumah-rumah Surga dan dinding gua-gua di dalamnya bergantungan lampu-lampu kristal dari berlian, kerikil-kerikilnya terbuat dari mutiara dan rubi, semak-semaknya dari akik dan pirus, dan tanahnya dari kesturi dan safron? Di sana terdapat rumah-rumah yang dibangun dengan bata emas, dihiasi lembaran perak, dengan pintu-pintu dari zamrud hijau, jendela-jendela dari perunggu, dan kaca-kaca dari kristal bening. Di dalam kamar-kamarnya, di sekitar sungai-sungainya, di antara taman-tamannya, dan di bawah pepohonan buah, terdapat singgasana dari kayu oak dan walnut, terukir dengan motif-motif indah. Di atasnya terbentang permadani dari sutra murni, di atas permadani itu terdapat kasur-kasur dari beludru hijau, dan di atas kasur-kasur itu terdapat bantal-bantal dari sutra berwarna biru. Di atas setiap kasur terbentang hidangan yang berisi berbagai macam buah dari empat musim, seperti apel, anggur, pisang, pir, ara, delima, plum, jeruk, persik dan buah-buahan yang tidak ada di dunia, dan aneka hidangan yang berwarna-warni, harum, dan lezat, piring-piring dari kristal, mangkuk-mangkuk dari emas, dan sendok-sendok dari perak. Pada setiap hidangan itu ada seorang wanita cantik yang menanti suaminya, dia mengenakan pakaian dari sifon biru dan sutra putih, berhias dengan permata, serta memerciki dirinya dengan wewangian. Rambut para wanita itu sehitam gelapnya malam, wajah mereka seterang cahaya matahari, dan tubuh mereka selembut bunga-bunga musim semi, dan rambut sebagian dari mereka berwarna keemasan dan sebagian lainnya berwarna merah kecokelatan; mereka memiliki mata hitam, biru, dan hijau, dengan bibir yang tipis dan alis yang panjang, keindahannya tak terbayangkan; mereka memegang cawan-cawan perak berisi khamar dan madu yang mereka persembahkan kepada suami mereka, sementara mereka saling berlomba untuk menemaninya dan bersaing menarik perhatiannya.

Kemudian beliau terdiam sejenak, lalu berkata:

Di antara kenikmatan surga adalah Allah menugaskan seorang malaikat kepada para penghuni Surga yang setiap hari menyeru mereka: “Wahai penghuni Surga! Kalian akan hidup kekal!” dan malaikat lain menyeru: “Ketahuilah, bagi kalian apa pun yang kalian kehendaki, bahkan lebih!” dan kenikmatan lainnya adalah bahwa Allah menghilangkan panas, dingin, dan kegelapan dari Surga, serta mengangkat penderitaan, penyakit, dan usia tua dari para penghuninya; kenikmatan lainnya adalah bahwa tidak satu pun hari di Surga yang sama dengan hari sebelumnya; kenikmatan lainnya adalah bahwa terkadang penghuni Surga melihat penghuni neraka di tengah azab dan berbincang dengan mereka; kenikmatan lainnya adalah bahwa para malaikat berbicara dengan penghuni Surga dan penghuni Surga berbicara dengan para malaikat; kenikmatan lainnya adalah bahwa penghuni Surga tidak melihat dan tidak mendengar kecuali keindahan, dan melihat penghuni neraka adalah melihat keadilan; kenikmatan lainnya adalah bahwa penghuni Surga tinggal di mana pun yang mereka kehendaki di dalamnya; kenikmatan lainnya adalah bahwa Allah telah mengangkat hisab dari penghuni Surga, dan mereka tidak melakukan dosa; kenikmatan lainnya adalah bahwa Allah meninggikan derajat-derajat penghuni Surga; kenikmatan lainnya adalah bahwa penghuni Surga adalah para raja Surga; dan kenikmatan lainnya adalah Surga jauh lebih baik daripada semua hal tersebut!

Kemudian beliau menoleh kepadaku dan berkata: “Apakah ini belum cukup?!” Aku berkata: “Aku rela berkorban untukmu, setengah dari apa yang engkau sampaikan sudah cukup bagi orang-orang yang berakal!” Kemudian beliau menoleh kepada para pendampingnya dan berseru dengan suara lantang:

Ketahuilah bahwa Surga ini adalah untuk kalian dan untuk orang-orang yang berada di atas jalan kalian, dan bagi selain mereka tidak ada apa pun kecuali api Neraka!

Penjelasan ucapan:

Yang dimaksud Yang Terhormat dengan “jalan kalian” dalam ucapan mulia ini adalah kumpulan akidah dan amal saleh yang beliau jelaskan dalam buku “Kembali ke Islam” berdasarkan Kitab Allah, Sunah Nabi-Nya yang mutawatir, dan dalam cahaya akal yang sehat, yang merepresentasikan Islam yang murni dan sempurna; barang siapa menerimanya, maka dia adalah penghuni Surga, dan barang siapa menolaknya, maka dia adalah penghuni Neraka.

Perlu diketahui bahwa banyak penolong Mansur yang menyimpan ucapan mulia ini dan membacanya pada awal hari, agar ingatan tentang Surga tertanam kuat dalam diri mereka dan mereka terjaga dari keterikatan pada dunia hingga akhir hari.